Saturday, October 29, 2011

Perubahan Iklim dan Pisang

Jangan membeli PISANG di Melbourne

KENAPA?

Call me insane this time... Judul postingannya gak banget... Perubahan Iklim dan Pisang? Jaka Sembung bawa goblok kan? Well, saya akan mulai merunut dari awal apa hubungan antara Perubahan Iklim dengan Pisang. (Maaf kalau postingan ini agak nyeleneh, maklum lagi bulan Oktober.... Bulan penuh cobaan bagi mahasiswa-mahasiswi di negeri Kangguru).

Perubahan iklim a.k.a Climate Change sudah bukan istilah asing di telinga kita. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan semakin panasnya suhu global karena emisi yang 95% disebabkan ulah aktifitas manusia. Penggunaan bahan bakar yang bersumber dari perut bumi serta penggundulan hutan menjadi penyebab utama pemanasan global. Apa dampaknya? Sudah banyak dampak yang sebenarnya kita rasakan: kenaikan air laut sudah mulai dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah pesisir, anomali cuaca, kekeringan di beberapa tempat dan banjir di tempat lain. Belum dampak di bidang kesehatan dan pangan.
Banjir Queensland. Courtesy of: http://www.abcm.com.au

Masih ingat tidak bencana yang menimpa Queensland Australia awal Januari lalu? Banjir besar yang katanya bencana terburuk di Australia ini terjadi setelah hampir 1 dasawarsa benua ini dilanda kekeringan berkepanjangan. Pemanasan global menyebabkan perubahan siklus El Nino dan La Nina yang menyebabkan wilayah Australia mengalami kekeringan berkepanjangan, namun begitu mendapatkan hujan, tak tanggung-tanggung hebatnya. Kira-kira begitulah gambaran sederhana tentang situasi Queensland pada saat itu. Mengikuti pepatah Indonesia: Years of drought is swept away by weeks of flood (Kemarau bertahun-tahun terhapus oleh banjir bandang berminggu-minggu). Well, ini sebenarnya peribahasa karangan saya.

Loh apa hubungan nya dengan pisang? Queensland merupakan salah satu pemasok sayur dan buah ke Melbourne dan ke beberapa kawasan yang lain. Banjir hebat di Queensland menenggelamkan daerah-daerah penghasil sayur dan buah. Dampaknya sangat mudah ditebak, harga sayur dan buah seketika melonjak tajam menembus awan di Melbourne dan sebagian Australia. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan harga sayur dan buah ke posisi sebelum bencana.

Harga apel dan jeruk mulai kembali ke posisi sebelum banjir. Namun, pisang berbeda. Saya yang merupakan penganut bananaisme alias pisangholic sungguh terpukul dengan stabilnya harga pisang di sekitaran 11- 13 dollar per kilo. Harga ini cuman sedikit turun dibandingkan harga pisang sesaat setelah bencana yakni 15 dollar per kilo. Saya jadi begitu perhatian sama pisang, setiap kali memasuki pasar atau ke supermarket saya selalu mengecek tempat pisang dipajang. Kenapa yah harga pisang tidak turun-turun juga? Apa pisang yang baru ngambek dan tidak mau tumbuh di tanah bekas banjir? Ah saya benar-benar sudah sakau pisang. 
Harga pisang di Coles Melbourne per Juli 2011. Picture is courtesy of  marcoluthe in flickr (http://www.flickr.com/photos/marcoluthe/5941843595/sizes/l/in/photostream/)
Pernah saya mencoba membeli pisang per biji yang waktu itu dijual 2 dollar per biji, namun sekali lagi saya menelan kecewa karena pisangnya hambar. Saya patah hati sama pisang. Sekalinya murah, malah hambar. Saya memilih menghitung mundur waktu kepulangan saya ke Indonesia. Karena apa? Salah satunya adalah saya kangen makan pisang asli Indonesia yang enak dan beraneka rasa. 

Jadi menjawab pertanyaan di atas. Kenapa membeli pisang tidak dianjurkan di Melbourne? 

Jawabnya: Karena Mahal dan Gak Enak...... 


Berikut ini video desperado penduduk Australia akan mahal nya harga pisang:



Banana is forbidden fruit in Melbourne, it worths 3 bucks a piece


Wednesday, October 5, 2011

Liburan ala orang Indonesia kesasar

Berapa minggu kah waktu efektif perkuliahan di kampus saya? Jawabannya 12 minggu. Tiap tahun, semester ganjil dilaksanakan mulai akhir Februari hingga awal Juni, sedangkan semester genap dilaksanakan mulai akhir Juli hingga awal November. Mengingat beban kuliah yang berat sampai bisa mengakibatkan penyakit jarang mandi dan obesitas karena kebanyakan ngemil, pihak kampus berbaik hati menghadiahkan mahasiswanya liburan dua minggu setelah minggu ke delapan. Kalau di semester ganjil, namanya autumn break (liburan menyambut musim gugur), kalau semester genap namanya spring break (liburan menyambut musim semi).

Dua minggu lalu spring break dimulai di kampus. Bagaimana suasana kampus saat spring break? Ternyata tak banyak berubah. Perpustakaan masih tetap ramai meski tak seramai hari hari biasa, lapangan rumput di depan perpustakaan masih penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang lagi pacaran dan berdiskusi. Dan kantin kampus masih tetap ramai. Loh, emang pada gak liburan yah? Ah pertanyaan yang menyakitkan. Mana bisa libur kalau sebelum liburan kita dikasih tugas yang menumpuk dan harus dikumpul setelah liburan berakhir. Lagu riang Tasya "Libur telah tiba" sungguh tak cocok diputar di tengah-tengah kampus saat spring break. Ya iyalah, lagunya pake bahasa Indonesia, mana mengerti bule-bule ini.
a spot at Baillieu Library, Melb Uni
Saya sendiri tidak banyak berkutik. Sebelum break, saya sudah mengoleksi tujuh tugas dari dosen-dosen yang sungguh pengertian. Tugas-tugasnya harus selesai awal Oktober. Plus tugas laporan saya sebagai relawan di sebuah LSM deket kampus yang deadline nya sama juga dengan deadline tugas-tugas kampus saya. Untungnya, saya memang tidak pernah booking pesawat di tiap libur tengah semester. Sudah bisa memprediksi bakal mabok tugas pas libur dua minggu itu.

Di tengah-tengah kekalutan tugas dan garis kematian (baca: deadline), saya dapat dua ajakan jalan jalan lokal. Yang pertama dari teman-teman jurusan dan yang kedua dari teman-teman Indonesia. Masing-masing menawarkan daytrip. So total ada dua hari perjalanan. Lumayan, daripada mengeram di lab kampus, ntar kelelep tugas jadinya.

Daytrip pertama saya adalah Anglesea. Anglesea merupakan kota kecil berjarak 115 km di sebelah barat daya Melbourne. Saya dan teman-teman Master of Environment berjumlah 13 orang dan berangkat ke Anglesea dengan tiga mobil. Perjalanan ke Anglesea cuma memakan waktu sekitar 90 menit, maklum jalan nya lancar jaya. 

Anglesea termasuk dalam kawasan Great Ocean Road dan terkenal akan pantai nya. Tempat ini ramai dikunjungi orang menjelang musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas. Saya dan teman-teman ke Anglesea berniat mengambil kursus kilat surfing. WHAT? Iyah silahkan tertawa kawan. Orang-orang Australia pada berlomba-lomba ke Bali dan Lombok untuk berselancar. Saya malah belajar berselancar di Australia. What an irony.... Saya tiba-tiba merasa jadi orang Indonesia kesasar. Teman-teman tersenyum penuh arti begitu mereka sadar bahwa saya aslinya berasal dari negara yang punya sejumlah lokasi surfing  yang pastinya jauh lebih indah dari tempat surfing di Australia. Dasar saya ga mau kalah, saya bilang saja sama mereka kalau saya ini gak seberapa, banyak lho orang Indonesia yang gak bisa berenang padahal air dimana-mana. (Yang gak bisa berenang gak usah angkat tangan, cukup mengiyakan dalam hati saja yah). 
Courtesy of Rob N 
Begitu tiba di Anglesea, kami langsung diamanatkan untuk mengenakan wetsuit. Pelajaran surfing dimulai dengan surfing di atas pasir. Posisi saat telungkup, duduk dan berdiri dilakukan berulang-ulang sampai instrukturnya haqqul yaqiin kami sudah menguasai teorinya. Setelah itu, kami pun dilepas melaut. Eh maksudnya dilepas ke laut, hehehehe. Permasalahan muncul (khususnya untuk saya), perairan di Australia ternyata tak sehangat laut di Indonesia. Meski matahari cukup terik hari itu, air laut mah tetep aja bikin menggigil. Wetsuit pun tak banyak membantu. Jadilah saya melawan ombak sambil kedinginan. Ternyata, surfing itu tak segampang duduk dan berdiri di daratan. Sejatinya seorang surfer dilatih untuk memahami ombak serta kemampuan timing kapan mengayuh, kapan duduk dan kapan berdiri. Saya? Yah saya berhasil berdiri dua kali, dan berhasil jatuh banyak kali. Belum lagi kegagalan saya merubah posisi dari tengkurap ke posisi duduk karena bokong yang keberatan. Yaaaa nasib. Beberapa teman sepertinya berbakat surfing, mereka cepat banget bisa berdiri dan bisa mempertahankan posisi berdirinya lumayan lama. 
Group Picture. Courtesy: James M 

Setelah surfing selesai, kami cuman menghabiskan waktu ngobrol ngalur ngidul sambil makan sore. Lumayan bisa kenalan sama beberapa teman yang memang tidak begitu saya kenal. Mobil kami pun bertolak ke Melbourne, saya tiba dengan selamat sentosa tentram dan bahagia tepat pukul 6 sore teng. 

Dua hari kemudian, saatnya daytrip kedua. Tujuannya adalah Wilson Promontory National Park. Saya dan belasan teman Indonesia lain bertolak ke Wilson Promontory National Park menggunakan dua mobil van berkapasitas masing-masing 8 orang. Wilson Prom terletak lebih dari 200 km di sebelah tenggara Melbourne. Tempat ini merupakan salah satu taman nasional di wilayah Victoria dan banyak dikunjungi oleh mereka-mereka yang hobi kamping. Sayangnya, karena banjir yang melanda tempat ini beberapa waktu yang lalu, beberapa lokasi dalam taman nasional ini masih ditutup untuk umum.
Tidal river 
Wilson Prom memiliki luas sekitar 505 km persegi. Dan mengelilingi tempat ini dalam satu hari adalah mission impossible. Akhirnya, diputuskan kami ber belasan ini akan menjelajahi tidal river, tidal river outlook dan mengambil rute hiking 4 jam ke squeaky beach. Setelah makan siang di parkiran mobil, petualangan resmi dilaksanakan (halah). Perjalanan ala Ninja Hattori pun dimulai... Kami mulai mendaki gunung, lewati lembah dan melalui sungai yang mengalir ke Samudera. Semakin mendaki, kami makin ngos-ngosan tapi pemandangan dari atas juga makin indah. Dengan tertatih-tatih akhirnya kami tiba di atas sebuah batu dimana sesi  narsis dimulai dilanjutkan dengan pertunjukan tari saman di atas bukit (belom pernah ada yang nari saman di atas bukit kan?). 
Saman-ers on action... di puncak bukit
Panorama dari atas 
Setelah puas menikmati pemandangan tidal outlook, rombongan meneruskan perjalanan ke squeaky beach. Perjalanan ala Ninja Hattori berlanjut lagi. Semakin dekat ke pantai, nyamuk semakin banyak... lebih buruk rupa pula dari nyamuk-nyamuk di Indonesia. Bentuknya item dan tetep nempel meski tangan sudah dikibas-kibaskan. Untungnya serangan nyamuk selama perjalanan terbayar dengan pemandangan squeaky beach yang indah. Tapi, lagi-lagi pantai disini indah dipandang tapi tidak indah buat mandi. Bisa-bisa "enter the wind". Puas menikmasi squeaky beach, kami mengambil jalur lain untuk ke parkiran yang ternyata jauh lebih landai dan singkat. Ah tau gitu tadi ga usah hiking jauh-jauh yah hehehehe. 
Squeaky beach from distance 
Well, meski cuman libur dua hari dari 14 hari jatah libur, saya tetap puas. Tugas-tugaspun lancar begitu kembali dari dua daytrip ini. Semua tugas akhirnya bisa selesai tepat waktu (tapi nilainya ga jamin lo yah hahahaha). Well, saatnya merencanakan liburan panjang tiga bulan pas November nanti. Any idea? or ada yang mau bayarin? Ada yang mau kasih tiket gratis? (Jyaaah ngelunjak)  
Wilson Prom Team, Courtesy: Otsamir  
Tulisan ini dibuat pas setelah deadline terakhir dikumpul 

The EnG