Saturday, September 17, 2011

My Guilty Pleasure (Shopping... but secondhand)

Sejak kuliah di Australia, saya jarang belanja baju, tas, sepatu apalagi gadget. Saya merasa bahwa persediaan baju saya cukup, netbook kecil saya masih lumayan mumpuni, kamera non-DSLR saya juga masih bagus sebagai teman saat traveling. So, why bother buying stuff if I don't need them?. 

Sampai suatu ketika, netbook biru mungil saya mulai ngadat dan kadang berulah. Tiga kali ketikan saya hilang (yang sebagian besar kesalahan saya karena saya lupa men-save), yang membuat saya harus mengulang kembali tugas kampus. Bukan hanya itu, si netbook ternyata juga mulai ngadat saat membuka file excel yang besar sementara salah satu mata kuliah saya membutuhkan komputer dengan kemampuan itu. Awalnya, saya anteng saja karena saya toh masih bisa mengandalkan komputer kampus. Sayangnya, komputer kampus pun tak seindah yang saya bayangkan, performanya 11-12 dengan netbook saya. Selain itu, kadang susah mendapatkan komputer kampus apalagi di saat-saat sibuk (10 am - 4 pm) karena membludaknya antusiasme mahasiswa menggunakan laptop kampus, cieeeehhhh kesannya mahasiswa kampus ku rajin amat yah. 

Pencarian laptop pun dimulai. Saya mulai berkunjung ke ebay dan situs belanja online lainnya, melihat-lihat spesifikasi laptop dan harganya. Hmmmm, laptop yang saya inginkan mahal nya tak karuan. Saya juga mulai merambah website-website khusus secondhand, salah satunya adalah gumtree. Keuntungan gumtree adalah penjualan barang bekasnya dilakukan per area, jadi kalau saya di Melbourne maka saya bisa membuka gumtree khusus untuk wilayah Melbourne. Keuntungan nya adalah calon pembeli tidak harus memiliki akun gumtree untuk bertransaksi. Metodenya: biasanya calon pembeli menghubungi email empunya barang dan janjian ketemu di suatu tempat untuk inspeksi. Kalau cocok, sang calon pembeli bisa langsung transaksi. Tapi, kalau tidak suka, si calon pembeli tidak harus membeli. 

Mata saya langsung tertuju pada sebuah iklan yang menawarkan macbook pro 13" yang masih baru (7 bulan), masih garansi dan harganya 40% lebih murah dari harga baru. Softwarenya lengkap dan kapasitasnya sudah di-upgrade. Setelah berkonsultasi dengan teman saya yang kuliah IT, saya jadi niat membeli macbook yang ditawarkan karena katanya dengan harga segitu spesifikasinya sangat bagus. 

happy face with my mac
Well, saya pun meng-email yang punya macbook via gumtree. Saya memeriksa ulang grammar dan isi email saya sebelum dikirim, maklum menulis email dalam bahasa Inggris bukan keahlian saya. Email berbalas, ternyata yang punya macbook tinggal dekat dari tempat saya, cuman berjarak sekitar 300 m. Ah pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya mengkonfirmasi jadwal ketemuan dengan dia via email yang harus berulang-ulang saya cek grammarnya biar yang baca nanti ngerti. Kami sepakat ketemuan dan ternyata yang mau jual macbook nya adalah cewek INDONESIA. Jyaaaah, tau gitu ga perlu susah-susah saya utak atik grammar saat nulis email. Alasan dia sederhana, dia mau jual macbook nya karena terlalu berat dan dia mau beralih ke macbook air. Hmmmm fair enough, saya periksa barangnya sejenak dan tak memakan waktu lama bagi saya untuk memutuskan bahwa macbook itu harus menjadi milik saya. Dan, macbook pun berpindah tangan. Dan macbook impian pun di tangan. Teman Vietnam saya sampai iri karena dia baru membeli Macbook Pro yang baru dengan spesifikasi sama dengan harga AUD 1600 sedang saya cuman membeli nya dibawah AUD 900. Nice deal, right? (sambil senyum jumawa). 

murah meriah tak-mencret
Petualangan belanja saya berlanjut saat saya butuh alat perekam video yang praktis untuk proyek lingkungan yang akan saya lakukan di Indonesia. Iseng-iseng saya buka gumtree untuk melihat camcorder, pilihan saya jatuh ke sebuah camcorder toshiba camileo yang harganya setengah harga aslinya. Saya segera menghubungi yang punya barang dan langsung memutuskan untuk inspeksi barang di rumahnya. Saya selalu menanyakan alasan penjualan sebuah barang sebelum membeli. Toshiba camileo ini dijual karena barang ini adalah wedding gift, sedangkan si empunya barang sudah memiliki alat perekam yang lebih canggih. Camcorder pun berpindah tangan. Another good deal, isn't it? 

kapasitas 23 L, muat buat buka warung
Bawaan saya ke kampus menjadi semakin banyak: laptop, buku, charger-charger, lunch box (kadang-kadang), cemilan, buah dan alat tulis. Huaaaaa kayak mau buka warung yah... banyakan bawa makanannya daripada bahan buat belajar. Tas yang sekarang saya miliki kurang lapang untuk menampung keperluan buka warung saya di kampus. Jadi kadang saya ke kampus harus pake tas model backpack plus satu tas jinjing. Membawa dua tas ke kampus sangat mengganggu karena saya selalu bersepeda ke kampus. Saya kembali mencurahkan uneg-uneg ke gumtree. Pilihan jatuh ke tas crumpler merah yang harga aslinya 265 AUD. Lucunya, yang punya tas ini lagi-lagi berjarak dekat dengan rumah saya. Ah.... ini pertanda lagi nih hehehe. Tak butuh lama saya bertransaksi (maksudnya saya keukeuh minta harganya diturunin), saya mendapatkan harga yang cukup murah untuk tas yang jarang dipake ini, cuman sepertiga dari harga aslinya. Saat saya melihat tasnya, nampak bahwa tasnya jarang digunakan. Saya juga yakin tasnya bakal kuat dan muat menampung perlengkapan warung saya ke kampus. Alasan dia menjual tasnya adalah tas nya kegedean. Mungkin karena dia cewek kali yah, makanya kurang begitu nyaman sama tas gede. Well another cheap bargain from a secondhand website. 

Di kampus, teman-teman menjuluki saya Mr. Gumtree karena saya beli barang-barang ini via gumtree. Sempat mendapat kritik juga dari mereka bahwa saya harus belajar mengontrol nafsu belanja. Saya merasa bersalah sih belanja tiga barang ini dalam kurun waktu yang berdekatan. Teman-teman saya ada benarnya. Mungkin saya harus mengurangi petualangan gumtree saya. Tapi sekali lagi, alat ukurnya adalah "need" (kebutuhan), bukan "want" (keinginan). Dari perspektif lingkungan juga belanja di gumtree jauh lebih ramah lingkungan, karena kita melakukan transaksi langsung. Beda dengan belanja di ebay, amazon dan sejenisnya, yang pengiriman barangnya ke seluruh dunia jelas-jelas berdampak emisi yang besar terhadap gas rumah kaca di atmosfer. 

Sekian cerita guilty pleasure kali ini.... Jangan kalap belanja seperti saya yah, hahahah. 

video

Video pertama, edited using iMovie (cam nya masih goyang-goyang) hehehe

Friday, September 2, 2011

Lebaran kedua di Melbourne: Serunya Pluralisme

Di hari lebaran di tanah air, suara pertama yang kita dengar saat terjaga pada waktu subuh adalah suara takbir dan tahmid. Di Melbourne, jangan harap ada suasana seperti itu. Different field, different grasshopper (baca: lain padang lain belalang, heheheh) kata pepatah kita. Setelah sholat, mandi dan mengenakan batik kebesaran serta jaket winter, saya bergegas menunggu tram tak lupa menenteng lontong hasil masakan semalam.Yah hari itu adalah ldul Fitri kedua saya di Melbourne
Idul Fitri in Sport Centre, The University of Melbourne
Banyak yang bertanya bagaimana lebaran di Melbourne? Ikut Muhammadiyah atau ikut pemerintah? Ada sholat ied gak Melbourne? Seru gak idul fitri di sini?. Akan dijawab satu per satu setelah iklan berikut ini. Sholat ied di Melbourne ditentukan hari Rabu mengikuti hasil rapat majelis ulama Victoria. Sholat ied untuk orang-orang Indonesia (yang non-Indonesia juga boleh ikut) kebetulan dilaksanakan di  Sport Centre kampus saya. Setiap tahun biasanya ada panitia khusus yang dibentuk oleh mahasiswa Indonesia di Melbourne untuk pelaksanaan Idul Fitri. Karena dilaksanakan oleh orang Indonesia, khatib nya pun sudah pasti berbahasa Indonesia, jadi gak perlu mikir dua kali saat mendengarkan khutbah.  Saya sendiri bukan panitia, tapi saya berteman dengan para panitia, itung-itung bisa bantu dan semoga bisa bawa pulang makanan. Amiiiin. 

Perkiraan jumlah pengunjung adalah 800-1000 orang terdiri dari mahasiswa dan warga Indonesia yang memang sudah menetap dan malah ada orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Australia. Tradisi setelah lebaran adalah para panitia kudu mengadakan halal-bi-halal langsung setelah selesai khutbah. Bayangkan, saudara-saudara ada 800 orang yang mau makan bersama. Siapa yang menyuplai makanan? KAMI semua. Halal-bi-halal dilaksanakan dengan sistem potluck, jadi tiap-tiap yang datang dipersilahkan membawa makanan untuk dishare ke yang lain. Saya memilih membawa lontong, yang bikinnya gampang. Soalnya kalo saya keukeuh mau bawa rendang, saya sudah haqqul yakin ga bakal ada yang mau nyomot rendang buatan saya. Walhasil di hari H, panitia ada yang menjadi penyambut jemaah, ada juga yang menjadi tim penyambut makanan bawaan jemaah. Saya sudah tentu lebih memilih menjadi relawan penyambut makanan. Banyak jenis makanan yang dibawa oleh jemaah, ada rendang, opor, sambel goreng ati, pudinng, cake, buah dll. Lumayan lah buat cuci mata sebelum kenduri besar-besaran. 

Antri makanan potluck
Sholat ied nya berlangsung khidmat. Sholatnya makin terasa sangat Indonesia dengan beberapa tangisan bayi yang menambah syahdu nya sholat ied. Setelah sholat selesai, para jemaah diarahkan ke luar Sport Centre untuk mulai mencicipi makanan hasil potluck. Antrian begitu panjang, sampai-sampai panitia berulang kali mengingatkan jemaah agar tidak memasuki lintasan jogging. Mungkin karena antriannya kepanjangan, beberapa jemaah memutuskan pulang lebih cepat. Ada seorang ibu yang protes ke kami bahwa pengaturan jemaah tahun ini agak kacau. Saya sih cuman bilang dalam hati: yah kalo gitu, taun depan lu aja yang jadi panitia, Bu.... Hehehehe. Kasihan juga melihat teman-teman panitia yang sudah susah payah menjadi relawan di tengah deadline tugas dan ujian, masih saja diprotes. Bantu tertibkan lah kalau memang dirasa kacau. 
Menunya tinggal dipilih....
Saat jemaah makin berkurang, masalah baru muncul. Masih banyak banget makanan yang tersisa. Masih ada rendang, opor, sambel goreng ati, juice, buah. Dengan semangat 45, saya mulai mengumpulkan beberapa jenis makanan untuk dibawa pulang. Kalau masalah bawa pulang makanan sih, saya gak nolak dan gak malu. Soalnya saya pernah tinggal di asrama yang mengajarkan prinsip: when it comes to food, you SHY, you DIE. Setuju? Alhamdulillah, aksi anti-mubazir saya diikuti oleh teman-teman yang lain. Walhasil meja makan di rumah yang tadinya kosong melompong kini benar-benar terasa nuansa idul fitrinya dengan semarak rendang, opor ayam dan sambel goreng ati hasil jarahan. Hahahaha.Eid Mubarak. 

Satu hal yang membuat saya terharu adalah partisipasi rekan-rekan non muslim untuk membantu dalam pelaksanaan lebaran ini. Mereka datang dari pagi ikut membantu mengarahkan jemaah ke tempat sholat, ikut membantu mengkoordinir makanan, ikut membantu menyusun meja, ikut memonitor meja saat halal-bi-halal dilaksanakan. Di Melbourne, saya justru merasakan apa yang terasa hilang di Indonesia: toleransi dan kerukunan. Teman-teman non-muslim tidak canggung untuk membantu kami-kami yang sedang merayakan Idul Fitri. Can't thank them more.
Bahagia setelah menjarah sisa halal bi halal

Panitia rebutan jarahan

Wajah wajah bahagia para penjarah

Sekian liputan lebaran di Melbourne. Semoga bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Sekarang saya mau menikmati rendang hasil jarahan dulu. 

Wassalam