Wednesday, August 24, 2011

Tips berbuka di kelas

Sudah lebih dua pertiga Ramadhan saya lewati di Melbourne. Ramadhan kedua saya di kota ini. Sudah hampir sebulan pula saya tidak menulis apa-apa di blog ini. Teman-teman blogger pasti sudah bisa menduga alasan dibalik hiatus ini: garis kematian (baca: DEADLINE) yang menggila. Saya tidak usah curhat disini lah tentang deadline-deadline itu, soalnya pasti bakal panjang dan penuh sumpah jerapah dan sumpah penghuni kebun binatang lainnya.

Ada beberapa pengalaman unik selama puasa disini. Berhubung kelas saya banyakan sore, maka buka puasa dalam kelas pun tak dapat dihindari. Jangan harap kelas akan dihentikan pada saat azan maghrib berkumandang. Pertama, disini kalopun ada mesjid, azan magrib nya ga pake TOA jadi ga bakal kedengaran di kelas. Kedua, muslim itu minoritas jadi ga mungkin dapat hak istimewa di kelas. 

Tentunya tak enak/sopan membawa rantang ke dalam kelas dan menggelarnya di kelas bak restoran masakan padang. Padahal, perut kan keroncongan juga berpuasa di musim dingin. Nah berikut beberapa tips berpuasa di kelas (Maaf, tips ini bisa saja mendapatkan reaksi berbeda di berbagai tempat. Kalau tidak berjalan sesuai dengan yang saya gambarkan, di luar tanggung jawab saya yah, hehehehe).
Grattan Street, Melbourne Uni

Pertama: Bawa makanan alakadarnya/secukupnya.
Kelas sejatinya adalah tempat belajar. Syukurnya di kampus saya, mahasiswa/i nya dibolehkan membawa makanan ke dalam kelas. Makanya jangan heran di kelas kita belajar sering sambil bawa kopi dan cemilan. Nah situasi ini bisa dimanfaatkan oleh pelajar muslim dengan membawa makanan berbuka secukupnya. Saya biasanya membawa muffin atau potongan lapis legit serta teh kotak. Ga usah bawa nasi, plus rendang dan sayur asem, soalnya jelas-jelas bau nya akan meracuni teman-teman sekelas dan nanti malah disangka mau potluck. Hindari membawa snack seperti potato chips karena suara plastik nya bisa mengganggu saat kita makan, selain itu gak sehat lah berbuka dengan potato chips.

Kedua: Pilih tempat duduk yang strategis 
Tempat duduk juga bisa berperan dalam kenyamanan kita berbuka puasa. Kalau kelasnya gak rame, biasanya kita bisa memilih tempat duduk sesuai selera. Saya biasanya menghindari duduk di depan, takut dosennya tergoda dengan makanan yang saya bawa. Juga akan mengganggu pemandangan orang-orang di belakang saat yang duduk depan membuka bekalnya. Saya selalu berusaha duduk di deret belakang, dan berusaha duduk di belakang orang-orang berbodi bongsor jadi gak terlalu kelihatan dosen kalau sedang makan, heheheheh.

Melbourne Uni from Elizabeth Street
Ketiga: saat masuk waktu berbuka, makanlah dengan elegan 
Saat waktu berbuka tiba, berbukalah dengan tenang. Jangan grasa grusu makannya, soalnya bisa disangka pengungsi dari negara miskin. Makanlah ala priyayi, ngunyah nya juga jangan keras-keras demi perdamaian dunia. Usahakan suapan makanan ke mulut dilakukan dengan perlahan dan tidak menarik perhatian agar tidak mengganggu suasana perkuliahan. Prinsip "biar lambat asal selamat" sedikit banyak cocok diterapkan saat berbuka dalam kelas. 

Keempat: Abaikan pandangan orang sekitar 
Tak banyak teman sekelas yang tahu bahawa kita berpuasa dan gak penting juga kita kasih tahu ke seisi kelas kalo kita berpuasa. Saat saya mengeluarkan bekal pertanda siap-siap berbuka, saya sering diliatin sama teman-teman sekelas khususnya yang duduk di sekitar saya. Mungkin mereka berpikir: Buseeeettt anak Indonesia ini rakus banget yak... atau nih anak Indonesia lagi piknik di kelas yah. Kuncinya: cuek bebek. Anggap saja mereka anjing yang menggonggong dan kita kita sebagai kafilah bisa berlalu tanpa terganggu.

Kelima: Buang sampah setelah kelas selesai 
Jangan pernah menganggap buka puasa di kelas sama dengan buka puasa di mesjid atau di acara buka puasa bersama. Di kelas, ga ada tukang bersih-bersih jadi sampah plastik sisa bungkus makanan atau potongan makanan yang jatuh harus dibersihkan. Ingat pepatah: Men Sana in Corpore Sano... lah ini kok kayak belajar pepatah yah. 

South Lawn, Melbourne Uni
Nah itulah 5 tips berbuka di kelas bagi teman-teman mahasiswa yang berpuasa di negeri orang. Jangan lupa, indahnya Ramadhan bisa kita nikmati tidak hanya saat kita berada di Indonesia. Justru, ber-Ramadhan di lingkungan yang berbeda bisa memberi kita lebih banyak pengalaman untuk bisa memahami perbedaan. Memahami makna bahwa kita tidak akan selalu diprioritaskan dan menunjukkan kepada teman-teman yang tidak berpuasa bahwa aktivitas bisa tetap jalan dan tak terganggu meski kita sedang puasa. 

Selamat menjalani 10 hari terakhir Ramadhan. Ramadhan Mubarak.