Tuesday, July 19, 2011

Wisata bersubsidi ke Indonesia-nya Jepang

Universitas-universitas di Jepang sangat memperhatikan mahasiswa-mahasiswi asingnya. Perhatian ini makin terasa di universitas-universitas kecil karena jumlah mahasiswa asingnya biasanya sedikit. Dan karena jumlahnya sedikit, bagian International Student Service kampus bisa mengenali dan lebih akrab dengan para mahasiswa asing yang ada di universitas tersebut. Saya beruntung sempat mengecap pendidikan di sebuah universitas kecil di Jepang. Setiap minggu, ada saja kegiatan-kegiatan kebudayaan yang ditawarkan oleh kampus untuk para mahasiswa asing. Dan pesertanya pun tak banyak berubah dari satu even ke even yang lain karena memang jumlah kami tidak banyak. Tujuannya mungkin biar kami (para mahasiswa asing) bisa mengisi weekend dan berbaur dengan masyarakat setempat.  

Sudah menjadi tradisi International Student Service di kampus untuk mengadakan perjalanan wisata ke sebuah kota di Jepang. Perjalanan ini disubsidi kampus. Jadi, tiket pesawat, hotel dan makan kami sebagian besar ditanggung kampus. Tahun itu kebetulan perjalanannya ke Okinawa selama tiga hari. Tak butuh waktu lama untuk para mahasiswa asing untuk memenuhi kuota, maklumlah biaya perjalanannya amat sangat murah sekali (sayangnya saya lupa tepatnya berapa). Saya dan teman-teman exchange sudah pasti terdaftar di urutan teratas list tersebut mengingat kelas exchange selalu dianggap sebagai "having fun class". Di hari keberangkatan, ada sekitar 100 mahasiswa asing yang didanai untuk jalan-jalan melihat Okinawa. Sebagian besar mahasiswa Master dan PhD, dan hanya sekitar 15 orang mahasiswa exchange. Meski ber-15, rombongan kamilah yang paling ribut mulai dari rebutan kursi, foto-foto atau bernyanyi lagu-lagu Jepang. (FYI, lagu kokoro no tomo gak terkenal lho di Jepang). 
Berfoto di setiap perempatan, errrrrrrrr 
Okinawa merupakan prefektur paling selatan di Jepang yang terdiri dari empat pulau besar: Okinawa, Miyako, Yaeyama dan Senkaku. Berbeda dengan prefektur-prefektur lain, Okinawa memiliki suhu rata-rata di atas 20 derajat Celcius setiap tahun. Jadi, jangan harap pernah bermain ski atau melihat salju di Okinawa. Mungkin karena suhu nya pula, orang-orang Indonesia yang pernah kesini menganggap bahwa tinggal di Okinawa tak beda jauh dengan tinggal di Indonesia. Penduduk nya pun berkulit lebih gelap dari orang-orang Jepang daratan pada umumnya. Okinawa merupakan salah satu lokasi pangkalan militer Amerika, jadi jangan heran kalau disini banyak bule-bule Amerika yang lalu lalang di jalanan. Prefektur Okinawa beribukota di Naha. Sarana transportasi umum yang tersedia di Naha adalah monorel dan bus. 

Banyak pengalaman lucu bepergian dengan sejumlah orang dari berbagai negara. Ada beberapa teman dari Asia Selatan yang mengenakan jas lengkap di hari  keberangkatan, kami semua sempat heran juga melihat mereka yang keukeuh mengenakan jas di bawah teriknya matahari di Okinawa. Tapi sudahlah, mungkin begitulah dress code liburan mereka. Ada juga dosen cross-cultural understanding kami yang sangat antusias menjelaskan sejarah Okinawa di bus, yang sukses membuat kami tertidur pulas. Atau, para mahasiswa exchange yang berfoto bersama di setiap perempatan jalan dan menjadi pusat keributan kemanapun rombongan ini pergi. Yang paling norak adalah saat kami mencoba monorail di Naha, kami bergaya tak tahu malu dalam monorel diiringi senyum simpul para penumpang lain. Jujur, itu kali pertama bagi saya naik monorel jadi jangan salahkan saya kalau saya ikut dalam rombongan teman-teman kelas saya yang norak, ribut bin narsis.
Take picture, anytime anywhere
Ada beberapa tempat yang kami kunjungi selama di Okinawa. Sayangnya, saya tak ingat semuanya. So, seingat saya saja yah. 

Shuri Castle (Shuri Jyo)
Shuri Castle merupakan salah satu situs UNESCO World Heritage. Tempat ini dulunya merupakan pusat administrasi  serta tempat kediaman Raja Ryukyu, sebelum berganti nama menjadi Okinawa dan resmi menjadi salah satu prefektur di Jepang. Tempat ini konon dibangun sejak tahun 1300 dan telah berulang kali rusak parah karena perang dan kebakaran. Terakhir, tempat ini hancur saat perang dunia kedua namun dibangun kembali pada tahun 1992. Shuri Castle memiliki lokasi yang sangat luas. Bangunan utamanya berwarna merah. Di dalam bangunan utama ini, pengunjung diajak untuk melihat peninggalan kerajaan Ryukyu, termasuk singgasana rajanya yang juga berwarna merah. (Ternyata mereka sudah mengenal kata "matching" saat Shuri Jyo dibangun). Dari Shuri Castle pula, kita bisa melihat pemandangan Naha dari atas. Tak salah memang memilih lokasi ini sebagai kediaman raja, tempatnya indah dan memungkinkan raja untuk melihat keadaan rakyatnya dari atas. 
Gerbang Depan Shuri Jyo

Shuri Jyo in red
Churaumi Aquarium 
Churaumi Aquarium merupakan aquarium terbesar ketiga di dunia setelah Georgia Aquarium di Amerika dan Dubai Mall Aquarium. Jadi mumpung di Naha, tak ada salahnya menjadwalkan kunjungan ke Churaumi Aquarium. Tempatnya berlokasi di Ocean Expo Park nan luas. Begitu masuk ke tempat ini, kami langsung disambut oleh taman-taman indah dan air mancur. Kami makin ternganga saat memasuki lokasi akuariumnya. Saya berulang kali berdecak kagum "Eeeeeee, ookii neee!!!" (Waaahh, gede bangetet!!!). Pengunjung  lokalnya saja berkali-keli berteriak takjub saat masuk ke tempat ini, apalagi saya yang waktu itu memang belom pernah sekalipun ke Sea World. Selain akuarium, lokasi ini juga memiliki tempat pertunjukan lumba-lumba akrobat yang selalu dipadati pengunjung. Ditambah lagi, Churaumi Aquarium memiliki beberapa pantai cantik buat nongkrong. Saya sempat beberapa kali berpisah dari rombongan karena berbelok ke pantai-pantai indah itu. 
Taman cantik di Churaumi

Third largest aquarium in the world
Nice spot in Churaumi aquarium area
Kokusai Dori Street
Kokusai Dori Street berarti jalan internasional. Jalan ini sejatinya adalah malioboronya Naha, terletak di jantung kota Naha dan terbentang sepanjang kurang lebih 2 km. Kokusai Dori menawarkan pesona Naha di malam hari sebagai pusat keramaian yang aman dan ramah turis. Mall, restoran, toko suvenir, butik, bar, kafe, jajanan tersedia sepanjang jalan ini. Musisi dan pelukis jalanan juga mudah ditemui di Kokusai Dori di malam hari. Belum lagi, jajanan lokal yang menggugah selera di pinggir jalan. Kami beruntung karena hotel kecil tempat kami menginap terletak di Kokusai Dori yang membuat kami jadi kalap shopping kalau malam hari sepulang dari tur. Mungkin saking kompaknya, shopping di Kokusai Dori pun, saya lakukan dengan teman-teman sekelas. Shopping gak shopping yang penting kumpul kan? 
Shopping till drop at Kokusai Dori 

Kokusai Dori: Okinawa's Malioboro
Playing cards with our lecturer in my hotel room
 Sebenarnya masih banyak tempat-tempat lain yang saya kunjungi di Okinawa. Pantai-pantai, gua berstalaktit, pusat budaya dan pusat kerajinan gelas termasuk beberapa tempat yang rombongan kami ikuti. Meski cuma 3 hari, pengalaman wisata bersubsidi di Okinawa mungkin termasuk yang paling berkesan karena wisata ini saya lakukan bersama dengan teman-teman dekat saya. Selain itu, jawaban saya mungkin akan berbeda dengan traveller lain saat ditanya "Kemana saja selama di Jepang?". Yang lain mungkin akan menjawab: Tokyo, Kyoto, Osaka, Hokkaido atau Fukuoka. Dan saya akan menjawab: "Okinawa, Indonesia-nya Jepang".

Monday, July 11, 2011

Sholat saat travelling? Gak Masyalah

Banyak cerita-cerita seru yang kita sering dengar dari mereka yang melakukan perjalanan (baca: travelling). Kali ini saya akan berbagi sedikit tentang cerita unik seputar travelling dan sholat. Yup, ada beberapa pengalaman menarik saya dan teman berkenaan dengan sholat selama perjalanan.

Kalau sedang backpacking di negara lain, saya selalu menganggap diri saya sebagai musafir. Sebagai musafir, ada beberapa kemudahan dalam beribadah misalnya bisa qasar (menyingkat sholat) dan jamak (mengerjakan dua sholat dalam satu waktu). Saat travelling ke Singapura dan Malaysia, tak ada kesulitan berarti untuk menunaikan ibadah sholat. Maklumlah di Singapura saya tinggal di daerah Bugis Junction yang memiliki sebuah mesjid besar. Selain itu, meski saya tinggal di backpacker hostel di Bugis Junction, saya selalu bisa numpang sholat di warung yang terletak di bawah hostel tersebut. Kalau di Malaysia juga gak begitu susah nyari tempat sholat, maklum lah negara nya berpenduduk muslim jadi mesjid dan musholla gak begitu susah nyarinya. 
Mesjid berkubah emas di Bugis Junction
Tantangan sholat mulai terasa saat harus berkunjung ke negara-negara yang penduduk muslim nya minoritas. Saya cukup beruntung saat ke Kamboja dan Vietnam karena saat mengunjungi tempat ini, saya travel bersama Mila dan Vonny. Kami memutuskan menyewa satu kamar di Ho Chi Minh dan di Phnom Penh, jadi saya bebas sholat di kamar tanpa perlu merasa risih. Travel bersama teman memberi saya keuntungan, karena  teman-teman travel saya mengerti akan kewajiban saya. 

Kelucuan sempat terjadi saat saya naik bus dari Ho Chi Minh ke Phom Penh. Setelah melewati imigrasi Kamboja, bus yang kami tumpangi beristirahat sejenak di daerah Moc Bai, kawasan Casino nya Kamboja. Para penumpang lain turun untuk mengisi perut di warung pinggir jalan. Saya dan Vonny bergegas mengambil air wudhu di toilet yang disediakan warung setempat, dan segera men-jamak sholat Dzuhur dan Ashar di lorong bus. Saya bergantian bersama Vonny. Sang kenek sempat  melongo melihat Vonny mengenakan mukena dan menunaikan sholat. Saya berusaha memberikan isyarat sembahyang dengan menyatukan kedua tangan saya di depan dada, arghhhh susah juga komunikasi nya sama mereka yang gak bisa berbahasa Inggris. Untungnya si kenek mengerti, dia tersenyum dan berlalu meninggalkan saya yang menunggui Vonny dan Vonny yang masih berbalut mukena. 
Bus yang membawa kami dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh
Terkadang, tayamum dan sholat sambil duduk harus dijalani saat berada dalam perjalanan. Saya beberapa kali harus bertayamum dan sholat duduk di atas kursi bus atau kursi pesawat. Saya ingat dalam penerbangan saya ke Christchurch dari Wellington, saya harus menunaikan sholat Dzuhur di pesawat. Sempat dilema juga awalnya karena yang duduk di samping saya adalah dua bule yang mungkin gak ngerti ritual saya. Antara risih dan kebelet sholat, saya akhirnya memberanikan diri minta ijin dulu sama mereka kalo saya mau melaksanakan ritual saya sebagai muslim. Mereka mengangguk-angguk tanda mengiyakan dan tersenyum. Namun, mereka tetap melihat saya dengan tatapan aneh saat saya mulai tayamum dan sholat duduk. Sesaat, setelah selesai sholat, saya mendapati pasangan bule ini saling sikut-sikutan setelah mencuri-curi pandang ke ritual sholat saya. Mereka tersenyum penuh arti setelahnya. Mungkin merasa aneh melihat orang sholat kali. But, whatever lah I don't care, hehehehehe. Toh, saya sudah minta ijin sama mereka. The dog barks, the convoys pass over (Baca: Anjing menggonggong, kafilah berlalu, hehehe)

Tantangan lain yang mungkin dihadapi adalah sholat di backpacker hostel, apalagi kalo sekamar harus share dengan 5-7 orang yang baru kita kenal. Saat saya di Christchurch, saya menyampaikan informasi tentang ritual sholat saya ke teman-teman backpacker sekamar saya biar mereka maklum. Rata-rata sih mereka "no problemo". Terkadang jadi tercipta percakapan hangat setelah saya sholat, karena mereka tertarik ingin tahu tentang ritual sholat umat muslim. Pun ketika saya berada di Queenstown, saya menyampaikan ke sekamar saya (sepasang muda-mudi Jerman) tentang ritual saya. Mereka pun gak masyalah. Sebelum saya memulai sholat mereka sempat bertanya: "When you pray, you face towards Mecca right?" (Kamu kalau sholat menghadap ke Mekkah kan?). Saya cuman mengangguk. Saat saya memulai sholat, saya sedikit kurang bisa konsentrasi karena saya mendengar suara-suara aneh dari pasangan Jerman ini. Begitu saya menoleh untuk salam, ternyata mereka sedang ciuman dengan dahsyatnya. Nasiiiibbbbbbbbb travel sendirian........ 
Queenstown from a friend's house

Saya jadi ingat cerita teman saya, Ima, yang saat itu sedang traveling ke Sydney. Saat baru sampai di backpacker hostel pas siang hari bolong, kamarnya kebetulan kosong. Jadi mumpung penghuni lain sedang keluar, Ima memutuskan untuk menunaikan ibadah sholatnya. Dia pun ber-mukena ria dan mulai sholat di ranjang bertingkat jatahnya. Saat sedang sholat, seorang cewek masuk ke kamar itu dan sempat shock melihat Ima yang berjubah putih sedang berdiri melakukan sebuah ritual. Untungnya setelah sholat, Ima berhasil meyakinkan cewek tadi bahwa yang dilakukannya bukan pemujaan setan, tapi ritual umat muslim. Setelah itu, sholat di kamar itu jadi lebih mudah bagi Ima. 

Sebenarnya, sholat dalam perjalanan itu gak terlalu susah selama ada niat. Selain itu, pelaksanaan sholat tidak rumit, malah fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi kita. Beribadah sholat selama travel tetap mungkin dilakukan. Mungkin teman-teman ada pengalaman sholat yang lebih unik?    


Sunday, July 3, 2011

Creswick (Week 2)

Setelah survive minggu pertama dengan sejumlah tanda tanya seputar stomata, hutan, biomassa, karbon, ozon, NOx, CH4, albido dan istilah-istilah asing lainnya, minggu kedua terasa sedikit lebih ringan. Pelajarannya bukan lagi sains murni, tapi ke implementasi. Selain itu, beberapa hari kami mulai masuk hutan mempraktekkan apa yang kami pelajari di minggu pertama. Lucunya, masuk hutan kudu pake rompi orange dan helm kuning, katanya jaga-jaga biar kepala ga kena dahan jatuh kalo angin lagi kencang.
Dapur yang selalu sibuk

Meja bilyard, tempat pelarian kalo lagi suntuk

Tujuhbelasan ala Creswick
Ada beberapa sesi menarik yang disajikan di minggu kedua. Yang paling saya suka adalah sesi tentang REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation). REDD adalah salah satu mekanisme perdagangan karbon yang banyak diimplementasikan di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. REDD mencakup penghutanan kembali (reforestation), mencegah konversi hutan (avoided forest degradation) dan penanaman pohon di lahan baru/kosong (afforestation).  Proyek-proyek REDD umumnya didanai pihak asing (negara maju) sebagai salah satu alat bagi mereka untuk memenuhi tanggung jawab pengurangan emisi mengikuti amanat Protokol Kyoto. Kata dosen saya, Indonesia adalah negara dengan tingkat emisi terbesar ketiga di dunia. Pas dosen saya mengeluarkan pernyataan ini, si Alex (teman sekelas saya) tiba tiba menepuk pundak saya dari belakang sambil ngacungin jempol, "Bravo, Cipu!!!!". Saya cuman nyengir kuda, "maksud lo? ini salah gua" heheheheh.

Sesi REDD dibawakan oleh seorang cewek asli Australia yang bekerja di beberapa negara sebagai Carbon Specialist (ini adalah pekerjaan yang saya inginkan). Si cewek tahun-tahun terakhir mengabdikan hidupnya di pedalaman Kalimantan Barat untuk melaksanakan proyek REDD. Ia bercerita mengenai tantangan teknis yang dihadapinya berkenaan tentang kurang nya data hutan di Indonesia. Jadi untuk menghitung perkiraan stok karbon di daerah proyeknya, dia harus memulai dari nol. Tapi menurutnya, yang lebih bikin pusing adalah birokrasi. Karena dana yang keluar untuk ngurus administrasi proyek malah kadang lebih besar daripada dana teknis.
Sesi negosiasi masyarakat adat dengan perusahaan sawit, ada yang bawa tombak

Di akhir sesi tentang REDD, kami diminta melakukan roleplay. Roleplay nya tentang sebuah daerah yang memiliki lahan gambut yang luas. Sebuah perusahaan ingin merubah lahan ini menjadi perkebunan sawit, namun pihak REDD ingin mempertahankan wilayah ini. Pemerintah di daerah ini korup dan pihak perusahaan telah mengiming-imingi Pemerintah dengan kucuran dana tetap jika lahan ini dirubah menjadi perkebunan sawit.Kebetulan kepala daerah di tempat ini adalah kakak ipar dari pemilik perusahaan sawit. (Saya jadi mikir, ini kok settingannya Indonesia banget yah). Dalam roleplay ini, kami dibagi menjadi empat kelompok: pemerintah, perusahaan sawit, REDD dan masyarakat. Setiap kelompok diminta bernegosiasi untuk mencapai tujuan masing-masing, dan pemerintah akan memberikan keputusan akhir tentang siapa yang berhak mengelola lahan gambut ini. Saya berada di kelompok pemerintah dan didaulat menjadi sang "kepala pemerintahan". Konsekuensinya, saya diminta menjadi juru bicara selama negosiasi. Negosiasi berjalan alot, lucu dan menyenangkan karena kami sama-sama memiliki motif yang berbeda-beda. Saya beberapa kali dapat tepukan tangan dari teman-teman dan dosen karena katanya akting saya sebagai pemimpin korup pas banget (entahlah, ini pujian atau sindiran), ya iyalaaaah berita aparat korupsi mah tiap hari kali di negara saya. Di akhir sesi, sang pembawa materi mengatakan bahwa apa yang kami bawakan dalam roleplay cukup mencerminkan apa yang terjadi sebenarnya. Roleplaynya sendiri diangkat dari cerita nyata menurut sang pemateri. (saya makin yakin, kisah nyata nya adalah curhatnya tentang Indonesia)
Aksi protes masyarakat adat pada pemerintah
negosiasi pemerintah dengan REDD, "Nanti saya dapat berapa?"
Selama di Creswick kami juga lumayan disibukkan dengan tugas presentasi yang mumet. Setiap orang harus mempresentasikan materi dengan judul-judul yang berbeda. Jangan ditanya susahnya, orang Australianya saja geleng-geleng pas baca bahan dan jurnalnya, apalagi saya yang bahasa Inggrisnya belum lolos iqro' 3. Saya harus mempresentasikan sebuah jurnal dengan judul: "Indirect radiative change through ozone effects on the land carbon sink". WHAT??? Baca judulnya berulang-ulang pun tetap membingungkan. Meski jurnalnya cuman 4 halaman, tapi saya butuh waktu lebih dari seminggu untuk menangkap apa maksudnya. Saya benar-benar harus mengerahkan semua kemampuan bahasa Inggris saya plus bertapa di kamar dan bertanya sering-sering sama dosen untuk bisa mengerti maksudnya. Ternyata yang bule juga pusing, namanya juga jurnal, bukan jurnal kalo gak bikin pusing.
BBQ before the class ends 
Hari terakhir itupun tiba, semuanya tegang. Kami sudah kompakan gak akan bertanya apapun ke teman yang lagi presentasi. Tapi dasar dosennya pengalaman, dia tau aja kalo kami coba curang. Sang dosen pun bertitah: yang presentasi gak boleh turun kalo belom dapat minimal tiga pertanyaan. SIAL!!!!. Setelah membaca basmalah dan beberapa doa lainnya, saya mulai mempresentasikan hasil review dan kritik saya. Beberapa pertanyaan muncul, namun masih bisa diantisipasi. Yang saya suka disini adalah teman-teman saya kritis, namun mereka bertanya bukan untuk menjatuhkan atau menguji, tapi lebih karena mereka memang kurang jelas tentang sesuatu. Plong rasanya setelah presentasi. Ternyata dengan Inggris belepotan plus sedikit bahasa tubuh, teman-teman bisa mengerti apa yang saya maksud.
Happy face after presentation
Sebelum pulang, kami menyempatkan berfoto bersama teman-teman sekelas. Yeah, it was one of the best classes I have ever had in Aussie. Nice lecturers, updated topics, nice blokes and healthy air (iya dong, tetanggaan sama hutan ini). Hehehehehe.

Beautiful sunset in Creswick