Sunday, May 8, 2011

Maroon 5 nan spektakuler

Saya tak pernah menyangka kalau postingan tentang kunjungan DPR akan meledak di pasaran (halah). Untuk pertama kalinya selama blogging, postingan saya dikunjungi 2000 an pengunjung perhari selama 4 hari. Selain itu, postingan nya di retweet berulang kali bahkan sempat di retweet oleh mas Joko Anwar. Sempat pula menjadi hot thread di kaskus dengan komen lebih dari 1500. Yeah I felt like dreaming, dan hasilnya memang mulai kelihatan, para anggota dewan kita sudah punya email resmi dan semoga bisa mengurangi kegiatan "kunjungan kerja" nya. Thanks all for the appreciation.

Untungnya, seminggu setelah bertemu anggota dewan kita, Melbourne kedatangan tamu lain. Kali ini bukan politisi tapi sebuah band yang lumayan populer, Maroon 5. Keterlaluan kalau sampe gak kenal Maroon 5,setidaknya tahu lagunya This Love lah (Yang ga tau "This Love", saya yakin adalah penggemar Kangen Band). Mungkin ada beberapa rekan yang sempat menyaksikan performa mereka di Jakarta. How was it? Keren kan, keren kan, keren kan? 

Sejak Januari saya sudah memesan tiket Maroon 5 via salah seorang sahabat saya yang dengan suka rela mengikutkan saya dalam proses pembelian tiketnya. Tiketnya saya peroleh seharga AUD 90,5, lumayan lah jauh lebih murah dari konsernya Buble kemarin. Saya sendiri cukup familiar dengan lagu-lagunya Maroon 5 sejak dari album pertama. Saya suka This Love, Sunday Morning, She will be loved, Misery, Wake Up Call, Nothing Last Forever, Goodnight Goodnight, Can't Stop, Won't Go Home Without You, Makes Me Wonder, Stutter, Hands All Over, Just A Feeling dan No Curtain Call. Weleh banyak juga yah. Saya yakin Adam Levine takkan mampu memenuhi semua permintaan itu. 

Berbekal tiket dan nasi bungkus, saya bersama Thao (teman dari Vietnam) menyusuri pinggiran Sungai Yarra menuju ke Rod Laver arena, venue pertunjukan nya. Kami tiba setengah jam lebih awal. Pas jam 7, opening act pertama menampilkan Ryan Cumming, seorang artis pendatang baru. Ryan membawakan beberapa tembang lawas dan lagu nya sendiri. Kelihatan jelas bahwa mas Ryan ini masih grogi kalau tampil. Opening act kedua menampilkan Sarah Bareilles. Saya sedikit familiar dengan cewek satu ini, meski cuman tahu satu lagunya, Gravity. Saya tak begitu tahu tentang Sarah, namun animo penonton sepertinya lumayan besar begitu Sarah mulai menyanyi. Terbukti banyak yang hafal lagu-lagunya dia. Apa saya yang gak gaul yah? Hahahaha. Overall, Sarah ternyata keren. Dia berkomunikasi dengan baik dan menyapa penonton, membuat joke joke ringan sambil memuji penonton. Ada satu line yang saya suka saat dia curhat pada penonton ".... that is why I don't like wearing f***in high heels". She is spontaneous and her voice was heaven. Si Thao malah sempet merinding mendengar dia menyanyi. 

Dalam kunjungannya ke Melbourne, Sarah memberi kesempatan duet kepada salah seorang fansnya di Melbourne, Ben Abraham. Ben meminta berduet dengan Sarah lewat videonya di YouTube dan mimpinya terkabul. Berikut video pinangan Ben dan hasil duet mereka di panggung 


Ada jeda sekitar 30 menit sebelum pertunjukan utama dimulai. Saat lampu Rod Laver Arena mulai dipadamkan, penonton mulai histeris menanti kemunculan Adam Levine cs ke atas panggung. Suasana gelap, dan beberapa sosok bayangan melintasi panggung. Lagu pertama langsung dimainkan Adam dkk, Misery diiringi koor para penonton. Penampilan Adam di awal pertunjukan tak terasa gregetnya, terasa kurang maksimal. Mungkin karena Adam simpan-simpan tenaga kali yah untuk menghabiskan malam panjangnya di atas panggung. Selanjutnya If I never see your face again dimainkan dengan apik disertai permainan lighting yang ciamik. Saya yang tak terlalu dekat dengan panggung dimanjakan dengan lighting yang dinamis sepanjang pertunjukan. Secara acak, lagu-lagu berikutnya dinyanyikan antara lain never gonna leave this bed, sunday morning, she will be loved, Billie Jean, The Sun, dan sejumlah tembang lainnya. Penonton yang di tribun nampaknya masih adem adem saja selama pertunjukan ini. Banyak yang ikut bersenandung namun masih malu-malu untuk berdiri dan mengikuti hentakan musik yang dimainkan. Sampai akhirnya bagian pertama konser itu ditutup dengan "This Love", sontak penonton makin histeris. Siapa yang tak kenal lagu ini, koor makin terasa kencang di seantero Rod Laver Arena. Para penonton di tribun serentak berdiri, bergoyang dan ikut bernyanyi sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sesi satu diakhiri dengan sempurna dengan "This Love". Panggung kembali gelap.  

Selang beberapa menit, Maroon 5 kembali menggebrak dengan Wake Up Call. Semakin lama, penampilan Adam Levine malah semakin enerjik. Aksi panggungnya pun makin atraktif, plus pencahayaan yang memanjakan penonton, khususnya yang jaraknya agak jauh dari panggung. Lagu-lagu yang cukup baru pun dimainkan seperti Stutter, Hands all over, sisanya saya lupa, hehehehe. Penonton di tribun juga sepertinya sudah enggan untuk duduk lagi. Menikmati lagu-lagu terakhir yang dimainkan oleh mas Adam dkk. Sampai lagi terakhir dimainkan, koor penonton masih saja kencang. 
Adam Levine

This Love has taken its all on me... lalalalalal 

Dynamic lighting 

Disorot lampu
Saya merasa sangat puas bisa mendapatkan kesempatan menyaksikan langsung Maroon 5. Maroon 5 memang memukau, sayangnya panggungnya tidak dilengkapi dengan layar besar di kiri kanan panggung sebagai layar bantu untuk mereka yang jauh dari panggung . Selain itu, Adam kurang komunikatif dengan penonton, tak seperti Sarah pas opening act. Adam paling cuman nyapa sebentar dan memperkenalkan anggota bandnya. Namun, semua itu bisa dimaafkan kok karena penampilan mereka bagus. 

Sejenak tugas kuliah yang menumpuk bisa terlupakan berkat konser ini. Tiket yang lumayan menguras kocek rasanya terbayar sempurna dengan pertunjukan Maroon 5 barusan. Hmmm siapa lagi yah yang akan manggung di Melbourne? 

Sunday, May 1, 2011

Bertemu anggota dewan

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Sudah lama saya menunggu-nunggu waktu bertemu dengan para anggota DPR yang terhormat. Saya sangat penasaran dengan justifikasi kunjungan kunjungan kerja mereka ke luar negeri. Akhirnya mereka datang juga ke Australia dalam sebuah kunjungan berlabel Kunjungan Kerja Panitia Kerja RUU Fakir Miskin. Kebetulan para utusan komisi 8 ini mau menyempatkan diri berdialog dengan para mahasiswa dan warga Indonesia yang bermukim di Melbourne. Sejumlah wacana telah beredar di kalangan mahasiswa di Melbourne, rata-rata bernada negatif, banyak yang merasa bahwa Kunjungan Kerja itu bahasa ilmiah nya jalan-jalan, samalah dengan studi banding ala banyak mahasiswa yang sebenarnya tak jauh jauh dari jalan-jalan. Sebenarnya Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) telah melayangkan surat terbuka ke DPR mempertanyakan kunjungan kerja ini, namun apa balasannya: kunjungan kerja ini telah lama direncanakan, sudah sulit untuk dibatalkan. (my first sigh, you'll have many sigh in this post)

Sehari sebelum dialog, Pak Kadir Karding (sang ketua rombongan) menyempatkan diri untuk berdiskusi via radio PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dunia yang dipanel dengan wakil ketua PPIA, Dirgayuza Setiawan. Dari diskusi awal di radio ini, saya sudah menangkap banyak kejanggalan dalam kunjungan ini, meski pak Ketua Rombongan mengatakan bahwa kunjungan kali sangat produktif karena mereka bertemu dengan banyak pihak dan beroleh banyak masukan. Satu statament menarik dari beliau, "Saya dipilih oleh 70 ribu orang di dapil saya, dan tak satupun dari mereka yang protes tentang keberangkatan saya ke luar negeri". Well, are you sure Pak? Yakin, gak ada satupun yang protes dengan kunjungan Bapak ke luar negeri. 

Sabtu, acara dijadwalkan mulai pukul 18.00 waktu Melbourne. Saya yang sempat ketinggalan tram, telat 10 menit. Tapi syukurlah, acara belum dimulai. Saya menyempatkan sholat dan bercakap-cakap dengan beberapa kenalan. Hampir pukul 19.00, para anggota komisi VIII datang. Kami dipersilahkan untuk makan malam dulu, sebelum dialog dimulai. Yah mungkin dengan anggapan bahwa para mahasiswa ini tak akan banyak bertanya kalau sudah kenyang. Well, let's see.... 

musim gugur di Melbourne menyambut Panja RUU
Acara akhirnya dimulai dengan pembukaan oleh Pak Sapto Hadi dari Konsulat Jendral RI di Melbourne. Beliau menyampaikan profil penduduk Indonesia yang ada di Melbourne, serta beberapa event yang akan diadakan di Melbourne dalam waktu dekat. FYI, acara ini diliput radio PPIA dunia serta disebarluaskan live reportnya via twitter dengan hashtag DPRinMEL. Setelah itu, acara inti dimulai. Pak Kadir Karding membuka acara dengan memperkenalkan  anggota tim yang datang. Total ada 11 orang anggota komisi delapan plus 5 orang pendamping. Sesi perkenalan berlangsung hangat, Pak Kadir membawakannya dengan ramah dan menyenangkan. Pak Kadir lanjut menceritakan tentang misi mereka ke Australia. Beliau mengatakan bahwa anggota rombongan belum istirahat sejak memulai perjalanan dari Sydney. Dari penjelasan beliau, komisi VIII ternyata telah bertemu dengan beberapa pihak diantaranya Islamic Fahd School (untuk belajar penanganan sekolah swasta a.k.a madrasah dan sekolah agama lainnya), Asosiasi Muslim di Australia (untuk mendiskusikan multi-kulturalisme), Centrelink (salah satu institusi yang menangani suku Aborigin di Australia) serta dengan majlis ulama setempat (untuk mendiskusikan tentang sertifikasi halal). Pak Kadir juga menyayangkan semua media yang selalu menyalahkan anggota DPR. 

Selain itu Pak Karding juga memaparkan tentang RUU yang sedang digodok oleh Komisi VIII diantaranya RUU Fakir Miskin, RUU Kebebasan & Perlindungan beragam, RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah), RUU Jaminan produk halal, RUU Keadilan dan kesetaraan gender, RUU Pendidikan yg dikelola masyarakat swasta. Alasan mereka memilih Australia adalah karena jaraknya dekat (cost effective), Australia memiliki struktur jaminan kesejahteraan sosial yang luar biasa dan sistem pendidikan swasta yang mumpuni. Saya manggut-manggut dan sedikit merasa bahwa kunjungan ini ternyata tak semubazir yang saya bayangkan, meski pertanyaan dasar saya belum bisa dijawab. 

Acara selanjutnya sesi tanya jawab. Tanya jawab direncanakan untuk 2 sesi. 3 penanya untuk sesi pertama dan 3 penanya untuk sesi selanjutnya. 
Sesi pertama: 
Pertanyaan pertama dari saudara Bagus, yang mengutarakan bahwa dana untuk kunjungan ini menurut berita adalah Rp 811 juta, yang jika dibagi dengan jumlah rombongan akan sama dengan Rp 50 juta perorang. Dengan jumlah seperti itu, sebenarnya dana yang digunakan jauh melebihi kebutuhan hidup selama seminggu di Australia. 
Pertanyaan Kedua, lupa nama penanyanya, menanyakan tentang pluralisme di Indonesia 
Pertanyaan Ketiga, saudara Dirgayuza, yang mempertanyakan betapa susahnya mengakses dan menghubungi anggota dewan terkait transparansi keberangkatan mereka ke Australia. Selain itu, Yuza juga mempertanyakan alasan mengapa mereka tidak mengunjungi kantong kantong fakir miskin di Northern Territory, malah ke Sydney, Canberra dan Melbourne. 

Melbourne Central Dome
Tibalah sesi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan: 
Saya bingung harus mulai menceritakan apa? Karena saya terus terang tidak bisa menangkap apapun dari jawaban-jawaban yang dikemukakan dari Bapak/Ibu kita yang terhormat ini. Salah seorang anggota dewan memberikan jawaban bahwa dana yang digunakan untuk perjalanan ini mendekati angka 811 juta seperti yang diberitakan, namun beliau enggan menyebutkan berapa... Apakah 1 Milyar, apakah 900 juta atau apakah 899 juta, we never know. Yah itulah yang kita sebut dengan transparansi. Pak Kadir juga membantah kalau anggota DPR sulit untuk dihubungi, menurut beliau hape nya aktif 24 jam dan setiap SMS pasti dibalas. Akhirnya ditantang oleh forum yang menanyakan langsung no hape beliau serta email addressnya. Beliau akhirnya menyampaikan no hape dan email nya yang ternyata menggunakan yahoo saudara saudara. 

Beberapa anggota lainnya juga berkesempatan memberikan pandangan mereka. Dan dimulailah perjalanan melelahkan itu. Salah seorang "curhat" tentang anggaran DPR yang cuma 3 persen dari anggaran APBN lengkap dengan penjelasan tentang tataran konseptual dan tataran praktis. (Pak, kalau tahu itu, kenapa mau jadi anggota DPR? Kalau mau anggaran nya hemat, yah jangan ke luar negeri mulu dong). Dilanjutkan dengan anggota lain yang merasa ada suasan kebatinan saat berada di Melbourne (Oh my Lord, kedengarannya seperti cenayang, yang pasti suasana kebatinan di ruangan dialog itu begitu menyeramkan). Selain itu kami mendapat pelajaran tambahan bahwa sebuah negara harus memiliki unsur legislatif dan eksekutif (Maaf Bu, kurang unsurnya, seharusnya tambah dengan yudikatif menurut trias politica, OMG itu kan pelajaran PMP kita, saya masih ingat kok Bu).  Pertanyaan kami yang sebenarnya sederhana membutuhkan jawaban yang sederhana. Namun, entah kenapa jawabannya jadi panjang dan bertele-tele. Sepertinya memang disengaja agar kita tidak punya waktu lagi untuk sesi kedua. Yuza segera memotong dan mengatakan bahwa waktu kita terbatas, dan menyarankan untuk segera lanjut ke sesi kedua. 

Apa yang terjadi kemudian? Para pemateri ini enggan untuk memulai sesi kedua dengan dalih kecapekan dan butuh istirahat. Kontan, mereka mendapatkan booooooo panjang dari hadirin. Yuza masih keukeuh meminta perpanjangan, dan akhirnya diluluskan. Ada satu pertanyaan dari rekan di Taiwan yang prihatin dengan image anggota dewan yang harus segera dipulihkan. Seorang teman saya, Andri ikut nyeletuk dan mempertanyakan skema apa yang akan digunakan untuk fakir miskin di Indonesia? Apa jawaban yang diperoleh Andri? Jawabannya adalah: kemiskinan itu ada 3 level yakni mendekati misskin, miskin dan fakir miskin (CMIIW) (Halooooooooooooooo Pak, itu bukan jawaban yang kami minta, teman kami bertanya tentanf SKEMA APA, bukan  klasifikasi fakir miskin, may day may day). 

Saya juga sempat memotong permbicaraan dan menanyakan, kalau memang ke Aussie cuman buat ketemuan, kenapa tidak pake teleconference saja biar lebih hemat anggaran. Apa jawab yang saya terima: "Wah itu susah teknisnya", kata pak Kadir. Saya balas lagi: "Gampang kok Pak,tinggal bikin akun". Ada juga yang nyeletuk "Mau gak pak diajarin pake skype, saya mau pak ngajarin". Hadirin makin antusias bertanya, namun para anggota Dewan ini mengatakan bahwa uneg uneg kami bisa disampaikan ke email komisi. Kami tidak puas, kami desak pertanyaan tentang alamat email komisi delapan. Aksi saling tunjuk anggota DPR pun berlangsung karena tak satupun yang ingat alamat email komisi delapan. Salah seorang staf ahli berdiri dan menyebutkan alamat email dengan lantang: 

"KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM" 

Kontan, seisi ruangan terbahak. WHAT? Tidak ada yang yang alamat dpr.go.id yah Pak. Kok Yahoo sih, gampang di hack dong.

Akhirnya pertemuan itu berakhir sedikit panas. Beberapa teman mencoba menulis email ke:
komisi8@yahoo.com 
komisiviii@yahoo.com
komisidelapan@yahoo.com

komisi8@yahoo.co.id
komisiviii@yahoo.co.id
komisidelapan@yahoo.co.id

apa yang terjadi? Semuanya bounce back, alamat emailnya gak ada yang benar. Jadi alamat email yang benar yang mana yah. Saya sih berpikir, mungkin alamat email nya yang benar adalah: k0M151d3L4P4n@yahoo.com  

Kejadian ini memang sudah bisa saya prediksi, saya cuman ingin membuktikan apa benar kata media. Jawabannya: kurang lebih benar. Semoga PPI PPI lain di seluruh dunia bisa berinisiatif mengawasi para anggota dewan kita yang melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Tentunya banyak jenis aksi yang bisa dilakukan dan tidak ada yang salah selama itu dilakukan dengan tertib dan sesuai aturan. Ada juga rekan PPI yang pernah menguntit anggota dewan yang shopping dan mempublikasikannya di media.

Semoga menjadi pembelajaran bagi semuanya. Semoga kunjungan kerja bisa lebih transparan, lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih bisa memberi manfaat. Saatnya juga mempertimbangkan penggunakan teknologi informasi untuk mengumpulkan data tentang kebijakan di luar negeri. Saatnya belajar menggunakan skype atau mungkin yahoo messenger untuk teleconference, toh mereka mereka punya account yahoo kan?  Atau alih alih mengirim belasan orang ke luar negeri, kenapa nggak expert luar nya saja yang didatangkan ke Indonesia. 


Mungkin banyak yang bertanya, kenapa juga ada yang mau datang ke dialog seperti ini. Saya justru merasa harus datang karena dengan menyuarakan pendapat langsung di depan mereka, kegalauan setidak nya bisa disalurkan dan didengar meski mungkin tak ditanggapi. Ketimbang memaki tak jelas, alangkah lebih patutnya jika pendapat tersalurkan langsung mumpung para anggota dewannya berkunjung ke Melbourne. Doing one little action is better than doing nothing, CMIIW. Setidaknya mereka juga belajar bahwa mereka diawasi, dan perjalanan mereka ke Australia toh tetap mendapat tantangan keras dari para mahasiswa yang ada disini. At least, it is not a smooth journey for them. 

Bagi yang mau membaca evaluasi Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) tentang kunjungan PANJA Fakir Miskin silahkan berkunjung ke sini.


Ini hanya pendapat subjektif saya, silahkan beropini

Oh iya, baru saja Yuza sang wakil ketua PPIA, mengusulkan agar video dialog kami dimasukkan ke dalam postingan ini. Bagi yang penasaran, silahkan simak video berikut ini.