Saturday, April 16, 2011

Mereka yang (harus) mengungsi

Postingan ini mungkin rekan-rekan anggap sebagai sebuah postingan yang serius soalnya ini bukan postingan tentang jalan-jalan, makan-makan atau foto foto narsis si empunya blog. Cerita yang akan dipaparkan pun bukan cerita yang yang menggembirakan, tapi sebaliknya cerita tentang mereka yang banyak dilupakan oleh kita. Cerita tentang mereka yang tak berbuat apa-apa namun harus menerima akibat dari semua kecerobohan dan keborosan kita. 

Di Indonesia, istilah global warming atau climate change mungkin lumayan populer. Penyebabnya pun sudah pada tahu kan... greenhouse gas emission. Apa dampaknya untuk bumi ini? Saya juga yakin pasti teman-teman sudah tahu apa dampaknya: suhu bumi perlahan-lahan naik. Sekarang rata-rata suhu bumi sudah naik hampir 1 derajat. (What? cuman satu derajat kok pusing......). Yeah 1 derajat mungkin tak begitu berarti bagi kita di Indonesia. Namun, bagi daerah kutub, kenaikan ini sudah berdampak besar bagi mereka. Dengan kenaikan suhu hampir 1 derajat saja, cuaca sudah mulai tak bisa diprediksi, gimana kalo naik sampai 4 atau 5 derajat yah? 

Kita sering merasa bahwa pemanasan global itu urusan sepele. Lama-lama juga bisa diatasi. Semoga dengan cerita-cerita berikut ini, teman-teman bisa lebih tergugah untuk sedikit merubah perilaku terhadap lingkungan. Cerita-cerita berikut merupakan cerita tentang tempat-tempat yang penduduknya terancam harus mengungsi karena perubahan iklim, pemanasan global atau apapun namanya. Mereka lah para calon climate refugee (pengungsi iklim) 

Sundarbans, Bangladesh 

Pasti semuanya masih asing dengan Sundarbans. Sundarbans merupakan wilayah pesisir sepanjang pantai di Bangladesh. Dahulu, masyarakat menggantungkan hidupnya dengan menangkap ikan, beternak sapi dan bertani. Namun akhir-akhir ini, penduduk di sepanjang pantai mulai merasakan kenaikan air laut. Tanggul pun dipasang di sepanjang pantai. Tiap tahun tanggul ini semakin bertambah ketinggiannya karena air laut yang tak kunjung surut. Kondisi geografis tempat ini sangat landai, sehingga kenaikan air laut tidak hanya akan dirasakan oleh mereka yang berada di pesisir namun bisa jauh ke daratan. 

Dampak lain dari kenaikan air laut adalah sumber-sumber air bawah tanah mereka jadi ikutan asin. Para penduduk harus berjalan berkilo-kilo meter setiap hari untuk bisa memperoleh air tawar. Selain itu, ternak ternak sapi mereka mati karena tidak sanggup menderita lagi, yah sapi-sapi dimana gak suka minum dengan air asin. Perlahan-lahan, penduduk sudah mulai banyak yang mengungsi ke Dhaka, ibukota Bangladesh karena Dhaka dianggap bisa memberikan harapan. Dhaka sendiri sudah sangat bermasalah dengan perencanaan kota, sanitasi dan over populasi. Dan tahu sendirikan kalau Dhaka tiap tahun dilanda banjir yang semakin hebat dari tahun ke tahun. Padahal kota Dhaka sudah dibentengi dengan tanggul yang melindungi kota. Tapi sepertinya gak anti banjir lagi. 
Megacity Dhaka, tempat tujuan para pengungsi dari Sundarbans. Pic is taken from www.foxnews.com
Tentu saja, ini menjadi dilema bagi mereka. Apakah mereka harus menetap dengan kondisi lahan yang semakin parah atau mengungsi ke Dhaka yang juga belum tentu cukup untuk menampung para pengungsi ini.

"When there's a full moon, I can't help thinking of Sundarbans. That's the best time for fishing in the mangrove forest. I still feel it calling to me." - Hamid (pengemudi becak di Dhaka yang mengungsi dari Sundarbans) 

Chad

Mirip nama tokoh kartun kan? Sayangnya bukan, Chad adalah nama sebuah negara di Afrika. Selain kenaikan air laut, climate change juga berdampak kekeringan di beberapa belahan dunia. Afrika termasuk daerah yang akan semakin kering seiring dengan makin panasnya bumi. Adalah Danau Chad, yang terletak sangat strategis di empat negara: Niger, Nigeria, Kamerun dan Chad. Danau ini memang sudah menjadi sengketa sejak dulu, namun akhirnya terjadi kesepakatan antara 4 negara tentang pembagian wilayah danau ini. Dulu, orang-orang malah menyebut danau ini dengan "laut" saking berlimpahnya air pada waktu itu. 

Namun kondisi danau Chad sekarang sudah berubah drastis karena pemanasan global dan manajemen air yang buruk. Luas danau Chad yang menjadi sumber mata air di empat negara ini mengecil dari 25.000 kilometer persegi menjadi hanya 2500 meter persegi. Mengecilnya danau ini menjadikan Nigeria dan Niger tidak bisa mengakses danau ini lagi karena air danau sudah tidak menggenangi kedua negara ini. Belum lagi kedalaman air yang sekarang cuman sekitar 1 meter. Situasi ini diperparah dengan bau menyengat,sanitasi yang buruh serta kebersihan air yang sudah tidak terjamin lagi. Penyakit kolera pun mewabah. Penduduk mengatakan bahwa mereka tidak merasa yakin menggunakan air danau ini lagi untuk berwudhu karena khawatir apakah air danau ini masih "suci dan mensucikan". 

Danau chad yang semakin mengecil dan mendangkal. Pic is taken from www.seerealafrica.com
Banyak yang beralih menjadi petani namun tak banyak yang bisa diharapkan karena pertanian pun butuh pengairan untuk bisa bertahan. Penduduk hanya bisa berharap air yang dulu mereka lihat bisa kembali lagi, karena untuk mengungsi pun mereka tidak tahu harus kemana. 

"The more the water disappears, the more the risk of conflict will grow"- Sali Oumar (Chad)

Maldives 

Yang terbayang di benak kita tentang Maldives adalah resort resort menawan, pantai yang indah serta laut yang biru. Negara ini memang terkenal sebagai negara kepulauan dengan resortnya yang menawan. Male adalah ibukota Maldives dengan luas hanya 2 kilometer persegi namun dihuni oleh sekitar 100 ribu penduduk. Bayangkan betapa padatnya penduduk di Male. Tentunya untuk menampung penduduk sebanyak itu, dibutuhkan gedung-gedung beton bertingkat serta prasarana pendukung lainnya. 

Male ternyata adalah sebuah kota yang berpondasikan batu karang. Dengan penduduk serta infrastruktur seberat itu, Male diprediksikan akan tenggelam karena pondasi karang alami di bawah nya tak mampu lagi menopang kota yang semakin berat ini. Male diibaratkan sebagai kapal yang siap tenggelam. Selain itu, kenaikan air laut sangat berdampak di kota ini meskipun telah dibentengi dengan pemecah ombak di sekelilingnya. Di tahun 1998, Maldives terkena dampak El Nino yang menyebabkan kematian terumbu karang di Maldives. Dibutuhkan 20 atau 30 tahun untuk mengembalikan keadaan ini. Namun dengan kondisi sekarang, iklim sudah tidak bisa diprediksi. 
Male, the sinking ship. Pic is taken from www.travelinfoflights.blogspot.com
Masyarakat Male sendiri sudah was was dengan kondisi ini. Katanya masyarakat jadi semakin relijius sejak mengetahui kondisi mereka, terbukti dari jumlah wanita yang mengenakan jilbab yang semakin banyak (saya sendiri kurang begitu setuju dengan hubungan relijius dengan penggunaan jilbab, hehehehe). Mereka sadar bahwa musim sudah semakin tidak bisa diprediksi. Erosi pantai bisa saja menghancurkan pondasi kota mereka, dan kemana mereka harus pergi saat Male sudah tidak bisa dihuni lagi. Ke negara tetangga mereka? India dan Sri Lanka pun sudah cukup bermasalah. 

This is my land. I was born here and I want to die here - Ali (Maldivian) 

Tuvalu 

Nama apa itu? Itu nama sebuah negara bung. Sebuah negara yang terletak di Pasifik, agak jauh di sebelah timur Indonesia. Sama seperti Maldives, Tuvalu ada negara atoll (negara yang terdiri dari pulau pulau yang terbentuk oleh karang). Negara ini haanya seluas 26 kilometer persegi dengan ketinggian rata-rata 2 meter di atas permukaan laut. Penduduk negara ini cuman sekitar 12 ribu orang. Sebagai negara kepulauan yang kecil, Tuvalu sudah biasa dengan badai, tsunami dan bencana lainnya. Para leluhur mereka sepertinya sudah bisa memprediksi pergantian musim dan pengetahuan ini diturunkan dari generasi ke generasi.

Namun, akhir-akhir ini kalender musiman mereka sudah tidak bisa dipercaya lagi. Negara ini semakin banyak mengalami musibah, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Badai dan angin semakin hebat memporak porandakan negara ini. Selain itu, sudah banyak pemukiman penduduk yang sekarang ambruk ditelan kenaikan air laut. Luas pulau semakin mengerut seiring naiknya air laut. Tuvalu diprediksi sebagai negara pertama yang akan terkena dampak dari perubahan iklim. Selain itu, negara ini sudah menyiapkan rencana pengungsian warga mereka besar-besaran ke negara-negara tetangga (Australia, New Zealand, dll).
Ombak menghantam pesisir Funafuti, Tuvalu. Pic is taken from www.worldviewofglobalwarming.org
Perjuangan Tuvalu untuk menghentikan emisi dunia bukan tidak ada. Mereka sempat walk out dengan berlinang air mata di pertemuan dunia tentang perubahan iklim karena suara mereka dianggap minoritas dalam percaturan politik dunia. Mereka meneriakkan pengurangan emisi secara drastis karena dengan jumlah emisi saat ini, bukan tak mungkin Tuvalu akan tinggal nama di tahun-tahun yang akan datang. Ini bukan tentang jumlah mereka yang hanya sekitar sepuluh ribuan, tapi ini tentang terancamnya sebuah peradaban, hilangnya sebuah kebudayaan dan lunturnya kepedulian. 

"If I see the sea level rise with my own eyes, I'll agree to leave, but that hasn't happened yet." - Elie (Tuvaluan) 

Sebenarnya masih banyak tempat yang mengalami nasib yang sama. Namun, cukup keempat tempat ini saja dulu. Peduli lingkungan bukan hanya dengan "membuang sampah pada tempatnya", "mengurangi penggunaan kresekan", tapi lebih dari itu. Peduli lingkungan bisa sangat luas, termasuk menyebarkan pesan bahwa bukan hanya beruang kutub yang terancam dengan emisi yang kita keluarkan dan plastik yang kita buang, tapi banyak manusia yang terkena imbasnya. Mereka sekarang bimbang apakah harus mengungsi dengan harapan yang tidak pasti, atau tetap tinggal di habitat mereka yang perlahan-lahan akan membunuh mereka. 

Inspired by Climate Refugees by Hubert Reeves and Jean Jouzel. A must read book 

Friday, April 8, 2011

No Impact Man, a possible impossibility

Kami, para mahasiswa master lingkungan, memiliki semacam paguyuban yang dinamakan Postgraduate Environmental Network (PEN). Kegiatan PEN bermacam-macam mulai dari social gathering (nongkrong di pub sambil ngobrolin kuliah dan tugas), seminar tentang lingkungan, camping atau acara-acara lainnya. Saya tidak selalu bisa hadir di berbagai acara dikarenakan kesibukan belajar (sambil facebookan, blogging dan twitteran) atau lagi gak mood hadir. Minggu lalu sebuah undangan masuk ke FB group PEN, rupanya sebuah ajakan nonton hemat (baca: gratis). Sebuah film dokumenter berjudul "No Impact Man", belum pernah dengar kan? Iya lah, film ini memang bukan konsumsi studio 21, ini hanyalah sebuah film dokumenter yang mungkin dianggap tak komersial oleh bioskop-bioskop besar.

gathering mahasiswa

Well review film ini bukan berarti bahwa saya akan menjadi kritikus film full seperti dua sahabat saya, Rossa dan Exort. Tidak sama sekali. Namun, saya cuman ingin menyampaikan beberapa pesan moral yang mungkin bisa sedikit menggugah teman-teman yang membaca blog ini.

No Impact Man merupakan film dokumenter tentang sebuah keluarga New York yang mencoba tantangan setahun tanpa energi. Film ini adalah cerita tentang Colin Beavan serta istrinya, Michelle, dan anaknya, Isabella, yang baru berumur sekitar 3 tahun. Berisi tantangan hidup setahun tanpa mobil, plastik, lift, toilet paper, air conditioner, popok bayi sekali pakai, deterjen kimia, dll. Selain itu, selama setahun Colin tidak akan menonton televisi, tidak akan makan di restoran, tidak akan menggunakan gelas sekali pakai, tidak akan ngopi di starbucks, akan menjadi vegetarian bersama keluarganya. Ide gila ini berawal dari Colin yang merasakan kegalauan akan banyaknya sampah disekitar lingkungannya. Istri Colin, Michelle, adalah tipe wanita Amerika pada umumnya. Termasuk tipe istri yang doyan belanja. Namun demi cintanya pada suami, Michelle rela diseret permainan gila suaminya.
Invitation to PEN members

Langkah pertama yang mereka tempuh adalah menjual televisi serta barang-barang lain yang tidak diperlukan.  Di fase awal kehidupan tanpa dampak ini, Michelle mengalami masa-masa sulit. Dia merasakan betapa susahnya beradaptasi dengan hidup tanpa daging, tanpa starbucks, hidup tanpa televisi. Adu argumentasi sopan antara ia dan suaminya kerap terekam dalam video ini. Namun, tekad Colin memang kokoh dalam melaksanakan proyek ini. Setting yang kerap digunakan di film ini adalah sebuah pasar rakyat yang menjual buah buahan segar. Salah satu pesan yang diajarkan film ini adalah: konsumsi lah buah dan makanan lokal, karena buah buah impor lebih banyak menghabiskan emisi pada saat dikirim ke negara tujuan. Colin juga menunjukkan betapa bungkus plastik atau kotak sebuah makanan adalah bentuk tindakan "nyampah".

Tantangan-tantangan awal yang dihadapi keluarga ini lumayan banyak. Misalnya menggunakan popok kain yang harus dicuci setiap kali Isabella abis poop, tentunya penggunaan popok kain dianggap lebih ribet dibandingkan menggunakan popok sekali pakai. Colin menganggap bahwa masyarakat kita sudah jadi masyarakat sekali pakai (disposable community), karena kita belum sadar bahwa popok bayi merupakan jenis sampah terbanyak ketiga dunia. Tantangan lainnya adalah buang air besar tanpa tisu. Mungkin ini mudah bagi kita yang orang Timur, namun percayalah BAB tanpa tisu bagi mereka bagaikan BAB tanpa air bagi kita.

Colin yang juga seorang blogger, kerap mendapat undangan tampil di TV atau wawancara di radio berkaitan dengan No Impact Man project yang dia jalani bersama keluarganya. Dia kerap disangka gila karena mencoba melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Apa jawab Colin? Colin cuman menjawab: "Kenapa harus menunggu peraturan untuk berbuat, kalau memang para anggota Kongres/Dewan belum membuat peraturannya, maka kita sendiri yang harus memulai berbuat". Tantangan lainnya adalah salah seorang rekan kantor Michelle diminta oleh istrinya untuk menjauhi Michelle, karena Michelle dianggap gak higeanis mengingat Michelle BAB tanpa menggunakan tisu. Namun, Michelle tegar dan tetap mau melanjutkan proyek sableng ini. Ini merupakan sindiran kepada kita semua yang terus mengotori bumi ini tanpa merasa bersalah. Saya tertohok.

Selama 6 bulan pertama, listrik masih digunakan meski dibatasi hanya untuk keperluan laptop, lemari pendingin, dan beberapa penerangan. Setelah itu, penggunaan listrik total hanya untuk laptop saja. Itupun biasanya dipake Colin untuk update blog dan menyapa penggemarnya. Karena lemari pendingin sudah dijual, Colin mencoba menggunakan cara cara tradisional ala Afrika untuk mendinginkan makanan, yakni menggunakan pot tanah liat. Namun, sayangnya upaya ini tak berhasil. Akhirnya, mereka menggunakan termos kotak  sebagai pengganti lemari pendingin.

Selain berisi kisah harian dan drama keluarga Colin, film ini juga menceritakan upaya Colin untuk lebih mengenal lingkungan. Dia ikut secara rutin membantu pengelolaan kebun kota, mengunjungi kawasan peternakan dan pertanian untuk mengetahui asal-muasal makanan yang ada di meja makannya. Selama mengunjungi tempat-tempat ini, Colin selalu membawa Isabella, sang anak yang super lucu. Ini dilakukan untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada anaknya yang masih kecil.

Setelah setahun, Colin akhirnya mengakhiri proyek ini. Lampu kembali dinyalakan. Namun banyak perubahan yang drastis yang keluarga ini rasakan. Mereka sadar bahwa mereka tak akan kembali ke kehidupan konsumtif mereka. Michelle bertekad akan terus bersepeda dan merasa bahwa hidup yang dijalaninya selama setahun memberi banyak pelajaran tentang hidup yang sustainable (lestari).

Film ini disajikan apa adanya serta diselingi dengan kelucuan-kelucuan spontan ketiga pelakon utamanya. Mereka tidak berperan sebagai siapapun, melainkan sebagai diri sendiri. Jangan berharap soundtrack indah saat menonton film ini, jangan berharap aktor atau aktris rupawan dalam film ini. Karena film ini murni dokumenter, film ini murni tentang seorang anak manusia yang ingin melihat bumi ini berubah. Film ini tentang kekhawatiran seseorang akan keberlangsungan hidup manusia lain di Tuvalu dan negara Pasifik lainnya yang sebentar lagi akan tenggelam karena kenaikan air laut akibat emisi yang terus kita keluarkan. Film ini berisi humor satir sebuah keluarga yang mencoba memberi sesuatu pada dunia dan berharap secuil komitmen mereka bisa diadopsi oleh orang lain.

Di akhir film nya, Colin mengatakan: If only we could do more good than harm to our Earth.

Saya pastinya tak bisa menjadi persis seperti Colin, namun saya belajar banyak dari film ini. Saya jadi merasa betapa banyak sampah yang saya produksi, betapa saya masih sangat tergila gila sama gadget-gadget baru yang fungsinya mungkin ga penting. Inti film ini adalah: bertindak mulai sekarang, jangan tunggu peraturannya dibuat dahulu. Mulailah dari hal yang kecil. Proyek ini awalnya ditanggapi pesimis oleh banyak orang karena dianggap mustahil sebuah keluarga bisa hidup tanpa ini dan itu, namun Colin, Michelle dan Isabella mampu membuktikan bahwa dunia gak kiamat meski gak ada listrik. Malah berkat gelap-gelapan, di ujung film ini Isabella akan dapat adik lagi. Hahahahaha

Bagi yang penasaran, silahkan nonton triler di bawah ini. Bagi yang tertarik berkunjung ke blog Colin bisa klik disini.