Sunday, March 27, 2011

Nggak doyan tapi keukeuh nonton, ternyata F1 itu.......

Meski mungkin Melbourne kalah pamor dibanding Sydney, namun saya tetap merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk bermukim di kota ini. Melbourne setidaknya tidak terlalu ramai seperti Sydney dan sistem transportasinya lebih bisa diandalkan. Keuntungan lain yang saya rasakan adalah Melbourne lebih banyak menghelat even olahraga internasional dibanding Sydney, sebut saja turnamen tenis Australian Open, MOTO GP dan F1 Grand Prix. Ketiga even ini sudah menjadi trademark nya Melbourne dan menjadi agenda tahunan. Melbourne menjadi magnet tersendiri bagi penikmat tenis dan pecandu otomotif. 
Albert Park, taman rakyat yang disulap jadi lokasi balap F1 setiap tahun
Saya sudah berniat ingin menyaksikan Australian Open sejak tahu saya akan tinggal di Melbourne. Namun apa daya, Australian Open 2011 harus saya lewatkan karena jadwalnya bertepatan dengan jadwal kepulangan saya ke Indonesia. Even yang selanjutnya digelar di tahun 2011 adalah F1. Sayangnya, saya bukan penggemar otomotif dan memang tidak pernah tergerak untuk menonton F1 dan sebangsanya. Saya sudah memutuskan untuk melewatkan even ini sampai teman serumah saya mengatakan bahwa ada harga konsesi untuk tiket F1. After I think cook cook (Baca: Setelah berpikir masak-masak), nggak ada salahnya juga mengeluarkan sedikit duit untuk mengalami even-even yang menurut saya kurang menarik. Kali saja jadi suka atau kali saja dapat door prize jalan jalan ke Eropa (Hahahaha emang judi togel).
Peta Lengkap Arena F1 di Albert Park

Hari Minggu 27 Maret 2011, perjalanan ke Albert Park (lokasi perhelatan F1) dimulai. Panitia memang sepertinya sudah siap dengan membludaknya penonton, tak ada kesulitan transportasi yang saya dan pengunjung lain dapatkan untuk menuju ke Albert Park. Proses masuk ke lokasi balapan pun lancar jaya, cukup menunjukkan tiket saja. Meski balapannya dimulai pukul 17.00, namun para pengunjung sudah mulai memenuhi venue sejak siang. Ini dimaksudkan untuk mengamankan lokasi-lokasi duduk yang strategis. Saya yang baru tiba pukul 16.00 harus sedikit berusaha untuk akhirnya bisa mendapatkan tempat yang memberikan view balapan yang lumayan jelas. Maklumlah, karena postur tubuh yang mini untuk ukuran bule, saya kurang NAMPAK saat harus berada di barisan belakang. 
mereka yang datang duluan untuk mengamankan tempat
Balapan belum dimulai saat atraksi helikopter dilakukan di atas arena, cukup ampuh untuk menghibur pengunjung. Selain itu, penjual makanan dan minuman tersebar di berbagai lokasi dalam arena ini. Sebelum acara dimulai, segenap pengunjung mengadakan hening cipta untuk korban bencana di Jepang dan Christchurch terlebih dahulu selama semenit. Pembukaan even ini dimeriahkan dengan munculnya pesawat Qantas di atas arena, maklumlah acara ini disponsori oleh Qantas. Awalnya sempat tegang juga saat melihat betapa rendahnya pesawat ini mengudara, ternyata memang kemunculan pesawat ini merupakan bagian dari skenario pembukaan acara. 

Saat balapan dimulai, semua penonton nampak begitu bersemangat mengabadikan mobil-mobil yang berlalu dengan cepatnya. Saking cepatnya, kamera poket yang saya gunakan sangat sulit untuk menangkap mobil-mobil yang berlalu. Beda rasanya dengan menonton di TV, kalau di TV mobil-mobil ini nampak bergerak dengan kecepatan yang normal. Selain itu, tantangan lain menonton F1 dari dekat adalah polusi suara yang bisa membuat telinga berdenging. Pantes saja banyak yang menggunakan penyumbat telinga dan headphone, tujuannya biar gak budek ternyata. Setelah 10 lap berlalu, saya mulai merasa gak nyaman dengan suara yang dikeluarkan mesin-mesin ini. Saya memutuskan untuk mengelilingi arena, ingin melihat apa saja yang ada disana. Ternyata banyak layar tancap yang disediakan oleh panitia bagi mereka yang tak begitu tahan dengan bisingnya mesin mobil F1 yang sedang berpacu. Selain itu, toko-toko merchandise bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin cari oleh-oleh. 
Sulit untuk bisa mendapatkan gambar mobil saking cepatnya
Satu dari sekian mobil yang dipamerkan

Menjelang selesainya balapan, para pengunjung berbondong-bondong mendekati garis finish. Balapan ini akhirnya dimenangkan oleh Vettel dari tim RBR Renault disusul Hamilton dari tim McLaren - Mercedes dan Vitaly Petrov dari tim Renault. Begitu semua kendaraan menyelesaikan putarannya, jalur balap pun dibuka untuk umum. Jalur ini hanya butuh waktu sekejap untuk berubah menjadi lautan manusia yang memenuhi jalan untuk mendekati podium guna menyaksikan langsung acara penyerahan trofi. Meski sulit untuk mendapatkan tempat yang cocok untuk membidik acara penyerahan trofi, saya akhirnya bisa mengabadikan beberapa momen penting (tapi maaf yah kualitasnya gak bagus-bagus amat, maklumlah kamera poket) 
Penonton berlarian memasuki lintasan, menuju ke podium

Champions celebration @podium
Siap nonton lagi tahun depan, ada yang mo bayarin tiketnya??

Saya tak menyangka akan menyukai pengalaman yang baru saya alami ini. Ternyata F1 tak melulu tentang pembalap dan jalur balapnya. Tak melulu tentang tim siapa yang menang. Namun ternyata, banyak cerita lain yang bisa dinikmati dalam even ini, bisa berbaur dengan berbagai etnis dan ras, berburu merchandise, menikmati euforia otomatif di sekitar, menikmati es krim, cuci mata lihat yang bening-bening dan menyesali nasib mengapa tak mampu membeli tiket F1 yang di podium hahahaha. Sepertinya memang harus mengagendakan untuk menonton F1 lagi tahun depan. Setidaknya saya sudah tahu harus bawa apa tahun depan: Sumbat Telinga, Payung dan Kursi Lipat. 

Wednesday, March 23, 2011

Canberra, bukan ibukota biasa

Apa yang rekan blogger bayangkan begitu mendengar kata ibukota? Mungkin banyak yang langsung membayangkan “padat, macet, polusi, gedung tinggi dan kesibukan”. Saya juga awalnya seperti itu. Namun kunjungan saya ke Wellington menyadarkan saya bahwa ibukota tak melulu ramai dan padat. Ibukota tak selalu harus kota berpenduduk terbesar dan memiliki gedung-gedung tinggi. Anggapan saya tentang ibukota makin terbantahkan saat saya berkesempatan mengunjungi ibukota Australia, Canberra. (Banyak lho yang mikir kalo Aussie ibukotanya Sydney).
kota yang lengang, bukan?

Saya tiba di Canberra tepat hari Minggu siang. Saya tiba di downtown kota Canberra yang lengang. “Lah ini pada kemana yah?”, pikirku. Ternyata beginilah keadaan Canberra kalau hari Minggu. Lengang. Dengan penduduk yang cuman sekitar 350 ribu orang, tak salah kalau banyak pelancong yang tak terlalu mengenal kota ini.

Kota ini awalnya dibentuk karena terjadi persaingan antara Melbourne dan Sydney untuk menjadi ibukota Australia. Kota ini dibangun setelah sebuah sayembara perencanaan kota digelar. Sang pemenang sayembara (yang juga urban planner) adalah Walter Burley Griffin dan Marion Mahony Griffin. Kota ini dibangun dengan konsep kota taman (garden city) yang kebetulan sedang marak pada saat itu. Di tengah kota Canberra terdapat sebuah danau buatan yang mempercantik kota ini. Bagi para pelancong yang suka ketenangan, Canberra bisa menjadi alternatif lokasi liburan yang menyenangkan.

Apa saja yang bisa dikunjungi di Canberra?

Canberra sebenarnya memiliki 3 bangunan unik yang berada pada satu garis lurus: yaitu War Museum, Old Parliament dan New Parliament House. Jadi saat saya berdiri di puncak new parliament saya bisa melihat Old Parliament dan War Museum dalam satu garis lurus.
Foto diambil dari puncak new parliament house, bangunan putih ini adalah old parliament, sedangkan yang di ujung adalah war museum. 3 bangunan yang terletak segaris

War Museum, sesuai namanya yah pastilah museum tentang perang. Tapi Australia kan gak pernah berperang. Jadi museum ini tentang apa dong? Setelah saya masuk ke museum ini, saya jadi paham bahwa meski Australia tidak pernah berperang atau menjajah Negara lain, namun Australia ternyata ikut terlibat perang. Museum ini menceritakan keterlibatan para pemuda Australia dalam perang dunia 1 dan 2. Berhubung pelajaran sejarah dulu nilainya jeblok jadi ga bias cerita banyak lah tentang museum ini. Anyway, it is a worth visited museum.
War Museum 

War Museum

Old Parliament dan New Parliament House. Fungsi kedua bangunan ini sama. Cuman bedanya, Old Parliament sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat pertemuan para wakil rakyat, dan lebih difungsikan sebagai museum. Bangunan ini nampak masih sangat terawatt meski sudah tidak difungsikan. Banyak sejarah partai-partai di Australia yang bias dipelajari disini. New Parliament House berkonsep lebih modern. Di puncaknya dipancangkan bendera Australia yang menjadi penanda gedung ini. Bagi para pengunjung, jangan khawatir tersesat karena di kedua gedung parlemen ini, selalu ada guide gratis yang akan memandu kita mengelilingi tempat ini. Mereka ramah-ramah pula dan selalu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya (Maklum, gak ngerti system politik Australia, hehehehe).
New Parliament House

Old Parliament

Ruang rapat nya para wakil rakyat

Selain ketiga tempat tadi, Royal Australian Mint bisa menjadi alternatif menarik. Royal Australian Mint merupakan tempat pembuatan koin-koin yang dibuat di Australia. Tak hanya itu, tempat ini juga berfungsi sebagai museum koin yang interaktif. Jadi sejarah koin dan jenis-jenis koin yang digunakan di Australia lengkap di tempat ini. Alat-alat pembuat koin tradisional juga ada di tempat ini, serta demonstrasi pembuatannya.
Tangga koin di Royal Mint

Satu tempat lagi bagi kami para mahasiswa. Tak afdol rasanya ke Canberra kalau blom berkunjung ke Australian National University (ANU), salah satu universitas terbaik di Australia dan masuk dalam top 50 Universitas di dunia. Ditemani teman-teman di Canberra, saya menyusuri kampus ini. Memang beda suasananya. Kampus ANU itu serasa bersekolah di desa karena bangunan kampus tidak berdempet dan ruang publik nya sangat luas.
My fav spot in ANU

Namun, tempat-tempat tersebut di atas, bukan menjadi alasan utama saya ke Canberra. Alasan utamanya adalah saya ingin menemui 5 teman saya yang kuliah di Canberra (Mbak Neni, Clara, Mbak Maria, Miranti dan Amalfi). Bagi yang pernah membaca postingan saya yang ini, pasti kenal lah dengan mereka. Dan kebetulan, Lies (yang kuliah di Adelaide) ternyata juga sedang berada di Canberra saat saya berkunjung ke Canberra. Jadilah acara reunion kecil-kecilan ini makin rame.
Rasanya tak sabar pengen ke Canberra lagi, selalu kangen pengen ketemu 5 sahabat yang sedang menimba ilmu di Canberra ini.
They are my main reason to visit Canberra

Ada yang mau ikut kuliah di Canberra?

Tuesday, March 15, 2011

Bersepeda karena gengsi

Melbourne memang terkenal dengan moda transportasinya yang terintegrasi. Sebagai Melburnian, kami dimanjakan dengan fasilitas tram, kereta listrik dan bus yang (biasanya) tepat waktu. Satu-satunya keluh kesah kami sebagai mahasiswa adalah mahalnya tarif transportasi yang dibebankan pada kami, sebagai mahasiswa asing kami tidak memperoleh konsesi (semacam potongan harga) seperti di negara-negara bagian lainnya. Bayangkan, untuk tiket bulanan saja, kami (para mahasiswa asing yang kere) harus merogoh kocek sebanyak 109 AUD atau kira-kira setara dengan saju juta rupiah. (Silahkan menarik nafas yang dalam lalu keluarkan lewat belakang, upssssss). Bisa buat makan sebulan di Indonesia. 
Tram tua yang beroperasi gratis di City of Melbourne, taken from http://www.melbourneartfoundation.com

Di kampus, rata-rata mahasiswa adalah para pejalan kaki, pengguna tram/bus/kereta atau pengguna sepeda. Meski ada beberapa sih yang cukup mampu membawa mobil, namun jumlah nya tak terlalu signifikan. Penyebabnya antara lain biaya parkir serta harga bahan bakar yang mahal. Gerakan pengurangan emisi memang sedang marak dilakukan di Melbourne, dan moda transportasi berjalan kaki, bersepeda dan penggunaan transportasi publik sangat gencar dilakukan. 

Sebagai mahasiswa yang kuliahnya bertema lingkungan, hampir setiap hari saya mendengar kampanye pengurangan emisi di kelas. Tak heran, teman teman sejurusan banyak yang bersepeda. Bukan hanya itu, dosen-dosen saya (beberapa diantaranya sudah professor) juga ternyata ikut bersepeda. Yang membuat saya kagum adalah mereka tak hanya mengkampanyekan slogan pengurangan emisi di kelas, namun memberi contoh pada para mahasiswanya bahwa mereka pun turut terlibat untuk mengurangi emisi. Sumbangsih terkecil yang bisa mereka lakukan adalah tidak menggunakan mobil mereka ke kampus. Pengalaman yang sama juga saya dapatkan saat kuliah di Jepang, para professor dan dosen-dosen banyak yang berjalan kaki atau bersepeda ke kampus, padahal jelas-jelas mereka punya mobil. 
Bike at campus, taken from http://sustainablecampus.unimelb.edu.au
Saya yang semula pelanggan tram abadi merasa tersindir dengan perilaku positif yang ditunjukkan oleh dosen saya. Memang benar kata orang, dakwah yang terbaik adalah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan). Karena dengan berbuat, orang lain bisa melihat. Dan saya merasa malu sendiri, kok enggan bersepeda yah. Toh manfaatnya banyak: Pertama, bisa berolahraga (ga perlu bayar fitness). Kedua, Mengurangi emisi, Ketiga, menghemat biaya transportasi. 
Jalur pengendara sepeda

Salah satu spot parkir di kampus, taken from http://sustainablecampus.unimelb.edu.au

Yang membuat saya makin mantap bersepeda adalah: Melbourne ramah terhadap pengguna sepeda buktinya ada banyak jalur khusus pengendara sepeda, tempat parkir mudah. Secara psikologis, saya juga merasa bangga bisa ikut mengurangi emisi. Perlu diingat bahwa di Melbourne, pengendara sepeda harus menggunakan helm, dan kalau malam harus menyalakan lampu depan dan belakang. Menurut seorang teman sih, kalau melanggar aturan tersebut, bisa dikenakan denda AUD 100. 
Menuju kampus

Bandingkan dengan di Indonesia, semakin banyak emisi yang dikeluarkan, semakin bangga kita. Semakin bergengsi kendaraannya, semakin bergaya pula lah yang punya. Hehehehehe (Statement iri karena ga sanggup beli mobil). Namun, saya sangat salut dengan gerakan bike to work yang sedang rame-ramenya di Jakarta. Kenapa? Karena di tengah minimnya fasilitas infrastruktur untuk pengendara sepeda, masih banyak orang yang rela menembus kemacetan dengan bersepeda dan tetap merasa enjoy bersepeda. Sungguh sebuah gerakan yang patut diacungi dua jempol. 

Tak terasa sudah seminggu lebih saya berubah status menjadi pengendara sepeda. Sejauh ini Alhamdulillah lancar meski sempat ada kecelakaan kecil di hari pertama. Saya sertakan juga video berdurasi 30 detik, yang diambil dalam perjalanan dari kampus menuju ke rumah. 
video

Ada yang mau ikut bersepeda? :-D


Wednesday, March 2, 2011

Buble is in da house yo....

Pesawat low cost carrier yang saya gunakan mendarat dengan sempurna jam 00.30 tengah malam tanggal 25 Februari 2011 di Tullamarine Airport. Saya langsung terserang Post Holiday Syndrome saat menginjakkan kaki lagi di Melbourne. Liburan saya selama enam minggu di Indonesia terasa sangat menyenangkan, dan kepulangan ke Melbourne untuk melanjutkan studi terasa sangat berat. 
Welcome to Rod Laver arena
Sesampai di rumah, saya tidak langsung tidur. Saya ngobrol ngalur ngidul dengan housemate saya tentang kabar teman-teman di Melbourne. Tak sengaja kami membahas tentang konser Michael Buble yang dalam beberapa jam akan segera dimulai. Si housemate yang telah membeli tiket Buble dari saya nampaknya kurang bersemangat untuk menonton karena gak hafal dengan lagu-lagunya Buble. Saya yang tadinya ngantuk jadi semangat, saya pun menawar kembali tiketnya dan BERHASIL. Tiket Buble dalam sekejap sudah di tangan.

Selang beberapa jam kemudian, saya sudah di tram menuju ke Flinders Street Station. Perjalanan dilanjutkan dengan naik tram lain ke arah Rod Laver arena. Bagi penggemar tenis, nama Rod Laver arena pastilah tak asing karena Rod Laver arena merupakan salah satu podium utama perhelatan turnamen tenis Australian Open. Nah, kebetulan Rod Laver arena ini yang disulap oleh Buble menjadi panggung pertunjukannya. 

Antrian tak begitu panjang saat saya tiba di Rod Laver arena. Pemeriksaan tiket berjalan lancar. Dan saya langsung menuju ke tempat duduk, perasaan sukacita makin terasa karena ternyata seat saya berjarak dekat dengan panggungnya si Buble. Wah bakalan seru nih nontonnya. Sebelum konser dimulai, saya menyempatkan membeli pizza take away dulu buat dinikmati sambil menonton. Untungnya di tempat ini, ada banyak "warung" yang bisa disatroni. 
Naturally 7 (Pic is taken from www.acapellanews.com)

Konser dibuka dengan penampilan menawan Naturally 7. Kelompok ini sudah terasa sangat beda saat mulai membawakan lagu pertama mereka. Uniknya adalah Naturally 7 membawakan lagu R'nB dan Soul secara acapella. Lagu serta musiknya dibawakan oleh personelnya tanpa menggunakan alat musik. Ketujuh personelnya memiliki tugas masing-masing, ada yang bertugas menirukan suara drum, ada yang bisa menirukan musik ala DJ dan sejumlah alat musik lainnya. Jangan ditanya tentang harmonisasi vokal, grup ini juaranya. Sungguh sebuah opening act kelas dunia. 

Selang beberapa menit setelah Naturally 7 mengakhiri senandungnya, tirai panggung pun dibuka dan lagu Cry me a river dari album Crazy Love dimainkan, diiringi harmoni band yang sempurna. Sederet lagu dari album Crazy Love dibawakan dengan apik dan terkadang jenaka oleh Buble. Selain itu, Buble juga menyanyikan beberapa lagu dari album-album terdahulunya, sebut saja World on a String, Home, Hollywood, Mr & Mrs. Jones dan A Song for You. Koor paling meriah terdengar saat Buble melantunkan lagu Haven't Met You Yet. Namun adegan terlucu adalah saat Buble mengakui bahwa dirinya ngefans sama Michael Jackson sejak ia kecil, dan dilanjutkan dengan adegan Buble menyanyikan lagu Billie Jean dengan gaya moonwalk ala King of Pop. 
the talented Mr Buble
Yang membuat konser Buble selalu menarik adalah kepiawaian Buble untuk berinteraksi dengan penonton. Entah berapa kali Buble membuat saya dan penonton lain tergelak karena guyonannya yang lucu. Dalam suatu kesempatan, Buble menampik tudingan media bahwa dirinya gay dengan cara yang jenaka. Kalau diterjemahkan, konfirmasi Buble kira-kira diartikan sebagai berikut "Banyak yang menganggap saya gay karena saya menyanyikan lagu romantis dan mengenakan jas yang rapi. Ketahuilah, kalau saya gay. Saya tak akan malu untuk mengakuinya di depan kalian". Buble melanjutkan dengan menunjukkan cincin pertunangannya dengan seorang gadis cantik asal Argentina yang namanya tak disebutkan.   
Let me go hooomeeeeeeeee........ 

Saya pribadi merasa bahwa ada sedikit gangguan dari suara Buble malam itu, namun hal ini tak begitu menjadi masalah mengingat keren nya performa Buble dan band secara keseluruhan. Again, I just want to emphasize that Buble is not only a singer, he is beyond that. He is also an entertainer. 
Aksi Buble di panggung
So, hari pertama di Melbourne sudah begitu menyenangkan. Semoga ini menjadi pertanda baik untuk hari-hari selanjutnya. Saatnya bergulat dengan textbook dan jurnal. GANBARIMASHOU!!!!