Saturday, February 26, 2011

Kopdar Hari Minggu

Setelah tujuh bulan berjibaku dengan deadline tugas dan kuliah-kuliah reguler, saya telah berniat memanjakan diri saya begitu semua "masa-masa sulit" ini berlalu. Dan sederet paket rencana liburan telah disiapkan. Mungkin rekan-rekan semua telah membaca catatan perjalanan 2 minggu saya ke New Zealand (Silahkan klik disini). Berhubung liburnya panjang, selain ke New Zealand, akhirnya memutuskan untuk MUDIK. Yeah baby, saya ingin mudik ke kampung halaman yang belum setahun saya tinggalkan.

Kepulangan saya ke Indonesia sebenarnya intinya ingin menemui orang tua dan saudara-saudara. Namun ada misi khusus lain yang saya ingin tunaikan yakni bertemu dengan beberapa teman blogger. Saya sudah lama merencanakan ingin bertemu bertiga dengan Exort dan Rossa, namun entah kenapa selalu tertunda. Sepertinya momen yang pas untuk bertemu mereka adalah hari ...... MINGGU. Kenapa hari Minggu? Kami memilih hari Minggu karena kami bertiga menyenangi sebuah even di Jakarta yang terjadi setiap hari Minggu, judulnya CAR FREE DAY.
Car restricted area, except Busway (if you consider busway as a car) 


Yang tinggal di Jakarta pasti tahu kan Car Free Day itu apa? Yup Car Free Day diadakan untuk mengurangi polusi di jalan-jalan protokol di Jakarta (Thamrin dan Sudirman) dengan melarang kendaraan seperti mobil dan motor kecuali busway melintasi jalan-jalan protokol ini. Untuk ukuran Jakarta yang polusi nya sudah akut, keberadaan Car Free Day membawa angin segar khususnya bagi para penduduk Jakarta yang lama mendambakan sebuah ruang publik yang bersih dan minim polusi.
Posing and soon swimming yiihaaaaaaa 

Wajah wajah olahragawan/wati sejati (ga keringetan sama sekali)

Hari Minggu itu, saya akhirnya bisa bertemu dengan Rossa dan Exort dalam dunia nyata di tengah ribuan orang yang berlalu-lalang menikmati pagi tanpa polusi itu. Tentu saja, sejumlah pertunjukan di jalan protokol kami nikmati bersama mulai dari kampanye I WANNA GO HOME SAFELY yang menampilkan flash mob dance dan NAIF, mini konser Kerispatih hingga Kampanye anti trafficking. Kamera kami bertiga tak berhenti mengabadikan momen, dan satu tempat yang wajib menjadi lokasi buat berfoto adalah BUNDARAN HI. Pagi itu, hubungan kami bertiga yang kerap terjalin via YM, blog dan facebook terealisasikan secara sempurna dalam wujud kopdar yang menyenangkan. Dan karena merasa kopdar saat itu menyenangkan, kami berniat melanjutkan kopdar di hari Minggu berikutnya dengan beberapa personel tambahan.

Hari Minggu Berikutnya 

Lokasi telah ditentukan untuk kopdar kedua ini. Tentulah saya, Rossa dan Exort emoh untuk mengulangi kopdar di Bundaran HI. Ini semua agar kami tak de javu dengan pengalaman kopdar indah seminggu sebelumnya. Lagian gak seru kan kopdar kedua dengan background lokasi yang sama. Secara otoriter saya berhasil memaksa Rossa dan Exort yang tanpa perlawanan menyetujui lokasi kopdar kedua ini. Lokasinya adalah kota tua Jakarta. Bagi para Jakartamania, tentu tempat ini tak asing di telinga kalian. 

Saya nampaknya menjadi peserta tercepat yang datang pagi itu. Rossa masih berjuang di busway saat saya tiba di Halte Busway Kota. Daripada membuang waktu, saya menyeberang dan memasuki Museum Bank Indonesia. Di museum ini, saya berjumpa Exort. Bersama Exort, saya menikmati Museum Bank Indonesia yang ternyata didesain dengan apik. Museum ini begitu interaktif, serta cukup modern jika dilihat dari perangkat elektronik yang digunakan. Efek cahaya yang digunakan oleh museum ini juga boleh dibilang setara dengan efek cahaya museum-museum di luar negeri. Selain itu, informasi yang disajikan cukup menarik karena dikemas dalam sebuah paket museum yang canggih dan interaktif. Andai semua museum bisa seperti ini, pasti citra museum di Indonesia bisa sedikit terangkat, soalnya museum saat ini umumnya identik dengan Bangunan Tua, Kuno dan Menyeramkan. 

Papan informasi interaktif tentang kekayaan rempah-rempah Indonesia yang menjadi alasan Belanda datang ke Indonesia

Tak berapa lama, Rossa dan seorang blogger lain ikutan nimbrung. Dialah Aldriana a.k.a Dian, sang seniman yang karyanya selalu saya puji. Saya yang baru pertama kali bertemu langsung bisa akrab sama Dian karena dengan cepat Dian mampu beradaptasi dengan guyonan garing nan jayus ala kami bertiga. Kami mengitari museum ini sambil terus mencoba mengabadikan tempat ini melalui kamera yang tak henti difungsikan (baca: narsis lagi kumat). 
Sesi pemotretan BI ala Exort and Rossa 
Kenyang dengan informasi uang serta sejarah Bank Indonesia, perjalanan kami berempat disambung dengan photo shoot di kota tua. Meski siang itu kawasan kota tua panasnya menyengat, namun sepertinya tak menghalangi orang-orang untuk berduyun-duyun kongkow di lokasi bersejarah ini. Lihat saja foto-fotonya, jadul kan? 
Saingan nya Magnum, ES LILIN the phenomenon 

one spot at the old city, so old isn't it?

Kopdar minggu itu tak berakhir di kota tua. Tujuan kami selanjutnya adalah menikmati makanan sehat tanpa daging di sebuah restoran vegetarian bernama Loving Hut di kawasan Semanggi. Karena tulisan saya yang ini, saya berhasil mendapatkan voucher makan gratis di Loving Hut Plaza Semanggi. Lumayan kan buat dishare dengan teman-teman blogger. Kejutan lain hari itu adalah, bergabungnya sahabat karib saya dalam kopdar ini. Namanya Mila Said. Mila adalah mantan teman sekantor dan travel buddy saya (ke Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja dan ke berbagai provinsi di Indonesia . Jadilah di sudut ruangan Loving Hut itu, meja kami jadi rame dengan cekikikan lima blogger dodol yang tak lebay. 
Kopdar yang diliput TIPI, hehehehe 

Ternyata, baik Mila maupun Exort agak sedikit ragu dengan taste yang disajikan restoran ini. Maklum mereka adalah pecinta daging sejati. Namun mereka ternyata cukup suka dengan rasa makanan mirip daging yang mereka pesan. Thanks Lord. 
Mila yang sedang memerangi kolesterol
Acara makan siang itu makin lengkap saat kami ditodong wawancara oleh sebuah stasiun TV swasta yang kebetulan sedang memprofilkan gaya hidup vegetarian. Kami berlima yang notabene bukan vegetarian sebenarnya tak memenuhi syarat untuk di shoot dan diwawancarai. Namun, entah mungkin pesona blogger memang tak terbendung, si wartawati keukeuh mewawancarai Mila dan Rossa serta men-shoot adegan kami menikmati makanan di restoran itu. Sebuah kopdar yang menyenangkan kan? 
Ocha yang sedang mengurangi ketergantungan daging

Saya yakin saat ini Dian, Rossa, Exort dan Mila sedang harap-harap cemas di depan TV kapan tayangan kopdar asyik ini ditayangkan di TV Nasional. See you again guys in the next amazing kopdar.  

Saturday, February 5, 2011

Selera kita ternyata selera mereka juga

Makanan adalah tantangan utama yang saya hadapi kalau sedang travel karena agama saya melarang beberapa jenis makanan untuk dikonsumsi. Terkadang tantangan ini semakin berat saat berkunjung ke negara-negara yang makanan pokok penduduknya bukan nasi. Ini saya alami saat berkunjung ke New Zealand. Makan burger dan roti tiap hari membuat saya eneg, tak jarang saya akhirnya harus menyeret langkah ke Chinese Restaurant demi sesuap nasi (halah). Namun, lama-lama bosan juga dengan menu yang itu itu mulu.

Untungnya saya selalu tinggal di backpacker hostel yang pasti punya dapur umum. Namun syaratnya: piring, gelas, dan perabotan lain harus dicuci setelah digunakan demi kemaslahatan bersama. Hehehe. Saya jadi berpikir untuk memasak selama perjalanan, selain menghemat biaya memasak di dapur umum juga membuat saya bisa berakrab ria dengan para penghuni lain yang datang dari berbagai negara. Lewat acara masak memasak ini pula saya banyak mendapat tawaran tumpangan mobil ke beberapa kota yang akan saya kunjungi, namun harus saya tolak karena saya sudah pesan tiket bus jauh sebelum saya berkunjung ke New Zealand.
Lokasi backpacker hostel yang bersebelahan dengan Novotel di Christchurch,. Lokasi backpacker hostel biasanya di pusat kota
Saat bertandang ke Christchurch, tak sengaja saya lewat di depan toko asia. Harap-harap cemas, saya masuk dan berharap menemukan ada bahan makanan Indonesia atau Malaysia di dalam toko ini. Setelah berkeliling kesana kemari, mata saya langsung tertumbuk pada kardus mie goreng Indomie di salah satu sudut ruangan.Eureka!!!. Saya langsung beli beberapa bungkus, serasa menemukan harta karun di tengah kebas nya lidah ini sama roti, burger, corn flakes dan sejenisnya.

Sang kasir toko langsung bisa menebak asal saya saat membayar mie goreng:
“You are from Indonesia, right?”
“Yeah, how do you know?”
“Man, you have the look and you are buying Indomie”, kata sang kasir sambil tersenyum.

Saya hanya bisa cengengesan gak jelas di depannya.

Setiba di hostel, saya bergegas ke dapur buat mempersiapkan makan malam dengan main course mie goreng Indomie. Maklumlah lidah ini sudah rindu sama makanan dengan cita rasa Indonesia. Berbekal pengetahuan dasar memasak mie instan, dalam sekejap mie goreng pun terhidang sempuran di atas piring. Seorang Jerman yang kebetulan berada di dekatku sepertinya tertarik dengan mie goreng instan ini, soalnya dia masak pasta yang butuh waktu lebih lama untuk tersaji. Selain itu, aroma mie goreng memang khas dan menggugah selera, si Jerman pun sempat icip-icip sedikit dan dia suka rasanya.

Saya mulai menyantap mie goreng di depan saya dengan lahap. Untuk makan malam kali ini, sengaja saya masak dua porsi untuk diri sendiri. Terdengar maruk, yah namanya juga lagi ngidam makanan Indonesia. Lagi asyik makan mie goreng, seorang cewek Korea duduk di dekatku membawa roti dan selai. Saya tak begitu mempedulikan kehadiran cewek ini karena saya sedang asyik dengan mie goreng di depan saya. Si cewek pun mulai menyapa:

“Hey, is that Mie Goreng?”
“Yup, mmmmm how do you know Mie Goreng?”
“I am a big fan on Mie Goreng. It is famous in my country”
“Really?”
“Yup, I like it. Where did you buy it?”
“I bought it in the Asian store, three blocks from here”.

Dan percakapan pun mengalir, mulai dari lokasi toko asia tempat membeli mie goreng tadi sampai rencana kami untuk bertemu dan berkeliling Melbourne bersama-sama. Wah berkah indomie nih saya jadi dapat teman baru.
Sang penyelamat kantong (picture is taken from http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Indomie_(pack).jpg)


Pengalaman menarik lainnya adalah saat saya berkunjung ke Queenstown. Di kota ini, saya berkenalan dengan pasangan Filipina yang sedang liburan, Ruel and Leah. Kami berkenalan saat melakukan trip bersama ke Milford Sound. Pertemanan kami terjadi karena simbiosis mutualisme antara saya dan mereka. Mereka butuh rekan untuk mengambil foto mereka dan saya pun demikian. Saya pun menjadi fotografer mereka dan mereka jadi fotografer saya. Ruel dan Leah ternyata menetap di Auckland dan mereka menawarkan rumah mereka sebagai akomodasi jika saya akan berkunjung ke Auckland.
Malam terakhir saya di Queenstown, Ruel dan Leah mengundang saya makan malam di rumah teman Filipina mereka yang menetap di Queenstown. Saya langsung disambut hangat oleh keluarga ini, mereka juga ternyata tahu banyak tentang Indonesia. Kami banyak membahas persamaan beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan Tagalog, serta banyolan khas Indonesia dan Filipina. Saat sedang mengobrol, saya mencium aroma yang tak asing. Aroma makanan yang sangat khas. Saya langsung bertanya ke Gigi, sang punya rumah.

“Gigi, I think I smell Mie Goreng”.
“Yah, Cipu it is Mie Goreng. Our family love Mie Goreng, especially Matthew, my son.”

Wah bangga rasanya mendengar Indomie dikenal banyak orang. Malam itu saya tak hanya merasakan kehangatan keluarga Filipina namun juga kebanggaan bahwa ternyata ada produk Indonesia yang bisa dikenal oleh banyak orang.

Konon, di Nigeria Indomie sudah menjadi makanan pokok. Iklan Indomie di Nigeria bisa dengan mudah ditonton di youtube. Orang-orang Nigeria malah berpikir bahwa Indomie yang di Indonesia itu diimpor dari Nigeria. Ah ada-ada saja mereka. Kalau diimpor dari Nigeria bukan Indomie dong namanya, tapi Nigemie.