Thursday, January 20, 2011

Queenstown, a worthy last destination

Kota terakhir yang saya kunjungi di New Zealand adalah Queenstown. Jauh sebelum saya berkunjung ke New Zealand, saya sudah dipesan banyak orang untuk mengunjungi Queenstown. Ada apa gerangan di kota ini? Apa yang istimewa yah? Pertanyaan ini terus berulang di benak saya sampai akhirnya saya berkesempatan sendiri menyaksikan dan merasakan kota ini langsung.

Untuk menempuh kota ini, saya harus menempuh perjalanan selama 9 jam dari Christchurch dengan bus. Meski harus menempuh perjalanan selama Sembilan jam, perjalanan menuju Queenstown yang saya alami merupakan perjalanan yang menyenangkan karena bus yang saya tumpangi singgah di banyak tempat-tempat menarik seperti di Wanaka dan Lake Tekapo. Kedua tempat ini terkenal karena danau nya yang indah dan berlatar Mt Cook yang masih berselimut salju. Belum lagi bunga-bunga berwarna ungu yang tumbuh secara alami di sekeliling danau, membuat persinggahan saya di tempat-tempat ini lebih menarik.
Lake Tekapo

Waktu menunjukkan pukul 6 sore saat nakedbus yang saya tumpangi hinggap di Queenstown. Tak sulit mencari akomodasi di Queenstown karena umumnya penginapan backpacker (X Base atau YHA) letaknya sangat strategis (biasanya di pusat kota). Saya yang sudah booking penginapan di X Base, tinggal ngesot beberapa blok dari stasiun bus. Setelah check in, saya menghabiskan sore itu dengan berkeliling kota Queenstown.
Queenstown 

Kota Queenstown sebenarnya bukan kota besar, penduduknya saja cuman sekitar 30 ribu orang. Kota ini adalah kota resor dan sepertinya memang disiapkan untuk para pelancong. Kota ini sangat indah karena berada di pinggir Danau Wakatipu. Danau Wakatipu konon merupakan danau yang kedalamannya mencapai lebih dari 400 meter, tak heran warna air di danau inipun sangat biru, sebiru air laut. Tapi jangan coba berenang di danau ini... Kenapa? Jawabannya adalah suhu air di danau ini jauh di bawah suhu air normal jadi kelelep lima menit saja sudah bisa mengakibatkan hypothermia. Selain lokasi yang indah, keramahan Queenstown pada pelancong dibuktikan dengan banyaknya paket wisata yang bisa dijadikan pilihan bagi para pengunjung. Mulai dari paket wisata sightseeing sampai paket wisata adventure yang merangsang adrenalin.

Saya yang sudah hampir jadi fakir miskin di New Zealand setelah travelling berhari-hari mulai mencari paket yang murah meriah untuk menikmati Queenstown. Dan pilihan pun jatuh ke ...... GONDOLA dan LUGE. Kebetulan, penginapan saya menawarkan paket murah Combo Gondola dan Luge lengkap dengan bonus foto. Pagi-pagi saya janjian dengan Ruel dan Lea (kenalan saya dari Filipina) untuk mencoba Gondola. Antrian tak begitu panjang karena masih pagi, dan dalam sekejap kami sudah berada di Gondola. Pemandangan Queenstown makin terasa menakjubkan seiring dengan makin tingginya Gondola membawa saya menuju puncak.
Queenstown from top, taken from the Gondola station

Saat Gondola tiba di puncak, saya makin berdecak kagum dengan keindahan kota ini dari atas. Tak henti saya mengagumi keindahan yang terpampang di depan mata saya. Gunung yang berpadu dengan danau serta kota yang tetata apik menciptakan sebuah pemandangan yang menurut saya layak untuk dijadikan header blog ini. Hehehehe promosi. Puas berfoto bersama Ruel dan Leah, kami berpisah. Mereka segera turun dan saya melanjutkan bermain Luge.
Ready to Luge

Luge? Apaan tuh? Luge adalah sejenis toboggan beroda yang digunakan untuk meluncur di lintasan miring. Luge adalah wahana yang tidak gampang ditemui di berbagai tempat. Baru tiga Negara yang memiliki wahana ini yaitu: Canada, Singapore dan New Zealand. Di New Zealand sendiri, Luge hanya ada di Rotorua dan Queenstown. Jadi beruntunglah saya bisa menikmati permainan ini. Untuk mencoba lintasan Luge ini, para pengunjung harus naik lagi ke atas dengan menggunakan Cable Car. Pemandangan Queenstown makin indah dari Cable Car ini. Ternyata bermain Luge sangat menyenangkan, rasanya pengen dan pengen dan pengen dan pengen terus. Sayangnya, saya cuman bisa bermain sebanyak lima kali sesuai dengan tiket yang saya bayar.
Finally, I'm Luging :D

Setelah bermain Gondola dan Luge, saya memutuskan turun dan menghabiskan sore dengan mengitari pesisir Danau Wakatipu. Rasanya ingin tinggal lebih lama di kota ini. Kota yang indah dan tenteram. Teman-teman saya ternyata benar, rugi ke New Zealand kalau gak ke Queenstown.

Ayoooo siapa yang ngiler ke Queenstown??

Tuesday, January 4, 2011

Milford Sound, keajaiban atau keindahan dunia?

Selama berada di New Zealand, Milfourd Sound adalah paket termahal yang saya ikuti. Saya tentunya berharap banyak bahwa duit yang saya keluarkan berbalas dengan pengalaman yang ditawarkan paket ini. Paket Milford Sound sendiri saya pilih karena rekomendasi teman-teman yang telah menjelajahi pulau selatan New Zealand, selain itu Rudyard Kipling menobatkan Milfourd Sound sebagai “keajaiban dunia kedelapan”. Siapa yang nggak ngiler main ke tempat ini (meski harus merogoh kocek lumayan dalam).

Pagi-pagi buta, mas Allan sang pengemudi bus ke Milford Sound telah datang menjemput saya di X Base Backpacker Hostel. Saya sempat berpikir bahwa saya mending tidur saja nanti selama perjalanan, karena semalam saya agak sulit tidur.

Bus besar yang saya tumpangi ternyata hanya berpenghuni 7 orang saja. Dua pasang kakek nenek lincah dan sepasang Filipina yang sedang berbulan madu. Tak lama, saya pun bisa akrab dengan keenam orang lainnya, namun saya paling akrab dengan pasangan dari Filipina, Ruel dan Leah. Kami sampai membuat perjanjian dengan mereka: bahwa kita akan jadi fotografer satu dan yang lainnya.

Sebenarnya jarak antara Queenstown dan Milford Sound hanyalah 70 km kalau menurut jarak peta, namun sayangnya belum ada konstruksi jalan untuk jalur potong kompas ini. Jadinya, kami harus berputar mengelilingi beberapa danau berjarak 300 km untuk sampai Milford Sound. Persinggahan pertama bus adalah di Te Anau. Te Anau adalah kawasan resort yang dikelilingi oleh Danau Te Anau yang indah. Selain menyajikan keindahan kota khas pinggir danau, Te Anau juga merupakan salah satu tempat yang strategis untuk mengisi perut, belanja suvenir dan membeli perbekalan. Selama 30 menit tempat ini, saya menyempatkan diri mengabadikan momen di Danau Te Ano yang indah dengan latar belakang pegunungan.
Te Anau

Kantuk saya langsung hilang begitu meninggalkan Te Anau. Sepanjang jalan saya hanya bisa berdecak kagum dengan keindahan pulau selatan Selandia Baru ini. Perpaduan danau, bukit, gunung dan flora khas negeri ini benar-benar membuat kantuk hilang. Apalagi kawasan yang rombongan kami lalui merupakan kawasan Taman Nasional Fiordland. Saya baru sadar mengapa paket ini begitu diminati. Paket ini tak hanya menawarkan berlayar di Milford Sound saja, tapi juga memberi kesempatan pada pengunjungnya untuk menjelajahi Taman Nasional Fiordland.

Kami singgah di beberapa tempat yang indah yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Fiordland. Persinggahan dimulai dari Eglinton Valley yang menawarkan pemandangan padang ilalang dengan latar belakang pegunungan yang masih berbalut salju di puncaknya. Tentu saja, kamera di tangan saya terus menerus mengabadikan pemandangan yang menakjubkan yang ada di depan mata saya.
Nyesel setengah mampus kalo sampai tidur di bus dan melewatkan pemandangan indah seperti ini 

Mirror lakes adalah persinggahan selanjutnya. Awalnya saya heran kok kami diminta singgah di kolam kecil seperti ini yah. Gak ada sitimewa-istimewanya nih. Datar saja. Namun, pikiran saya serentak berubah saat saya mulai mengarahkan kamera ke arah perbukitan di depan saya. Nampak pantulan bukit itu terefleksi secara sempurna di kolam yang ada di depan saya. Saya baru mengerti mengapa tempat ini dinamakan Mirror Lakes, jawabannya karena kita bisa melihat pantulan gunung yang ada di depan mata melalui danau Mirror yang ada di bawahnya. Masya Allah indahnya........
Mirror Lakes, gunungnya terpantul di danau

Kami selanjutnya singgah di beberapa tempat-tempat indah dengan latar belakang pegunungan yang puncaknya masih bertahtakan salju. Untungnya, sepasang Filipina yang menemani selama perjalanan tak berhenti menawarkan diri menjadi fotografer pribadi saya, hahahaha. Jadi deh narsisnya kumat.

Ketakjuban saya makin menjadi saat akan melewati terowongan Homer, kami singgah di kaki gunung dengan air terjun nya yang ciamik. Air terjun ini berasal dari bongkah es di puncak yang mencair, jadi tak akan bisa disaksikan sepanjang tahun. Beruntunglah saya, berada di saat yang tepat untuk menyaksikan air terjun indah namun sementara ini. Mata ini tak berhenti memandang sekeliling, kami dikelilingi oleh pegunungan dengan puncak bersalju berselimut awan. Benar-benar lukisan alam yang indahnya mengagumkan.
Air terjun sementara, tidak terjadi sepanjang tahun 

Perhentian selanjutnya adalah the Chasm yang merupakan kawasan hutan yang dipadukan dengan air terjun yang indah. Hebatnya lagi, dinas pariwisata New Zealand benar-benar memanjakan pengunjungnya dengan menyediakan walking track yang kokoh serta bervariasi. Kebetulan the chasm memiliki durasi 15 menit untuk dijelajahi. Gemericik air sungai-sungai kecil menemani perjalanan di the Chasm. Dan perjalanan ini mencapai klimaksnya di sebuah air terjun deras dengan beberapa tebing berlubang di sebelahnya. Katanya kalau air naik dan menutupi lubang tersebut, air terjunnya akan menjadi makin menarik karena air akan membentuk pusaran di lubang-lubang pada tebing ini. Unik kan?
Enjoying waterfall at the Chasm

Setelah berhenti sana berhenti sini, akhirnya tibalah saya di Milford Sound. Kami langsung digiring ke sebuah kapal pesiar berukuran sedang dan perjalanan pun dimulai. Miford Sound merupakan teluk yang menjorok jauh ke daratan. Tur Milford Sound sendiri merupakan tur dengan kapal pesiar menyusuri teluk ini hingga ke laut dan kembali lagi ke ujung teluk. Kalau perjalanannya cuman segitu, mungkin Milford Sound takkan seterkenal ini. Yang membuat tempat ini menjadi buah bibir adalah banyaknya air terjun yang kami lalui sepanjang teluk ini. Saya tak henti berdecak kagum dengan keindahan tempat ini. Sayangnya, cuaca kurang bersahabat saat kami mulai berlayar. Perjalanan di tempat ini di saat mendung jadi seperti perjalanan Jack Parrots di Pirates of the Caribbean.
Air terjun pertama yang saya jumpai di Milford Sound

Pemandangan Milford Sound saat berawan

Air terjunnya berbelok hehehehe 

Anjing laut yang lagi sunbathing, sekalian berpose buat difoto

3 air terjun sekaligus? Indahnya.... 

Dalam perjalanan menyusuri teluk, tak jarang kami melihat anjing laut yang lagi malas-malasan di pinggir teluk. Dan mereka Nampak cuek bebek dengan bidikan kamera para pengunjung Milford Sound. Saya paham sekarang, kenapa tempat ini dijuluki keajaiban dunia kedelapan. Kawasan perairan ini dikelilingi oleh pegunungan dengan hutan lebat dilengkapi air terjun di berbagai penjuru teluk. Miford Sound merupakan bentuk keajaiban dunia yang terjadi secara alami tanpa intervensi manusia.

Tak rugi rasanya merogoh kocek dalam-dalam untuk sebuah trip sehari ke Milford Sound karena paket memang indah. Selain itu, tur ini melewati Taman Nasional Fiordland dengan berbagai atraksi alam nya. Rasanya memang layak menobatkan tempat ini sebagai Keajaiban Dunia.