Wednesday, October 5, 2011

Liburan ala orang Indonesia kesasar

Berapa minggu kah waktu efektif perkuliahan di kampus saya? Jawabannya 12 minggu. Tiap tahun, semester ganjil dilaksanakan mulai akhir Februari hingga awal Juni, sedangkan semester genap dilaksanakan mulai akhir Juli hingga awal November. Mengingat beban kuliah yang berat sampai bisa mengakibatkan penyakit jarang mandi dan obesitas karena kebanyakan ngemil, pihak kampus berbaik hati menghadiahkan mahasiswanya liburan dua minggu setelah minggu ke delapan. Kalau di semester ganjil, namanya autumn break (liburan menyambut musim gugur), kalau semester genap namanya spring break (liburan menyambut musim semi).

Dua minggu lalu spring break dimulai di kampus. Bagaimana suasana kampus saat spring break? Ternyata tak banyak berubah. Perpustakaan masih tetap ramai meski tak seramai hari hari biasa, lapangan rumput di depan perpustakaan masih penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang lagi pacaran dan berdiskusi. Dan kantin kampus masih tetap ramai. Loh, emang pada gak liburan yah? Ah pertanyaan yang menyakitkan. Mana bisa libur kalau sebelum liburan kita dikasih tugas yang menumpuk dan harus dikumpul setelah liburan berakhir. Lagu riang Tasya "Libur telah tiba" sungguh tak cocok diputar di tengah-tengah kampus saat spring break. Ya iyalah, lagunya pake bahasa Indonesia, mana mengerti bule-bule ini.
a spot at Baillieu Library, Melb Uni
Saya sendiri tidak banyak berkutik. Sebelum break, saya sudah mengoleksi tujuh tugas dari dosen-dosen yang sungguh pengertian. Tugas-tugasnya harus selesai awal Oktober. Plus tugas laporan saya sebagai relawan di sebuah LSM deket kampus yang deadline nya sama juga dengan deadline tugas-tugas kampus saya. Untungnya, saya memang tidak pernah booking pesawat di tiap libur tengah semester. Sudah bisa memprediksi bakal mabok tugas pas libur dua minggu itu.

Di tengah-tengah kekalutan tugas dan garis kematian (baca: deadline), saya dapat dua ajakan jalan jalan lokal. Yang pertama dari teman-teman jurusan dan yang kedua dari teman-teman Indonesia. Masing-masing menawarkan daytrip. So total ada dua hari perjalanan. Lumayan, daripada mengeram di lab kampus, ntar kelelep tugas jadinya.

Daytrip pertama saya adalah Anglesea. Anglesea merupakan kota kecil berjarak 115 km di sebelah barat daya Melbourne. Saya dan teman-teman Master of Environment berjumlah 13 orang dan berangkat ke Anglesea dengan tiga mobil. Perjalanan ke Anglesea cuma memakan waktu sekitar 90 menit, maklum jalan nya lancar jaya. 

Anglesea termasuk dalam kawasan Great Ocean Road dan terkenal akan pantai nya. Tempat ini ramai dikunjungi orang menjelang musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas. Saya dan teman-teman ke Anglesea berniat mengambil kursus kilat surfing. WHAT? Iyah silahkan tertawa kawan. Orang-orang Australia pada berlomba-lomba ke Bali dan Lombok untuk berselancar. Saya malah belajar berselancar di Australia. What an irony.... Saya tiba-tiba merasa jadi orang Indonesia kesasar. Teman-teman tersenyum penuh arti begitu mereka sadar bahwa saya aslinya berasal dari negara yang punya sejumlah lokasi surfing  yang pastinya jauh lebih indah dari tempat surfing di Australia. Dasar saya ga mau kalah, saya bilang saja sama mereka kalau saya ini gak seberapa, banyak lho orang Indonesia yang gak bisa berenang padahal air dimana-mana. (Yang gak bisa berenang gak usah angkat tangan, cukup mengiyakan dalam hati saja yah). 
Courtesy of Rob N 
Begitu tiba di Anglesea, kami langsung diamanatkan untuk mengenakan wetsuit. Pelajaran surfing dimulai dengan surfing di atas pasir. Posisi saat telungkup, duduk dan berdiri dilakukan berulang-ulang sampai instrukturnya haqqul yaqiin kami sudah menguasai teorinya. Setelah itu, kami pun dilepas melaut. Eh maksudnya dilepas ke laut, hehehehe. Permasalahan muncul (khususnya untuk saya), perairan di Australia ternyata tak sehangat laut di Indonesia. Meski matahari cukup terik hari itu, air laut mah tetep aja bikin menggigil. Wetsuit pun tak banyak membantu. Jadilah saya melawan ombak sambil kedinginan. Ternyata, surfing itu tak segampang duduk dan berdiri di daratan. Sejatinya seorang surfer dilatih untuk memahami ombak serta kemampuan timing kapan mengayuh, kapan duduk dan kapan berdiri. Saya? Yah saya berhasil berdiri dua kali, dan berhasil jatuh banyak kali. Belum lagi kegagalan saya merubah posisi dari tengkurap ke posisi duduk karena bokong yang keberatan. Yaaaa nasib. Beberapa teman sepertinya berbakat surfing, mereka cepat banget bisa berdiri dan bisa mempertahankan posisi berdirinya lumayan lama. 
Group Picture. Courtesy: James M 

Setelah surfing selesai, kami cuman menghabiskan waktu ngobrol ngalur ngidul sambil makan sore. Lumayan bisa kenalan sama beberapa teman yang memang tidak begitu saya kenal. Mobil kami pun bertolak ke Melbourne, saya tiba dengan selamat sentosa tentram dan bahagia tepat pukul 6 sore teng. 

Dua hari kemudian, saatnya daytrip kedua. Tujuannya adalah Wilson Promontory National Park. Saya dan belasan teman Indonesia lain bertolak ke Wilson Promontory National Park menggunakan dua mobil van berkapasitas masing-masing 8 orang. Wilson Prom terletak lebih dari 200 km di sebelah tenggara Melbourne. Tempat ini merupakan salah satu taman nasional di wilayah Victoria dan banyak dikunjungi oleh mereka-mereka yang hobi kamping. Sayangnya, karena banjir yang melanda tempat ini beberapa waktu yang lalu, beberapa lokasi dalam taman nasional ini masih ditutup untuk umum.
Tidal river 
Wilson Prom memiliki luas sekitar 505 km persegi. Dan mengelilingi tempat ini dalam satu hari adalah mission impossible. Akhirnya, diputuskan kami ber belasan ini akan menjelajahi tidal river, tidal river outlook dan mengambil rute hiking 4 jam ke squeaky beach. Setelah makan siang di parkiran mobil, petualangan resmi dilaksanakan (halah). Perjalanan ala Ninja Hattori pun dimulai... Kami mulai mendaki gunung, lewati lembah dan melalui sungai yang mengalir ke Samudera. Semakin mendaki, kami makin ngos-ngosan tapi pemandangan dari atas juga makin indah. Dengan tertatih-tatih akhirnya kami tiba di atas sebuah batu dimana sesi  narsis dimulai dilanjutkan dengan pertunjukan tari saman di atas bukit (belom pernah ada yang nari saman di atas bukit kan?). 
Saman-ers on action... di puncak bukit
Panorama dari atas 
Setelah puas menikmati pemandangan tidal outlook, rombongan meneruskan perjalanan ke squeaky beach. Perjalanan ala Ninja Hattori berlanjut lagi. Semakin dekat ke pantai, nyamuk semakin banyak... lebih buruk rupa pula dari nyamuk-nyamuk di Indonesia. Bentuknya item dan tetep nempel meski tangan sudah dikibas-kibaskan. Untungnya serangan nyamuk selama perjalanan terbayar dengan pemandangan squeaky beach yang indah. Tapi, lagi-lagi pantai disini indah dipandang tapi tidak indah buat mandi. Bisa-bisa "enter the wind". Puas menikmasi squeaky beach, kami mengambil jalur lain untuk ke parkiran yang ternyata jauh lebih landai dan singkat. Ah tau gitu tadi ga usah hiking jauh-jauh yah hehehehe. 
Squeaky beach from distance 
Well, meski cuman libur dua hari dari 14 hari jatah libur, saya tetap puas. Tugas-tugaspun lancar begitu kembali dari dua daytrip ini. Semua tugas akhirnya bisa selesai tepat waktu (tapi nilainya ga jamin lo yah hahahaha). Well, saatnya merencanakan liburan panjang tiga bulan pas November nanti. Any idea? or ada yang mau bayarin? Ada yang mau kasih tiket gratis? (Jyaaah ngelunjak)  
Wilson Prom Team, Courtesy: Otsamir  
Tulisan ini dibuat pas setelah deadline terakhir dikumpul 

The EnG

20 comments:

Adie Riyanto said... [Reply]

saya jadi ingat ada ungkapan: necessity is the mother of invention. biasanya deadline dan tugas menumpuk justru mendorong orang untuk berpikir kreatif. menyenangkan sekali memang bisa menyelipkan sehari-dua untuk liburan di antara kesibukan kuliah dan bekerja. apalagi pas habis gajian. party to de max deh sebelum kembali ke 'realita'. hehehe.


salam,
Adie
http://kisahhantulaut.blogspot.com/

Isti said... [Reply]

serunyaaa..kalo ada yg kasih tiket gratis ajak saia yaaaa???? #ngarep :)

bajumuslimbagus said... [Reply]

wow perjalanan yang menyenangkan yahh...

Call me Batz said... [Reply]

menyenangkan sekali liburannya..

Rumah said... [Reply]

Subhanallah :)
Pada keren Pemandangan nya :)

Corat - Coret [Ria Nugroho] said... [Reply]

gak bs berenang *mengangguk-angguk dalam hati*
cieee babi bisa ya maen surfing berhasil berdiri lagi :P

btw pemandangan dari atas gunungnya sumpah keren banget banget

merry go round said... [Reply]

gueee pu, nggak bisa berenang :(( sampe mikir pengen ambil les renang aja.

walau ga bisa liburan full 14 hari tapi daytripnya seru juga pu, bisa belajar surfing plus nyicipin laut di Aussie juga :) paling suka bagian yang di Wilson Promontory National Park, hadeehh jadi pengen ikutan hiking.

liburan November nanti sampe 3 bulan? cool, ayo jalan-jalan ramean, tapi jangan jauh-jauh ya, cuti gue udah abis soalnya :(

damz said... [Reply]

waaaah, salut!! masih semangat ngerjain tugas meskipun hari libur.. mudah2an nilainya memuaskan!

waktu saya kuliah malah sering jalan-jalan meskipun mestinya ngerjain tugas (demi tiket murah pas low season).. walhasil kuliahnya terseok-seok, hehe..

Ejawantah's Blog said... [Reply]

Wah..... photo pemandangan yang indah dan dapat sebagai refrensi tempat objek wisata.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Elsa said... [Reply]

abis lihat postingan Ocha, lihat postingan Cipu...

how lucky you are guys!!!!!

hiks, rasanya aku jadi tahanan kota disini, gak bisa kemana mana... gak bisa melihat keindahan dunia (heheh lebay)...

duh, kapan bisa vacation

d3vy said... [Reply]

he'eh ternyata air lautnya dingin ya... ngga jadi deh saya ke aussie #lho :p

Ria said... [Reply]

wow...nice trip...
berarti kalo lu pulang ke indo terus kita ketemuan dimakassar atau Bali lu dah bisa ngajarin gw surfing ya :D

kapan balik ke indo?

Winnie said... [Reply]

wah seru2 ... pemandangannya juga bagus banget, kalau saya ke sana pasti sudah lupa ngerjain tugas2 dari dosen...hehe ... anyway, sukses selalu deh :)

Toko Baju Muslim said... [Reply]

ummm,,, makasih yah info-infonya, keep to share GAN

Majalah Masjid Kita said... [Reply]

jadi pingin buru buru liburan lagi nih :(

Baby Dija said... [Reply]

ikut dong Om....

obat tradional said... [Reply]

keindahan duniuia takan habis kalu kita menjaga keindahan itu,..!!

Meutia Halida Khairani said... [Reply]

cuma bisa mengucapkan subhanallah.. dunia itu sebenarnya adalah surga juga ya..
saya juga ga bisa surfing kok cipu.. tapi pengen nari saman diatas bukit gitu. pasti ada sensasinya. hahaha

broker property jakarta indonesia said... [Reply]

Sama dong gan ane jg gak bs berenang hehe :)

kost putri grogol said... [Reply]

Sekali2 pengen juga ke au kyk om ...