Wednesday, December 29, 2010

Christchurch, ramah pada turis kere

Pesawat JetStar yang saya tumpangi meninggalkan Wellington menuju ke Pulau Selatan New Zealand. Penerbangan 45 menit ini sungguh menyenangkan, bukan saja karena cuaca yang cerah tapi juga karena saya melintasi deretan pegunungan yang puncak nya masih diselimuti salju. Indah nian. Keberangkatan saya ke pulau selatan New Zealand sebenarnya baru terencana saat saya sudah berada di Welington, ide nya pun muncul saat mendengarkan cerita bahwa rugi kalau ke New Zealand dan gak ke pulau selatan. 

Tak lama berselang, pesawatpun mendarat di Christchurch, kota dengan populasi terbesar kedua di New Zealand setelah Auckland. Kesan pertama saya akan kota ini: menyenangkan. Gimana tidak, saya diajak ngobrol dengan ramah oleh supir bus bandara yang mengantarkan saya ke pusat kota. Selain itu, meski penduduknya terhitung kedua terbesar, ternyata Christchurch tidak sebesar kota-kota provinsi di Indonesia jadi ga ada macet. Poin tambahan untuk kota ini adalah kota ini ramah turis. kok bisa? Christchurch menyediakan layanan free shuttle keliling kota dengan frekuensi empat kali dalam sejam. Saya sebagai turis kere, merasa sangat dimanjakan dengan layanan bus ini. Kota yang sejatinya tak begitu besar ini jadi terasa bisa dijelajahi dalam sehari. 
bus kuning gratis, berkah bagi pelancong kere

Sebuah gempa besar melanda Christchurch di bulan September, namun tak nampak banyak puing-puing reruntuhan gempa yang tersisa. Kota ini nampaknya cepat berbenah, tak suka terlalu dirundung duka karena musibah yang terjadi. 
Cathedral Square menyambut natal 

Cathedral square dari depan

Landmark utama kota ini adalah Cathedral Square. Cathedral square dibangun pada abad 19 dan terletak di tengah-tengah kota. Untungnya penginapan backpacker yang saya tempati letaknya sangat dekat dengan Katedral. Cukup ngesot menyeberangi jalur tram, sampai deh. Bentuk katedral ini sebenarnya tak unik-unik banget, namun karena letaknya tepat di jantung kota menjadikan landmark ini sebagai kawasan yang ramai akan pejalan kaki. Pada hari-hari tertentu,  malah diadakan pasar kaget di pelataran katedral. 

Sepertinya Cathedral Square menjadi pusat kegiatan turis di Christchurch. Saat saya mengamati sekeliling tempat ini, saya sadar bahwa semua sarana yang dibutuhkan turis ada di sekeliling Cathedral Square. Penanda pertama adalah Visitor Centre yang menjadi pusat informasi para turis kesasar dan tempat bertanya paket-paket wisata apa yang tersedia di Christchurch mulai dari yang gratisan hingga yang tak terjangkau kocek saya. Penanda kedua adalah hotel dan penginapan. Tersedia beberapa tempat menginap di sekeliling Cathedral square mulai dari yang berbintang seperti Novotel hingga kelas memelas seperti penginapan Base (yang kebetulan adalah penginapan saya). Penanda ketiga: beberapa toko suvenir dengan harga barang yang bervariasi serta jenis barang yang tak kalah bervariasinya. Toko suvenir selalu ramai dipenuhi turis, dan saat saya masuk ke toko-toko ini, pengunjung dominan adalah turis turis separuh baya dari Jepang. Penanda keempat adalah integrasi transportasi. Cathedral square boleh dikatakan ramah pada pejalan kaki terbukti dari banyak nya ruas jalan yang tersedia khusus untuk pejalan kaki. Tak hanya itu, tram antik juga melewati cathedral square dan membawa penumpang dari tempat ini ke tempat-tempat menarik lainnya di Christchurch. Bus gratis untuk turis pastinya melewati kawasan Cathedral Square. Tak lupa bus bandara serta bus antar kota yang pasti ngetem nya di Cathedral Square juga.. 
Hagley Park dan Sungai Avon 

Sebuah cafe di tepi sungai Avon

Christchurch juga dikenal sebagai garden city karena kota ini memasukkan taman kota sebagai cirinya. Hagley Park adalah tempat pertama yang saya kunjungi, karena lokasi yang tak jauh dari tempat penginapan. Hagley Park merupakan jalan yang bisa ditempuh untuk menuju ke sebuah hotel ternama. Taman ini dialiri sungai Avon yang tak begitu lebar namun memiliki air yang cukup jernih. FYI, ada paket wisata bagi mereka yang ingin berperahu kecil menyusuri Sungai Avon di Christchurch. Selain Hagley Park, saya juga menyempatkan diri ke Worcester Boulevard yang juga berupa taman kota dengan aliran sungai Avon di pinggirnya. Sekali lagi taman yang ditawarkan kota ini tak begitu istimewa, namun karena lokasi nya yang strategis di kawasan perkantoran menjadikan taman ini terasa bermanfaat untuk mengimbangi kesibukan kota. 
Worcester Boulevard, taman di tengah kota.... Strategis


Tempat lain yang juga mungkin menarik dijelajahi adalah Christchurch Botanic Garden. Tempat ini jelas kalah jauh dari Taman Bunga Nusantara di Indonesia. Tapi yang namanya botanic garden, lumayan lah buat jadi penghibur dikala ingin mengirit. Lumayan buat menghirup udara segar, lumayan buat memotret bunga-bunga yang sedang mekar, lumayan buat menikmati bebek berenang sepanjang sungai Avon, lumayan melihat anak-anak sekolah mengikuti tur sekolahnya, lumayan buat menikmati air mancur nya yang standar banget (lagian ngapain yah jauh-jauh ke New Zealand kalau cuman mau lihat air mancur). 
Botanic Garden

Botanic Garden Too 

Botanic Garden and Avon River

Kunjungan saya ke Christchurch memang adalah kunjungan yang irit, saya tak keluar banyak selama di kota ini karena saya menabung uang saya untuk trip saya selanjutnya ke Queenstown. Lebih banyak hal yang patut dicoba sih. Sebenarnya bagi yang berminat, bisa menikmati paket wisata tram dan gondola di tempat ini. Bagi pecinta ilmu pengetahuan, Christchurch memiliki International Antartic Centre yang berisi wahana pengetahuan  benua Antartik. 

So, meski bergelar garden city, kota ini sebenarnya tidak memiliki taman yang benar-benar cantik, Christchurch hanya memiliki taman yang posisinya strategis. Namun, Christchurch tetap memiliki pesona bagi para pengunjungnya karena kota ini begitu memanjakan para wisatawan yang datang ke tempat ini. 

Wednesday, December 22, 2010

Wellington, backpacker naik kasta

Setelah menempuh perjalanan sejauh 350 km ke arah selatan, sampailah saya dan teman-teman di Wellington ibukota Selandia Baru. Namun jangan bayangkan Wellington seperti ibukota negara lainnya yang padat dan ramai, karena populasi kota ini hampir 400 ribu jiwa. Penduduk Wellington adalah penduduk terbanyak ketiga di New Zealand setelah Auckland dan Christchurch. 

Sebagai ibukota negara, gedung-gedung yang umum ditemukan di tempat ini tentunya adalah gedung-gedung pemerintahan serta kantor-kantor kedutaan negara lain. Maklumlah, kegiatan politik dan diplomasi berpusat di kota ini. Wellington memiliki pemandangan yang indah, kota ini adalah perpaduan antara bukit dan pantai. Saat memasuki kota ini, tersaji pemandangan pelabuhan serta rumah-rumah yang tersusun rapi di perbukitan. Sebagai daerah perbukitan, ruas jalan pun dibangun sedikit menantang, banyak tikungan menanjak di beberapa bagian kota ini. Wellington sering dijuluki Windy Wellington karena hembusan angin di kota ini terbilang kencang. Saat winter, Wellington bisa menjadi tempat yang sangat menyiksa bagi mereka yang tidak tahan dingin karena hembusan anginnya benar-benar menusuk tulang. Katanya sih karena anginnya diimpor langsung dari kutub selatan.
View Wellington dari atas

Di kota-kota sebelumnya, saya dan teman-teman menginap di holiday park (penginapan berbudget rendah untuk para pengguna mobil atau caravan atau camper van). Dan boleh dibilang, kami sering masak dengan menu-menu ajaib demi menghemat pengeluaran. Nah, kondisi sedikit berbeda di Wellington, kami harus berkata: bye bye holiday park, see you again next time. Karena kami mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan beberapa malam di wisma duta (rumah kediaman bapak Duta Besar Indonesia untuk negara ini). Atmosfer ini terasa berbeda bagi saya yang terbiasa backpacking (dan sedikit melarat selama perjalanan),  saya dan kawan-kawan dijamu bak tamu negara. Makanan dengan menu khas Indonesia mulai dari ketoprak, ketupat sayur, rendang, sate, siomay dll menjadi menu kami selama beberapa hari di Wellington. 
rumah dengan lambang garuda pancasila

Selain itu, kami juga diajak berkeliling ke beberapa tempat tempat menarik di Wellington (kami ditemani Ibu Dubes lho....). 

Mt Victoria 

View of Wellington from Mt Victoria
A closer look of Wellington

Mt Victoria merupakan puncak sebuah bukit di Wellington yang menyajikan pemandangan Wellington dari atas. Dari tempat ini, Wellington nampak sangat indah. Apalagi, saat kami ke tempat ini cuaca sedang cerah-cerahnya dan angin berhembus tak begitu kencang. Dari atas, nampak kawasan pantai dan pelabuhan Wellington serta gedung-gedung perkantoran yang tertata rapi. Kawasan pemukiman yang berundak karena kontur daerah perbukitan melengkapi indah nya kota ini. Tentunya, banyak momen narsis yang diabadikan di tempat ini, namun karena alasan kesenonohan, gambar-gambar narsis tadi tak dapat saya tampilkan, hahahaha. 

Te Papa 

Te Papa adalah museum yang terletak di jantung kota Wellington. Museum nya berupa museum sains dan banyak menggambarkan kondisi geografis serta fenomena  alam di New Zealand. Sama seperti Indonesia, New Zealand juga rentan akan gempa bumi dan gunung merapi. Malah dengar-dengar, gempa besar dengan periode ulang 200 tahun akan terjadi di Wellington. 
Te Papa Museum, Te Mama mana yah?

Di museum ini, dijelaskan betapa seringnya daerah ini mengalami gempa dan bagaimana sebuah gempa dan tsunami terjadi. Selain itu kami menyempatkan diri memasuki sebuah rumah imitasi yang bisa memperagakan bagaimana goyangan gempa dengan skala 6,5 skala Richter. Museum menjadi sarana edukasi yang efektif nampaknya untuk mendidik pengunjung tentang apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi untuk meminimalisir jumlah korban. Sangat ingin rasanya punya sarana edukasi seperti ini di Indonesia, tahu sendiri kan betapa rentannya negeri kita akan bencana alam. Tujuannya tentunya adalah agar kita-kita semua bisa sadar dan tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. 

Weta Cave 
Ayo mana yang hobbit mana yang smeagol

Jangan bayangkan sebuah gua saat mendengar tentang Weta Cave. Weta Cave adalah sebuah bangunan yang khusus digunakan oleh Peter Jackson untuk menjual merchandise serta beberapa pernak pernik film-film yang menggunakan New Zealand sebagai lokasi shooting. Behind the scene pembuatan film-film tersebut juga dapat disaksikan dalam sebuah mini theater yang tersedia dalam bangunan ini. Banyak sekali merchandise the Lord of the Ring di tempat ini. Kostum-kostum para pemainnya juga dipajang, lengkap dengan replika mini para pemain the Lord of the Rings. Yang movie freak kudu datang ke tempat ini, dan masuk kesini GRATIS :) 

Wellington CBD 
A cool spot in Wellington CBD

Gak afdol rasanya mengunjungi sebuah kota tanpa mengunjungi kawasan CBD nya. CBD atau Central Business District adalah kawasan bisnis dan perbelanjaan. Tak seperti Jakarta yang mengadopsi sistem urban sprawl (kota yang cenderung bertambah luas seiring dengan pertumbuhan penduduk), Wellington di desain dengan model compact city. Dengan model ini, lahan dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga sebisa mungkin kota tidak bertambah luas. Seperti kota-kota besar pada umumnya, Wellington menggunakan bus sebagai moda transportasi publik. Oh iya, kalau main ke tempat ini jangan lupa berkunjung ke Cuba Street yah, kawasan pejalan kaki yang memiliki banyak cafe-cafe serta restoran yang enak. Bagi yang suka berbelanja, kawasan ini cocoklah untuk dijajal. 
Cuba Street, surganya pejalan kaki

Wellington Cable Car

Selain itu, di CBD juga kita bisa mendapatkan akses untuk mencoba Wellington Cable Car yang akan mengantar kita menuju Botanic Garden. Uniknya Cable Car memiliki lintasan miring, tidak datar seperti kereta pada umumnya. Meski hanya memiliki lintasan pendek, namun tak salah untuk mencoba cable car. Setidaknya view Wellington yang kita nikmati di botanic garden cukup indah. 

Wellington dengan penduduk hampir 400 ribu orang, meninggalkan kesan sebagai ibukota negara yang lapang. Tak banyak kemacetan di kota ini. Dengan jumlah penduduk sesedikit ini serta sarana transportasi yang lumayan baik, tak salah memang Wellington diurutkan pada posisi 12 untuk kota dengan kualitas kehidupan terbaik. Sepanjang jalan, kami melihat banyak pelari serta pejalan kaki. Mungkin Wellington memang pas buat mereka yang ingin berkardio sepuasnya karena lintasan di Wellington yang berbukit layak untuk dijajal.  

Setelah menghabiskan 3 hari disini, saya pun berkemas melanjutkan perjalanan saya ke pulau Selatan New Zealand. Katanya sih pulau Selatan jauh lebih bagus dari pulau utara. Bye Bye Wellington, bye bye makanan enak. 

Sunday, December 19, 2010

Wisata Gratis di Tongariro National Park

Setelah menghabiskan malam di Taupo, kami pun bersiap menuju ke ibukota Selandia Baru: Wellington. Jarak Taupo ke Wellington hampir 400 km. Namun kami tak langsung menuju ke Wellington hari itu. Kami berencana tiba di Wellington pas petang atau malam hari. FYI, jarak 400 km di New Zealand tak memakan waktu lama karena kemacetan atau kepadatan lalu-lintas kecil kemungkinan terjadi disini.
puncak salju woohoooo 

Berbekal petunjuk dari mas GPS, kami mengarahkan kendaraan ke Tongariro National Park. Semuanya juga tak begitu tahu ada apa di Taman Nasional Tongariro ini. Namun karena kami memang tak begitu tahu apa lagi yang bisa dilakukan, kami pun menuju ke Tongariro National Park. Saat parkir di daerah Whakapapa, Nampak sebuah gunung yang masih berselimut salju. Konon, namanya Gunung Ruapehu. Ternyata, taman nasional ini menawarkan beberapa hiking track. Mulai dari yang beginner, intermediate sampai yang expert. Durasinya pun bermacam-macam, ada walking track yang cumin 15 menit, sejam, tiga jam hingga berhari-hari. Mengingat waktu yang tak begitu banyak, kami memutuskan untuk mengambil track yang tiga jam. Jalurnya ke air terjun Taranaki dan Mangatepopo Hut.
cool view

Saat memulai track ini, saya sangat bersemangat. Kami mulai mendaki gunug lewat di lembah sungai mengalir indah ke samudera (Eh itu lagunya ninja Hattori yah, hehehehe). Saya dan teman-teman mulai memasuki hutan kecil, keluar hutan setelah itu menanjak dan menurun sedikit, menanjak lagi dan menurun sedikit. Terkadang kami berhenti sejenak untuk mengambil beberapa gambar karena semakin jauh berjalan semakin indah pemandangan yang ditawarkan oleh taman nasional ini.
View selama perjalanan 

Setelah berjalan selama sejam lebih sedikit saya dan rombongan tiba di air terjun Taranaki. Dengan ngos-ngosan saya berhenti sejenak sambil menikmati pemandangan di air terjun. Saya agak kecele saat beberapa pasang kakek-nenek melewati saya dengan bugar tanpa kelihatan capek. Jyaaaah malu deh.
Taranaki Waterfall 

Setelah beristirahat sejenak di air terjun Taranaki, perjalanan kami lanjutkan ke Mangetapopo Hut yang letaknya tak jauh dari tempat parkir kami. Kali ini, track nya terasa lebih sulit dari yang pertama. Kami memasuki hutan, menjelajahi sungai, banyak jalur menanjak dan menurun yang ujung-ujungnya membuat betis ini lumayan membesar. Setelah berjuang selama dua jam setengah, berhasil juga kami menyelesaikan track ini.
New Zealand memang memiliki sejumlah paket wisata yang mahal, namun tracking di taman nasional memang bisa menjadi pilihan menarik dan murah. Tak hanya baik buat badan, tracking seperti ini juga bisa baik buat kantong lho.
The team (picture is taken from Gombrang's camera) 

Saatnya berkemas buat menuju Wellington. Masih sekitar 300 km yang harus kami tempuh untuk mencapai Wellington. Banyak cerita menarik yang terjadi di Wellington, ibukota Selandia Baru ini. Stay tuned yah....

Sunday, December 12, 2010

Memorable Rotarua

Setelah puas berkayak ria di Caramandel Peninsula, tepatnya di Hahei Beach, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan. Pengennya sih langsung tiba di Rotarua namun apa daya hari sudah hamper gelap, dan diputuskan untuk menginap di daerah bernama Paparoa dekat Mt. Manguni (Postingan tentang alternative penginapan murah di New Zealand akan disajikan terpisah, promosi nih ye).

Keesokan paginya setelah mandi dan gosok gigi tak lupa cuci piring dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Rotarua. 15 menit sebelum mencapai Rotarua, kami singgah sejenak di Rafting Rat melihat paket rafting yang mereka tawarkan. Kami sangat tertarik dengan paket rafting Kaitaki River, yang katanya grade nya 5. Konon, semakin tinggi gradenya semakin bahaya lintasannya. Kami berlimapun memutuskan mengikuti paket rafting Kaitaki River.

Setelah urusan administrasi selesai, kami bersama beberapa rombongan mulai mengenakan baju yang disiapkan Rafting Rat dan segera menuju ke TKP. Rafting pun dimulai. Bersama seorang instruktur kami diajarkan basic rafting dan mulai mengayuh di arus pelan. Lama kelamaan, arus nya makin kencang, dan terasa makin seru. Kelompok kami mulai mahir melakukan manuver di air terjun kecil. Semakin lama air terjunnya makin tinggi, yang berarti semakin tinggi pula kemungkinan perahunya terbalik. Kami makin excited saat perahu karetnya akan melalui air terjun setinggi hampir 5 meter. Dan pemirsa....................... Berhasil...... Tantangannya berhasil kami lalui. Ah lebay hehe.
Tantangan semeter... ah cemen
5 meter waterfall 
Puas berbasah basah seluruh tubuh di Kaitaki River, 15 menit kemudian kami pun sampai di Rotarua. Tak ada yang istimewa sebenarnya dari bentuk kota ini. Sepintas nampak seperti kota lainnya. Namun, setelah menjelajahi kota ini kami baru tahu pesona apa yang Rotarua tawarkan. Rotarua sejatinya terkenal dengan pemandian air panasnya, bahkan di tengah kota terdapat Rotarua Aquatic Centre yang berisi beberapa sumur belerang mendidih. Saat memasuki wilayah ini, otomatis bau belerang langsung menyengat. Awalnya gak biasa sih, tapi lama kelamaan akhirnya terbiasa juga, anggap saja nyium kentut sendiri. Uppssss.
Salah satu sumur lumpur di Rotarua
Hari berikutnya, kami pun berpencar untuk menjelajahi Rotarua. Saya memilih mengunjungi kampong Hobit a.k.a Hobbiton. Sedang teman-teman yang lain memilih menikmati Rotarua dengan bermain Gondola dan Luge. Jam 9 tepat, bus khusus tur Hobbiton datang menjemput. Selang sejam kemudian, saya tiba di kampungnya mas Frodo Baggins. Cipu Baggins pun mulai menjelajahi kampung Hobbit. Dengan biaya yang saya keluarjan, saya tak merasa bahwa apa yang saya peroleh di Hobbiton pantas. Pada dasarnya Hobbiton hanyalah sebagian kecil dari tempat shooting LOTR tapi kok harga masuknya tinggi banget yah. Saya yang semula memiliki ekspektasi banyak tentang Hobbiton jadi sedikit KUCIWA. Ah ini karena ulah mas Peter Jackcon nih, sang sutradara LOTR yang mempatenkan semua hal yang berkaitan dengan LOTR di New Zealand. Kekecewaan saya pun bertambah karena ternyata sebelum memasuki kampung Hobbit, para pengunjung diminta menandatangani pernyataan tidak akan menyebarluaskan foto-foto Hobbiton ke teman, kerabat dst baik via email, facebook, twitter dan social network lainnya. Jyaaah takut banget sih Hobbitonnya gak laku. Dan acaranya makin garing saat acara mengunjungi Hobbiton ini disandingkan dengan acara mencukur bulu domba. Jaka Sembung Bawa Goblok, Ga Nyambug GOLOK!!!!.
terpaksa cuman bisa majang yang ini, sigh 

Hak cipta sih hak cipta, tapi jangan sampe mahal tapi gak mutu gini dong. Semoga dengan membaca berita ini, Rossa dan Exort gak jadi bimoli (bibir monyong lima senti) karena manyun.

Kekecewaan saya sedikit terobati saat diajak teman-teman ke Agrodome. Agrodome merupakan wahana bagi mereka yang menyukai tantangan. Wahana yang tersedia pun beraneka macam, mulai dari Bungy, Swoop (diikat berpasangan dan dilepas dari ketinggian 50 meter), Free Falling (merasakan bagaimana rasanya terbang dengan tiupan kipas angin raksasa), sepeda monorail, dan agrojet (naik perahu jet di sungai buatan). Saya yang tak terlalu suka ketinggian, lebih memilih main free falling. Rekan saya, Gombrang dan Irma nekat bermain Shwoop, Bravo deh buat keberanian mereka. Saya mending jaga tas aja dibandingkan ikutan main bungy jumping dan swoop.

Semua lemak di muka ikutan terbang hehehehe 

Yeaaah I'm flying..... 
Setelah semua kegiatan ini selesai, kami pun pamit pada Rotarua. Saatnye menuju ibukota New Zealand yang bernama Wellington. Tunggu kisah selanjutnya yah

Saturday, December 11, 2010

A bit of adventures at Caramandel Peninsula

captured from the car
Puas mengelilingi Auckland selama dua hari, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke arah timur Auckland. Kami menuju Caramandel Peninsula yang katanya punya pantai yang indah. Perjalanan ke Caramandel Peninsula sangat menyenangkan, mata ini dimanjakan dengan pemandangan yang menakjubkan. Kombinasi pantai, bukit, pepohonan di New Zealand memang indah. Menyesal rasanya saat tahu bahwa mata ini sempat terpejam sejenak dalam perjalanan.

Pemandangan yang dominan selama perjalanan

Selain itu perjalanan yang kami tempuh dengan mobil ini tak terasa membosankan karena travel buddies saya semuanya lucu-lucu dan suka ngunyah, makanya sepanjang perjalanan kami pasti mengunyah atau terbahak. Banyak sekali spot-spot indah yang luput dari kamera pocket yang saya bawa. Harap maklum juga hasil fotonya semuanya hasil foto amatiran. 

Setelah berkendara selama kurang lebih dua jam, kami mampir sejenak di sebuah tempat bernama Tairua, sebuah perkampungan kecil yang sudah termasuk dalam kawasan Caramandel Peninsula. Sambil menikmati semilir angin penghujung musim semi, saya menyempatkan diri mengamati kegiatan masyarakat lokal disana. Berhubung hari itu hari Minggu, nampak banyak orang-orang lokal yang bergerombol melakukan barbeque atau sekedar bercengkerama dengan keluarga. Ahhhh, sebuah pemandangan yang menyejukkan. What else more important than family?

Enjoy the view of Tairua

Perjalanan pun dilanjutkan ke Hahei Beach. Begitu sampai disana, kami tak membuang-buang waktu untuk segera mengabadikan lukisan alam yang sangat indah terpampang di depan mata. Hahei Beach dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang berbentuk unik dan semua pulau tersebut oleh bangsa Maori diasosiasikan dengan bentuk tubuh manusia. Tujuan kami ke tempat ini bukan semata-mata menikmati pantai nya saja, namun kami juga bermaksud mencoba bermain kayak. 
Hahei Beach, beautiful isn't it?

Ternyata tak sulit untuk mencari penyedia jasa kayak disini, hanya dalam waktu setengah jam kami sudah deal dengan sebuah usaha lokal penyedia jasa kayak lengkap dengan pemandunya. Maklumlah kami semua baru dalam dunia perkayakan. Bersenjatakan pelampung, kami dibagi menjadi tiga kelompok karena kayak yang tersedia hanya cukup untuk memuat dua pengayuh. Setelah mendapatkan training singkat oleh pemandu yang bernama Nick, kami pun terjun ke laut dan mulai mengayuh. Awalnya, sempat agak sulit untuk mengendalikan kayaknya, namun lama-kelamaan terasa bahwa kayak itu menyenangkan. Nick terbukti bukan hanya sebagai instruktur handal, namun Nick juga memberikan banyak pengetahuan lokal tentang biodiversity serta kepercayaan masyarakat lokal disana. 
menyusuri Hahei Beach dengan kayak

Menurut Nick, daerah Hahei Beach awalnya sangat tereksploitasi sehingga masyarakat sulit mendapatkan ikan. Namun, sejak marine protection zone diberlakukan, penangkapan ikan di daerah pesisir dilarang demi mempertahankan keaneka ragaman hayati. Dan dalam kurun beberapa tahun setelah zona ini diberlakukan, jumlah ikan di daerah ini diperkirakan naik sebanyak 600%. Meski di Indonesia, marine protection zone telah diberlakukan di beberapa tempat, namun sayangnya jumlah daerah pesisir yang masih melaksanakan penangkapan ikan dengan cara yang berbahaya pun masih sangat banyak. Saatnya mempertimbangkan untuk mengadopsi marine protection zone guna mempertahakan kan keaneka ragaman hayati di laut.   

Nick memberikan instruksi
Cathedral Cove
Setelah sejam, kami menyempatkan untuk menepi selama setengah jam sambil menikmati sebuah karang berbentuk goa bernama Cathedral Cove. Ternyata tak  banyak turis yang berjemur di tempat ini. Menurut Nick lagi, kalau musim panas tiba tempat ini bisa dipenuhi oleh sekitar 2000 an orang. Wuah..... untunglah kami tiba sedikit lebih awal dan cuaca hari itu memang sangat pas untuk mengayuh kayak. Sembari menikmati Cathedral Cove, kami disuguhi hot chocolate oleh Nick sebagai bagian dari pelayanan. Hot chocolate di pinggir pantai setelah berbasah-basahan bermain kayak ternyata adalah pilihan yang menarik.
enjoy hot chocolate di pinggir pantai
me and my team mate.... 

Puas dengan Cathedral Cove, saatnya kembali ke pantai tempat kami memulai perjalanan. Ternyata diperlukan waktu yang lebih singkat untuk kembali karena kami sudah lebih bisa mengendalikan kayak. Sore itu, memang memuaskan. Basah, gosong dan sedikit lelah namun memuaskan. Sisa sore kami habiskan dengan melanjutkan perjalanan ke arah Rotarua. Apa saja yang bisa dinikmati di Rotarua? Tunggu saja kisahnya (Halah, kayak ada yang baca saja heheheheheheh)  

Wednesday, December 8, 2010

Two fine days in Auckland

Pesawat New Zealand air sukses mendarat dengan sempurna di Auckland International Airport setelah tiga jam setengah membawa saya dan teman-teman dari Tullamarine Airport, Melbourne. Maskapai ini memberikan kesan tersendiri, safety aviation videonya sangat menggelitik. Beda dengan maskapai lain yang menayangkan petunjuk keselamatan penerbangan yang sangat serius, NZ air justru menyajikannya dengan jenaka. Selain itu, film film untuk hiburan di NZ air lumayan variatif jadi waktu tempuh tiga jam setengah jadi tak terasa. (Tulisan ini tidak disponsori oleh NZ air lho hehehehe).

Rencana saya dan teman-teman adalah menjelajahi pulau utara New Zealand selama seminggu. Saat merencanakan perjalanan ini, kami semua sepakat untuk menyewa mobil agar bisa menjelajahi lebih banyak tempat-tempat menarik. Travelling berjamaah nampaknya bisa mengurangi budget, contoh pertama: sewa mobil selama seminggu bisa jadi murah.

Di Auckland, pilihan kami jatuh pada sebuah hotel bermaskot Kiwi, namanya Kiwi Airport International Hotel. Hotel ini menawarkan paket family room yang cocok buat kami yang jumlahnya lima orang. Harganya pun lumayan miring untuk ukuran Auckland. (Disini, jangan harap bisa dapat kamar dengan harga Jalan Jaksa, no way).

Setelah check in, tujuan pertama kami adalah: Auckland CBD atau kawasan bisnis nya Auckland. Kota ini langsung saya asosiasikan dengan Melbourne. Kenapa? Ada banyak jalan yang meyerupai Melbourne, bahkan beberapa gedung memiliki kesamaan arsitektur dengan gedung-gedung di Melbourne. Yang berbeda mungkin adalah kota ini lebih sepi dibandingkan Melbourne. Harap maklum, kota Auckland hanya berpenduduk 1,4 juta jiwa.
Sky tower, yang khas dari Auckland

Bangsa Maori dikatakan sebagai penduduk asli New Zealand. Dan saat kami mengunjungi kawasan CBD Auckland, kami banyak bertemu orang-orang Maori di jalan. Perawakan nya mudah dikenali: tinggi dan besar. Tapi penampilan fisik orang Maori ada kesamaan dengan orang Meksiko, sama sekali gak ada mirip mirip nya sama orang Aborigin. Selama di New Zealand, saya jarang menemui orang Maori yang berbadan mini.
Selama dua hari di Auckland, saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat:

Mt. Eden

Dari Mt Eden, saya berkesempatan menyaksikan keindahan Auckland dari atas bukit. Mt Eden merupakan landmark penting kota Auckland mengingat posisi nya yang strategis untuk memantau Auckland dari atas. Ada sedikit insiden lucu saat kami berkunjung ke Mt Eden. Karena kepercayaan kami akan akurasi GPS yang sedemikian tingginya, kami memarkir mobil di tempat yang ditunjukkan oleh GPS. Kami serombongan akhirnya harus hiking sampai ke puncak, padahal ternyata ada jalur mobil yang bisa sampai ke puncak.

One Tree Hill
View Auckland dari One Tree Hill

Dari Mt Eden, kami bisa melihat sebuah bukit lain yang juga menjadi landmark kota Auckland. Tempat ini disebut One Tree Hill. Dinamakan demikian karena konon dulunya di puncak bukit tumbuh sebuah pohon yang sayangnya telah ditebang. Namun sebagai pengganti pohon, dibangun sebuah monument di puncak bukit ini.

Albert Park
Suasana sore di Albert Park

Albert Park adalah taman di tengah kota Auckland. Tak ada yang terlalu istimewa di tempat ini, namun lokasinya yang strategis membuat tempat ini tak terlalu sepi. Hanya terdapat sebuah air mancur di tengah kola mini serta view ke beberapa penjuru kota.

Selain ketiga tempat tadi, saya juga sempat mengunjungi Mission bay dan Ladies bay, namun pantainya kurang menarik. 

Kabarnya sih, New Zealand itu baru akan menarik setelah mulai menjelajahi wilayah luar kota. So, tunggu saja update selanjutnya