Sunday, November 28, 2010

Saat turis dan tuan rumah tak lagi berbeda (Part 2)

Menyambung tulisan yang sebelumnya, tempat kedua yang belum pernah saya kunjungi di Melboune adalah......... Melbourne Museum. Untungnya tamu-tamu dari Canberra tadi mengusulkan tempat ini untuk dikunjungi. Sebenarnya sudah lama sih saya mendengar tentang museum ini, bahkan ternyata tempat ini sering saya lalui dari tempat tinggal saya dahulu sebelum pindah ke tempat yang sekarang. Tapi dasar saya memang pemalas, mikirnya selalu "sudahlah nanti saja ke sananya, ntar juga kesana kok. Di Melbourne ini..... " 

Saya agak enggan ke Museum awalnya, karena saya menganggap museum sebagai tempat yang membosankan. Ini sesuai dengan pengalaman saya yang lalu-lalu di negeri sendiri. Saya makin gak rela masuk saat melihat papan informasi yang menunjukkan bahwa pengunjung harus membayar 28 AUD untuk masuk (wah ini bisa buat makan enak seharian di Melbourne). Berbekal kartu mahasiswa saya berharap mendapatkan konsesi. Saat saya menyodorkan kartu mahasiswa dan siap-siap membayar, sang kasir menanyakan kode pos rumah saya dan selanjutnya bersabda: "It's free". Yeahhhhh, hidup gratisan...... 
disambut dengan kerangka paus 

Begitu memasuki museum, kami langsung disambut dengan kerangka ikan paus besar yang ditemukan mati dan terdampar di pantai Victoria. Melbourne Museum memiliki 4 macam galery yang wajib dikunjungi:

Science and life gallery 

Satu kata untuk gallery ini: LUAR BIASA.... (eh itu dua kata yah, hehehhe). Persepsi saya tentang museum berubah seketika saat memasuki tempat ini. Bagaimana saya tidak tercengang melihat riwayat dinosaurus, proses terbentuknya bumi, mineral-mineral yang ada di perut bumi serta evolusi makhluk hidup dijelaskan dengan sederhana dan interaktif. Ada juga ruang khusus untuk membahas serangga disini. Saya baru sadar kalo kecoak di Australia ukurannya jauh lebih kecil dari kecoak di Indonesia (hidup negeriku). Teknologi visual benar-benar dimanfaatkan dengan sempurna di gallery ini. Tempat ini juga dilengkapi dengan bioskop lesehan 3D untuk melihat visualisasi fenomena alam. Jadi membayangkan, kalau tempat sekeren ini bisa ada di Indonesia, pasti anak-anak Indonesia jadi semangat ke museum. Apalagi di bagian akhir ruangan ini ada display replika hewan yang super duper mirip dengan aslinya, serta penjelasan apakah mereka sudah punah, terancam atau masih aman. 
kerangka dinosaurus 

Layar sentuh akan membantu menentukan level kepunahan hewan-hewan yang dipajang ini 

Mind and body gallery 

Bagi yang doyan psikologi dan anatomi, sila bermain ke tempat ini. Galeri ini menyajikan dua wahana yakni psikologi dan anatomi. Di wahana psikologi, pengunjung diajak untuk belajar mengenai fungsi otak, kejiwaan dan hal-hal yang terkait dengan kedua topik tersebut. Wahana psikologi juga banyak menawarkan permainan psikologi serta kesaksian mereka-mereka yang mengalami kelainan seperti schizofrenia dll. Di bagian anatomi, penjelasan tentang sistem kerja tubuh manusia juga dijelaskan dengan sederhana dan visualisasi yang membuat saya tercengang. Malah ada replika kotoran manusia dan saat tombolnya disentuh keluar bunyi kentut yang berbeda-beda (mungkin disesuaikan dengan makanannya kali yah). Untungnya, bunyi kentutnya tidak disertai dengan bau di gallery ini. Kebayang kalo orang Indonesia yang abis makan telur asin, pasti yang keluar cuman bunyi mendesah, tapi baunya bikin pingsan orang seruangan. 
ruang peraga yang interaktif, pengunjung adalah raja deh!!

potret diri yang aneh 

inilah replika lengkap dengan tombol kentut nya hahahahah 

Melbourne gallery 

Nah bagi yang mau tahu sejarah Melbourne, tempat ini cukup memberikan informasi tentang Melbourne. Tempa tini bercerita banyak tentang pacuan kuda yang menjadi kegemaran orang-orang sini. Namun, saat ke gallery ini, saya lebih tertarik untuk memasuki sebuah gallery khusus yang sedang memajang hasil karya "Jeannie Baker" berjudul "Mirror" atau dalam bahasa Arab "Miro'ah".  Saya sangat kagum dengan ide Jeannie Baker. Jeannie bercerita tentang kisah sehari-hari seorang anak di Sydney dan seorang anak yang tinggal di sebuah desa di Maroko. Cerita yang ditawarkan terbagi menjadi dua alur, yakni cerita di Maroko dan cerita di Sydney. Meski kedua anak ini tak saling mengenal, hidup dalam kondisi serta kultur yang jauh berbeda, namun Jeannie menarik benang merah dan menunjukkan pentingnya keluarga dan kehangatan dalam keluarga. What a wonderful story. 
bule kesasar

Bunjilaka Aboriginal Culture Centre

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa puluhan tahun yang lalu, pernah terjadi upaya untuk melenyapkan suku Aborigin di Australia. Pemerintah setempat waktu itu mencoba melakukan kawin silang antara suku Aborigin dan kulit putih. Dan anak-anak dari hasil perkawinan ini kemudian dituntun untuk hidup ala bule. Makan roti dan keju, serta minum susu, termasuk merubah kepercayaan mereka. Masa-masa ini dianggap sebagai masa kelam dan anak-anak tersebut diistilahkan dengan "the stolen generation". Dan ironisnya, pemerintah Australia selama puluhan tahun kurang menyadari hal ini. Situasi kemudian berubah saat Kevin Rudd terangkat menjadi perdana menteri Australia, beliau menganggap isu ini sebagai salah satu isu penting. Beliau lah perdana menteri pertama yang mengucapkan maaf kepada suku Aborigin melalui speechnya yang dikenal dengan "sorry speech". Sepuluh tahun terakhir, perhatian kepada masyarakat Aborigin makin besar, penerimaan terhadap mereka pun sebagai leluhur Australia makin diterima khalayak ramai. Bunjilaka cultural traditional centre merupakan sebuah persembahan untuk masyarakat Aborigin di Australia. 
karya yang cantik dari suku Aborigin

Demikian sedikit info tentang Melbourne Museum. Semoga ada yang berniat ke Melbourne (rajin-rajin cari flight murah yah di AirAsia, ada jalur KL - Melbourne lho!). Negara kita sebenarnya punya potensi besar untuk membuat sebuah museum yang menarik dan interaktif. Bukan hanya karena kita memiliki sejarah perjuangan kemerdekaan yang panjang, namun juga karena kita adalah sebuah negara dengan jumlah etnis yang besar dan budaya yang beraneka ragam. Belum lagi banyaknya artefak dan temuan arkeologi di Indonesia. Kita sadar bahwa ujung-ujungnya adalah duit, namun mungkin kita juga bisa sadar bahwa dana mungkin ada jika pengeluaran-pengeluaran mubazir negara bisa dikurangi. 

Museum bukan lagi tempat yang membosankan jika disajikan dengan apik dan interaktif seperti ini. Hmmmm selanjutnya mau main ke museum mana lagi yah? (the end) 

Monday, November 15, 2010

Saat turis dan tuan rumah tak lagi berbeda (Part 1)

Dua hari ini saya kedatangan tamu, beberapa teman yang berkunjung dari Canberra. Sebagai tuan rumah yang baik dan tak kasar, saya meluangkan waktu menemani mereka selama dua hari ini. Kebetulan, mereka sampai sehari setelah take home exam selesai. Jadi sambil menemani mereka, sekalian itung-itung melepas penat setelah beberapa minggu terakhir harus kejar-kejaran sama Om Deadline.

Namun ternyata saya kurang berhasil menjadi tuan rumah yang baik. Kenapa? Saya belum begitu mengenal Melbourne serta event-event yang sedang berlangsung di kota yang sangat nyaman ini. Terbukti dari beberapa tempat yang diusulkan para tamu ini, saya hanya mengetahui sedikit tempat saja. (Sigh.... dasar tuan rumah yang tak berpengalaman). Akhirnya yang terjadi adalah saya seolah-olah ikutan jadi turis di Melbourne yang notabene adalah tempat saya berdomisili sekarang. Jadi malu sama teman-teman dari Canberra karena pengetahuan saya tentang Melbourne yang masih sangat minim.

Sea Shepherd, Bajak Laut yang tak membajak 
Berpose di depan kapal bajak laut Sea Shepherd hehehehehe


Kebetulan, rekan-rekan dari Canberra ini anak jurusan lingkungan juga, jadi kami nyambung banget begitu ngomongin tentang lingkungan. Salah seorang rekan Canberra yang berasal dari Jepang mengusulkan agar rombongan kami mengunjungi kapal Sea Shepherd yang kebetulan sedang berlabuh di Dermaga Melbourne. Sea Shepherd? Sepertinya saya tahu nama itu. Setahu saya, Sea Shepherd itu adalah kelompok radikal yang suka menyerang kapal-kapal penangkap ikan. Mereka (setahu saya lagi) brutal dan dikategorikan dalam kelompok radical ecology. Jadi tanpa pikir panjang saya mengiyakan ajakan para tamu saya ini. Saya sudah membayangkan akan melihat para aktivis lingkungan yang sangar karena kerjaannya tiap hari menyerang kapal penangkap ikan.

Sesampai di dermaga, sebuah kapal hitam berlambang tengkorak nampak nangkring dengan sempurna di dermaga Melbourne. Hmmmmm dari jauh kelihatan seperti kapal bajak laut. Waaaah makin menarik nih untuk masuk ke kapal ini. Begitu sampai, saya dan teman-teman disambut oleh mbak mbak serta mas-mas bule yang ramah dan santun (beda jauh sama prediksi awal, kirain sangar). Kami dipersilahkan masuk mengikuti tur seputar kapal. Banyak penjelasan yang saya terima tentang Sea Shepherd, dan ternyata banyak informasi sepihak yang saya dengar tentang mereka. Sea Shepherd memang melakukan banyak tindakan penyerangan ke kapal-kapal komersial penangkap ikan, tapi penyerangan yang mereka lakukan bukan untuk menyerang awak kapal tapi untuk menggagalkan penangkapan ikan. Mereka memiliki sejumlah kapal-kapal kecil untuk menyusup ke kapal penangkap ikan komersial dan merusak jaring-jaring penangkap ikan yang mereka miliki. Selain itu, ikan-ikan yang mereka tangkap dilempari dengan mentega biodegradable yang merubah bau serta tekstur ikan sehingga pasar tak akan membeli ikan-ikan tersebut. Dalam sebuah video saya menyaksikan kapal ini menabrakkan moncongnya ke kapal komersial yang sedang menangkap paus untuk menggagalkan upaya penangkapan paus
Serem juga neh lambangnya 
Saat ini mereka sedang berpatroli di kawasan Australia bagian selatan karena sejumlah kapal penangkap paus dari Jepang telah sekian lama beroperasi di kawasan tersebut untuk menangkap ikan paus. Ngapain coba jauh jauh dari Jepang ke selatan Australia. Jauh amat sih mainnya?, heheheheh. Sayangnya, jalur diplomasi kerap tak mempan untuk mencegah kapal-kapal dari negerinya Nobita ini untuk menginvasi wilayah-wilayah laut yang lebih jauh. Eksploitasi sumber daya laut seperti inilah yang sangat ditentang oleh Sea Shepherd.

Apa sebenarnya mau mereka? Sebenarnya Sea Shepherd tidak menghalangi penangkapan ikan asal kan ikan-ikan tersebut ditangkap dalam jumlah yang wajar. Penangkapan ikan dalam jumlah yang berlebih telah menyebabkan makin langkanya ikan. Selain berakibat pada rusaknya rantai makanan di laut, penangkapan ikan dalam jumlah yang berlebih oleh kapal-kapal besar terbukti merugikan nelayan-nelayan kecil yang kehabisan jatah ikan. Organisasi ini juga turut andil untuk menyelamatkan ekosistem laut saat kebocoran minyak British Petroleum di teluk Meksiko terjadi.

Saya sangat menikmati setiap ruangan dalam kapal ini. Saya sempat melongok dapurnya, sempat menikmati film pendek di ruang nonton nya serta menyempatkan diri duduk di ruangan makannya. Yang bikin saya makin takjub, ternyata kru kapal Sea Shepherd makan dengan menu Vegan. Wuahhhh berat yahhhh.
Suasana ruang kemudi
Ruang nonton tipi 

Sea Shepherd merupakan organisasi yang berisi relawan-relawan yang memang mendedikasikan hidupnya sebagai pembela lingkungan. Ada beberapa orang yang saya temui memiliki latar belakang pekerjaan yang lumayan mapan, namun semuanya ditinggalkan karena merasa menjadi relawan di Sea Shepherd memberikan kepuasan tersendiri bagi mereka. Dana yang mereka dapatkan umumnya dari donasi. Jangan salah, organisasi ini ternyata banyak didukung oleh para petinggi Hollywood, sebut saja Sean Penn, Pierce Brosnan, Anthony Kidies nya Red Hot Chilli Peppers, Brigitte Bardot dan sederet artis lainnya. Organisasi ini didirikan oleh Paul Watson dan telah berjuang selama lebih dari 30 tahun untuk menyelamatkan ekosistem laut. Cara-cara radikal memang terbukti mengundang banyak perhatian, sayangnya upaya Sea Shepherd tak kunjung berhasil menciptakan pembatasan penangkapan ikan di dunia. Negara-negara maju makin giat saja menginvasi wilayah perairan negara-negara lain hanya demi kebutuhan konsumsi negara-negara tersebut.

Bagi yang tertarik melihat aksi mereka bisa klik di sini. Banyak kok video tentang sea shepherd. Pastinya ada yang pro dan ada yang kontra. Silahkan beropini.

Guys, untung yah saya didatangi oleh tamu-tamu yang update event. Mereka benar-benar tamu yang melakukan research dulu sebelum memulai perjalanan ke Melbourne. Jadinya, bukan tamu nya saja yang tambah wawasan tapi tuan rumah nya juga (tepok jidat karena merasa gagal jadi tuan rumah yang baik, hehehehehe).

(To be continued)

Wednesday, November 10, 2010

Hadiah di musim deadline

Jangan ditanya betapa stres nya mahasiswa di bulan Oktober dan November disini. Harap maklum kalo teman-teman kampus rata-rata susah untuk ditemui, kami semua memasuki sebuah musim yang menyeramkan: namanya musim deadline. Kalo dulu di Indonesia sih enak, tugas teman bisa di-copy paste trus ganti font dan rubah dikit-dikit. Disini? Jangan harap terjadi. Tugas yang dimasukkan secara online akan diperiksa oleh sebuah software bernama Turnitin yang akan mengkalkulasi berapa persen kesamaan antara tugas kita dengan tugas-tugas lain serta referensi akademik dalam databse. Parahnya, database-nya merupakan kumpulan database berbagai kampus di seluruh dunia. (Kampus yang suka tawuran itu ada nggak yah? hehehehe). So, copy paste tugas sudah ga bakal dilakukan disini, kecuali siap siap di Drop Out dari kampus karena dituduh plagiarisme.

Eitssss, kok jadi curhat gini yah. Sebenarnya tulisan kali ini bukan berisi keluhan, tapi ke lebih berupa kabar gembira. Untuk siapa? Yah untuk sayalah. Seminggu terakhir saya mendapatkan beberapa gift dari kampus, kelas dan sebuah restoran.

Berkah Sustainability.

Kampus saya kebetulan lagi getol-getol nya mencanangkan sustainability. Ini bisa terlihat dari berbagai upaya kampus untuk ramah lingkungan. (Disini go green bukan hanya sekedar slogan, tapi sudah pada tahap implementasi). Salah satu contoh terdekat adalah upaya untuk mengurangi piring-piring sekali pakai dengan menyiapkan piring-piring yang bisa digunakan kembali di kawasan kantin. Selain itu, untuk mengurangi penggunaan gelas sekali pakai, kampus juga menyediakan gelas keepcup bagi mereka yang berminat dengan syarat harus mengisi kuesioner tentang sustainability. Saya yang kebetulan bermimpi untuk memiliki keepcup namun terlalu pelit untuk keluar duit tentu saja tak ingin melewatkan kesempatan nan berharga ini. Saya pun mengisi kuesioner online.

Begitu membaca kuesionernya, saya merasa bahwa apa yang kampus inginkan dari mahasiswanya sebenarnya hal-hal yang sepele dan bisa dilakukan semua orang. Kuesioner ini berisi komitmen kita untuk: memilih kendaraan umum atau sepeda atau berjalan kaki, mematikan lampu saat tidak digunakan, menggunakan botol minum yang bisa diisi ulang, menghindari penggunaan piring sekali pakai, mencanangkan hari vegetarian sekali seminggu dan beberapa upaya komitmen lainnya.Hal-hal ini semuanya sepele bagi sebagian besar kita (kecuali yang menjadi vegetarian sekali seminggu), namun begitu dilakukan secara massal saya yakin kita bisa mengurangi jumlah emisi dalam jumlah yang banyak. Saya yang penggemar coto Makassar mungkin akan kesulitan untuk mencanangkan one veggie day a week, tapi saya berkomitmen untuk mencobanya. Yeaaahhhhh. Dan sebagai bentuk terima kasih kampus terhadap saya: mahasiswanya yang doyan barang gratisan: sebuah keep cup menemani saya tiap saat sekarang.
Gunakan keep cup untuk mengurangi gelas sekali pakai


A present from Loving Hut 

Sudah pernah baca postingan pondok cinta kan? Ternyata tulisan ini membawa berkah. Ini masih ada kaitannya dengan  vegetarian. Sebuah restoran vegetarian berlabel loving hut yang saya rujuk di blog saya ternyata tertarik untuk menggunakan cerita saya tentang restoran mereka di buletin mereka. Dan sebagai imbalan, saya akan mendapat gift dari mereka. Sebuah email konfirmasi baru saja saya dapatkan dari admin Loving Hut Plaza Semanggi yang menyatakan bahwa mereka suka dengan tulisan tersebut dan akan mengirimkan gift Loving Hut ke alamat saya di Melbourne. Wuaaaaahhhh, I never expect to get the gift because I wrote it simply because I like to eat there. Tapi dasar rejeki.... Semoga bisa menjadi penyemangat untuk bisa melaksanakan gerakan "one veggie day a week". Ada yang mau join gerakan veggie day? (Tentunya akan lebih lengkap kalo disini ada Cimori) *sigh* 
suasana di Loving Hut Plaza Semanggi, sumber http://www.lovinghut.co.id/jakarta/plaza-semanggi/galeri.shtml
Bagi yang tertarik mendapatkan voucher makan gratis dari Loving Hut, bisa mengunjungi tempat. Silahkan bernarsis kuadrat sambil sambil menikmati makan di Loving Hut Plaza Semanggi. Foto dan tulisannya dikirim ke spbmy@yahoo.co.id dengan subject: Super Fan's LHS Corner. Foto paling lambat diterima tanggal 24 Desember 2010. 


So, buruaaan kapan lagi bisa narsis dan dapat hadiah hehehehe

Melbourne cup membawa berkah 

Di Melbourne ada sebuah kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga lokal, namanya Melbourne Cup. Acara ini berupa pacuan kuda dengan taruhan. Baru kali ini saya menyaksikan suatu tempat yang meliburkan wilayahnya demi sebuah kegiatan taruhan bernama pacuan kuda. Atmosfer kota memang terasa beda karena para pria dan wanita berduyun-duyun ke Flemington Rececourse dengan pakaian formal. Para pria mengenakan pakaian lengkap dan para wanita mengenakan gaun terbaiknya dilengkapi dengan topi-topi yang berbentuk unik. 

Saya? Maaf, saya tidak meluangkan waktu untuk acara-acara seperti itu karena sudah bisa ditebak harga tiket masuknya pasti mahal. Saya cukup tahu saja bahwa ada kegiatan seperti itu. Hari itu meski libur, saya ada kelas intensif di kampus dari jam 9 am - 5 pm. Kelas saya hari itu lumayan menarik, statistik dan epidemiologi (silahkan menganggap saya aneh). Saat jam menunjukkan pukul 2.50 PM, dosennya menyodorkan topi dalam posisi terbalik berisi beberapa kertas yang telah digulung. Para siswa di kelas di perbolehkan mengambil satu kertas. Saya membuka kertas yang saya pilih, tertera kata: Americain. Saya masih nggak ngerti apasih Americain ini. Pak Dosen pun menjelaskan bahwa kelas akan dihentikan sementara tepat pukul 3.00 PM karena beliau ingin mengikuti live report pacuan kuda nya di kelas via Radio. Dan kertas yang dibagikan kepada para siswa ternyata adalah nama-nama kuda yang ikut balapan.  Tepat jam 3 teng, balapan kuda dimulai. Kelas hening mendengarkan reporter radio menggambarkan jalannya balapan dengan seru. Saya masih kurang begitu tertarik (dari dulu ga begitu suka nonton balapan kuda, beda halnya dengan balap karung). Balapan berakhir, setelah terdengar suara riuh orang di lapangan. Dan Pemirsa, pemenangnya adalah: AMERICAIN. Jyaaaaaaaaaaaaaaaahhhh kuda yang namanya saya pegang dan tak pernah saya saksikan itu menang. Dan berikut adalah hadiahnya: 
Snack hadiah dari kuda

Lumayan buat nemenin kerja tugas. Yeah 3 deadline masih menunggu. Wish me luck yah