Friday, October 29, 2010

Pray for Indonesia

Minggu ini, saya tenggelam dalam assignment yang deadline nya beruntun. Sekarang memang lagi penghujung semester, jangan ditanya gimana stresnya. Semester pertama, memang semester penyesuaian. So far sih masih bisa menyesuaikan diri, gak tahu nilainya apa masih bisa menyesuaikan juga. Semoga.......

Banjir 

Sibuk dengan tugas bukan berarti lupa sama kondisi Indonesia bukan? Untungnya saya rajin twitteran akhir-akhir ini, jadi bisa sedikit tahu perkembangan Indonesia dari media-media dan rekan-rekan di twitter. Berita heboh pertama yang saya pantau adalah banjir di Jakarta. Saya bukan ahli tata kota jadi bukan saya yang berhak memberikan kritik ataupun hujatan kepada Pemda dan pihak-pihak lainnya. Banyak status di FB dan twitter yang menghujat sang Gubernur yang katanya ahli. Eittsss, sebelum menghujat lebih jauh, kita ngga tahu kan Beliau ahli apa?. Hehehehehe. Tapi dari perspektif saya sendiri sebagai (mantan) warga Jakarta, kota manapun yang mendapat curah hujan seperti Jakarta sekarang pasti akan banjir. Melbourne saja yang memenuhi kaidah tata kota yang baik, benar dan tak neko-neko sempat dapat banjir kok awal tahun ini.

Melbourne pun banjir lho

Kebebasan berpendapat sih sah-sah saja. Warga Jakarta sangat boleh menghujat pemerintahan yang sekarang. Hanya saja, apakah dengan menyalahkan pemerintah masalah akan selesai. Banjir sudah menjadi langganan Jakarta dari sekian tahun yang lalu. Banjir itu bukanlah masalah pemerintah saja, tapi masalah bersama. Akan lebih arif jika kita tidak hanya tahu menghujat, mulai tetapi mulai berbuat. Dimulai dari diri sendiri, lalu disebarkan ke rekan-rekan kerja, keluarga dan tetangga. Tanamkan pada diri sendiri untuk mulai ramah pada lingkungan. Mengurangi peenggunaan botol plastik sekali pakai, tidak membuang sampah di selokan/gorong-gorong, belajar membuat biopori (lubang resapan) di sekitar rumah dan sejumlah kegiatan-kegiatan kecil lainnya yang mungkin efeknya sangat kecil. Tapi kalau kegiatan ini bisa dilakukan massal, bisa saja dampaknya juga luas. Iya kan? Trust me, rather than complaining continuously, take an action will be much better.

Merapi dan Mentawai 

Saya sempat tertegun melihat siaran berita Mentawai yang porak-poranda karena gempa dan tsunami, ditambah lagi letusan Merapi yang membuat sejumlah penduduk di sekitarnya harus mengungsi. Saya jadi ingat 6 tahun yang lalu, saat Tsunami terjadi di Aceh. Saat itupun saya tidak sedang di Indonesia. Trenyuh rasanya melihat musibah seperti ini terjadi. 

Sayangnya, di tengah bencana seperti ini, ternyata ada juga tokoh negeri ini yang memberikan respon tak sedap. Sebuah komentar tak enak dikeluarkan oleh Bapak Ketua DPR yang menyalahkan mereka yang tinggal di Mentawai, menyalahkan para korban Mentawai karena tinggal di pulau. Yang belum baca bisa klik disini. Wah membaca komen ini perasaan saya campur aduk: bingung, jengkel, marah dan pengen nabok. Bingung karena baru tahu kalo ternyata mentawai itu pulau dan jawa itu bukan pulau tapi daratan. Jengkel karena dalam pembelaannya, beliau mengatakan bahwa kalimat tersebut diucapkan untuk berkelakar. Masih bisakah kita berkelakar di atas penderitaan mereka yang kehilangan rumah dan keluarganya di Mentawai? It is utterly a wrong time to joke, Sir. Saya juga marah karena ucapan seperti ini diucapkan oleh ujung tombak lembaga perwakilan rakyat yang seharusnya membawa aspirasi rakyat, bukan pendapat pribadi yang bias. Bapak Ketua DPR pun akhirnya melayangkan permintaan maafnya disini. Dalam pernyataan maafnya beliau mengatakan kalau beliau tidak tahu menahu situasi di Mentawai. Nah kalau gak tahu situasi Mentawai, then SHUT UP!!!.  Kalo pengen nabok sih, emang dari kemarin karena tugas kuliah gak kelar-kelar hehehehe. 

Bagaimana dengan kami mahasiswa Indonesia yang berada di luar? 6 tahun yang lalu saya merasakan menjadi pengamen di luar negeri. Saya ikut mengamen bersama beberapa rekan Indonesia untuk mengumpulkan dana bagi korban tsunami Aceh. Yang bikin terharu adalah beberapa teman-teman Jepang dan mahasiswa internasional lainnya tanpa pamrih ikutan ngamen bersama kami. Such an amazing experience. Alhamdulillah, kala itu duit yang terkumpul lumayan banyak. 
Ngamen depan mall di Saga.... Salju nya masih kurang banyak 

Saat inipun, penggalangan dana sedang berlangsung di Melbourne diantara kami, sesama mahasiswa Indonesia. Hanya inilah yang kami bisa lakukan selain berdoa. Doakan dana yang terkumpul banyak yah biar bisa bantu mereka yang membutuhkan. Saatnya menundukkan kepala sejenak dan berdoa untuk saudara-saudara kita disana. Semoga dibalik semua bencana ini, ada hikmah yang luar biasa besarnya untuk kita semua Amiiiin. 



we can't avoid natural disasters, what we can do is only to minimize its possible impacts 

Friday, October 22, 2010

Karena Kami Cinta Indonesia

Bermula dari sebuah lunch yang berlangsung kemarin di pelataran Union House nya kampus UniMelb. Saya kebetulan bertemu dengan beberapa teman Indonesia. Sambil makan kami mengobrol banyak tentang assignment yang menghantui hidup kami akhir-akhir ini (halah), tentang kerasnya hidup di Melbourne (halah lagi), tentang musim semi yang masih terasa musim dingin (curhat.com), dan tak lupa meembahas sedikit tentang politik dalam negeri (kalo ini wajib hukum nya dibahas).

Perbincangan seperti ini memang selalu menarik, mungkin karena kesannya informal dan diselingi kelakar. Seorang teman merasakan bahwa di kota yang katanya one of the most livable cities in the world ini, ternyata banyak layanan kesehatan yang mahal. Contohnya, layanan kesehatan gigi. Kalau di Indonesia mungkin kalo ada masalah gigi, bisa langsung ke tukang gigi dan bayar gak banyak kalau cuman buat cabut gigi doang. Ternyata teman saya punya pengalaman buruk dengan giginya yang dicabut. Saat dia ke klinik gigi di sini, dia akhirnya harus merogoh kocek hampir DELAPAN JUTA hanya untuk cabut gigi, itupun cabut giginya harus melalui rontgen sana rontgen sini. Sebuah harga yang wow untuk sekeping gigi. Belakangan baru ketahuan kalau ternyata layanan kesehatan gigi disini dianggap sebagai bagian dari layanan kecantikan (treatment), bukan sebagai layanan publik. Makanya harganya pun bukan harga proletar, melainkan harga borjuis.

Perbincangan selanjutnya adalah kenapa sih di Melbourne kita tidak mendapatkan wilayah khusus orang Indonesia. Orang Vietnam punya daerah khusus di Melbourne namanya Footscray, orang-orang Libanon, Turki punya perkampungan namanya Brunswick (tempat saya tinggal sekarang), belum lagi di sekitaran Lygon yang banyak dihuni imigran Italia. Kok orang Indonesia gak ada daerah khusus nya yah, padahal secara geografis Indonesia dekat dengan Australia. Selain itu, jumlah orang Indonesia di Melbourne lumayan banyak lho. Perasaan saya selalu dengar orang ngomong Indonesia deh dimana-mana, entah di kampus, tram, city, train dan jalan. Kok gak ada yah perkampungan orang Indonesia? Hmmmmm menarik.
Temporary Melburnians who keep dreaming about kue apem and fried banana

Mau tahu gak kesimpulan kami akhirnya? Akhirnya kami berkesimpulan bahwa Indonesia itu terlalu indah untuk ditinggalkan. Semangat nasionalisme orang Indonesia tinggi jadi meskipun ke luar negeri, gak banyak yang memutuskan untuk menetap di luar negeri (ini berdasarkan hasil esei teman saya lho.... ). Sebuah jawaban yang mungkin terdengar ngehe tapi ada benarnya.

Saya menikmati segala keteraturan yang ditawarkan Melbourne, saya cinta sistem pendidikan yang menganut sistem egalitarian disini, saya suka kebebasan yang menjadi keseharian penduduk disini. Tapi semua itu tak membuat saya lantas beralih ke tempat ini. Entahlah, negeri saya yang kata orang sedang carut marut itu tetap merupakan magnet tersendiri bagi saya, warganya. Indonesia is the most beautiful country lah menurut kami. (Sebuah kesimpulan bias dari mereka yang kangen makan warteg).


Dan mendengarkan lagu lagu berikut ini membuat hasrat pengen mudik makin terasa kuat...... Hmpphhhhh





No matter where I go, I am Indonesian and always proud to be...INDONESIAN

Friday, October 15, 2010

Memori Kurume 5 Tahun Lalu

Saya sudah lupa tepatnya tanggal berapa, namun saya masih ingat waktu itu bulan Februari tahun 2005. Saya bersama Katarina, seorang sahabat dari Slovakia, dijemput oleh guru kami dengan mobil di depan kampus.Beliau berusia sekitar 70 tahun, namanya Furui Sensei. Di usianya yang sudah hampir tiga perempat abad,  Furui Sensei masih sanggup mengemudikan mobil jarak jauh. Hari itu kami bertolak dari Saga ke Kurume, sekitar 2 jam perjalanan.

Ada apa di Kurume? Di Kurume kami berencana akan mengunjungi sebuah sekolah luar biasa. Saya dan Katarina diminta oleh Furui Sensei untuk memberikan presentase kepada murid-murid SLB yang ada disana tentang Indonesia dan Slovakia. Untungnya, saya telah menghapalkan apa yang akan saya ucapkan. Saat itu saya harus presentase dalam bahasa Jepang tentang Indonesia. Yah maklum lah sodara-sodara, waktu itu Bahasa Jepang saya teramat sangat belepotan (sekarang malah lebih belepotan lagi).

Begitu memasuki pintu gedung, saya sudah mendapatkan sebuah surprise berupa ucapan Selamat Datang yang terpampang dalam Bahasa Indonesia dan Slovakia. Kata para guru, murid-murid yang membuat ucapan selamat datang tersebut. Saya sudah tercekat duluan.
Ucapan Selamat Datang beserta patung selamat datanng nya
Memasuki aula sekolah, berjejer di depan saya para murid SLB, beberapa duduk di atas kursi roda ditemani para guru dan pendampingnya. Saya makin terperangah saat melihat ada sebuah papan berisikan resep Nasi Goreng dan Soto Ayam dalam bahasa Indonesia beserta gambarnya. Katarina juga ikut takjub saat melihat makanan khas negaranya bersanding dengan Poster Nasi Goreng dan Soto Ayam. Tak lupa bendera Indonesia dan Slovakia yang dipasang tepat di tengah ruangan. Sungguh sebuah cara yang elegan untuk menghormati tamu asing. Saya TERKESAN!!!!.
Bendera Indonesia - Slovakia ala Murid Murid SLB di Kurume

Antusiasme murid dimulai saat saya memulai presentasi tentang Indonesia. Saya menunjukkan betapa beragamnya negeri saya tercinta ini, disertai sejumlah gambar berisikan adat dan budaya serta tempat-tempat terkenal di Indonesia. Anak-anak itu makin terlihat senang saat saya mengeluarkan sarung dan menunjukkan bagaimana cara memakai sarung. Mereka tergelak dan juga takjub. Katarina juga melakukan presentase dengan sangat baik. Senang melihat anak-anak itu tersenyum dan bergumam tanda takjub saat kami memperkenalkan kepada mereka budaya-budaya kami.
Lagi siap siap pake sarung.... mo buka jaket dulu hehehehe

Ini jadi artis apa jadi tukang lenong yah
Acara kemudian dilanjutkan dengan beberapa games yang menarik. Saya banyak berinteraksi dengan mereka, umum nya dengan bahasa isyarat sih soalnya mereka kurang bisa mengerti bahasa Jepang aksen tarzan yang saya miliki. Beberapa anak-anak malah tak berhenti mendekat dan menjabat tangan saya dengan penuh suka cita. Mungkin mereka merasa sangat senang kedatangan tamu ganteng dan cantik. (Yeah saatnya muntah bagi yang mual).
Bersama murid, guru dan pendamping 

Setelah semua acara selesai, saya, Katarina dan Furui Sensei denga  berat hati meninggalkan SLB diiringi lambaian tangan dari pada murid, guru dan pendamping mereka. Saya membawa sebuah tas jinjing hasil prakarya mereka. Saat tiba di kamar, saya baru sadar bahwa terselip sebuah amplop berisikan segepok uang Yen yang jumlahnya bisa buat traktir beberapa teman selama 7 hari berturut-turut. Alhamdulillah. Dua minggu kemudian, saya dan Katarina dipanggil menghadap Furui Sensei. Ternyata kami mendapatkan puluhan surat dari para murid SLB yang kami kunjungi. Meski dengan tulisan jepang khas anak kecil, saya dan Katarina berkat bantuan Furui Sensei bisa membaca satu persatu surat-surat tersebut. Semuanya mengucapkan terima kasih dan meminta kami datang lagi. Sungguh sebuah apresiasi yang sangat tinggi dari anak-anak penyandang cacat di Kurume. Saya tercenung saat itu, betapa sebuah kunjungan ke tempat mereka bisa sangat berarti untuk mereka.

Saya mengamati bahwa para penyandang cacat di Jepang mendapatkan banyak fasilitas layanan publik yang memadai sehingga mereka bisa beraktifitas. Pun di Australia, banyak mahasiswa dengan kursi roda yang lalu lalang di kampus yang menandakan bahwa hak mereka untuk mengecap pendidikan hingga ke universitas ternyata diakomodasi oleh negara. Saya tak akan membandingkan situasi di atas dengan situasi penyandang cacat di negeri saya tercinta, saya tak suka menyalahkan. Karena saya yakin, semuanya juga sudah tahu.

Saya lebih suka memanggil mereka dengan sebutan diffable, daripada disable. Karena mereka pasti punya kelebihan yang lain, makanya saya memilih menggunakan diffable atau different ability. Buktinya, prakarya prakarya murid-murid SLB di Kurume sangat artistik dan berhasil menghias meja belajar saya di Jepang. Dan jangan salah, mereka punya kelebihan lain. Kelebihan mereka adalah mereka tahu bagaimana cara yang elegan untuk menerima tamu.

Sunday, October 3, 2010

Aussie dilanda demam "DRAW"

Dua bulan terakhir saya mengamati ada sebuah fenomena unik di Aussie yang sedang terjadi. Entahlah mungkin saya nya saja yang hobi menghubung-hubungkan kejadian. Temanya unik: yakni Draw a.k.a hasil seri. 

Abbott vs Gillard 

Bukan mentang-mentang kakak saya ngurusin pemilu, trus saya juga tertarik dengan pemilu. Tapi, pemilu di Australia yang baru  saja berlalu memang menarik untuk disimak. Bahkan di kelas pun, terkadang dosen banyak menyinggung kebijakan-kebijakan dua calon PM Australia Tony Abbott vs Julia Gillard. Saya kurang mengikuti dinamika pemilu tapi kadang nyimak juga bagaimana Gillard yang memimpin Partai Buruh serta Abbott yang memimpin koalisi saling bersaing popularitas untuk memenangkan Pemilu. 
Gillard vs Abbott
(Pic is taken from http://resources3.news.com.au/images/2010/07/25/1225896/738359-leaders-debate.jpg)

Nah, yang membuat perseteruan ini makin menarik adalah pada saat penghitungan suara, ternyata baik partainya Gillard maupun Abbott sama sama mendapatkan 72 kursi di parlemen. Pertama kali terjadi dalam sejarah Australia kedua partai beroleh kursi yang sama di parlemen. Seandainya bola sih gampang, masih bisa ada perpanjangan waktu, trus penalti. Tapi, arena politik bukan lapangan bola cuy, lebih njlimet dan penuh dengan intrik. Karena posisi PM tidak dapat diputuskan saat itu juga, khalayak pun harus menunggu dua minggu untuk mengetahui siapa yang menjadi Perdana Menteri. Gillard akhirnya memenangkan perebutan tahta perdana menteri setelah dua wakil dari partai independen memberikan suaranya untuk partai Gillard (skor akhir: Gillard 74 - Abbott 72). Wanita yang masih single dan mengaku Atheis ini kini resmi menjadi PM Australia. Congrats Jeng, hehehehehe.
Hasil seri dalam Pemilu adalah fenomena langka. Dan saya merasa beruntung bisa menyaksikan kejadian unik ini.

Footy: Collingwood versus St Kilda

Ada satu cara jitu untuk membuka percakapan dengan orang Aussie: Coba tanya tentang Football (disini disebut Footy). Rata-rata orang-orang di Aussie sangat menggemari Footy. Footy sudah serasa agama saja, karena kalau sudah menjadi fan salah satu tim, menurut hukum tak tertulis orang yang bersangkutan tidak boleh pindah menjadi fan tim yang lain. Saya dari awal sudah dihasut oleh teman Australia saya untuk menjadi fan Collingwood, dan jadilah saya dibaiat di Horsham untuk menjadi pengikut setia Collingwood.

Meski saya gak sampe ngefans ala bonek sama Collingwood, tapi saya berkesempatan nonton Collingwood live sekali di gelanggang olahraganya. Dan memang nonton live terasa sangat beda, atmosfer nya lebih kena. Nyamannya lagi, kita bisa duduk bersebelahan dengan fans tim lain, saling mencaci tim lawan namun tidak ada acara timpuk-timpukan yang berakhir dengan tawuran massal. Sebuah contoh sikap fans fanatik yang tetap sportif. Kadang ada keluarga yang terbagi, sebagian mendukung tim satu dan yang lainnya dukung tim dua, tapi mereka tetap harmonis. 
Collingwood vs St. Kilda
Final footy berlangsung tanggal 26 September antara dua tim Collingwood vs St. Kilda. Harga tiket masuk stadion nya sekitar 250 dollar (sekitar dua juta rupiah). Saya yang nggak ngefans abis tentunya memilih mencari tempat nonton bareng yang murah meriah namun tak mencret, dan pilihan itu jatuh ke Federation Square yang terletak di jantung kota Melbourne. Suasana sangat rame waktu saya tiba disana, riuh rendah saat masing-masing tim saling menyerang. Saya turut teriak dan loncat-loncat saat tim Collingwood berhasil mencetak skor dan meneriakkan "buuuuuuuuuuu " panjang saat tim St Kilda menyerang,  saya berbaur dengan fans Collingwood lainnya. Semuanya bebas berteriak mendukung tim masing-masing tanpa harus khawatir ditimpuk botol minuman dari fans tim yang lain. Semuanya berjalan aman dan terkendali. Diluar dugaan, skor akhir Collingwood dan St Kilda ternyata berakhir imbang 68-68. Sebuah kejadian yang sangat langka dalam permainan football, apalagi di partai Puncak football seperti ini. 
Suasana nonton gratis di Federation Square

Tak seperti sepak bola, dimana hasil imbang bisa dilanjutkan dengan perpanjangan waktu dan penalti. Hasil seri di final Footy berarti tanding ulang seminggu setelahnya. Banyak fans yang kecewa dengan hasil ini, karena banyak fans fanatik yang harus menabung dulu untuk bisa beli tiket nonton final. Meski akhirnya seminggu kemudian Collingwood akhirnya menang telak 108 - 52 atas St. Kilda namun perhelatan final Footy jilid kedua rasanya tak seramai yang pertama. Banyak yang akhirnya memutuskan untuk menonton di rumah saja, termasuk saya. Congratz to Collingwood. See you again next season. 

Sekian cerita singkat dari Melbourne. Bener kan Aussie lagi dilanda demam SERI???