Wednesday, September 29, 2010

Adegan ibadah yang bikin ternganga

Tinggal di daerah yang minoritas Muslim memang selalu meninggalkan kesan tersendiri. Ternyata banyak tingkah polah muslim yang terkadang luput dari perhatian orang banyak dan kerap menimbulkan pertanyaan dari rekan-rekan non muslim. Dan saya kadang gelagapan sendiri karena takut tidak mampu memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan mereka.

Si Toby pengen lihat orang Shalat.

Untungnya kampus ku punya fasilitas musholla, satunya terletak di seberang kampus dan yang satunya lagi di dalam perpustakaan. Saya lebih sering menggunakan musholla yang di perpustakaan karena kegiatan sehari-hari saya yah facebookan di perpus (Jyaaah ketahuan). Waktu itu, saya selesai mengambil wudhu dan siap siap masuk musholla saat mas Decky (salah seorang rekan dari Indonesia) menghampiri saya ditemani seorang bule. Mas Decky ngajak berjamaah dan katanya temen bule nya yang bernama Toby pengen lihat orang sholat. Saya sih ayo saja, orang cuman mau lihat saja kan? Akhirnya, saya dan mas Decky mulai berjamaah dengan khusyu dan khidmat dan si Toby memperhatikan kami dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya  tanpa berkedip (ah lebay hahahahah).

Sehabis sholat, Toby banyak bertanya tentanggerakan-gerakan sholat. Pertanyaan selanjutnya tentang apa gunanya wudhu, apakah wanita bisa memimpin pria dalam sholat. Saya cuman bisa melongo saja mendengar pertanyaan nya. Untungnya ada mas Decky yang bisa mewakili memberikan jawaban, kalau nggak saya pasti sudah ngasih jawaban yang ngawur. Saya jadi sadar diri bahwa pengetahuan agama saya mungkin memang masih sangat dangkal, pertanyaan-pertanyaan dasar dari Toby saja kurang mampu saya jawab. *sigh* --> Buru-buru baca buku Fiqih.

salah satu sudut University of Melbourne

Xin terkagum-kagum padaku

Kalau mau sholat di perpustakaan, biasanya saya harus ngambil wudhu satu lantai di atas ruang sholat tepatnya di westafel toilet pria. Berhubung memang tidak ada tempat khusus wudhu, westafel lah yang menjadi tempat pelampiasan hasrat pengen wudhu. Dan tahu sendiri kan kalo pake westafel, saya harus angkat kaki tinggi-tinggi saat akan mencuci kaki. Kadang, saya harus jeda sejenak menunggu toilet sepi untuk mengangkat dan mencuci kaki di westafel. Karena sering saya mendapat tatapan seribu jarum dari bule-bule saat mereka memergoki saya mencuci kaki di westafel (doh).

Nah kebetulan waktu itu suasana toilet lagi sepi saat saya wudhu. Saya langsung ngangkat kaki ke westafel dan saat kaki sedang di westafel, seorang teman kampus bernama Xin masuk ke toilet. Dia ngeliatin saya aneh. Saya yang jengah ditatap dengan tatapan seribu tusuk kondenya Xin langsung komen duluan:

Saya: I am taking my holy water, an obligation prior to my prayer (Saya lagi wudhu, kewajiban sebelum sholat)
Xin : Oh you are a muslim. How many times you have to pray in a day (Oh kamu muslim, berapa kali kamu sholat dalam sehari)?
Saya : Mmmm 5 times..... (5 kali)
Xin : What? Wow.... you must be very disciplint..... (Apa.... Wow kamu pasti sangat disiplin)

Xin nampak terkejut. Entahlah dibuat buat kali.

Selesai wudhu, Xin mengikuti saya dan kami melanjutkan percakapan.
Xin : I heard you are also fasting during ramadhan (Dengar-dengar kamu juga puasa yah selama ramadhan).
Saya : Yup, we do fasting for 30 days in Ramadhan (Yah, kami berpuasa selama 30 hari di bulan Ramdhan).
Xin : What? 30 days? (Apa? 30 hari?)

Xin menatap tak percaya.

Xin : but luckily you still can drink when you are fasting, you are just not allowed to eat (untungnya kamu boleh minum selama berpuasa, kamu kan cuman dilarang makan)
Saya : Nope, we are not allowed to drink as well....... (Tidak, kami tidak boleh minum juga selama berpuasa)
Xin : What? No food?? No drink?? 30 days??? Wow you rock..... (Apa?? Nggak Makan?? Nggak Minum?? 30 hari?/ Wah kamu hebat).

Xin nampak mulai kagum. Tatapan seribu jarum nya sudah berubah menjadi tatapan terpesona

Xin : Wow..... I can not do that... when was your first time fasting? (Wow saya gak bisa seperti itu.... kapan pertama kali kamu puasa?)
Saya : When I was 6 yo (Waktu umur 6 tahun).
Xin : WHAAAAAAATTT (terbelalak dan menganga)

Saya akhirnya meninggalkan Xin yang masih menganga. Pengen ketawa rasanya kalo membayangkan muka Xin waktu itu. Sepertinya dia kudu diajak ke Indonesia deh pas Ramadhan biar bisa lihat anak-anak kecil yang pada puasa. Xin pikir itu hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tapi bagi kita yang sudah terbiasa, puasa tidaklah sesulit yang Xin pikirkan.

Lesson learned: Masih banyak yang perlu kita pelajari tentang Fiqih Islam dan alasan-alasan dibaliknya, karena banyak pertanyaan mendasar tentang mengapa sholat, mengapa puasa, mengapa zakat yang terkadang tidak bisa terjawab saat orang-orang awam menanyakan pertanyaan ini. Jawaban yang kita berikan pun belum tentu bisa langsung diterima oleh nalar mereka. Mungkin ada yang punya pengalaman yang sama?

Wednesday, September 22, 2010

Dan Mereka Kakakku

Sudah sejak lama saya ingin membuat postingan ini, tapi entah lah mood nya selalu gak dapat atau momennya yang kurang tepat. Sampai tadi pagi, saat bangun kesiangan (lagi), saya mendapati sebuah pesan di inbox facebook yang berisi sebuah link di Jawa Pos. Tiba-tiba hasrat saya untuk menulis ini begitu menggebu. Saatnya saya sedikit bercerita tentang keluarga saya, tepatnya tentang srikandi-srikandi di keluarga saya. 

She is my fun hangout mate
Yang suka berita politik mungkin sering melihat sosok kakak sulung saya di televisi. Apalagi pas jaman jamannya Pemilu, dia wara-wiri di tivi dan melalui sejumlah wawancara yang sepertinya sangat dinikmatinya. Namanya Wahidah Suaib, seorang praktisi pemilu yang lumayan dikenal di negeri ini. Berita-berita tentang nya tak lepas dari sengketa pemilu, pengawasan pemilu sampai pemilukada. Banyak yang kagum dengan keberanian serta kegigihannya dalam menangani kasus-kasus pemilu yang kerap sangat politis dan dilematis(dan saya termasuk pengagum rahasianya, I never express this feeling to her). Saya yang setiap hari mengenal dia cukup tahu betapa perfeksionis nya kakakku yang satu ini. Dia tak hanya piawai dalam sengketa pemilu, tapi juga dalam hal  interior rumah serta otomotif (She is jolly good for those areas), and she can be damn picky sometimes. Kesukaannya akan warna ungu dan orange, membuat tempat tinggal kami di Jakarta sarat dengan warna itu. Saya mempercayakan penataan kamar saya padanya hehehehehe. Selain itu, dia itu teman hangout yang lumayan seru, kesukaan akan FILM dan NYANYI membuat kami kerap nonton bareng yang berakhir di sebuah ruangan karaoke di dekat tempat tinggal kami. Membayangkan ini sudah membuat saya tak sabar ingin balik ke Jakarta. We love exploring Jakarta :) 

She loves eating

Kakakku yang satunya bukan lah seorang politisi, tapi seorang wanita sederhana penganut paham simplicity. Namanya Muslimah, saya memanggil Uche'. Dia memilih tinggal di kampung menjaga Mama, dan memberikan kesempatan berkembang itu untuk saya, adik semata wayangnya. Kami, secara emosional sangat dekat dan memang akrab dari kecil. Secara akademik, dia di atas rata-rata. Dia pintar dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi, dia sadar bahwa harus ada yang menjaga Mama di kampung. Saya kagum dengan niat tulusnya menjaga Mama dan kagum dengan kesabarannya meng-handle saudara-saudaranya yang doyan bepergian dan jarang pulang kampung. Saya belajar dari dia bahwa hidup tak hanya sekedar mengejar ambisi tapi hidup adalah mengenai pilihan. Dan dia memilih untuk tinggal di kampung bersama mama, tak seperti saya yang berambisi ini dan itu. Well, dia adalah partner sejati dalam makan bakso dan wisata kuliner di kampung. Dia tahu betul betapa sayur kuah bening (kaju lawi) dan ikang asing (bale rakko) bisa membuat saya nambah dua kali (oopsss). Sebagai kompensasi dari semua yang dilakukannya selama ini, saya ingin mengajak nya travel ke banyak tempat suatu saat nanti. Insya Allah, Amiiiiin. Yup, awalnya dia tak terlalu suka traveling tapi nampaknya setelah perjalanannya ke Bali dan Singapura, dia mulai merasa perlu melihat lebih banyak lagi dunia di luar sana.
one of those crazy pics we made
Us with Mom, can't wait for another fun family trip

Nah, itulah sekelumit tentang kakak-kakak saya. Kami berasal dari keluarga sederhana dan semoga tetap bisa mempertahankan kesederhanaan itu. Meski jarang bisa berkumpul bersama lagi, kami berusaha menikmati perbedaan jarak ini dan berjanji akan travel bareng (lagi) suatu hari nanti. Dan pada pagi yang cerah di musim semi  di Melbourne ini, saya cuman ingin bilang: I miss my sisters........

Thursday, September 16, 2010

Diskriminasi? Jangan ah.....

Kuliah di luar negeri memang punya serba-serbi. Banyak yang bisa dipelajari. Beberapa hal yang saya suka dengan sistem pembelajaran disini adalah kebebasan mengemukakan pendapat, tidak ada istilah menunggu dosen di kelas dan ujung-ujungnya dosennya tidak datang, penilaian diusahakan setransparan mungkin dan mahasiswa bisa mengajukan gugatan kalau merasa nilai dosen tidak fair (tanpa perlu merasa terancam). Jadi, prinsip-prinsip egaliter sangat berlaku disini. 

Beberapa teman sempat bertanya: Eh Pu, gimana kuliah disana? Ada diskriminasi nggak? 

Sebuah pertanyaan yang sangat bagus. Diskriminasi mungkin secara sederhana dapat diartikan sebagai perilaku tidak adil yang diterima oleh seseorang/kelompok karena mereka berbeda dalam hal ras, suku, agama, dll. Di awal-awal perkuliahan saya merasa bahwa mahasiswa lokal lebih nyaman bergabung dengan mahasiswa lokal yang lain, sedangkan kami -kami (mahasiswa asing) duduk bergerombol dengan mahasiswa asing lainnya. (Sedikit bangga juga dipanggil sebagai mahasiswa asing, kesannya saya bule hahahahah). Banyak yang mengasosiasikan duduk bergerombol seperti ini sebagai diskriminasi. Saya sendiri tidak menganggap itu sebagai sebuah diskriminasi, menurut saya itu adalah bentuk preferensi. Buktinya sekarang, semakin lama, kami semaking mingle (bercampur) dengan mahasiswa lain karena sejumlah kelas memang dirancang dengan group assignment, jadi kami dimungkinkan untuk mengenal dan belajar satu sama lain. I tell you what? It is fun karena ternyata perbedaan latar belakang teman-teman sekelompok memperkaya pengetahuan saya mengenai cara mereka berpikir. 
Bersama teman kelompok, see we are all different but we are equal

Banyak yang datang kemari berharap mendapat perlakuan istimewa karena gelar "mahasiswa asing" yang  mereka sandang, atau berharap mendapat "keringanan" karena merasa punya hambatan bahasa. Guys, kalau sudah diterima sebagai mahasiswa di universitas di sini, jangan berharap lebih akan perlakuan istimewa itu karena dosen tidak akan sempat punya waktu untuk mengenali mana mahasiswa asing atau mahasiswa lokal. Begitu di kelas, semua sama dan nilai akan diberikan secara objektif. So never expect that you'll be treated special. 

Ada juga pengalaman seorang teman dari Indonesia yang diteriakin di bus karena warna kulitnya yang coklat. Saya pernah mendapat bantingan pintu yang keras ketika akan masuk ke kereta saat si bule melihat tampang saya yang cakep dan sangat Asia ini. Nah kalau kejadiannya kayak gini, baru namanya diskriminasi. Dan segalanya tergantung bagaimana cara kita mengatasi ini. Yang perlu diketahui bahwa diskriminasi terjadi dimana-mana. Berada di negara yang multi budaya seperti Australia pun, diskriminasi pasti terjadi. 
Sebenarnya, kita sendiri tanpa sadar sering melakukan tindak diskriminasi ini. Salah seorang rekan saya yang berasal dari Afrika kerap menjadi bahan olok-olokan karena warna kulitnya yang legam. Julukan om hitam, si ireng selalu dialamatkan kepadanya setiap kali saya menemani dia berkeliling Indonesia. Yah miris sebenarnya karena kerap kita sendiri sangat rasis tanpa sadar bahwa itu adalah bentuk diskriminasi. 

Saatnya merubah cara pandang kita tentang orang-orang disekeliling kita, Bagaimanapun bentuknya, apapun warna kulitnya, kita semua sama, we are all humans.

Saturday, September 11, 2010

Lebaran ala Melbourne.......


Saya yakin banyak postingan rekan-rekan blogger kali ini yang berkaitan dengan lebaran. Mungkin tema utama lebaran selain bertemu keluarga adalah....... MAKAN. Yeah, satu yang paling dinanti saat lebaran tiba adalah acara makan-makan, apalagi kalau bisa berkumpul bersama keluarga besar. Which moment do you think better than that. 

Lebaran saya kali ini jauh dari keluarga, jauh dari menu buras dan daging-dagingan ala family chef, jauh dari teman-teman sekampung yang tiap tahun nggak bosan reunian, jauh dari bakso kampung favorit dan terenak di dunia. Lebaran kali ini saya rayakan di Melbourne. Ada yang bertanya: di Melbourne libur nggak? tanggal nya merah nggak? Jawabannya: IYA, kalau kalendernya diwarnain sendiri. Banyak rekan-rekan Melburnian yang harus bergegas ke kelas setelah acara sholat Ied selesai, untungnya saya ga ada kuliah hari Jumat.  
Lokasi sholat ied kali ini: Coburg City Hall

Bagaimana rasanya lebaran jauh dari keluarga? Huh, jangan ditanya rasanya... Ada rasa rindu pastinya, berharap bisa mencium tangan Mama, berpelukan dengan saudara atau berbagi angpao dengan sepupu-sepupu. Tapi jauh dari keluarga saat lebaran tidak perlu menjadi alasan untuk tinggal sendiri di rumah kan? Disini toh, saya banyak teman yang bernasib sama dan merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. 

Di Melbourne, asyik gak lebarannya? Asyik banget menurut saya. Saya bisa bertemu banyak rekan-rekan Indonesia, merasakan indahnya ukhuwah islamiyah meski berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah. Sholat ied nya rame banget, jemaah membludak dan ustadznya berceramah pake bahasa Indonesia (nggak seperti mesjid dekat rumah yang ustadznya pake bahasa Turki, mau pake google translator juga pasti ga nyambung). Semuanya tersenyum dan merasakan atmosfer kekeluargaan meski banyak yang tak saling kenal. Yang bikin makin meriah adalah potluck nya (setiap keluarga membawa makanan masing-masing ke lokasi sholat Ied), makanan yang tersaji beraneka macam. Mulai dari opor, lontong, sambel goreng ati, rendang, dll, serasa berada di Indonesia aja makanannya. Saya kebagian tugas bawa sambal goreng ati (yang akhirnya saya amanatkan kepada teman cewek disini, takut para jemaah ga nafsu makan kalau saya yang masak).
Mari bersalam-salaman

Halal bi halal dan makan-makan, slllrrppp yummy 

Sehabis lebaran (dan makan-makan), tiba gilirannya menyapa kerabat di Indonesia.... Untungnya Yahoo Messenger sudah dilengkapi dengan fitur CAM, jadi bisa melihat wajah keluarga disana. (God blesses those who created Yahoo Messenger). Sempat ngiler juga sih pas sepupu-sepupu nunjukin koleksi makanan mereka di Indonesia, saya pun nggak mau kalah saya menunjukkan persediaan mie instan yang ada di lemari hehehehehe. 

Oh iya, di Melbourne ada perkumpulan Bugis Makassar yang kami sebut BMG (Bugis Makassar Group). Saya sendiri baru ikut paguyuban ini. Bertemu dengan mereka membuat saya benar-benar merasa punya keluarga disini. Kami sering mengadakan buka puasa bersama (dan liputannya sempat dimuat di harian Fajar lho). Nah di edisi lebaran kali ini, saya menghabiskan waktu pagi hingga sore dengan bertandang ke rumah rekan-rekan BMG yang tentunya menghidangkan makanan-makanan pengguggah selera. Saya malah sempat mencoba gogoso' (makanan sejenis lemang khas Bugis) di rumah salah seorang rekan, benar-benar serasa di kampung deh. Hehehehehehe. 
Selamat merayakan Ied... Mohon Maaf Lahir dan Batin

Lebaran kali ini pastinya beda, tapi tak mengurangi esensi Idul Fitri itu sendiri. Selamat Idul Fitri bagi rekan-rekan yang merayakan, dan selamat berlibur bagi yang tak merayakan. Saya mohon maaf kalau ada kesalahan, saatnya menikmati rindang guys...... 

Friday, September 3, 2010

Ngopi dan lingkungan, apa hubungannya??


Pada doyan ngopi nggak? Kalau jawabannya iya, saya yakin banyak yang sudah jadi pelanggan tetap starbucks. Hehehehe. Saya nggak terlalu doyan kopi sih, saya lebih suka minum hot chocolate. 

Saya memperhatikan orang-orang di Melbourne sangat keranjingan sama yang namanya ngopi. Tak heran-heran warung-warung kopi alias cafe (baca: KAPE) menjamur di mana-mana. Di kampus saja, ada banyak tempat ngopi. Dan tidak seperti di Indonesia, dimana cafe dijadikan tempat nongkrong (meski pesannya cuman satu cangkir dan yang nyicip tiga orang), disini banyak penikmat kopi yang take away. Jadi sangat lumrah melihat  ada teman yang masuk kelas dengan secangkir kopi hangat di tangan yang bisa diseruput sekali-kali sambil menyimak kuliah. Kadang kalau ada break sejenak di kelas, beberapa teman menyempatkan diri keluar untuk beli kopi dan kembali ke kelas dengan secangkir kopi di tangan disertai wajah sumringah. Hidup seolah-olah tak lengkap tanpa kopi. 

cafe nya pak professor di kampus

Bisnis cafe disinipun sepertinya sangat menjanjikan, mau buka kedai kopi dimanapun selalu rame. Makanya, Starbucks tidak terlalu bergaung di sini. Kalah pasaran nampaknya oleh pesaing-pesaing lokal. Bahkan beberapa teman menyatakan diri Anti-Starbucks karena rasanya kalah sama cafe cafe lokal. Hehehehe. 

Yang menjadi tantangan adalah untuk memenuhi kebutuhan penikmat kopi yang take away, dibutuhkan banyak gelas kopi sekali pakai. Dan bayangkan saja kalau gelas-gelas ini selesai dipakai, berapa banyak sampah gelas yah yang harus ditangani. Logikanya sangat sederhana, kalau setiap hari seseorang beli kopi take away, dalam sebulan dia membuang 30 buah gelas plastik. Berarti dalam setahun,seorang penikmat kopi bisa saja membuang lebih dari 300 gelas kopi sekali pakai. Coba bayangkan, betapa banyak penikmat kopi di dunia ini, dan berapa banyak sampah gelas yang harus bumi ini tampung. (Saya yakin pake kalkulus 7 pun gak bakalan tahu jumlahnya saking banyaknya)

Apa solusinya? Tentunya terlalu ekstrim untuk mengatakan berhenti ngopi. Itu jawaban bodoh menurut saya, berhenti ngopi hanya karena masalah sampah gelas. Salah satu solusi yang bisa para penikmat kopi lakukan adalah dengan membawa gelas sendiri ke penjual kopi. Pasti langsung mikir kan, wah masak bawa gelas sendiri, kan repot bawanya. Nah, disinilah letak pengorbanan yang kita lakukan. Sedikit berkorban gak masalah kan buat cuci gelasnya sendiri. 
the keepcup family

Sebuah solusi unik ditawarkan oleh keepcup dengan menciptakan gelas kopi trendi dan reusable (dapat digunakan berulang-ulang). Keep cup diklaim sebagai gelas reusable pertama yang memenuhi standar barista. Kalau dirawat dengan baik, gelas ini dapat digunakan selama 4 tahun (lumayan kan, bisa mengurangi gelas disposable hingga 1400 an gelas). Nampaknya, efek keepcup juga lumayan manjur. Saya banyak menjumpai orang-orang di tram yang menikmati kopi dengan keepcup. hehehehehe. 
Dipilih, dipilih, dipilih dipilih 

Ini bukan promo keepcup lho. Saya sendiri blom punya keepcup kok. Saya sudah cukup puas dengan gelas thermos pemberian kampus. Intinya adalah, dibutuhkan sedikit pengorbanan untuk merubah kebiasaan plus secuil inovasi. Kisah keepcup mungkin bisa menginspirasi kita dalam mencari ide kreatif  untuk merubah perilaku orang-orang di sekitar kita agar lebih ramah lingkungan. 

Pengganti keepcup, hehehehehe

Sudah larut malam, saatnya menikmati hot chocolate....... 

If you're out and you've forgotten your travel mug, you don't deserve coffee. And if you make this small sacrifice this time, you're almost certain to remember to bring it the next
(Wanda Urbanska in her book: Less is More)