Friday, August 27, 2010

Ramadhan di Melbourne: Tak Terasa Hausnya

Banyak yang bertanya-tanya gimana rasanya berpuasa di luar negeri? Saya pernah merasakan indahnya berlebaran di Jepang dan saat ini kembali diberi kesempatan merasakan nuansa Ramadhan di Melbourne. Kenapa saya mengatakan indah? Ada banyak alasan. Salah satu alasannya adalah karena di dua tempat ini saya melaksanakan puasa pada musim dingin (winter) yang berarti siangnya lebih pendek dan malam nya lebih panjang (dikit sih.....), ditambah lagi winter membuat badan kita jarang keringetan makanya jarang mandi hahahahahha, eh salah maksudnya jadi gak terasa haus haus banget.

Alasan utamanya adalah saya bisa merasakan bagaimana Ramadhan di tempat yang penduduk muslim nya minoritas. Mungkin dibanding di Jepang kemarin, Melbourne jauh lebih mendingan karena penduduk muslim nya lumayan banyak apalagi saya tinggal di kampungnya orang orang Arab yang namanya Brunswick. Di sini jarak rumah saya ke mesjid hanya sekitar 200 meter, jadi cukup ngesot udah bisa sampe. Selain itu, di sekitar rumah banyak toko toko daging halal, jadi gak kelimpungan cari daging kalau mau masak. Meskipun demikian, nuansa Ramadhan tidak begitu kental di Melbourne. Jangan harap akan banyak pedagang cendol, es buah, kolak di pinggir-pinggir jalan bak Jakarta, hehehehehe. Untuk sementara, berbuka dengan kolak atau es buah saya jadikan imajinasi saja, toh berbuka dengan yang manis tidak selamanya harus dengan kolak atau es buah kan? 
Melbourne view from Eureka Skydeck
Satu trik yang saya lakukan kalau lagi malas masak, saya berbuka di mesjid dekat rumah. Teman-teman menyebutnya Mesjid Turki karena banyak orang Turki yang sholat disini plus khatib jumatnya juga kadang bawain khutbah nya pake bahasa Turki, yang membuat saya cuman bisa ngangguk ngangguk karena ngantuk gak ngerti apa apa. Buka puasanya unik, kami duduk berhadap-hadapan dan di depan kami dihamparkan plastik panjang yang berfungsi sebagai piring besar. Di atas plastik, disebarkan sejumlah makanan seperti gorengan, kue-kue, chips dan minum nya pake jus berbagai rasa, tinggal pilih. Kalau beruntung, pas abis buka dan sholat Maghrib, para jemaah disuguhi dengan makanan besar berupa nasi briyani dengan daging atau ayam yang dimasak khas Timur Tengah. Meski gak doyan-doyan amat tapi saya kadang habis satu piring lho (Gak doyan aja segitu, gimana kalo doyan yah). Saya jadi belajar, rezeki orang berpuasa memang selalu ada yah. Alhamdulillah. 
Suasana buka: makanan beralaskan plastik

Lain lagi dengan pengalaman saya di kelas, teman-teman yang tahu saya puasa biasanya memandang dengan wajah prihatin sambil bertanya apakah saya baik-baik saja, takut kalau saya pingsan di kelas kali. Saya sih dengan enteng saja jawab, "lu kalau mau balapan lari ama gua sekarang, ayo.... gua jabanin", wakakakakakak (tentunya dalang Bahasa Cinta Laura dong.... Inggrais...). Mereka lebih takjub lagi begitu tahu bahwa saya dan rekan-rekan muslim sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun, hahahahaha. Lucu saja melihat mereka melongo dan terheran-heran mendengar pengalaman puasa saya. 

Salah satu sudut kampus dipersembahkan untuk mereka yang suka warna kuning......

Terkadang waktu buka puasa bertepatan dengan kelas. Untungnya disini, dosen-dosennya santai, jadi saya kadang nyuap roti dikit-dikit pas buka puasa di kelas. (Kan gak lucu kalau saya bawa piring gede dan ngunyah dalam kelas, hehehehe). Makan besarnya malah pas abis kelas, biasanya sih menyelamatkan perut di resto atau warung Indonesia yang terdekat. (Di dekat kampus ada garasi cafe dengan ayam penyet sebagai menu andalannya, dan ada pula warung Noorsiah yang punya menu ikan asin, yummyyy sllrrrpp) 

Salah satu tempat pelarian buka puasa kalau malas masak (picture is retrieved from www.ppia-vic.org)

Nah, begitulah sekelumit cerita saya tentang Ramadhan disini. Terus terang, saya kangen dengan suasana Ramadhan di Indonesia, tapi rasa itu terkalahkan dengan keinginan saya untuk mencicipi manisnya Ramadhan di negeri orang lain. Saya yakin indahnya Ramadhan bukan hanya di Indonesia tapi di manapun kita berada. Kalau ada yang tanya: Cipu pulang lebaran nggak? Mmmm sepertinya NGGAK, Jadi gak lebaran sama keluarga dong? Iyah, kali ini saya tidak berlebaran bersama Mama dan saudara, tapi saya berlebaran bersama keluarga saya di Melbourne (teman dan handai taulan) ---> cieeeehh pake handai taulan wakakakakak.

Selamat berpuasa semuanya. Mohon maaf kalau Cipu ada salah yah.......

Sunday, August 22, 2010

Konsumsi

Semester ini, saya mengambil sebuah mata kuliah menarik yang judul nya "Kebijakan Lingkungan" a.k.a "Environmental Policy". Mata kuliah nya sangat tematik, dibawakan dengan apik membuat kita semua jadi tertarik. Kebetulan minggu lalu topik nya adalah Konsumsi. Jangan stop disini dulu bacanya, ini bukan pelajaran tentang ekonomi kok, saya janji gak berat bacaannya, hehehehee Pisssss... 

Apa sih yang terlintas di benak kita saat mendengar kata "lingkungan"?. Mungkin banyak diantara kita yang langsung mengasosiasikan lingkungan dengan buang sampah pada tempatnya, atau menanam pohon, atau daur ulang atau teringat warna hijau (green). Saya juga awalnya begitu, saya selalu berpikir bahwa menjaga lingkungan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya, mendaur ulang limbah dan menanam pohon. That's it. Dengan melakukan itu, sebenarnya kita sudah sangat berjasa pada lingkungan, pertahankan. Tapi cukupkah sampai disitu? 

Ada satu hal yang sebenarnya kadang kita lupakan tapi sangat berperan dalam merusak lingkungan. Apa itu? Konsumsi. Sadar gak sih, kalau selama ini mode dirancang untuk merangsang kita untuk terus membeli? Ada hape baru, kita langsung membuang hape lama yang masih berfungsi dengan baik dan menggantinya dengan yang baru agar kita terlihat keren. Hape rusak dikit, bukannya diservis malah ganti yang lebih baru. Pun dengan baju, sepatu, gadget lain, semuanya mengedepankan satu hal "trend" biar kesannya gak ketinggalan zaman, biar kita semua jadi keren. Inovasi, kreatifitas dan teknologi bersinergi dan membuat kita ingin terus membeli, lagi lagi dan lagi.


A must watch story about your stuffs, Video yang keren banget!!!!

Sebenarnya tidak ada masalah dengan membeli banyak barang, yang menjadi masalah adalah barang-barang kita yang sudah tidak trendi lagi mau dikemanakan? Laptop jadul kita mau dikemanakan? Hape lama mau diapakan? Kamera 3 Mega Pixel yang sudah nggak banget mau disimpan dimana? Baju, sepatu, celana, celana dalam yang sudah gak mengikuti jaman mau tetap disimpan di lemari? Ujung-ujungnya juga nanti akan dibuang. Masalah berlanjut lagi dengan pembuangan, ternyata bumi kita juga lama kelamaan tidak mampu lagi menampung sampah-sampah kita, tidak hanya karena banyak sampah yang susah terurai tapi volume sampah kita makin menggunung dari hari ke hari. Sebuah dampak yang jarang kita sadari hanya karena kita ingin tampil keren. Siapa yang diuntungkan? Tentunya mereka yang memproduksi barang-barang tadi, yang dengan kedok "mode" yang terus mengajak kita shopping beyond help (belanja gak ketulungan). Siapa yang dirugikan? Kita dan generasi kita di masa depan (Cieeeehhh, ga nyangka bisa juga bikin kalimat keren gini, wakakakak).
Foto di atas bukan hasil photoshop (http://theinspirationroom.com/daily/2008/green-party-recycle-in-brazil/)

Mungkin ada yang bilang: "Ah ga papa kok, saya kan cuman satu dari sekian milyar penduduk bumi". Yah satu orang pasti ga akan bermasalah untuk bumi ini. Tapi sayangnya, miliaran orang berpikir yang sama. Ini yang saya sebut "the mistake of common" (istilah ini saya yang bikin lho, gak nyontek, tau deh kalo ada samanya). Ingat pepatah kita "little by little, long time long time becomes mountain" yang artinya "Sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit". Ternyata sistem secara tak langsung dirancang tanpa kita sadari untuk membuat kita terkucil dari teman-teman yang hape nya mengikuti zaman, yang model bajunya berubah terus, yang tiap hari berganti sepatu. Padahal kan sah-sah saja kalau kita memakai hape hitam putih, pakaian yang sederhana dan sepatu kets yang itu-itu saja. Saatnya merubah paradigma kita tentang apa arti "keren". 

Guys, pernah dengar istilah "Less is More?". Slogan ini biasanya digunakan oleh para environmentalist untuk mengajak kita membatasi konsumsi. Shopping boleh-boleh saja kok, yang penting kita shopping dengan bijak. jadi saat berbelanja saat nya kita mulai berpikir: "ini perlu gak yah?", bukan lagi berpikir "Saya terlihat keren gak yah dengan ini?". Less is more = semakin sedikit berbelanja, semakin banyak yang bisa kita tabung. Less is more= semakin efisien, semakin yahud. 
Source: www.unikeep.com

Sebenarnya momen Ramadhan sangat pas untuk kita mempraktekkan prinsip "Less is More" ini karena kita banyak berbelanja gak penting hanya karena lapar mata dan lapar perut. Saatnya menambahkan satu konsep baru tentang lingkungan. Lingkungan bukan hanya tentang buang sampah, mengurangi polusi dan daur ulang, tapi juga membatasi konsumsi. Mari berbelanja dengan bijak. Semakin efisien, pasti semakin keren. Coz I know, that all of you are COOL, guys.

Sunday, August 15, 2010

"Gold Rush" in Victoria and a visit to Ballarat

 Ballarat terletak di Negara Bagian Victoria, sama dengan Melbourne. Dibutuhkan waktu 2 jam naik kereta dari Melbourne ke Ballarat. Saya sendiri tidak begitu tahu apa sih yang ada di Ballarat, cuman teman-teman pesan bahwa kalau saya ke Ballarat harus ke Sovereign Hill, karena tempat ini sangat unik serta menawarkan jenis wisata yang berbeda. Nah mulai bingung kan? Apa sih Ballarat dan Sovereign Hill itu? Ada di peta nggak? 

Well berhubung saya bukan ahli geografi, saya nggak tahu apa Ballarat dan Sovereign Hill itu ada di peta dunia. Tapi yang pasti pada pertengahan abad 19 (waduh udah kayak pelajaran sejarah nih), orang-orang dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong ke Ballarat karena tempat ini memiliki persediaan emas yang cukup banyak dan siap ditambang. Penduduk Ballarat waktu itu akhirnya berkembang menjadi tiga kali lipat dari jumlah sebelumnya. Perpindahan besar-besaran untuk mendulang emas, seperti yang terjadi di Ballarat, kerap pula disebut "Gold Rush". Tapi jangan salah, kunjungan saya dan teman-teman ke Ballarat bukan untuk mendulang emas lho, kami murni berkunjung buat membeli emas doang kok *tssaaaaahhh*, lagian persediaan emasnya juga udah habis. Untungnya, begitu sampai di Ballarat, saya dan teman-teman tidak perlu membeli tiket bus lagi kalau mau ke "Sovereign Hill", cukup menunjukkan tiket kereta Melbourne - Ballarat, pak supir mempersilahkan kami langsung menumpangi bis nya. Amazing!!!
City of Ballarat

Saya masih kurang ngeh apa "Sovereign Hill" itu, tapi saya tetap mengekor teman-teman yang turut menyertai saya ke Ballarat. Begitu masuk ke Sovereign Hill, saya langsung suka tempatnya. Sovereign Hill ternyata adalah semacam kawasan pertokoan dan pertambangan emas yang bangunan, jalan dan layout nya masih mempertahankan bentuk yang lama. Saya serasa terlempar ke masa 150 tahun yang lalu pake mesin waktunya Doraemon (lebay dot co dot ai di). Para penjaga toko nya mengenakan pakaian-pakaian ala little Missy dengan roknya yang mekar dan siap menyapu jalan. Pantesan jalan jalan nya bersih, cewek-ceweknya pake rok payung sih hihihihihih. 
Salah satu sudut Sovereign Hill

Rok nya bisa buat bersihin jalan kan? kasian yah, cantik-cantik malah kerjanya bersihin jalan :p

Cukup banyak yang bisa dinikmati di Sovereign Hill, jejeran toko-toko nya mengingatkan saya akan setting film lama "Little House and the Prairie". Serasa berada di film-film jaman dulu. It was so....... so apa yah, bingung euy ngasih deskripsi. Selain menikmati landscape Sovereign Hill, pengunjung juga bisa melihat bagaimana emas di tambang melalui sebuah terowongan bawah tanah yang dilengkapi animasi tiga dimensi yang canggih. Saat masuk ke dalam terowongan ini, suasananya gelap, lembab dan ...... saya pengen kentut. Waduh harus kemana yah, pengen dikeluarin takutnya pengunjung lain yang masuk bersama saya megap megap kareka keracunan. Untungnya hajat yang satu itu bisa tertahan dan berhasil tidak meracuni pengunjung lain dalam terowongan *fiuhhhhhh* 

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota..... lalalalalalala tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk

Berhubung kunjungan ke Ballarat cuman sehari, kunjungan hari itu ditutup dengan mengunjungi Gold Museum yang letaknya persis di depan Sovereign Hill. Bagi yang suka sejarah, tempat ini bisa memvisualisasikan tata letak kota Ballarat pada periode Gold Rush, serta memberikan urutan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan penambangan emas di daerah ini. Selain itu, disini juga dijual suvenir-suvenir khas Ballarat. Tentunya suvenir yang dijual disini tak jauh dari hal-hal yang berbau emas. Tinggal pilih sesuai kantong, mulai dari murah meriah sampai yang mahal mencret. Hehehehehe. 

Setelah puas menikmati Ballarat, saya dan teman-teman mengakhiri perjalanan di Stasiun Ballarat. Kereta V Line membawa saya dan teman-teman kembali ke Melbourne dengan sejuta kenangan yang indah dan takkan terlupakan (puisi mode: ON). Such a wonderful day, wasn't it? 

Tuesday, August 10, 2010

Salju, Tobogan dan Skylift

Waktu kelas persiapan baru dimulai di Jakarta kemarin, ada salah seorang teman yang dianggap salah telah memilih Australia sebagai tempat studi karena dia ingin melihat salju. Benarkah tidak ada salju di Australia? Kurang tepat ternyata saudara-saudara. Memang sih, menurut perkiraan cuaca kota kota besar di Australia jarang dapat hujan salju, tapi bukan berarti di Australia ga ada salju. Sebenarnya ada kok spot dimana kita bisa melihat salju di Australia. Salah satunya: Mt Buller.
 See snow snow snow

Sudah menjadi tradisi penyandang dana kami untuk mengadakan acara walking walking setiap tahunnya. Kebetulan winter ini Mt Buller dijadikan destinasi. Berbekal 50 dollars, kami sudah berhak akan tiket pulang pergi naik bus tanpa WC (dengan durasi perjalanan 4 jam) serta tiket masuk ke Mt Buller (Maaf, makanan bawa sendiri). Namun, berangkat ke Mt Buller tidak cukup dengan bayar 50 dollar saja. Masih banyak lagi perkakas yang harus disiapkan, diantaranya sepatu boots yang tahan salju, jaket 7 lapis warna warni, celana tebal dan tak lupa TOBOGAN. Nah bagi yang belum tau Tobogan, Tobogan adalah sejenis baki yang terbuat dari plastik dan digunakan untuk meluncur di atas salju.

Cuman bisa nonton orang main ski

Rasanya tak rugi bangun subuh di hari keberangkatan ke Mt Buller, semua kantuk segera sirna begitu mulai memasuki kawasan Mt Buller. Putih nya salju membuat hati jadi tenang dan tentram (kok bahasanya seperti puisi yah, :p). Ritual salju pun dimulai, diawali dengan main tobogan, foto foto norak bin ndeso di salju, mencoba skylift dan tak lupa perang bola salju.

Me, on Tobogan

Sebenarnya saya pengen banget nyobain main ski, tapi berhubung waktu kunjungan kami cuma beberapa jam di Mt. Buller (cuma sekitar 4 jam), impian bermain ski harus dikubur dalam-dalam. Selain itu, ternyata sewa alat ski sedikit di luar jangkauan kocek, belum lagi biaya naik skylift plus biaya kursus main ski. It's gonna cost me a lot. 

Tapi tanpa bermain ski pun, masih banyak kegiatan fun yang bisa dilakukan. Main Tobogan bisa jadi pilihan murah meriah dan tak mencret karena sewa alatnya cuman 7 dollar. Yang asyik adalah saat meluncur turun, rasanya seperti duduk di skateboard di bidang miring, syuuuuuurrrrr dan hampir nabrak pohon. Tapi, kurang asyiknya adalah dibutuhkan sedikit tenaga untuk sampai ke puncak biar bisa meluncur turun. (Lumayan bikin keringetan di tengah tengah salju). 
A beautiful white scenery
Selain main tobogan, momen bersama salju layak lah diabadikan. Apalagi bagi mereka yang baru pertama kali melihat salju. Pose pose norak dekat salju bisa diperagakan dan diabadikan. Satu lagi yang patut dicoba adalah naik skylift. Apa tuh? Skylift itu semacam kereta gantung yang biasanya digunakan bagi mereka yang bermain ski untuk sampai ke puncak, jadi paha dan betis gak perlu berkonde untuk sampai di puncak. Lagian kan gak lucu kalo meluncur ke bawah dengan paha dan petis yang berkonde. Hehehehehe. Skylift ternyata ada dua, ada yang bentuk nya kapsul, ada pula yang hanya berupa tempat duduk saja, jadi penumpangnya bisa merasakan hawa dingin langsung (tidak disarankan bagi mereka yang sedang depresi, ntar keterusan bunuh diri). 
Fantastic view from skylift

Nah, bagi yang mau kesana, mending buruan karena winter di Australia akan segera berakhir..... Hehehehe. Siapa yang mau ke Mt Buller? Ngacung segera......