Wednesday, July 28, 2010

Wadda day!!!!

Hari Rabu kebetulan lagi ga ada kuliah, maklum beberapa kelas tutorial belum berjalan karena baru minggu pertama semester. Kampus sudah mulai rame dengan anak anak baru (termasuk saya) yang celingukan mencari ruang perkuliahan. Namun sebagai mahasiswa yang baik hati dan tak makan sabun, saya tetap berniat ke kampus, yah kali aja ada yang bisa dikerjakan. Namun, sepertinya saya harus ke City dulu karena ada janjian makan siang dengan seorang rekan.

Jam 11 lewat banyak, saya meninggalkan rumah dan menuju City dengan tram no 19. Saya memilih seat yang dekat jendela, duduk di samping seorang kakek dengan wajah oriental look dan di depan seorang ibu-ibu dengan nehi-nehi look (India, red). Seperti layaknya orang lain di tram, saya tak terlalu menghiraukan suasana sekeliling, saya sibuk sendiri menikmati lagu dangdut yang mendayu-dayu dari ipod di saku (Gadget boleh ipod, selera tetep dangdut dong). Lumayan bagi yang kangen suasana tanah air, naik tram jadi serasa naik angkot kampung Melayu. Saat tram berhenti di stop 22, sepasang kakek nenek (umurnya sekitar 80 an tahun) menaiki tram. Si kakek belum duduk, saat pengemudi tram memutuskan bergerak. Kontan, si kakek terjatuh dengan posisi telentang. 

Karena kejadiannya berlangsung di belakang saya, saya baru ngeh saat beberapa penumpang menoleh ke belakang. saya pikir, ah cuman jatuh biasa paling sebentar lagi juga bangun sendiri. Si kakek terlentang tak mampu bangun dan badannya bergerak seperti orang menggigil, si nenek panik. Pengemudi tram yang sadar akan kekacauan di dalam tram segera menghentikan tram. Saat semua panik, dua orang pria yang berada di dekat sang kakek, membantu si kakek untuk berdiri dan membawa si kakek duduk tepat di belakang saya. Saya menarik nafas lega, karena si kakek masih sempat bilang: No worry, I am OK!. Tram kembali bergerak.


Selang 10 detik, tiba tiba si kakek sesak nafas dan semakin lama terdengar semakin berat, kepalanya makin lama makin menunduk, sang istri dengan sigap memegang si kakek. Istrinya berteriak "Stop the tram please!!!", teriaknya. Seisi tram kembali heboh, ada yang berteriak "Call the ambulance", "Bring him to hospital". Semuanya panik dan tak tahu harus berbuat apa, sebagian memerintah tapi tak ada yang beraksi. Saya menekan "000" di hape dan menghubungi operatornya. Sang operator pun menyambungkan saya segera ke layanan ambulans. Saat tersambung, saya langsung ke pokok bahasan: "Hi, We have emergency situation here an old guy just fell down inside the tram and he needs help urgently. Can you send us ambulance?. I am now in the tram No. 19 and we are at the intersection between Sydney Road and Glenlyon Road". Sang operator menanyakan umur sang kakek, saya yang panik menyerahkan hape saya ke lelaki yang tadi membantu si kakek karena dia yang melihat langsung kejadiannya. Setelah itu, giliran si pengemudi tram yang memberikan informasi mengenai lokasi tram. Dan hanya dalam waktu 4 menit, ambulans nya datang dan saya beserta seorang penumpang lain memapah si kakek ke ambulans. Si nenek mengucapkan terima kasih kepada kami semua sebelum menyusul suaminya ke ambulans.

Saat kembali ke tram, kakek berwajah oriental di sampingku mengacungkan jempol dan ibu nehi-nehi tersenyum sambil berkata: "You did a great job, young man. Excuse me, Are you from Bangladesh?".
Jyaaaah saya yang tadinya mau tersenyum, terpaksa urung sambil berkata: "No, I am from Phillipines". CAPEK DEEEEH. (Sigh, kejadian yang sama terulang lagi

Memasuki city, saya turun pas di persimpangan Bourke Street dan Elizabeth Street. Jalan sepanjang Bourke Street ternyata diblokir. Wah, ada apa gerangan? saya melihat banyak orang berkerumun sambil menunjuk ke satu arah. Asyiiik, ada perayaan sepertinya. Lumayan kan buat mengusir stres setelah sempat panik di tram. Saat mengikuti arah telunjuk orang-orang yang berkerumun, saya bukannya terhibur, malah makin strets Ternyata jalan ditutup karena ada seorang pria yang mencoba bunuh diri dari sebuah gedung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi.Tiga orang polisi nampaknya sedang melakukan negosiasi dengan sang pria. Negosiasi berjalan alot dan salut bagi pak polisi yang akhirnya mampu menggagalkan acara terjun bebas si lelaki tadi. Dasar lelaki bodoh, kalo mo bunuh diri niatnya disempurnakan dong, ngapain milih gedung yang gak tinggi, itu kan setengah-setengah namanya, cari aja gedung tinggi sekalian biar lebih keren matinya. Hehehe, just kidding.

Bourke Street (retrieved from www.travelblog.org) 

Anyway, I learnt a couple of things today:


  • 2 nyawa tertolong berkat upaya yang tanpa pamrih dan tak kenal lelah dari orang-orang sekitar *hueeekkksss* .


  • Selalu catat nomor darurat, jadi tahu harus menelepon siapa saat berada dalam kondisi tersebut. (Di Australia, nomor darurat nya bukan 911, tapi 000).


  • Saya masih tetap disangka orang Bangladesh, NASIIIIBBB!!!

Monday, July 19, 2010

Mencret Time

Bergaul dengan bule-bule di Indonesia memberikan banyak pelajaran baru bagi saya tentang usaha mereka untuk berbaur dengan orang-orang lokal. Salah satu bentuk dari usaha mereka adalah dengan belajar ber-Bahasa Indonesia. Tentu saja bukan hal mudah bagi mereka untuk bercakap dalam Bahasa Indonesia, mereka harus makan singkong dan gado-gado dulu untuk mahir, hehehehehe. 

Di balik semua proses penyesuaian mereka, terkadang terselip cerita-cerita lucu. Adalah Daniel, seorang bule asal benua Amerika yang berbagi cerita lucu tentang anehnya Bahasa Indonesia yang ia gunakan. 

S E L A M A T !!!! 

Suatu ketika Daniel diundang untuk menghadiri pesta pernikahan temannya di sebuah gedung. Daniel tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan mengenakan batik, Daniel menuju ke lokasi pesta. Dengan kemampuan bahasa Indonesia yang lumayan, Daniel mudah berbaur dengan tamu-tamu yang lain. 

Kejadian lucunya dimulai saat salaman dengan kedua mempelai dan keluarganya. Daniel mengantri bersama tamu-tamu non-bule yang lain untuk mengucapkan selamat pada mempelai dan keluarganya. Yah, dia sudah memikirkan bagaimana mengucapkan "Happy Wedding" pada mempelai dan keluarganya dalam Bahasa Indonesia. See, how nice of him. 

Saat berhadapan dengan kedua mempelai berikut ibu-bapak mempelai, Daniel dengan tersenyum sumringah dan pede bersalaman dengan mereka satu persatu sambil berkata dengan volume yang cukup keras: 

SELAMAT KAWIN! 
SELAMAT KAWIN! 

Sontak, kedua mempelai dan ibu-bapak nya melongo sejenak, dan tersenyum simpul begitu mengerti bahwa maksud si Daniel adalah Semoga Berbahagia atau Selamat Menempuh Hidup Baru. Yang bener saja man, masak disuruh kawin...... emang ayam.....

O  J  E  K

 In ojek we trust

 Hujan baru saja mengguyur Jakarta pas saat jam pulang kantor. Kebayang dong macetnya Jakarta. Daniel menuju ke tukang ojek langganannya yang dengan setia menantikan dirinya di parkiran kantor. Yup, ojek sudah ibarat kendaraan pribadinya Daniel, ojek menurutnya "reliable" dalam segala kondisi dan cuaca. 

Dalam perjalanan, Daniel sepertinya tak sadar bahwa bajunya di bagian belakang terkena cipratan genangan air di jalan. Dia baru sadar saat sampai di depan rumahnya. Anak-anak tetangganya yang baru selesai hujan-hujanan menghampiri Daniel dan bertanya: 
"Daniel bajunya kotor di belakang"
Daniel dengan enteng menjawab: "Oh gak apa apa.... Ini cuma MENCRET
Sontak semua anak-anak tadi plus tetangga yang mendengar pada ngakak sambil menjauh dari si Daniel. 

Daniel sempat heran dengan respon anak anak dan tetangganya. Dia akhirnya baru sadar kalo dia salah menggunakan kata. Sebenarnya dia ingin bilang MUNCRAT, maksudnya baju nya kena cipratan air tapi yang keluar malah MENCRET. Ya iya lah, semuanya pada jijik. Udah gede kok masih eek di baju. Wakakakakak

Anyway. Salut buat Daniel atas semua usahanya melestarikan Bahasa Indonesia.

Friday, July 16, 2010

Visiting Horsham....

Huaaaahh lama juga nggak posting yah.... Well, 2 minggu terakhir lumayan sibuk ngerjain tugas-tugas jadi terpaksa harus menelantarkan blog sejenak, kebiasaan blogwalking pun tidak terlaksana selama 2 minggu karena tugas-tugas tadi. So, maaf yah.

2 minggu lalu, saya akhirnya kesampaian melakukan kunjungan balasan ke rumahnya Andrew, temen kantor di Jakarta yang asli orang Aussie 100%. Waktu Andrew bertugas di Indonesia, dia sempat berkunjung ke rumah saya yang letaknya 200 km dari Makassar. Nah, begitu tahu saya berada di Melbourne, Andrew ngajak saya ke rumahnya di Horsham yang jaraknya 300 km dari Melbourne, sebagai kunjungan balasan. Saya ditemani Monica merencanakan perjalanan yang menurut jadwal memakan waktu sekitar 4 jam setengah di tengah-tengah deadline tugas summary 5 biji.... What a challenging journey (preetttt)
.
Grampians

Untuk tiba ke Horsham, perjalanan harus ditempuh dengan kereta dan dilanjutkan dengan bus. Saya cukup enjoy dengan scenery yang saya nikmati melalui jendela kereta dan bus. Pemandangannya seperti yang saya lihat di film film (halah lebay). Sawah sawah yang menguning dan jalan yang berliku-liku mengikuti sungai sungai yang berkelok-kelok... hehehehe nggak ding... itu kan di Indonesia. Kalau di Australia, begitu keluar dari kota  Melbourne, yang paling banyak terlihat adalah ranch (peternakan) domba dan sapi. Jalan pun tidak berkelok-kelok, maklum kontur tanahnya datar.....

Playing playing with the dogs

Sekitar jam 2, saya dan Monica tiba di Horsham dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apapun. Kami disambut Andrew dan pasangannya, Daisy dengan penuh sukacita (makin lebay dotcom). Hari pertama di Horsham saya habiskan dengan bermain bersama anjing-anjing Andrew di halamannya yang luasnya 3 kali lapangan bola. Sempat takjub juga melihat ada 3 ekor wallaby (sejenis kangguru) yang bercengkerama di halaman rumahnya Andrew. The first kangaroos I saw in Australia, soalnya jangan harap lihat kangguru di Melbourne.... Ga bakal liat kecuali di Zoo.

View from Andrew's house

Hari kedua, dimulai dengan nonton permainan netball dan footy di stadion olahraga lokal disana. Sebenarnya untuk masuk ke tempat ini, semua orang harus bayar. Tapi berhubung lapangan olahraga ini jarang dikunjungi bule (orang asing seperti saya dan Monica) dan kami terlihat jauh berbeda dari penduduk lokal, kami dibolehkan masuk gratis tis tis (Tau aja kalo saya suka gratisan, hhehehehe). Netball  dimainkan oleh anak cewek dan di Horsham mereka punya liga netball untuk sekolah menengah. Sedangkan Footy adalah nama gaulnya football. Permainan super keras yang digemari warga Australia dan tidak dimainkan di belahan bumi manapun kecuali Australia. Dari Andrew, saya banyak belajar tentang aturan-aturan umum dalam football yang sebenarnya kurang punya aturan hehehehe (bingung kan?? Ga usah khawatir, saya juga kok).

Jeremy menjelaskan prinsip dasar dalam bermain football

Setelah puas menonton netball dan football, Andrew dan Daisy mengajak saya ke Grampians. Tempat ini merupakan area preservasi hutan dengan pemandangan yang indah. Daerah hutan ini pernah mengalami kebakaran di tahun 2006 akibat musim kering. Banyak kangguru dan fauna lain yang mati terpanggang karena insiden ini. Saya masih melihat sisa sisa kebakaran di hutan Grampian, banyak pohon-pohon yang memiliki batang berwarna hitam. Tapi, vegetasi baru mulai tumbuh dan pemandangannya tetap indah setelah 4 tahun peristiwa itu terjadi. Kangguru-kangguru juga masih banyak yang lalu lalang di dekat mobil yang kami kendarai. Yang paling menakjubkan sebenarnya adalah dari puncak bukit, kami bisa melihat pemandangan Australia dari atas, sayangnya begitu sampai di atas kabut tebal menyelimuti Grampian sehingga gambar yang saya peroleh tak seindah gambar brosurnya (pity me!!!)


View from the top, serasa di Ngarai Sianok
Setelah puas menikmati air terjun, tebing berkabut serta aroma eucalyptus sepanjang perjalanan, kami kembali ke rumah Andrew yang nyaman dan menghabiskan malam terakhir di Horsham dengan menonton film bersama keluarga Andrew. Finally, I experience the Australian life....

Mengunjungi Horsham memberikan kesan berbeda tentang Australia. Kehidupan di Horsham ternyata berbeda dengan Melbourne. Di Melbourne, kebudayaan sangat beragam dan bahkan terlalu beragam karena kota ini didominasi pendatang. Kerap di dalam tram saya bisa mendengar 5 atau 6 bahasa yang berbeda. Horsham memperkenalkan kehidupan ala orang Australia, budaya tak terlalu beragam disini, malah seragam. Orang-orangnya pun ramah dan saling menyapa saat bertemu. 

Wuihhh ada kangguru

Andrew dan Daisy memperkenalkan keramah-tamahan yang saya harapkan dari keluarga Australia. Saya masih berharap bisa kembali ke Horsham karena  puncak Grampians masih menimbulkan rasa penasaran bagaimana rupanya saat tak diselimuti kabut. Selain itu saya ingin bermain sepuasnya dengan Dorothy di Horsham.

Who is Dorothy?????

 Dorothy itu anjing Andrew yang lucu banget hehehehehe

Thursday, July 1, 2010

Mem-Batik di Melbourne

Memasuki minggu ketiga, suasana kelas mulai gak terkendali. Kami (para penghuni kelas persiapan the University of Melbourne) mulai dilanda keresahan, kegundah-gulanahan, kegelisahan dan kemuram-durjaan..... Ada apa gerangan? Yah, jawabannya adalah  karena deadline tugas individu dan tugas kelompok adalah hari Kamis. Baru tugas pertama sih, tapi cukup untuk membuat pikiran mumet, tanya kenapa?...... karena tugas kelompok susahnya minta ampun. Bukan karena topik nya atau kendala bahasa, tapi karena menyatukan kepala 4 atau 5 orang dari berbagai negara dan latar belakang budaya ternyata  susahnya asking forgiveness deh (susahnya minta  ampun, red). Walhasil, ada yang cemberut di kelompoknya, ada yang temen kelompoknya gak muncul-muncul dan ada yang sudah enggan gabung dengan kelompoknya. Kelompokku? So far so good, adem ayem tentran sejahtera dan damai sentosa hehehehe.

Meskipun Minggu ini adalah minggu yang melelahkan untuk sebagian orang di kelas, tapi tetap saja masih terasa fun. Dan untuk menambah semarak kelas di hari Kamis (yang merupakan deadline pengumpulan tugas),saya dan beberapa teman sepakat menggunakan batik untuk ke Kampus. Kok ga nyambung yah, latar belakang dan realisasinya, wakakakakak

Dengan semangat '45 2010, saya menuju kampus dengan tram no 19 yang dengan setia mengantarku ke kampus tiap hari. Begitu masuk kelas, beberapa teman melirik ke arah batik merah ngerjreng bin sedikit norak yang saya kenakan. Temen saya. Thuy dari Vietnam, langsung mengacungkan jempol sambil menunjuk ke arah batik merah yang saya kenakan. Sepertinya dia menyukai batik baru pemberian kakak ini. 

Sehabis kelas, ada acara nonton film. Saya dan beberapa teman Indonesia lain yang mengenakan batik kebetulan duduk sederet, maksudnya biar aura batiknya terasa dan menyebar ke seluruh ruangan kelas.  Banyak komentar-komentar kagum yang kami terima dari teman-teman. Lorena bilang kalau di negaranya (Mozambik), ada juga batik tapi motifnya lain. Temen saya yang orang Kamboja, malah bilang" "Cipu, are you wearing saroong?" (Cipu, kamu pake sarung yah?).
HAHHHHHHH???

Usut punya usut, ternyata di negaranya Navy, kain batik kerap dijuluki sarung. Beberapa teman Vietnam malah sempat menanyakan apakah ada perayaan khusus hari itu yang membuat kami mengenakan batik secara berjamaah. Kami cuman tersipu sipu tak malu. Lizzy, teman dari Vietnam malah mengasosiasikan batik dengan Pak Harto dan peci yang dikenakannya. Ternyata, Lizzy selain menyukai batik Indonesia juga menggemari peci hitam yang selalu dikenakan bapak pemimpin negara dan menterinya saat ada sidang resmi atau saat berfoto untuk dipajang di dinding-dinding kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah. Menurut Lizzy, peci itu sangat identik dengan sesuatu yang berbau akademik dan intelektualitas. (Makanya sekarang, saya nulis postingan ini sambil pake peci, hueeeeeek).

Berbatik ria di ruangan kelas GO BATIK GO!!!

Sebenarnya gak ada alasan khusus saya mengusulkan teman-teman mengenakan batik. Kebetulan saja, saya bawa sekitar 4 helai baju batik ke Australia dan sayang rasanya kalau tidak dipake. Selain itu, saya berusaha menunjukkan ke teman-teman sekelas betapa batik bisa membuat mereka yang memakai makin tampan/cantik. Lihat saja buktinya pada keempat makhluk yang terpampang di atas. Promosi budaya tidak selalu harus dengan pameran budaya yang memakan biaya mahal kan? Cara-cara praktis juga bisa dilakukan, contohnya dengan mengenakan batik ke kampus. 

I am proud to be Indonesian, and I love wearing Batik :)