Friday, June 25, 2010

You look like my bestfriend ( buruan baca, ada KUIS nya)

Menebak asal seseorang bisa dilakukan dengan mengamati wajahnya, beberapa orang memang memiliki wajah yang khas sehingga sangat mudah untuk dikenali asal muasalnya. Namun, jangan cuman mengandalkan analisa wajah kalau mau tahu asal seseorang, mending bertanya langsung kalau memang penasaran. 

Masih ingat nggak dengan pengalaman saya yang disangka orang Bangladesh? (Silahkan klik disini), ternyata pengalaman ini terus berulang dan kembali saya alami beberapa kali. 

Di minggu pertama kelas persiapan, kelas kami terasa sangat multi-culture karena kami berasal dari beberapa negara: Indonesia, Vietnam, Kamboja, Mongolia, Bangladesh, Mozambik, Ghana, Iran, China dan Filipina. Beberapa orang mudah teridentifikasi asalnya hanya dengan melihat wajahnya, namun kadang kesalahan mengidentifikasi wajah sering terjadi. 

Di hari kedua kelas, saya memergoki Lorena (mahasiswi asal Mozambik) beberapa kali mencuri pandang ke saya. Saya pun mencoba bersikap cool sambil mendengarkan sang tutor menjelaskan.Weits, gak boleh GR dulu, kenapa Lorena stealing stealing look yah (curi curi pandang, red). Setelah kelas selesai, tak sengaja saya berdiri dekat dia dan tanpa ba bi bu, Lorena langsung ke pokok permasalahan: 
"Cipu, you really really really like my bestfriend's husband in Mozambique .... I should tell her that I found her husband's twin here. You resemble each other in everything" (Cipu, kamu tuh mirip banget nget nget nget sama suaminya temen baik gua di Mozambik..... Gua mo bilang ke dia kalau gua ketemu kembaran suaminya di sini. Kalian benar-benar mirip)
Saya cuman melongo sambil berharap semoga suami teman baiknya Lorena tidak mirip dengan saya dalam hal kebawelan. Amiiiin. Saya lalu berpikir, apa benar saya mirip orang Mozambik? Pas balik ke rumah, saya ngaca dan bertanya: Wajah saya yang sebelah mana yah yang mirip orang Mozambik?

Me and Lorena

Seminggu kemudian, kelas kami kedatangan dua teman baru namanya Carla dan Melinda. Dua wanita yang sangat menyenangkan diajak ngobrol. Begitu tahu saya dari Indonesia, Carla langsung nyeletuk: "Cipu, I thought you are from Philipines, your face is so Pinoy.....(Cipu, tahu nggak tadi gua pikir lu orang Filipina lho.... soalnya muka lu Filipina banget)
Saya lagi-lagi bengong, minggu lalu gua mirip orang Mozambik, sekarang ada yang bilang Pinoy banget..... Pulang ke rumah, saya kembali ngaca...dan saya sadar kalau memang saya sedikit ada kemiripan dengan Jericho Rosales..... ehem ehem (Yang ga tau Jericho Rosales, silahkan google sendiri) 

Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, saya kebetulan sekelompok dengan seorang teman dari Vietnam, namanya Lizzy. Kami sekelompok duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Saat itu tutor sedang menjelaskan apa yang disebut dengan "critical thinking". Saya yang pada dasarnya memang rajin pangkal pandai, mencoba menyimak setiap kalimat yang dititahkah sang Tutor. Tiba-tiba, Lizzy menyodorkan kertas berikut tulisan: 
"You look like my bestfriend in Vietnam" (Lu mirip teman baik gua di Vietnam)
Saya balik menulis: "Hey amazing, you are the third person in the class saying that to me, after Lorena and Lia" (Ajaib, Lu orang ketiga di kelas yang bilang itu ke gua, setelah Lorena dan Lia)
Lizzy: "It means you are popular". (Artinya lu terkenal dong) 
Saya: "No, it means I am marketable" (Nggak, itu artinya muka gua bisa lah dijual) 
Si Lizzy tersenyum, trus Lia yang duduk di samping ku tiba-tiba merebut kertas dan menulis: 
Lia: "No, it means Cipu has a template face" (Salah, itu artinya muka nya Cipu pasaran)

SIALAN!!!!!
Lizzy (Vietnam), Me and Navy (Cambodia)

Nah, sekarang lain lagi, saya disangka orang Vietnam........ padahal saya sangat tidak merasa mirip orang Vietnam

Jadi saya ini mukanya gak bisa ditebak dong, udah pernah dikira orang Bangladesh, Mozambik, Filipina dan Vietnam. Padahal saya akan lebih bangga kalau begitu bertemu orang, mereka langsung bilang: 
"ARE YOU FROM INDONESIA?" 

Nah, berhubung tulisan ini tentang wajah, tugas kalian adalah menjawab pertanyaan berikut:

Ditilik dari wajahnya, orang ini berasal dari mana???? 

Jawaban dikirim via email yah ke phonisq@yahoo.com lengkap dengan alamat rumah . Jawaban paling lambat dikirim tanggal 20 Juli 2010 pukul 23:59. Jawaban yang dicari adalah  TIGA jawaban kreatif, lucu dan yang bikin terpingkal-pingkal. Juri nya adalah saya dan Retri. Oh iya, yang ikut kuis harus berdomisili di Indonesia dan terjangkau pos yah???

Hadiah nya berupa buku dan tanda tangan penulis buku berikut......

Keputusan juri bersifat mutlak, kalau mau protes jangan ke saya yah ke Retri aja wakakakakakak.  Hadiah untuk pemenang akan dikirim ke alamat masing-masing.

Sunday, June 20, 2010

Excursion to Eureka Skydeck

Pasti sudah pada familiar kan dengan istilah skycraper kan? Yup, kali ini saya akan sedikit pamer dengan pengalaman saya dan teman-teman kelas persiapan ke sebuah skycraper (salah satu landmark kota Melbourne) bernama Eureka Skydeck.

Skycraper kalau di Bahasa Indonesia in yah kira kira artinya sama dengan gedung pencakar langit. Kebetulan di Melbourne, ada satu bangunan yang memang paling menjulang dibanding bangunan-bangunan sekitarnya, namanya Eureka Skydeck. Gedung ini memiliki 88 lantai dan terletak di jantung kota Melbourne, di pinggir sungai Yarra yang terkenal itu. (Btw, semuanya pernah dengar tentang Yarra river kan? Kalau belom pernah, cari aja penjelasannya di Wikipedia :p). Tinggi gedung ini 285 meter, masih kalah sama Petronas Tower yang tingginya 378 meter, tapi tetap saja ada bedanya. Kalau ke Eureka Skydeck, pengunjung bisa naik sampai lantai 88, sedangkan di Petronas Tower pengunjung hanya diarahkan sampai ke lantai 42. Perbedaan lainnya adalah kalau naik Eureka Skydeck pengunjung harus bayar (kalau nggak salah 35 AUD untuk student, untungnya semua biaya kali ini ditanggung kampus hehehehe) sementara kalau naik ke Menara Petronas pengunjung tidak ditarik iuran, alias gratis yang penting pengunjunag siap siap bangun pagi rebutan tiket untuk pass untuk naik ke lantai 42. Telat dikit saja, pengunjung harus gigit jari hehehehe. (waktu itu saya ngantri tiket di Petronas dalam kondisi belom mandi hehehe Pisss).
antrian panjang untuk tiket gratis ke lantai 42 Petronas Tower

Nah, kebetulan hari Jumat lalu, kampus punya program excursion (baca: jalan-jalan) ke Eureka Skydeck, khusus untuk mahasiswa/i baru penerima beasiswa ADS. Jam 10 lebih dikit, dengan menumpang bus gratis yang disediakan pemkot Melbourne, kami berkeliling kota dulu untuk selanjutnya turun di pinggiran Sungai Yarra. Memasuki kompleks ini, saya langsung mengasosiasikan wilayah ini dengan wilayah Kuningan - Thamrin nya Jakarta karena wilayah ini penuh dengan gedung-gedung tinggi, meski gedungnya tidak sebanyak di Jakarta.
narsis sejenak di pinggir Sungai Yarra

Setelah antri sejenak, kami dituntun ke sebuah lift yang dipercaya akan mengantar kami ke lantai 88. Dan wuzzzzzz tak cukup 1 menit, kami sudah sampai di lantai 88. (Ndeso mode: ON). Saya sempat takjub melihat pemandangan Melbourne dari atas, pemandangan yang jarang-jarang bisa dinikmati. Saya memang selalu terkagum-kagum  melihat pemandangan dari atas gedung, apalagi kali ini dari lantai 88. Maklum lah orang udik. Hehehehehe.
a view from the top
Ada satu tempat tempat keramat di lantai 88 namanya EDGE. Nah wahana ini disiapkan untuk mereka mereka yang ingin merasakan berdiri di atas ketinggian dengan lantai kaca, biar rasanya bak melangkah di awan (halah hiperbolik). Jadi EDGE ini semacam kantilever berupa ruangan yang terbuat dari kaca dan bisa bergerak menjauhi gedung Eureka sejauh 3 meter. Tidak direkomendasikan untuk yang takut ketinggian. Saya dan beberapa teman mencoba EDGE, sayangnya nggak boleh bawa kamera ke dalam. dan harus bayar ekstra 12 dollar (untungnya juga masuk ke EDGE dibayarkan kampus). Kalau mau berfoto, pihak pengelola Eureka punya kamera yang siap mengabadikan wajah wajah kami yang sebagian ketakutan, namun cuman dapat versi cetaknya saja dan harus bayar lagi 10 dollar *sigh* (kalau biaya cetak foto nggak ditanggung kampus)

Nah ini foto kami saat berada di EDGE.....
 the EDGE....... with 8 mates from Bangladesh, Vietnam, Mozambique and Mongolia

Pengen merasakan having fun dan belajar di Australia seperti teman-teman saya di atas? Daftar aja beasiswa ADS.... pendaftarannya mulai 7 Juni lho. Klik disini untuk info lebih lengkap.

Thursday, June 10, 2010

Musholla Online

Saya sempat khawatir mengenai kelangsungan ibadah sholat saya saat akan berangkat ke Melbourne. Terus terang saja, waktu di Saga (Jepang) dulu, saya harus bolak-balik dorm (asrama) - kampus kalau mau menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar karena kampus saya di Jepang tidak memiliki fasilitas tempat shalat untuk mahasiswa/i muslim. Harap maklum, yang muslim di sana minoritas, jadi yang disediakan kampus cuman tempat untuk Sholat Jumat. Saya jadinya kerap men-jamak sholat saya apalagi pas winter karena kalo winter, waktu siang jadi pendek. Untungnya, jarak kampus asrama tidak jauh jauh amat, cukup 5 menit naik sepeda. 

Nah, bagaimana di Melbourne? Di Melbourne, jarak kampus dengan temporary flat yang saya tempati sekitar 4 km dan harus dua kali naik tram atau sekali tram plus sekali naik bus. Tentunya, balik ke flat bukan pilihan yang praktis saat saya mau sholat. Untuk mengetahui ada tidaknya fasilitas sholat di kampus, Minggu lalu, saya melakukan observasi. Berbekal buku petunjuk dari kampus (judulnya Muslim Students Guide, buku panduan khusus untuk mahasiswa Muslim), ternyata ada dua tempat sholat yang bisa digunakan di kampus. Satu di Baillieu Library dan satunya lagi di Lt Pelham Street. 

Berpose sejenak sebelum mencari Musholla
Mumpung kegiatan akademik belum dimulai, saya iseng berkunjung ke Baillieu library saat masuk waktu Dzuhur untuk Melbourne dan sekitarnya. Saya berthawaf di beberapa lantai gedung ini. Setelah berkeliling, saya akhirnya menemukan "prayer room" yang mampu menampung 5 orang untuk shalat. Wuahhh leganya. Saya bergegas mencari tempat wudhu.  Saya celingak-celinguk ke kanan, kiri, atas dan bawah untuk mengecek ada tidaknya toilet untuk cowok. Tapi hasilnya nihil. Yang ada di samping musholla adalah toilet untuk cewek, nah loh... kalau cowok mau wudhu gimana dong. Masak harus tayammun. Akhirnya saya harus keluar Baillieu library dan mengambil wudhu ditoilet cowok dan kembali ke Baillieu Library lagi untuk sholat. What a day....!!!!
Setelah menjelajahi opsi sholat pertama, saya penasaran mengenai tempat sholat kedua. Kebetulan kemarin, saya dan Ichi kebetulan ke kampus karena saking gak taunya harus ngapain lagi di flat. Pas jam sholat, saya ngajak Ichi untuk sholat Dzuhur di musholla kampus di daerah Lt Pelham St. Agak jalan sedikit sih tapi gak masyalah lah, olahraga dikit. Sempat bingung juga nyari musholla nya. Ternyata mushollanya masuk gang. Begitu akan masuk, saya tertahan ga bisa masuk karena untuk masuk ke musholla kampus ini dibutuhkan kartu akses. Dan untuk mendapatkan kartu akses, kita harus daftar nama dan student id ke email pengurus musholla nya. Waduh, ribet juga yah kalau mau punya akses ke mesjid, musholla nya daftar online euy...... Mungkin memang maksudnya baik, untuk keamanan beribadah tapi kasihan juga bagi mereka yang non-student dan ingin menunaikan ibadah, harus tertahan dan gak boleh masuk. 
me and Ichi, in search for Musholla

Saya dan Ichi menunggu beberapa saat di luar musholla kampus ini, berharap ada yang lewat. Tapi, kok gak sepi yah... maklum lah gang kecil. Hampir putus asa menunggu, akhirnya sang juru selamat datang. Seorang pria yang hendak menunaikan sholat Dzuhur ternyata berniat memasuki musholla dan kamipun mengekor di belakang. Sempat terharu juga sih, pas saya menunaikan ibadah sholat berjamaah pertama saya di Melbourne. Yah, saya merasa ada ikatan dengan rekan jemaah lainnya, dan saya kembali merasakan suka duka jadi kaum minoritas. Kalau di Indonesia, sebagai kaum mayoritas, kita berlimpah akses musholla dan mesjid. Kemana-mana pasti dapat musholla dan mesjid. Sungguh sayang kalau tidak dimanfaatkan. 
Salah satu gedung di kampus UniMelb
Oh iya, bagaimana dengan sholat jumat pertama saya? Malu mengatakannya... GAGAL TOTAL. Hari jumat lalu saya merencanakan untuk sholat Jumat di Konjen. Saya menemukan alamatnya di Queens Road, setelah mengecek di google via BB baru saya yang Onyx ini (halah pamer mode ON). Kebetulan hari Jumat itu, saya sedang di City, tepatnya di Swanston Street. Dan menurut peta, Swanston Street itu jaraknya dekat dengan Queens Street. Berbekal ke sok tahuan dan kenekatan, saya menyusuri 3 blok sepanjang Queens Street  di tengah tiupan angin winter yang menusuk tulang. tapi Konjennya tidak ketemu juga . Saya sampai bolak balik beberapa kali, tapi tetap nihil dan waktu jumat sudah masuk. Waduh gimana nih??? Apa yang salah yah? Akhirnya, saya memutuskan masuk ke sebuah kantor dan menanyakan alamat Konjen. Untungnya., resepsionis nya ramah, suka membantu dan suka menabung. Setelah mengecek alamat yang saya sebutkan, sang resepsionis sambil tersenyum berkata: 

"Sorry sir, you are now in Queens Street and your Consulate General is at Queens Road. So I think you better go to Queens Road, not Queens Street". 

Saya melongo, ternyata Road sama Street beda toh disini.... Sial, gara gara gak teliti, saya jadi batal Sholat Jumat (long sigh)............

Saturday, June 5, 2010

One fine Saturday in Melbourne

Sempat bingung juga gimana menghabiskan Sabtu pertama di Melbourne. Selain cuaca dingin di luar yang memang makin mencekam, selimut listrik yang saya beli beberapa hari yang lalu memang benar-benar membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Sayangnya, ternyata Sabtu ini saya ada janji nemenin temen dari Clayton, Mas Biger, untuk jalan-jalan, eh salah tepatnya belanja ding. Karena alasan ini, saya akhirnya harus berpisah sejenak dengan selimut ajaib yang menghangatkan itu.
Sudut kota Melbourne yang antik
 
 @Federation Square
Bertiga (saya, Biger dan Susanto) mengawali pertemuan dengan berfoto foto di Federation Square di pusat kota Melbourne. Puas berfoto, Biger ngajakin ke ACMI (Australian Centre for the Moving Image) yang lokasinya pas dekat Federation Square. Sempat ogah juga awalnya karena tempatnya terdengar seperti museum di telinga saya. Memasuki ACMI, saya mulai ngeh kalo tempat ini keren, dimulai dari kesan pertama saya dengan interiornya yang bergaya futuristik dan biaya masuknya yang gratis (Jyaaaah, dimana-mana gratis selalu menarik yah!!!). 
 @ACMI

 Bagi yang pecinta film (melirik Exort dan Rossa), you will envy me a lot for my ACMI experience.... Kenapa?  Karena di ACMI, informasi tentang sejarah gambar bergerak dijelaskan dengan media audio visual yang terkini. Saya jadi sedikit mengerti bagaimana sejarah gambar bergerak serta perkembangannya hingga saat ini. Di sudut ruangannya, ACMI menunjukkan bagaimana para sineas berkreasi dengan style nya masing-masing. Selain itu, sejarah film kartun juga tidak lupa ditunjukkan. Bagi yang mau melihat bagaimana orang jaman dulu nonton film, ada mesin pemutar film jaman dulu yang cara menontonnya dengan memutar engkol nya, hahahaha. Pasti yang nonton kudu kekar karena engkolnya lumayan keras untuk diputar wekssss.
Pemutar film jadul yang masih pake engkol (capek lho muternya)

Selain sejarah, ACMI juga menawarkan sejumlah games. Tentunya, games yang ditawarkan jarang ditemui di tempat manapun. Di sebuah monitor saya melihat ada seseorang dalam  sebuah ruangan yang berkostum ayam. Pengunjung bebas mengetik apapun untuk memerintah si Ayam untuk melakukan apapun yang pengunjung ketik. Ide jahil saya mulai muncul.... Saya mulai mengetik: "kick", "jump" abis itu "squash jump", trus "poo", "fart", "defeather",  walhasil si Ayam kebingungan dengan komando saya yang ngawur... Mana ada ayam yang fart (kentut, red) hehehehe. Beberapa kali si Ayam menolak melakukan komando saya (sangat dimaklumi)
 inside ACMI... hi-tech

Namun, yang paling berkesan adalah, saat saya memasuki sebuah kubah dan diminta berpose selama beberapa detik sambil di-shoot 96 biji kamera secara bersamaan. Huaaaaah, benar-benar serasa melakukan adegan laga. Mungkin adegan matrix banyak dibuat dengan trik seperti ini. Kalau mau lihat hasilnya, klik disini saja

Setelah ACMI, perjalanan dilanjutkan dengan berbelanja winter clothes di beberapa toko yang lagi diskon. Lumayanlah dapat mantel bulu dengan harga miring, hehehehe. Sisa hari Sabtu itu, kami habiskan di jalanan sambil ketawa-ketiwi. Diakhiri dengan: Dinner with Chef Cipu and Chef Susanto. Menu malam Minggu  kali ini adalah: Kari Ayam dan Kentang Goreng. Sepertinya sih, masakan racikan saya dan Susanto gak gagal-gagal amat, terbukti tiga piring yang ada tandas......Ah puasnya bisa menjami tamu. 

So, how's your Saturday guys? 


Thursday, June 3, 2010

Cooking ala chef Cipu

Beberapa hari tiba di Melbourne, saya dan beberapa teman yang baru sampai harus benar-benar beradaptasi dengan cuaca. Melbourne is indeed chilling now. Terasa benar betapa bergunanya jaket tebal yang saya beli di ITC Cempaka Mas dan Long John yang saya beli di Pasar Pagi Mangga Dua

Selain cuaca, sebenarnya ada hal lain yang menjadi tantangan tersendiri untuk saya,yaitu......... memasak. Teman-teman yang pernah jalan dengan saya, pasti tahu bahwa meskipun diet, makanan saya tetap porsi jumbo. Wakakakak. Saya baru sadar kalo makanan disini mahal-mahal (apalagi kalo harganya dikonversi ke Rupiah). Bayangkan aja, satu kebab disini harganya sekitar 8-10 dollar Australia yang artinya sama dengan 65 ribu - 80 ribu rupiah, gila kan.... tapi memang sih porsinya jumbo.
Ini flat tempat tinggal saya... flat saya pintu ketiga dari kanan lantai dasar

Menyadari betapa mahalnya makanan di luar sana, saya dan teman sekamar saya (Susanto) memutuskan untuk mencoba memasak. Yeah...... (finger crossed). Tapi jangan berprasangka baik dulu..... Saya dan Susanto ternyata gak bisa memasak. Tapi itu tak menjadi halangan, berbekal duit di tangan, kami berbelanja beberapa makanan cepat saji, termasuk fish cake, nasi goreng instan dll dsb. Untungnya pula, di dekat tempat saya ada toko khusus yang menjual bumbu bumbu Indonesia plus Indomie rasa macam macam (yaiiiiiiiiiyyyy, saya berhasil mendapatkan Indomie Coto Makassar disini). 

Malam pertama kami memasak, menunya sangat standar. Telur dadar plus fish cake yang dimakan kering dengan nasi..... Gak ada kuah sama sekali. Untungnya ada sambel Nyonya Lili dan Soy Sauce yang lumayan bisa menambah selera makan. 
Menu pertama: Smilng Ommelette with Fish Cake Eyes
Malam selanjutnya, berbekal pelajaran memasak selama 1 jam dari Olivia (temen kantor yang sekarang menetap di Melbourne), Saya mulai memberanikan diri mencoba memasak sup supan. Dan melalui kombinasi ngawur pengetahuan memasak kami yang minim, Saya dan Susanto dengan bangga mempersembahkan:
Inilah dia... Bakso kuah Orange ala Chef Cipu dan Chef Susanto

Saya sendiri tak begitu yakin dengan rasanya. Tapi ternyata tidak mengecewakan, saya makan lahap malam itu. Saya akhirnya  belajar, bahwa saat kepepet ternyata manusia dirangsang untuk berkreasi (Tssssaaaah). Mungkin inilah konsep yang dicetuskan oleh Yohannes Surya, Mestakung (Sotoy Mode: ON).

Nah sebelum menutup postingan ini saya ingin mengucapkan terima kasih pada:


O L I V I A 

atas semua usahanya untuk membangkitkan semangat memasak yang tertanam dalam diri saya, hehehe. FYI, Sambel bikinan Olivia enak banget, apalagi beef teriyaki nya mmmmm slllrrrppp yummy yummy. Thanks juga yah Liv atas sedekah bumbu bumbu masaknya.

Ucapan terima kasih selanjutnya adalah kepada

You really make my meals delicious when I am away from home :)

Tuesday, June 1, 2010

Hari pertama di Melbourne: Brrrrrrrrrrrrrrrrrrr

Pesawat GA 716 mendarat dengan mulus di Tullamarine Aiport Melbourne, yup perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam lebih sedikit dari Jakarta ke Melbourne. Tanggal 31 Mei 2010 tepatnya, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Melbourne, kota yang katanya one of the most livable cities in the world. Well, let's see. 

Dingin mulai menyapa saat saya, Susanto, Ichi dan Monica (temen-temen penerima beasiswa ADS University of Melbourne) keluar menuju ke mobil jemputan. Meski harus mengangkut beberapa koper ke mobil jemputan, saya tidak keluar keringat setetespun saking dinginnya. Ternyata suhu 9 derajat saja bisa membuat kami kedinginan. So yang mau datang ke Melbourne disarankan membawa coat serta menggunakan Long John.  Trust me, it helps.....

Saya dan teman-teman akhirnya berpisah karena akomodasi sementara kami tidak sama. Saya kebetulan berhasil memperoleh tempat tinggal yang lumayan murah berkat koneksi keluarga, hehehehe. Sedangkan teman lain yang belum memperoleh akomodasi sementara, mau tak mau harus siap dirawat-inapkan di hotel yang tentu saja harganya jauh lebih mahal. Saya disambut oleh tuan rumah dengan baik, dan mendapatkan banyak tips umum tentang hidup di Melbourne in general. Pokoknya kak Adnan dan Kak Mutia are the best deh.
Trem sedang melintas

Apa kegiatan pertama saya setelah tiba di Melbourne? Sebenarnya agak malu juga untuk menjawab karena terdengar sangat girly, tapi okelah, kegiatan pertama saya adalah SHOPPING. Hahahahahaha. ya iya dong, saya belom ada beras, telur, mie instan dan kebutuhan dasar lainnya. Soalnya, denger denger di Melbourne ga ada warteg, so never expect to buy foods because it must be expensive. 

Setelah puas berbelanja, saya balik ke rumah menikmati makanan hasil masakan pertama saya di Melbourne: Indomie plus telur (jyaaaah menunya sama dong dengan di Indonesia, wakakakak). Sebenarnya setelah makan malam, saya merasa agak ngantuk karena di pesawat saya cuman tidur 2 jam. Tapi, masih terlalu siang untuk tidur. Jadi, diputuskan lah saya, Ichi dan Susanto bertemu di Kampus kami tercinta, meski hari pertama kami seharusnya digunakan untuk istirahat. Berbekal tiket yang saya beli di convinient store, serta tanya sana tanya sini, saya pun dengan nekat menaiki sebuah tram (kereta listrik dalam kota yang beroperasi di Melbourne). Akhirnya, sampai juga ke kampus tercinta (waduh geer banget, kayak udah diterima saja) dan berhasil bersua dengan kedua makhluk ini setelah .........3 jam kami berpisah :p. 
indahnya melihat daun berguguran 

Kampus University of Melbourne mungkin tak seluas Universitas-universitas negeri di Indonesia, tapi begitu masuk kampusnya, bangunan-bangunan antik bertebaran dimana-mana. Saya jadi merasa seperti Harry Potter yang masuk ke Hogwarts. Bangunannya sangat klasik (cieeeeeh bahasanya). Jiwa narsis sebenarnya sudah tak tertahankan untuk diekspresikan, namun karena di sekitar kampus kami tidak melihat ada yang bernarsis ria, terpaksa deh kami cuman berfoto beberapa kali, padahal banyak sekali tempat di kampus yang layak untuk dijepret. 
 temen jalan di hari pertama
Seperti Hogwarts kan?
Setelah puas menikmati kampus, saya diajak berkeliling kota Melbourne, menelusuri Swanston Street, Elizabeth Street dll. Ada kios es teler 77 lho sama restoran nelayan yang khusus menyajikan menu ala Indonesia. Tapi jangan harap, harganya harga Indonesia. Puas berkeliling, saya pulang. Saya tiba di rumah jam 9, sholat dan tidur sambil meringkuk kedinginan di bawah selimut. Brrrrrrrr.
My partners in crimes