Sunday, March 28, 2010

Dua komen yang (kerap) mengganggu

Ijinkan saya menulis tentang sesuatu yang kerap mengganggu, terdengar  agak sarkastik, but please no hard feeling yah.
Mungkin ini adalah kebiasaan kita di Indonesia, dan menurut saya sudah mendarah daging. Parahnya, kebiasaan ini terjadi di hampir semua kalangan. Umumnya diungkapkan dengan maksud berbasa-basi. Cuman lama kelamaan, kok jadi terdengar memalukan yah, hehehe. Kebiasaan apakah gerangan? 

1. Minta oleh-oleh 

Mari kita perhatikan status FB rekan rekan kita yang sedang melakukan perjalanan (entah duty trip atau backpack), pasti komen-komen yang ada banyak yang meminta oleh-oleh. Saya tahu banyak yang menuliskannya hanya sekedar berbasa-basi. Tapi, apa tidak ada komen yang lebih indah yang bisa kita berikan selain minta oleh-oleh. 

Saya tidak pernah jarang meminta oleh-oleh ke teman-teman yang melakukan travel. Karena saya tahu, travel sendiri sudah menguras kocek, apalagi kalau ditambah beban oleh-oleh (tapi ini gak berarti saya menolak lho, kalo dikasih oleh-oleh, hehehehe). But trust me, I never ask my friends for oleh-oleh when they go for traveling. Bahkan saat kakak kandung saya ke Eropa pun, saya tidak meminta apa-apa (dan mungkin karena saya gak rewel, kakak malah pulang-pulang bawain saya jaket sport keren, yippie). Saat saya travel (yang umumnya dengan kocek terbatas), saya hanya membeli oleh-oleh buat Mama dan saudara. Jika ternyata ada budget berlebih, baru saya menambah perbendaharaan oleh-oleh. Intinya, jangan sampai oleh oleh menjadi beban saat kita melakukan travel.   
Saya punya pengalaman buruk dengan oleh-oleh. Waktu kuliah di Jepang selama beberapa bulan, tak terhitung berapa pesanan oleh-oleh dari teman, rekan dan kerabat. Dan saya pun mulai hunting oleh-oleh pesanan mereka sejak bulan pertama di Jepang. Lucunya: Mama dan kakak-kakak malah gak minta apa-apa. Saat akan kembali ke Indonesia: oleh-oleh yang saya kumpulkan ternyata membutuhkan dua kardus besar. Jadi saat ke Bandara, saya membawa satu ransel gede di punggung, satu koper gede, dua kardus besar (berisi oleh-oleh) dan satu kardus kecil (berisi buku penting dan barang pribadi). Setiba di bandara, petugas bandara meminta saya membayar 7 juta rupiah untuk kelebihan bagasi saya. Tentunya saya tidak mungkin membayar ongkos  bagasi sebanyak itu. Semua trik negosiasi saya coba praktekkan namun, it ended up useless. Akhirnya, kedua kardus oleh-oleh itu saya tinggalkan di bandara dan diurus oleh teman-teman saya yang baik hati dan tanpa pamrih (namanya Rebecca dari Taiwan dan Liu Qi dari China dan Pak Yani dari Indonesia). Benda tersebut akhirnya dikirim via laut dengan ongkos hampir dua juta rupiah dan tiba di kos-kosan saya di Makassar 2 bulan setelah saya kembali ke Kota Daeng ini, itupun ada beberapa item yang hilang.

Rebecca dan Kiki, mereka lah yang ngurusin kardus kardus yang kutinggalkan di bandara

Sejak itu, saya mulai agak terganggu dengan orang yang minta oleh-oleh. Saya jadi berpikir, kasihan yang travel kalau harus terbebani dengan oleh-oleh. Saya pribadi tetap beli oleh-oleh di tempat-tempat yang saya kunjungi, tapi saya membatasi pengeluaran untuk itu dan saya sudah mempunyai list list orang yang saya akan belikan oleh-oleh (off course my mom and my sisters are on the top of my list). 


Teman : Pu, katanya baru balik dari luar negeri yah? 
Saya    : Iyah, cuman ke negeri jiran kok. Deket ini ...... 
Teman : Oleh-oleh nya mana? (basa basi yang benar benar basi) 
Saya    : Oh, oleh oleh nya cerita tentang perjalanan saya di sana. Buka saja blog ku :) 
Teman : Ah kalo tulisan mah mana bisa dinikmati. Payah ah... masa ke luar negeri ga bawa oleh oleh.... 
Saya    : hehehehe, kan turis kere (Kalo gak bisa menikmati tulisan, BELAJAR BACA DULU SANA di Kejar Paket A) 

Yup, saya lebih senang menceritakan pengalaman dan membaginya dengan yang lain. Menurut saya, cerita dan pengalaman seseorang yang habis travel sudah merupakan oleh-oleh. Apalagi jika teman yang travel mengunjungi tempat yang belum pernah kita kunjungi. Cerita tentang tempat-tempat menarik sudah merupakan tambahan pengetahuan yang tak ternilai. Sometimes, your friends' stories can be your new lonely planet resource. 

2. Nanti kirimin GRATIS nya yah ke aku ....... 

Saya pencinta gratisan. Saya pencinta diskon. Saya dulu hapal jadwal diskon makanan di supermarket Jepang yang berlabel "Jusco". Itu saya lakukan untuk berhemat. 

Sayangnya kali ini ceritanya lain. Ini tentang beberapa teman yang sudah dan akan menerbitkan buku. Menerbitkan dan membuat buku adalah hal yang membanggakan. Buku apapun itu. Jika saya boleh bertanya: "Apakah yang akan anda sampaikan kepada teman anda yang akan menerbitkan buku?". 
Sebagian besar pastinya akan menjawab: "Wah hebat.. selamat yah... jangan lupa, nanti kalo bukunya terbit, gua dapat gratisannya yak!!!"

Such an annoying behavior. Guys, menulis blog itu gak mudah lho, apalagi nulis buku. Dalam membuat buku, penulis tidak hanya menangani konten, tapi juga berhubungan dengan publisher, editor, distributor. Mereka bekerja keras demi terbitnya sebuah buku. Berulang kali dikoreksi editor, berkutat dengan publisher, dan bernegosiasi dengan distributor. Bukan hal yang mudah, kawan. Dan setelah semua pengorbanan mereka baik finansial maupun pikiran untuk menerbitkan sebuah buku, apa yang mereka terima dari teman-teman di sekitar mereka?? Yah, permintaan buku gratis. 

Penulis tentunya sudah memiliki list rekan mereka yang berhak menerima buku gratisan. Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita memiliki teman yang akan atau baru saja menerbitkan buku? 

Follow me. Waktu Andrei Budiman, sang penulis buku Travelous akan merilis bukunya. Andrei mengirim pesan singkat ke handphone saya mengenai buku tersebut. Tak cukup sejam, saya sudah mentransfer uang saya ke rekening Andrei dan memesan 3 buku. Itu bentuk support saya ke Andrei, karena begitulah cara saya menghargai kerja kerasnya, talenta menulisnya dan keberaniannya mempublikasikan bukunya dengan label sendiri. Tanpa diberitahupun, saya sudah tahu kalo menerbitkan buku sendiri sudah sangat menguras kantong. Dan tiga hari kemudian, buku Travellous cetakan pertama tiba di kamar saya lengkap dengan tanda tangan Andrei di halaman awal. Dan ada nama ku tercantum di lembar ucapan terima kasihnya. I feel honored.
 After a long discussion with Andrei, once upon a time in Yogya

Berikut percakapan saya dengan Devil (interview with the devil)

Devil : Ahhh Cipu kan punya duit sampe bisa beli buku 3 biji

Saya   : Masalahnya bukan kemampuan beli buku, kawan. Kalaupun saya kurang duit saat itu, saya akan tetap mencoba memesan. Mungkin cuman 1 buku saja. Disesuaikan dengan kondisi finansial saya. 

Devil  : Kok Cipu yang pusing sih kalo saya minta gratisan? Saya kan teman si penulis juga. Toh kalau bukunya laku, dia bakal dapat banyak kok. Itung-itung sebagai zakat. 
Saya   : (Kalau komennya sudah seperti ini, saya cuma bisa diam. Saya hanya ingin agar usaha penulis diapresiasi, mungkin praktek paling sederhana adalah dengan membeli bukunya. Karena bagi seorang penulis buku, pembelian buku tidak melulu mengenai keuntungan. Jika bukunya laku, tentu sang penulis merasa bahwa kerja kerasnya dihargai oleh pembaca). 

Saya jadi teringat dengan Ayu, yang saking ngefansnya sama Dan Brown, dia sampe bela-belain mesen bukunya, the Lost Symbol. Dan apa yang Ayu peroleh sebagai balasan? Dia tidak hanya menjadi golongan orang yang pertama membaca buku laris ini, tapi juga ada sejumlah merchandise the lost symbol yang ia terima. Keren kan??? 

So Guys, maaf kalo saya agak sarkastik di postingan ini. Ini cuma opini saya. Mungkin ada yang setuju dan mungkin lebih banyak yang tidak setuju. The decision is yours.

Monday, March 22, 2010

Oblong ala Vietnam

Guys, mungkin semuanya sudah sangat bosan dengan cerita tentang Ho Chi Minh. Tapi saya janji, ini postingan terakhir saya tentang kota ini. Dan kali ini saya tidak akan menunjukkan gambar narsis saya yang berpose di landmark yang ada di Ho Chi Minh City. Kali ini saya akan tunjukkan koleksi benda yang mulai saya koleksi: OBLONG. 

Sebagai penggemar oblong, saya mulai menggemari mengumpulkan (baca: membeli) kaos oblong khas sebuah tempat. Kebiasaan beroblong sendiri sudah sejak kecil saya terapkan. Saya begitu mencintai oblong, dan entah mengapa saya selalu berharap bekerja di kantor yang membolehkan karyawannya mengenakan oblong pas weekdays(ngarep dot co dot id).

Seperti kota-kota lainnya, Ho Chi Minh pastinya memiliki oblong-oblong yang menggambarkan kekhasannya. Diantaranya adalah: 

Kaos bintang  

Kaos bergambar bintang kuning berlatar belakang merah ini merupakan tiruan bendera Vietnam yang juga menggunakan bintang kuning dan warna merah. Kaos ini juga memiliki kaos berwarna lain selain merah, yaitu kaos berwarna hijau. Namun, mengingat berndera Vietnam sebenarnya merah, saya lebih memilih kaos berwarna merah seperti gambar berikut. 
Kata pedagang kaosnya, kalo pake baju ini tidak akan lupa sama Vietnam... (bener gak yah?)

Warna merah pada kaos diatas bermakna darah yang dikorbankan untuk memperoleh kemerdekaan. Dan kelima ujung pada bintang melambangkan serikat pekerja, petani, tentara, kaum intelektual dan pemuda. 

Baju di atas sangat mudah ditemukan di berbagai  tempat di District 1 Kota Ho Chi Minh, sepanjang Bhui Vien, De Tham, Pham Ngu Lao bahkan di Pasar Ben Tanh. Harganya berkisar antara 2-3 USD, tergantung kemampuan menawar tentunya. 

Kaos Macet.

Apalagi yang khas dari kota yang juga bernama Saigon ini? Jika ada satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan kota ini, maka satu kata itu ialah SEPEDA MOTOR ( eh wait.... sepeda motor itu dua kata kan?, hehehehe). Momen kemacetan di persimpangan jalan-jalan di Ho Chi Minh ternyata bisa diabadikan dalam oblong. Saya suka oblong ini, karena menurut saya oblong ini, meskipun desainnya sederhana, tapi mampu menangkap potret kekhasan kota Ho Chi Minh 


Kurang jelas yah..... Let's zoom it

Gambar dalam oblong ini, mengukuhkan Saigon a.k.a Ho Chi Minh sebagai kota sepeda motor. Harga kaos diatas adalah USD 10, dan dapat didapatkan di Daerah Bui Vien. Bahannya tentunya lebih bagus dibanding kaos bintang. No wonder the price five times more expensive.

Kaos Pho' 

Apakah makanan dari Vietnam yang sudah go internasional? Pastinya sudah familiar dengan waralaba Pho 24 kan. Mie ala Vietnam ini memang sedang banyak digemari. Terbukti dari mulai menjamurnya waralaba Pho 24 ini di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Saat bertandang ke Vietnam pun, warung warung Pho Noodle ada di seluruh penjuru kota. Mungkin saking terkenalnya makanan ini, sampai-sampai papaya-tshirt (salah satu produsen oblong di Ho Chi Minh) mengeluarkan oblong khusus Pho Noodle seharga USD 10. 
Pho' = bowl + meat + noodle + chopstick

Sekian dulu oleh-oleh dari Ho Chi Minh..... Kalo ada oblong yang mau direview, silahkan kirim ke saya yah. Hehehehe. I love oblong, oblong with meaning..... And I am truly an oblong-ers

PS: 
Sekali lagi, dengan alasan kesenonohan, sang model tak kami tunjukkan batang hidungnya apalagi wajahnya. Alasannya, kalau wajahnya ditampakkan, pasti oblong-oblong ini tak akan terlihat keren. Sumpah...

Tuesday, March 16, 2010

Last Day in Ho Chi Minh (Day 4)

Hari terakhir di Ho Chi Minh City, saya dan tim memutuskan untuk mencoba tour Cu Chi Tunnel (baca: Kuci). Cu Chi merupakan sebuah wilayah historis di Vietnam. Banyak sekali travel agent yang menawarkan paket tur ke Cu Chi Tunnel. Saya memilih sebuah agen yang memang menjadi rekanan tempat saya menginap. Ada dua pilihan perjalanan ke Cu Chi: Pertama, dengan menggunakan bus pulang pergi (biaya 5 USD), Kedua, menggunakan boat untuk berangkat dan bus untuk kembali (biaya 15 USD). Tentunya, kami memilih opsi yang kedua, pengen naik boat soalnya, menyusuri Saigon River. 
 Menyusuri Saigon River

Jam 8:30 pagi, kami dan rombongan naik bus menuju ke Bach Dang Ferry, boat kami sudah menunggu disana. Perjalanan dengan boat dimulai. Di boat, hanya kami bertiga yang orang Asia, kami paling imut, dan tentunya paling ribut. Selama di boat ada saja ulah kami yang bikin penumpang lain tersenyum atau tertawa, termasuk saat saya dan Mila mencoba berbagai pose di boat itu. 

Menikmati pemandangan di sepanjang sungai Saigon

Perjalanan ke Cu Chi via boat memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Dan beristirahat sekitar 20 menit di sebuah restoran pinggir sungai. Kekacauan kembali terjadi di restoran ini, saat saya, Mila dan Vonny mencoba memesan Ice Coffee Milk (cà phê sữa đá) kepada pelayan. Sayangnya si pelayan ternyata tak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Heran juga, restoran yang menjadi persinggahan para turis itu tidak memiliki pelayan yang bisa sedikit “Bahasa Inggris”. Bukan hanya itu, menu nya pun semuanya dalam Bahasa Vietnam. Dohhhh puyeng. Saat kami mencoba mendiskripsikan kopi susu pake es (kopi ala Vietnam yang sangat enak), si pelayan tetap gak ngerti. Si pelayan baru mulai ngeh maksud kami, saat Mila menggambar gelas berisi es. Fiuhhhh problem solved. Saat pesanan kami terhidang, ternyata minuman kami gak memakai susu sesuai yang kami pesan. Kami protes dong.... Melihat ribut-ribut di meja kami, sang manajer resto datang menghampiri berniat membantu mungkin. Namun yang terjadi malah sebaliknya, karena si Manajer sama sekali tidak ber-Bahasa Inggris, malah lebih parah dari pelayannya. Untungnya kami diselamatkan oleh seorang rekan kami asal Switzerland yang juga ikut tour. Fiuhhhh, thanks mate. 

Setibanya di Cu Chi, kapal merapat dan kami menuju ke gerbang masuk Cu Chi untuk membayar tiket masuk 75.000 Dong. Saya sempat heran melihat kerumunan pengunjung yang berfoto di depan sebuah pohon. Tahu nggak pohon apa itu? POHON NANGKA. Hahahaha, mereka semuanya mungkin pertama kali liat nangka. Kalo pohon nangka mah di kampungku juga banyak. :p


Masuk tunnel lewat sini
 
Memasuki Cu Chi, kami melihat sistem tunnel (terowongan) yang dibuat oleh penduduk Cu Chi untuk berlindung dari serangan bom-bom udara tentara Amerika atau kejaran tentara Amerika. Terowongan-terowongan ini dibangun saling terhubung satu dan yang lainnya, serta memiliki bunker untuk perawatan kesehatan, memasak, ruang makan dan ruang pertemuan. Selain dibangun di bawah tanah, tunnel ini juga dirancang dengan sistem sirkulasi udara yang memanfaatkan sumber daya lokal seperti bambu. Bukan hanya tekun membangun tunnel, penduduk Cu Chi ternyata mahir membuat jebakan. Banyak sekali jebakan yang mereka buat untuk mempertahankan wilayah mereka dari gempuran tentara Amerika. Saya sempat begidik membayangkan betapa menderitanya orang-orang yang terkena jebakan-jebakan ini.
Mencoba tunnel di Cu Chi....untung badan gua kecil 

Saat dilakukan uji coba lintas terowongan, hanya lima orang yang mampu menunaikan tugas menyelesaikan penelusuran terowongan sampai finish yaitu saya, Mila, Vonny dan dua mahasiswa Jerman. Tubuh kami yang imutlah yang membuat kami mudah melalui terowongan ini, ukuran terowongannya kan dirancang untuk orang Asia. Pantesan aja rekan bule lainnya kepayahan menyelesaikan tantangan ini. Selain wisata terowongan, kami juga diajak wisata kuliner. Kami diajak untuk mencoba makanan sehari-hari penduduk Cu Chi pada saat mereka tinggal dalam tunnel. Saya, Mila dan Vonny ternganga melihat makanan yang disajikan: SINGKONG REBUS. Yah pemirsa, jauh-jauh dari Jakarta kami disuguhi singkong rebus. Para bule lah yang kalap memakan singkong rebus ini, kami nggak lho... SWEAR. 

Saya melihat bahwa pemerintah Vietnam sungguh serius menggarap pariwisatanya. Sebenarnya kunjungan ke Cu Chi ini akan menjadi kunjungan biasa-biasa saja layaknya kita mengunjungi situs bersejarah. Namun, karena tour Cu Chi dipadukan dengan tour Saigon river, maka perjalanan ini tak terasa membosankan. Sayang sekali rasanya membayangkan Indonesia yang dialiri ratusan sungai, namun kurang termanfaatkan dan tidak diintegrasikan dengan situs-situs bersejarah yang mungkin bisa dipromosikan.
Our team.... (rock)
Puas berkeliling kompleks Cu Chi tunnel, saatnya kami pulang ke Ho Chi Minh. Kali ini, pulangnya naik bus. 90 menit kemudian, kami sudah tiba di De Tham, wilayah backpacker Ho Chi Minh. Tersisa waktu dua jam sebelum kami ke airport. Dan kami memanfaatkan waktu ini dengan menyusuri Bui Vien, kawasan belanja yang juga termasuk kawasan backpacker. Ssst, kata temen-temen Indonesia yang main ke sini, harga di Bui Vien ini lebih murah lho dari harga barang di Ben Tanh market.

Selesai berbelanja, kami menuju Bandara dan bertemu dengan beberapa orang yang sepesawat saat pemberangkatan ke Ho Chi Minh. Berbagi cerita dengan backpacker Indonesia lain serta koper-er (istilah saya bagi yang membawa koper) lainnya.

Kunjungan saya ke Vietnam dan Kamboja ini benar-benar membuat saya sadar akan tantangan yang dihadapi para traveler saat mengunjungi negara-negara yang penduduknya tidak berbahasa Inggris. Terlebih di Vietnam, dimana kami sangat jarang menemukan rekan lokal yang mudah diajak berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, selain itu orang-orang Vietnam terkesan kurang ramah. Namun, saya harus mengakui Ho Chi Minh memang kota yang layak dikunjungi, banyak paket wisata yang bisa dinikmati disini, mau dalam kota atau luar kota. Terserah anda, sesuaikan dengan waktu dan anggaran.

Pengeluaran Hari Keempat 

  1. Trip to Cu Chi Tunnel = 15 USD
  2. Bekal Lunch Tuna + Air Mineral = 29.000 Dong
  3. Biaya masuk kawasan Cu Chi Tunnel = 75.000 Dong
  4. Taksi ke Bandara Tan So Nath = 9 USD, dibagi 3 menjadi masing-masing 3 USD
  5. Makan malam di pesawat = Rp 39.000
  6. Taksi dari bandara Soekarno Hatta – Rumah = Rp 130.000
Total pengeluaran hari keempat:
= 18 USD + 104.000 Dong + Rp 169.000 (1 USD = Rp 9200, Dan 1 Dong = Rp 0,5)
= Rp 165.600 + Rp 52.000 + Rp 169.000
= Rp 386.600 

TOTAL PENGELUARAN 4 HARI KE HO CHI MINH DAN PHNOM PENH
= Day 1 + Day 2 + Day 3 + Day 4 
= Rp 319.500 + Rp 528.300 + Rp 317.800 + Rp 386.600 
= Rp 1.552.200 

PS: Budget diatas diluar oleh-oleh lo yah. Oh iya lupa, harga tiket Jakarta - Ho Chi Minh PP = Rp. 600.000,- . Tapi, tiketku ke Ho Chi Minh kan gratis, hadiah ulang tahun dari teman. Hehehehe. Life is beautiful, I mean it!

Monday, March 15, 2010

A city with two currencies (Day 3)

Hari ketiga dimulai. Kami tinggal di Me Mates Place, hostel murah bertingkat lima. Beruntung pula kami bertiga ditempatkan di lantai lima yang membuat kami harus ngos-ngosan naik tangga tiap kali mau ke kamar. Namun, berkamar di lantai lima juga ada untungnya, kami bisa melihat view Kamboja dari atas beserta sungai Sap yang membelah kota ini. Indah nian. Lantai lima memiliki fasilitas balkon yang luas. Dan kami bertigalah penghuni lantai lima Me Mates Place. Me Mates Place sama dengan backpacker hostel lainnya, menyediakan komputer untuk internet gratis dan wifi gratis bagi mereka yang berbelanja makanan minimal 2.5 dollar. 

Sarapan diselingi online.... Thanks to free wifi 

Ada yang terasa berbeda di kota ini, saya sangat merasakan ramahnya para pengemudi tuk tuk, ramahnya orang-orang yang kami temui dan ramahnya para penjual saat kami tawar menawar. Mila saja sampai tiga kali menerima ucapan yang sama dari 3 penjual yang berbeda: “Thank you, you are our first costumer today. Business is bad now”. (Ini sih namanya m berterima kasih sambil curcol). Bahasa Inggris mereka pun terhitung lumayan dibandingkan dengan para pedagang di Ho Chi Minh. Pengemudi tuk tuk aja bisa ngomong Inggris.
Jangan bandingkan Phnom Penh dengan ibukota negara-negara lain di Asia, karena memang dari segi fisik kota ini jauh tertinggal. Saya dan Mila malah berpikir kota Phnom Penh itu mirip sama Jambi or Pekanbaru, hehehe.
Keunikan lain Kamboja adalah, selain memiliki mata uang sendiri (Riel), Kamboja juga menerima mata uang Dollar. Negara ini menggunakan dua mata uang sekaligus. Jadi, saat berbelanja di supermarket atau pasar, kadang kembalian yang kami peroleh pun bercampur dollar dan Riel. Jadi harus mahir hitung-hitungan kalau mau belanja disini.
 Wat Phnom berdiri megah di dekat hostel kami

Jam 8 teng, kami menyelesaikan sarapan dan langsung naik ke tuk tuk nya Mas Marly yang sudah sudah standby dari jam 7. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Wat Phnom yang lokasinya dekat dengan Me Mates Place. Untuk masuk ke tempat ini, pengunjung harus membayar 1 USD. Tempat ibadah ini lumayan rame dikunjungi warga lokal untuk bersembahyang.
Royal Palace.... Megah... Atapnya khas... seperti rumah gadang

 megah!!!

Puas berfoto di Wat Phnom, kami melanjutkan perjalanan ke Royal Palace. Kami dikenakan biaya 6.25 USD per orang untuk memasuki tempat ini. Begitu masuk, kami langsung disambut dengan dengan bangunan mentereng berwarna keemasan. Rumah gadang ala Kamboja, begitu saya menyebutnya yang diamini si Mila. Saat melangkah masuk ke bangunan ini, kami tidak diperbolehkan membawa alas kaki serta tidak boleh memotret. Di dalam gedung, ditampilkan isi istana Kamboja mulai dari alat-alat upacara, singgasana raja hinggal alat musik tradisional yang digunakan jika ada perhelatan. Saya menyebut tempat ini Keraton Yogya ala Kamboja. Ahhh saya sudah terlalu banyak memberikan gelar untuk tempat ini. Masih di kompleks Royal Palace, kami juga memasuki Silver Pagoda, yang berisi banyak patung Buddha dalam berbagai ukuran dan pose. Tepat di tengah, bersandinglah patung Buddha yang terbuat dari Giok Hijau. Sayang kami tidak boleh memotret di tempat ini. (sigh).
Tukeran sejenak bersama mas Marly, giliran gua yang narik tuk tuk
Tuk tuk mas Marly selanjutnya membawa kami ke Russian Market. Dalam perjalanan, mas Marly sepertinya sangat bersemangat menjelaskan setiap gedung yang kami lewati, saking semangatnya saya yang duduk persis di belakangnya sampe kena cipratan ludah Mas Marly (another sigh). Tapi cuek ajah, ga sampe bau jigong kok. Tujuan kami selanjutnya adalah Russian Market. Nothing special here, seperti pasar pasar tradisional Indonesia pada umumnya. Sumpek, panas dan padat. Setelah itu, tujuan terakhir kami adalah Central Market. Sama.... tak ada menarik. Suvenir berupa kaos oblong, gantungan kunci, tas, dll bisa diperoleh di kedua pasar ini.

Tiba saatnya kembali ke Ho Chi Minh, kami berbelanja dulu di Lucky Mart setempat (saya beli sandwich tuna untuk makan siang) lalu kembali ke Mates Me Place untuk mengambil tas bekpek. Marly mengantar kami ke terminal bus Capitol, dan bersalaman dengan kami, berharap kami datang lagi ke Phnom Penh. Saat diberangkatkan, kami baru melihat ada restoran halal yang terletak di dekat terminal bus Capitol. Ahhh seandainya tahu itu, tadi saya ajak Vonny dan Mila untuk makan siang disitu. Sudah lumayan lama perut in tak bertemu nasi, 3 hari ini makan roti mulu, pantes saja selama di Vietnam bahasa Inggrisku makin lancar (doh).
Perjalanan ke Ho Chi Minh kali ini memakan waktu yang cukup lama karena kami harus melalui kembali jalur yang kemarin plus tambahan waktu yang cukup lama di Moc Bai, perbatasan Vietnam – Kamboja. Kami yang start jam 1:30 PM dari Phnom Penh, masih tertahan di Moc Bai saat senja mulai turun. Antrian bus masuk ke Vietnam dari Kamboja memang lumayan banyak, tidak seperti kemarin. Walhasil kami baru lepas dari Moc Baik pukul 6:30 PM teng. Dan sampai dengan selamat, sentosa, tak kurang suatu apapun di Ho Chi Minh pukul 8:45 PM. Kami turun di De Tham, jantung kawasan backpacker.

Sebelum meneruskan keinginan yang tertunda ke City Hall, kami mampir makan malam dulu di Restoran Ali Akbar, satu dari beberapa restoran halal bermenu masakan India di jalan Bui Vien, dekat De Tham. Selanjutnya kami menitipkan barang di Saigon Mini Hotel sekalian check in.

City Hall dan patung Uncle Ho ternyata sangat mudah ditemukan, hahahaha kami malah sempat melewati tempat ini dua kali saat malam pertama kami di Ho Chi Minh. Kami Cuma tidak ngeh itu City Hall-nya, sempat bersitegang juga sih sama supir taksi yang mengantar kami ke tempat ini. Soalnya dari awal dia bilang “I sue, I sue” (Bingung juga kok nih sopir mau menggugat saya, emang salah saya apa???). Ternyata maksudnya pak sopir “I am sure”, maksudnya Saya yakin saya tahu tempat yang anda maksud. Oalaaaaaahhhh. Namun, dalam kenyataannya, pak sopir membawa kami (lagi-lagi) ke Central Post Office. Waduhhhh ini sih nyasar jilid dua. Untungnya Mila ikut campur, dan menunjukkan kembali peta ke Pak Supir. Akhirnya pak supir insyaf dan membawa kami ke jalan yang benar, Alhamdulillah. Kami tiba dengan selamat dan sentosa di depan City Hall. Bagaimana rupa City Hall? Lihat saja gambarnya......
Patung Uncle Ho, letaknya persis depan City Hall

the famous city hall

Demikian dulu laporan hari ketiga live dari Ho Chi Minh City, semoga besok lebih mengesankan lagi. Yiiihaaaaaaaa.......

Pengeluaran hari ketiga

  1. Tuk tuk dalam kota Phnom Penh selama setengah hari: 5 USD per orang
  2. Sarapan di Me Mates Place hostel: 3 USD (disini breakfastnya bayar) 
  3. Biaya masuk Wat Phnom: 1 USD
  4. Biaya masuk Royal Palace: 6,25 USD 
  5. Beli bekal makan siang untuk dimakan di bus: Sandwich Tuna + Air Mineral + Pringles = 3,5 USD 
  6. Tiket bus Phnom Penh - Ho Chi Minh = 9 USD 
  7. Makan malam di Restoran Halal Ali Akbar di jalan Bui Vien, Ho Chi Minh = 75000 Dong 
  8. Green Tea Lemon = 5.000 Dong 
  9. Taksi dari Saigon Mini Hotel ke City Hall = 45.000 Dong 
Total Pengeluaran Hari Ketiga:
= 27,75 USD + 125.000 Dong
= Rp 255.300 + Rp 62.500
= Rp 317.800

Lumayan menurun dibanding pengeluaran hari kedua :D

Saturday, March 13, 2010

Bermalam Minggu di Pnom Penh... Serasa buta aksara di kota ini (Day 2)

Semalam begadang posting sampe jam 3, buat ngejar target nulis update perjalanan harian. Hehehe, dasar narsis, but OK lah. Bangun jam 6, saya langsung sholat subuh dan online bentar. Mandi dan sarapan bersama Mila dan Vonny yang disediakan Saigon Mini Hotel.

Perjalanan kami diawali dengan mengunjungi War Remnant Museum. Awalnya pengen naik ojek, sayangnya banyak cerita miring yang kami dengar tentang tukang ojek di kota ini. Kami pun mengurungkan niat. Dan setelah dihitung-hitung ternyata menggunakan taksi justru lebih murah. Meski punya pengalaman tidak mendapat senyuman dari supir taksi yang kemarin, kami tetap memutuskan naik taksi saja namanya VINASUN, taksi ini yang banyak direkomendasikan oleh website. Tapi hati-hati, banyak taksi gadungan yang meng-okkots-kan tulisan VINASUN menjadi VINASUM atau VINASNN. Dan setelah menggunakan taksi tiga kali, saya harus menarik kembali kesimpulan saya bahwa supir taksinya kurang ramah. Kami menumpang taksi tiga kali pada hari kedua, dan semuanya fun. Meski mereka gak ngerti Inggrais, para supir taksi yang kami temui semuanya tersenyum melihat kelakuan saya, Mila dan Kak Vonny saat mencoba membaca tulisan-tulisan Vietnam di sepanjang jalan. Mereka membetulkan setiap kali pengucapan kami tidak sesuai dengan makharijul huruf (pengucapan) bahasa mereka. Tell you what? Ho Chi Minh bisa menjadi kota okkots kedua di dunia setelah Makassar,untuk lebih jelasnya buka saja OKKOTS dot com.
Mengamati gambar di War Remnants Museum

War Remnant Museum memiliki banyak kisah seputar perang yang terjadi di Vietnam. Saya yang gak ngerti Sejarah (meski di rapor angkanya 8), akhirnya bisa melihat dengan mata sendiri (ya iyalah masa melihat dengan kuping), bagaimana orang-orang Vietnam dibantai, malah dengan cara yang sangat keji, menggunakan senjata kimia. Saya tidak bisa melihat foto-foto korban perang itu terlalu lama, sesak rasanya dada ini. Di Museum ini, banyak foto-foto yang menurut saya bukan konsumsi anak-anak, tapi ketika kami berkunjung tadi justru anak-anak TK dan SD yang memenuhi museum. Selain koleksi foto, museum ini juga dilengkapi replika tiger cages, yang merupakan tiruan dari penjara beserta bentuk penyiksaan yang mereka lakukan terhadap para tahanan politik. Ada tempat pemasungan, tempat pancung dan kandang kawat kecil yang diisi oleh 2-3 orang tapol.
Reunification Palace, yeaaah I am free

Puas mengunjungi War Remnant Museum, kami pun ngesot ke Independent Palace a.k.a Reunification Palace (jaraknya dekat banget). Sebenarnya saya juga ga ngerti sejarah Independent Palace, cuman karena tempat ini selalu ditampilkan dalam setiap season the Amazing Race, maka sayapun berkeras mengunjungi tempat ini. Tempat ini juga ramai dikunjungi turis, soalnya Hari Sabtu sih. Di dalamnya sih gak istimewa banget, cuman ada ruang pertemuan kabinet, ruang makan, hall untuk pertemuan. So nothing really special, mungkin karena memang saya gak belajar sejarahnya :D 

Setelah War Remnant Museum, kami melanjutkan ke Vietnam Quoc Tu Pagoda di daerah Ba Thang Hai. Sekali lagi terbukti menggunakan taksi ternyata lebih hemat. Sampai di Quoc Tu Pagoda, kami makin shock karena Pagoda nya tak sebesar yang kami bayangkan. Masih kalah sama yang di Semarang. Disini kami hanya berfoto saja di depan pagoda, patung Dewi Kuan Im dan patung Budha. That’s it. Sebelum balik ke hotel, kami menyempatkan menikmati es kopi ala vietnam di pinggir jalan yang amat sangat enak sekali itu. (Recommended to try)
Di perbatasan Vietnam - Kamboja, Moc Bai

Jam 12.15 kami tiba di hotel bersiap-siap menuju ke tempat pemberhentian bus untuk melanjutkan perjalanan. Tepat jam 1:30, dengan bus AC yang kami bayar 10 dollar, kami meninggalkan Ho Chi Minh menuju Phnom Phenh (semoga ejaannya benar). Waktu tempuh diperkirakan 6 jam. Sepanjang jalan, saya yang semalam hanya tidur 3 jam, masih tak bisa mengantuk karena penasaran level akut melihat bagaimana Vietnam diluar Ho Chi Minh. 
 Berfoto di anak Sungai Mekong, ini baru anaknya lho 

Selang beberapa lama kemudian, kami pun sampai di perbatasan Vietnam – Kamboja, daerah Moc Bai. Memasuki Kamboja, kami langsung disambut sederet Casino besar. Selanjutnya, kami harus melalui anak sungai Mekong, Neak Leoirmg River dengan feri. Serasa di Bakaheuni euy. Hehehehe. Total lama perjalanan yang kami butuh kan untuk hinggap di Phnom Penh sekitar 6 jam. Kami tiba di terminal bus jam 7:45. Dan langsung naik tuktuk (becak motor ala Kamboja) ke Hostel tempat kami menginap.

Tak ingin membuang kesempatan, malam pertama di Phnom Penh kami habiskan di Independent Monument. Yeah, air mancurnya di malam hari menjadikan tempat ini dijadikan salah satu landmark kota Kamboja. Setelah tempat ini kami berencana lanjut ke monumen lain, namun di atas jam 10, lampu-lampu dimatikan. Ya sudahlah, kami kembali ke hotel.
Independent Monument in Phnom Penh dengan air mancur warna warninya

Sebenarnya di Phnom Penh secara fisik tak banyak yang istimewa, tak semegah Ho Chi Minh,. Selain itu, plang jalan dan rambu disini benar-benar bikin frustasi, semuanya ditulis dalam aksara setempat yang membuat saya merasa buta aksara di negeri ini. Namun tempat ini menarik karena orang-orang yang kami temui sangat ramah. Mulai dari agen visa kami di bus, So Marly (si pengemudi tuktuk yang baik hati dan suka menolong, puihhhh), Dara dan Tony (si penunggu hostel dan chef di hostel yang kami tinggali). Semoga besok makin banyak orang ramah yang kami temui di kota ini.

So guys can’t wait for tomorrow

Pengeluaran hari Kedua

  1. Biaya taksi ke War Remnants Museum: 45.000 dong, yang kami bagi tiga. Masing masing membayar 15.000 Dong 
  2. Karcis masuk War Remnants Museum: 15.000 Dong 
  3. Karcis masuk Reunification Palace: 15.000 Dong 
  4. Tiket bus Ho Chi Minh - Phnom Penh: 10 USD 
  5. Taksi ke Quoc Tu Pagoda: masing masing membayar 20.000 Dong 
  6. Taksi dari Quoc Tu Pagoda ke Saigon Mini Hotel: 15.000 Dong 
  7. Belanja makan siang sandwich tuna + air mineral: 29.000 Dong 
  8. Visa Masuk Kamboja: USD 25 
  9. Sewa tuk tuk dari terminal bus Capitol ke Me Mates Place Hostel: 1 USD per kepala 
  10. Sewa tuk tuk Pulang Pergi Hostel - Independent Palace: 2 USD per kepala 
  11. Sewa Me Mates Place hostel: 9 USD/kepala/malam 
  12. Makan malam dengan nasi goreng + lipton ice = 4,75 USD
Total Pengeluaran Hari 2:
= 109.000 Dong + 51,75 USD
= Rp 54.500 + Rp 473.800 (USD = Rp 9200, Dan 1 Dong = Rp 0,5)
= Rp 528.300

Pengeluaran hari kedua lumayan banyak karena perjalanan jauh dan harus melewati imigrasi Kamboja dengan biaya visa yang lumayan menguras kocek.

Ho Chi Minh: Apik Namun Sombong (day 1)

Pagi ini terbangun dengan badan yang masih hangat dan agak pening. Gheez, padahal hari ini saya harus ke Ho Chi Minh. Semoga sakit ini tidak berlanjut, soalnya Ho Chi Minh trip sudah direncanakan sejak jauh jauh hari. Sigh......

Jam 2 kurang, saya sampai di terminal 2 Bandara Soekarno- Hatta, 2 travel buddies saya: Mila dan Vonny yang ternyata sudah datang duluan. Kami pun check in di counter khusus non-baggage. Easy and practical. Sebelum naik pesawat, kami bertiga sibuk menelepon teman-teman, maklum lah kalo sudah sampe Ho Chi Minh, ratenya pasti mahal. SMS saja bisa 3500 rupiah sekali.

Pesawat airasia QZ 7763 yang kami tumpangi telat sekitar 15 menit, tapi gak masalah, masih dimaafkan. Sayangnya, saya harus duduk terpisah dengan Mila dan Vonny. Saya duduk di samping stranger, orang Indonesia juga. Namanya Willy, dan berdasarkan ceritanya, dia tahun lalu baru berkunjung ke beberapa negara di Eropa (Belanda, Belgia, Swiss, Prancis), sebagai solo traveller. Wuihhh Hebat.... Jangan ditanya pengalamannya ke negara Asia. Saya jadi iri sama usahanya dia untuk jalan-jalan. Namun tak lama kemudian, saya yang berhasil membuat dia iri karena saya bilang saya dan teman-teman gak hanya akan ke Vietnam saja tapi juga ke Kamboja. Skornya 1-1, Wil.
  Tan Son Nhat International Airport
Selama 2 jam 50 menit, tak terasa guncangan berarti. Saya sudah mulai merasa salah sangka terhadap kota ini pada saat kami akan mendarat. Ternyata kotanya gede juga. Langit Ho Chi Minh sangat bersih ketika kami mendarat di Tan Son Nhat International Airport. Sekali lagi saya salah sangka dengan airportnya, ternyata airport nya Ho Chi Minh bagus banget, mirip mirip dengan Airport Hasanuddin di Makassar. Mila aja sampe bilang “Pantesan aja Indonesia kalah main bola sama Vietnam, bandaranya aja kalah canggih”. Hmmm Mila lagi jaka sembung.

Kesan pertama dari kota ini, tata kotanya bagus dan tak terlihat banyak sampah di pinggir jalan, meski bau pesing kadang tercium saat kami mencoba menelusuri kota ini di malam hari dengan berjalan kaki. Saya kagum dengan trotoarnya yang lebar dan hampir selebar jalannya sendiri. Bandingkan dengan Jakarta yang trotoarnya seiprit, itupun sudah dijadikan lahan pedagang kaki lima. Ah sial benar yah jadi pedestrian di Jakarta. . Yang saya amati, motor menjadi penentu status sosial disini, anak muda umumnya menjadikan motor sebagai ajang unjuk diri mereka, mereka nampak bangga menunggangi motor mereka untuk ke club, cafe atau tempat gaul lainnya. Tapi, jangan salah, meleng sedikit di jalan sudah bisa terserempet motor. Vonny tadi sempat hampir diserempet tukang ojek plus bule botak yang sedang berboncengan, refleks Vonny menghindar sambil berteriak dengan tangan terkepal mengarah ke kepala si botak. Untung Vonny bisa segera mengendalikan gerak refleksnya, hampir saja si bule botak itu jadi sasaran
Trotoarnya lebar euy
Kami bertiga menginap di Saigon Mini Hotel 2, hasil perburuan saya di hostelworld. Begitu kami sampai di hotel, mbak resepsionis nya menyambut kami sambil berkata, “Sorry, the room you booked is not available”. WHAT????. “But, we have upgraded you to the large room and you still need to pay the same”. Yeahhhhhhh.... Dapet kamar gede buat bertiga, plus AC plus tivi, kulkas. dan wifi We only pay USD 12 per person lho.... A lot cheaper than the hostel we stayed in Singapore. Selain itu lokasinya pun tak jauh dengan Ben Thanh Market dan tempat-tempat lainnya (maklum deket kawasan backpacker sih).
The fancy room for turis kere
Selain memberikan kesan positif, ada dua hal yang saya kurang sukai di kota ini. Saya mengamati bahwa orang-orang yang saya temui sangat jarang tersenyum. Dimulai dari pak supir taksi yang cuek beibeh dan mahal senyum, sampe ke orang-orang yang kami temui di jalan. Umumnya banyak yang menghindar saat saya mencoba bertanya jalan atau arah. Selain itu, pengendara di kota ini, baik motor maupun mobil termasuk pengendara nekat, jadi harus sangat berhati-hati saat menyeberang.
 Me and my Dhong
Untuk penukaran uang, saya sarankan untuk membawa dollar saja. Dollarnya selanjutnya dapat ditukar ke Dhong (mata uang Vietnam) setelah tiba di Vietnam. Dan kami berhasil menjadi kaya raya, karena ternyata 1 Rupiah sama dengan 2 Dhong. Berbekal 50 dollar, saya berhasil mengantongi 950.000 Dhong. Hahahahah.
 
Kemana kami malam ini?

Begitu tiba di Ho Chi Minh, kami langsung ke hotel dan langsung hit the road. Kami berjalan kaki menyusuri wilayah turis, PHAM NGU LAO, melewati Ben Thanh Market dan LE LOI, menuju People Committee Hall. Mengikuti peta di tangan, kami tak begitu kesulitan mencari jalan, namun setelah sekian lama berjalan kami pun bertanya ke Bapak Tukang Ojek. Saya tanyakan ke dia dengan Bahasa Inggris  plus bahasa isyarat yang pastinya lebay, Dimana People Committee Hall. Si Tukang Ojek mengambil peta dan mulai menyalakan motornya. Saya bilang “NO NO NO, I don’t wanna ride on your bike” sambil berusaha menarik peta dari si Tukang Ojek, namun dia memegang kertas peta itu dengan kuat. Saya mengalah, biarlah dia ambil kertasnya. Saya ternyata salah sangka, si tukang ojek bukannya mau maksain saya naik ojeknya, malah dia nyalain motor untuk nyalain lampu sorotnya agar peta itu bisa terlihat jelas olehnya. Oalaaaah maaf pak, saya sudah salah sangka. Kami melanjutkan bertanya ke seorang waiter bar di lokasi sekitar People Committee Hall, dan diapun mengiyakan arah kami dengan sangat yakin.
People Committee Hall wannabe... ternyata adalah....

Cathedral Notre dame

Dengan bekal petunjuk arah si tukang ojek dalam Bahasa Vietnam, kamipun sampai lah di tempat yang kami anggap People Committee Hall, di depannya berdiri Cathedral Notre Dame yang megah. Kami pun berfoto aneh bin ajaib sambil diliatin penduduk sekitar. Yah, kami bisa berfoto di depan People Committee Hall, sodara-sodara. Setelah puas berfoto, kami menuju ke hotel. Tiba di hotel jam 12 tengah malam. Jalan kaki kali ini dimulai jam 8 malam dan berakhir jam 12 malam, total jarak tempuh berjalan kaki: kurang lebih 4 km (dikit lagi betis ku berkonde) . Saat kutunjukkan foto foto di People Committe Hall ke resepsionis hotel, si resepsionis cuman bilang: “No, this is not People Committee Hall, this is Central Post Office”

“APAAAAA ??? DASAR TUKANG OJEK  SIALAN. UDAH GAYA PAKE LAMPU SOROT, SOTOY PULA”

Pengeluaran hari 1
  1. Airport tax : Rp 150.000,- 
  2. Taksi dari Tan Son Nhat International Airport ke Saigon Mini Hotel sebesar USD 9, karena kami bertiga, jadi masing masing membayar USD 3 
  3. Sewa kamar di Saigon Mini Hotel: USD 12 per malam 
  4. Makan malam dengan tuna salad di daerah Pham Ngu Lao: 53.000 dong (Dong = mata uang Vietnam) 
  5. Air mineral: 10.000 Dong 
Total pengeluaaran hari pertama

= Rp 150.000 + 12 USD + 3 USD + 53.000 Dong + 10.000 Dong
= Rp 150.000 + 15 USD + 63.000 Dong
USD = Rp 9200, Dan 1 Dong = Rp 0,5
= Rp 150.000 + Rp 138.000 + Rp 31.500
= Rp 319.500

Cihui, hari pertama cuma habis Rp 319.500....... Gimana hari kedua?

Sunday, March 7, 2010

Boku No Saifu ha Doko Ni Aru? - Shakusho Ni Arimasu

Maaf agak lama gak mengisi blog, maklum lagi agak sibuk dengan okkots dot com, hehehe. 

Teringat sebuah pengalaman menarik saya 5 tahun lalu di sebuah prefektur bernama Saga di Jepang. Saya ingat betul, saat itu Oktober 2004, musim semi. Sebuah perhelatan akbar sedang digelar di Kota Saga, kota tempat tinggal saya. Namanya: SAGA INTERNATIONAL BALLOON FIESTA. Acara ini digelar tiap tahun dan diikuti oleh banyak negara. Kegiatan ini berlangsung beberapa hari. Dan biasanya dimulai dengan pesta cahaya pada malam pertama perhelatan ini.
Saya tentunya tak melewatkan malam penuh cahaya yang merupakan pembuka kegiatan balon fiesta ini. Bersama teman-teman, saya mengayuh sepeda ke jalan protokol kota Saga, kami tak mau melewatkan malam indah itu. Sepanjang perjalanan, jalan penuh dan ramai dengan penduduk lokal dan pendatang yang ingin melihat terangnya kota Saga malam itu. Semua peserta balloon fiesta tumplek blek menyalakan mesin yang mereka gunakan untuk terbang, api pun menyembur dari mesin ini menerangi jalanan kota Saga. Selain itu, banyak pertunjukan seni dari penduduk dan siswa setempat. Tak lupa, jajanan yang tersedia di sepanjang jalan. Karena takut memakan makanan non-halal, saya cuman membeli Calpis (semacam Calpico di Indonesia), sekalian irit. Hehehehe.

Acara berlangsung sangat meriah, saya dan teman-teman menikmati malam yang terang benderang itu.  Serasa gak ingin pulang ke ryo (asrama). Menjelang pulang, saya  kembali haus dan pengen membeli minuman lagi. Namun, saat merogoh saku celana, saya tidak mendapati dompet di saku celana. Saya bongkar ransel tapi dompetnya gak ketemu juga. Saat saya merogoh saku celana bagian depan, saya baru sadar memang ada lubang di saku ini. Lubangnya lebar pulak (doh). Kesimpulannya, dompetku tercecer. Waduh, bisa repot nih..... dompet itu isinya duit 12.000 yen (sekitar satu juta rupiah untuk kurs tahun 2004), alien card, kartu siswa dan ATM. Saya sudah lunglai duluan membayangkan pengurusan ulang kartu-kartu tadi. Saya yang waktu itu baru sebulan di Jepang, benar-benar buta dengan pengurusan barang-barang hilang. Waduh harus kemana dulu yah?

Saga Balloon Fiesta di malam hari

Malam itu juga, saya mengabari Mas Adi, rekan Indonesia asal Pontianak. Niatnya sih, pengen langsung ngurus ngurus surat kehilangan, semoga mas Adi mau membantu, mas Adi kan nihon go (Bahasa Jepang)nya hebat. Mas Adi mencoba menenangkan saya. "Everything will be OK" kata mas Adi.

Sehari kemudian, saya menuju ke lokasi Balloon Fiesta. Nobody wants to be lonely miss the first day of Balloon Fiesta. Sebenarnya saya tidak begitu mood karena tidak memiliki cukup cash di tangan, tapi karena sudah kadung janjian sama teman, saya memaksakan diri untuk pergi. Saat sedang menikmati pertunjukan balon di siang bolong, tiba-tiba mas Adi menghampiri saya. Dia datang bersama dengan seorang Jepang (yang namanya saya lupa). Mas Adi menyarankan saya untuk ke shakusho (city hall) bersama si Bapak Jepang, siapa tahu katanya ada yang mungut dompet saya dan memberikan nya kepada aparat yang berwenang. Terdengar tak mungkin terjadi,  mission impossible banget,  tapi karena orang Jepang nya sudah terlanjur dipanggil mas Adi untuk menemui saya, saya akhirnya manut saja. Ikut si Jepang ke City Hall.

 
Saga City Office/City Hall

Sampai di city hall, kami berdua langsung menuju ke counter lost and found. Si Jepang menjelaskan duduk persoalannya kepada petugas disana. Saya mendeskripsikan bentuk dan warna dompet saya serta apa aja isinya dalam Bahasa Inggris. Si petugas lalu  mengangguk, dan berkata : OMACHI KUDASAI (Tunggu sebentar), dan berlalu ke dalam.
Selanjutnya si petugas muncul, mengacungkan sebuah dompet berwarna biru sambil bertanya: "Kono saifu ha anata no desuka?" (Apakah dompet ini milik Anda? ).
Saya langsung mengangguk, "Hai. Boku no Saifu desu". (Yah itu dompetku). Si petugas mencocokkan isinya dengan deskripsi saya sebelumnya. Si Petugas tersenyum dan menyerahkan kembali dompet itu ke saya, setelah menganggap saya lulus fit and proper test untuk memiliki dompet itu kembali (taela.....). Benar-benar sebuah kegembiraan, dompet saya bisa ketemu. Saya tak pernah menyangka bisa menemukan dompet itu kembali sebegini mudahnya. Saat memeriksa isinya, saya makin takjub karena isi nya tidak berkurang suatu apapun, termasuk uang cash 12.000 yen. Sungguh menakjubkan. Saya jadi penasaran bagaimana bisa dompet itu bisa sampai ke City Hall
 
Mas Adi dan Bapak Jepang itu, my life savors

Ternyata, dompet saya memang tercecer di jalan protokol kota Saga. Dan dompet tersebut ditemukan oleh sekelompok anak SD. Anak-anak ini berinisiatif menyerahkan ke Pak Polisi yang mereka temui di sekitar tempat itu. Dan dari Pak Polisi, dompet tersebut dibawa ke bagian lost and found City Hall

Saya terkesima (lagi begitu  kelakuan anak tadi. Masya Allah, anak-anak itu begitu jujur. Mungkin mereka memang sudah diajar untuk tidak menggunakan sesuatu yang bukan milik mereka meskipun mereka berkesempatan untuk melakukan itu. Duit saya kembali utuh, tak tersentuh. ATM saya juga tetap  di dompet Ingin rasanya bertemu langsung dengan anak-anak ini dan mengucapkan terima kasih saya sedalam-dalamnya namun tidak ada info tentang mereka di City Hall. Saya ingin berterima kasih kepada mereka karena baru saja saya belajar makna dari sebuah "KEJUJURAN". Hal yang sangat langka di jaman sekarang. Saya sendiri tak yakin, apa saya bisa sejujur ini saat memiliki kesempatan seperti tadi. Salut buat mereka.

Terima Kasih kepada Bapak Jepang yang menemaniku ke City Hall tanpa pamrih (Sorry to forget your name, Onegaishimasu). Dan thanks to Mas Adi yang selalu jadi pencari solusi jitu saat rekan-rekan Indonesia dalam masalah.Tak salah kami memanggilmu Abah.

PS. Arti judul di atas adalah: Dimanakah dompetku? - di City Hall.