Friday, January 29, 2010

Okkots Award, and the award goes to....

Sejak postingan tentang okkots dipublikasikan di sini, banyak teman-teman yang mulai terjangkit sindrom okkots. Bahkan ada yang membuat postingan okkots. Gelo emang.

Tulisan mengenai okkots ini, tidak hanya saya publikasikan di blogspot saja, tapi juga saya jadikan notes di facebook. Lumayan banyak respon lucu yang saya peroleh. Dan kali ini saya ingin menganugerahkan sebuah award ciptaan saya sendiri yang saya beri judul "Okkots Award" kepada mereka yang berhasil membuat komen okkots lucu, baik di facebook maupun di blogspot.

The awardees are:

  • Mas Iman, rekan plurker dan blogger. Komentarnya sebagai berikut: Asli ... ini baru banget saya tau. Benar-benar ngikik pas baca ini, sumpah!. Negeri kita meman kaya akang budaya yan patut dibanggakang (okok). Thanks sharing yang unik dan menggelitik ini bro :)
  • Mila Said, rekan seperjuangan, mantan teman sekantor, travel buddy dan kadang teman curhat. Pretttt. Berikut komen mila: huahahaa.... ada gw. Trus lucunya wkt drivernya telat dia bilang," maaf, mbak. saya tadi ganti banG dalam dulu." (lmao). betewei, Cipuuuu... gw mo ke makassar tgl 20 maret (msh lama ya bo') hihihii....
  • Cici Silent, rekan blogger yang rajin nulis komen di blog ku. Thanks yah sista...... Komennya Cici adalah: kalo hari raya Kurbang, oran suka makan kambin yak? (rofl) (ninja)
  • Retri, temeng ngobrol yang seru, temen gila-gilaan dan calon penganut sekte okkots tingkat akut. Retri dalam komennya: bwahahahahahaha.....SUPPPERRRRRR LUUUCCCCUUUU.......*gulin-gulin ketawa ampe pipis mode onG*
  • Acca Basit. Sepupu sekaligus partner setia dalam menjahili orang. Dalam komennya di notes facebook ku, Acca bersabda:
    Untun saja saya nda begitu..meskipung begitu, saya setuju itu sama sekali bukang merupakang perbuatang memalukang dang bukang suatu aib..jadi bagi yan mengidapnya jangang merasa malu dang rendah diri..tularkang k temang2 anda..wassalang..
  • Jaliel Keparatz, salah seorang sepupu ku yang lain yang juga sukses membuat ku terpingkal pingkal dengan komennya di FB:
    pernah suatu ketika diriku melewati jalan veteran makassar dan kutemukan tulisan disamping wc ... "dilaran kencin dan "bera" , yang kencin disini = anjin..!!"
  • Ima Irfiany, teman SMP dan mantan teman dekat, jyaaaaah, an adorable and smart woman. Ima berkata dalam facebook ku:
    Haha...hidup okkot's,skali okkot's...tetap okkot's!kereng,bekeng dam ngetreng!!
  • Callang Syahlan, wartawan Sindo yang mendedikasikan hidup nya untuk mengejar informasi mengenai saya. Poh-lease deh. Teman SMP dan tetangga kos kosan waktu kuliah. Callang said in my FB:
    mdede..... cipu, 'binguN-binguN ku memikirkanG.....'
Demikianlah pengumuman OKKOTS AWARD. Selamat buat yang mendapatkan award. Keep okkotsing till the end. Time to celebrate. (xmas1)

Disclaimer: Dua dari pemenang award adalah sepupu saya, namun saya memilih mereka karena kualitas okkots dalam komen mereka yang memang luar biasa. (Udah bakat turunan kali), hehehehe. Tidak ada nepotisme dalam proses penjurian. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Bagi yang mau protes silahkan kirimkan claim fee dulu ke rekeningku yah xixixixixi.


Sampai jumpa dalam postingan tentang okkots selanjutnya.

PS: Bagi yang okkots beginner, saya sudah menebalkan huruf kalimat kalimat yang mengandung muatan okkots
xmas1Banana PiratesРусскийРусский

Tuesday, January 26, 2010

I am from ..... not from ......


Cerita ini adalah kelanjutan dari postingan saya di awal tahun 2008 yang ini.

Ternyata selain disangka orang Bangladesh, saya juga kerap disangka orang India atau orang Malaysia sewaktu di Jepang.

Sekarang di Indonesia, ceritanya pun sama. Biasanya ketika berkenalan dengan seseorang, asal atau suku adalah hal yang kadang ditanyakan saat berkenalan. Kalau saya pribadi, saya tidak langsung menjawab pertanyaan mengenai asal saya, tapi membiarkan si penanya menebak darimana asal saya.

Saat berkunjung ke Semarang, saya diantar jemput oleh driver bernama Pak Agung. Selain ramah, Pak Agung juga seru diajak ngobrol. Dan sudah bisa ditebak, percakapan yang tercipta diawali dengan pertanyaan mengenai asal saya.

Pak Agung : Mas Cipu, aslinya mana??
Cipu : Kira-kira darimana pak, kalo liat wajah dan denger aksen saya
Pak Agung : Wah susah tuh pak ditebak....
Cipu : Ayo pak, saya darimana?
Pak Agung : Mmm mas Cipu orang Sumatera yah, kayaknya Padang deh?!?!
Cipu : Hehehehe, tet tot, salah pak.
Pak Agung : Kalo gitu, Bandung yah mas
Cipu : Salah juga Pak
Pak Agung: Jadi darimana dong Mas?
Cipu : Saya asli dari Sulawesi Pak, sekampungnya Pak JeKa, saya kenal beliau
Pak Agung : Oh mas Cipu orang Makassar toh... Wah hebat yah bisa kenal Pak JeKa
Cipu : Iya, Pak. Saya kenal Pak JeKa, sayangnya Pak JeKa nya gak kenal saya
Pak Agung : (MAKSUD LO?!?!?!?)

Yup, memang rata-rata banyak orang yang menyangka saya orang Padang atau orang Sunda.

Selanjutnya selama saya ke Purwokerto, saya juga dianter oleh supir setempat, namanya Pak Pur (mentang-mentang orang Purwokerto, nama panggilannya pun dimirip-miripkan...hehehe gak ding, namanya pak Purwanto). Dan tebak-tebakan mengenai asal saya pun dimulai.

Pak Pur : Mas Cipu darimana?
Cipu : Maksudnya asal saya yah pak?
Pak Pur : Iya, mas Cipu itu asli mana?
Cipu : (tersenyum jahil) kira-kira, asal saya darimana yah pak kaloBapak liat wajah saya?
Pak Pur
: (terdiam sejenak sambil mengamati) Dari Indonesia timur yah mas?

Cipu : IYAH (Wah pak Pur hebat bisa nebak)
Cipu : Nah menurut Bapak, asal saya di Indonesia Timur itu tepatnya dimana?
Pak Pur : Mas Cipu ini, kalo bukan orang Ambon, mungkin orang NTT. (Dijawab dengan polos namun penuh keyakinan)
Cipu : WHAT??? (Ga sampe se-timur itu kaleeee !!!!)

Begitu tiba di Hotel, saya langsung bercermin sambil bertanya dalam hati Kenapa yah Pak Pur menganggap saya asli Ambon atau NTT, tapi sampe sekarang saya masih belom dapat jawaban. Anyone can help??

)* pic is grabbed from http://www.oneroots.com/WhoAreYou_oneroots.gif

Saturday, January 23, 2010

the "Kresek" does matter

Lain Lubuk Lain Ilalang, Lain Padang Lain Belalang. Itu lah peribahasa yang kerap diterjemahkan oleh Bule di kantor menjadi : Different field, different grasshoper. Di kantor ku, peribahasa ini mengalami transformasi makna menjadi: Lain kota, lain oleh oleh nya. (Maksudnya, kalo kamu keluar kota jangan lupa bawakan makanan khas kota itu yah). Tak salah memang kantor ku bergerak di bidang pangan.

Kalau Yogya terkenal dengan bakpianya, Semarang terkenal akan lumpia, tahu bakso dan bandengnya. Yup, sodara sodara,cerita kali ini ada kaitannya dengan oleh oleh dari Semarang. Anggaplah cerita ini menjadi oleh oleh saya kepada mereka yang masih sudi membaca blog yang nista dan hina dini ini. Prettttt.

Minggu ini, saya mendapat penugasan ke empat kota. Salah satunya adalah ke Semarang. Tujuan kunjungan adalah untuk menemani seorang evaluator yang berasal dari Australia. Mengingat pada hari keberangkatan saya tidak sempat ke kantor, saya akhirnya baru bisa bertemu dengan sang evaluator di bandara, sebelum kami menuju ke Semarang. Dan saat bertemu beliau, saya disodorkan sebuah kresekan kecil berisi beberapa boks kecil.
Kresekan bandeng juwana yang tak berisi ikan

Sang evaluator yang bule menyerahkan kresekan ini sambil berkata: "Cipu ini titipan dari admin, mereka bilang kamu akan membutuhkan barang barang ini di field"

Saya pun menerimanya dengan ikhlas dan mengucap terima kasih dalam hati kepada tim admin yang telah menyiapkan segala keperluan untuk kunjungan kali ini. Saya tahu, isinya paling ATK a.k.a stationery. Kami pun melenggang ke waiting room untuk menunggu boarding ditemani bawaanku: sebuah kresekan bandeng juwana yang terlakban rapi.

Pada saat boarding, saya mengikuti penumpang lain berjalan menuju pesawat. Di pintu depan, kami disambut oleh dua orang pramugari. Mereka pun menyapa dengan ramah.

Pramugari 1: Lho mas kok bandeng nya dibawa balik ke Semarang. (Sambil melirik ke kresekanku)

Belum sempat menjelaskan, pramugari 2 pun turut komentar.

"Wah mas, bandengnya mo dimakan di Semarang yah" (dengan nada bercanda)

Saya: Ngngngng.... ini stationery kok mbak

Isi kresekan mungil itu adalah ......

Tapi mereka berdua sudah tidak mendengarkan jawabanku karena sibuk menyapa penumpang-penumpang lain yang masuk ke pesawat. Saya pun melanjutkan langkah ke kursi ku. Sebelum duduk, saya berpapasan dengan seorang pramugari yang lain. Dia pun ikut memberikan komen:

Pramugari 3: Wahhhh mas, bandeng kok dijadikan oleh oleh ke Semarang, disana banyak kali mas.

Saya : isinya ATK mbak, bukan bandeng (dengan nada ketus).

Setelah 45 menit take off, pesawat landing di Bandara Ahmad Yani Semarang. Saat keluar dari pesawat, ketiga pramugari tadi masih tersenyum penuh arti saat saya lewat. Saya tahu makna senyum mereka, senyum ngiler sama "BANDENG" yang kubawa. Saya tetap cuek jalan.

Ternyata kresekan bandeng juwana ini tidak hanya bertuah di pesawat saja. Pun saat saya melewati para penjemput penumpang di bandara, banyak orang yang senyum-senyum tersembunyi saat melihat ada cowok cakep yang keluar dari arrival gate menenteng kresekan bandeng juwono. Pasti mereka berpikir: Nih cowok kok bawa Bandeng ke Semarang sih, Semarang kan pusatnya bandeng. Bego kali yah, sayangnya Cakep". (www.narsis.com).

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman saya ini?

Pelajaran yang bisa dipetik adalah:

JANGAN MEMBELI BANDENG PRESTO DI JAKARTA ATAU ANDA AKAN DITERTAWAKAN PRAMUGARI (nah loh)


Kalo bingung, simpulkan sendiri yah *PISS*

Tuesday, January 19, 2010

Okkots, should we feel proud or shame of it? (Part 1)

Mungkin rekan rekan non-Makassar belum begitu familiar dengan istilah OKKOTS. Bagi rekan Makassar sendiri, istilah ini pastinya sudah sangat tidak asing bagi kita. Maklum OKKOTS itu selalu dan akan selalu ngetrend di Makassar.

What is Okkots?
Okkots adalah sebuah ekspresi bahasa yang umum digunakan di Makassar dan sekitarnya. Okkots sendiri bisa berarti menambahkan, mengurangi atau mengubah konsonan di ujung sebuah kata. Bentuk okkots yang paling sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah Okkots "N" dan "NG". Jadi, kata yang berakhir huruf "N" bisa menjadi "NG" begitu pula sebaliknya, kata yang berakhir huruf "NG" menjadi berakhir "N". Namun, ada juga bentuk okkots yang lain yang akan dibahas pada postingan selanjutnya.

Contoh:
Kata "makan" terkadang menjadi "makang" ==> penambahan konsonan "G" setelah huruf "N"
Kata "kandang" bisa berubah menjadi "kandan" ==> pengurangan konsonan "G".

Jadi berikut ada beberapa cerita mengenai okkots, cerita-cerita dibawah ini ada yang nyata ada juga yang hanya rekaan semata untuk tujuan bercanda

Mila and Makassar Driver:
Waktu itu Mila sedang berada di Makassar dalam rangka tugas kantor. Dan kantornya menyewa sebuah mobil untuk mobilitas Mila di Makassar. Dan inilah cuplikan percakapan Mila dan si Daeng pengemudi mobil:
Mila : Pak, sepertinya ban nya ada yang salah deh?
Daeng : Apanya Bu?
Mila : Ban nya Pak.....
Daeng : Ban yang mana Bu. Ban Danamong, Ban Mandiri atau Ban BNI..... (diucapkan dengan polos sambil konsentrasi menyetir)
Mila : ???!!!!??? (Pengen ngakak tapi gak enak sama si Driver).
Siapa yang mau coba DAGIN kuda? (Picture is taken from http://daone-kampungmayamacdhawanks.blogspot.com)

Desperate Housewife and the Makassar Husband.
Cerita ini tentang seorang istri yang menggugat cerai suaminya yang orang Makassar. Pada saat persidangan, terjadi tanya jawab antara si Istri (I), Suami yang orang Makassar (SyoM) dengan Pak Hakimyang bukan orang Makassar (HyboM).
HyboM : Ibu yakin mau menceraikan suami ibu?
I : Yakin pak 100%
HyboM : Kenapa sih, ibu ngotot banget menceraikan suami ibu?

Karena masih gak rela digugat cerai istrinya, sang suami langsung membela diri tanpa memberi kesempatan istrinya untuk menjawab:

SyoM : Saya juga heran ini pak Hakim, kenapa istri saya mau menceraikan saya. Sudah saya GANTEN, banyak UAN, ada mobil KIJAN, apa lagi YAN KURAN?
I : Kurang huruf "G", pak Hakim. (Dengan wajah pasrah).
HyboM : ??????? (Sepertinya pak Hakim BINGUN).

A Rock Band Addressing Their Fans
Sebuah band rock lokal sedang manggung di lapangan karebosi (salah satu landmark kota Makassar). Lapangan Karebosi sudah penuh dengan penonton saat band ini mulai manggung. Bermaksud menyapa para penggemar, sang vokalis mulai berkomunikasi dengan penonton dengan gaya yang jumawa.
Vokalis : SEMUANYA, MANA SUARANYA??? (terian kencang Sambil mengangkat tangan ke udara)
Penonton : *&^%***&^&^&*&*&^&^^% (semuanya berteriak lantang tak kalah garangnya)
Vokalis : BAGAIMANA YAN DI UJUUUUUUUUUUUN ???????
Penonton : (serentak dan kompak menjawab) AMAAAAAAAAAAAAAAAANG !!!!!

**********************************************************

Bwahahahaah (Picture is grabbed from http://sportygeek.blogspot.com/2008/08/okko.html)

Salah satu teman non-Makassar yang sudah berhasil saya racuni dengan virus OKKOTS adalah si mbak satu ini.

Cerita di atas tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan orang Makassar. Saya sendiri asli Sulawesi Selatan, mulut dan lidah saya sudah beratus kali mengucapkan OKKOTS tanpa sadar. Dan saya bangga akan itu. Menurut saya, OKKOTS itu bukanlah hal yang memalukan melainkan suatu hal yang perlu dilestarikan.

Bagi rekan yang akan melancong ke Makassar, OKKOTS bisa dijadikan suatu bentuk wisata bahasa yang cukup menghibur selain wisata kuliner tentunya (Ikan bakar, coto makassar dan konro di Makassar sangat terkenal lho).

Akhir kata:
Saya bukan OSELLA (Okkots Sejak Lahir)
Namun Saya Manusia Biasa
Jadi apakah saya layak dihina
Karena Okkots sekali sahaja?

Monday, January 11, 2010

Pondok Cinta, cara sehat memadamkan kelaparan


Kali ini, postingan nya tentang makanan lagi. Ah, akhir-akhir ini tulisanku banyakan tentang makanan yah.... Maap maap, bukan bermaksud bikin ngiler, tapi emang sekarang senang mencoba tempat-tempat makan yang enak. Hehehe....

Saya mau berbagi tentang sebuah tempat di plaza semanggi lantai 3A. Pernah nggak kalian lewat sebuah resto yang memajang gambar aktor aktris luar negeri di Plaza Semanggi? Yang sering ke studio 21 Semanggi pasti tau tempat ini. Awalnya, saya juga heran begitu melihat ada resto yang memajang poto-poto artis, waktu itu saya sempat berpikir ah ini bisa-bisanya yang punya resto aja biar restonya berkesan fancy. Setelah beberapa kali berkunjung ke tempat yang diberi judul LOVING HUT ini, saya baru sadar kalo poto-poto itu dipajang on purpose. Ternyata, aktor dan aktris yang fotonya terpajang adalah mereka yang vegetarian.

Loving Hut merupakan sebuah waralaba restoran cepat saji vegan. Vegan didefiniskan sebagai jenis diet vegetarian yang tidak mengonsumsi semua produk hewan dan turunannya serta produk sampingannya (seperti susu hewan, telur, kulit, madu, sutra, dll). Loving Hut sudah tersebar di beberapa negara, Jepang, Amerika, Taiwan, Vietnam, Singapura, Thailand dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, Loving Hut ada di Jakarta, Yogya dan Medan.

Meskipun resto ini menyajikan makanan vegan, namun bukan berarti yang non vegetarian tidak boleh masuk. Boleh kok, kawan. Saya contohnya. Saya bukan vegetarian tapi saya termasuk penggemar menu-menu yang ada di tempat ini. Saya mulai teratur mengunjungi loving hut sekali seminggu (biasanya weekend). So kalo ada yang lagi free pas weekend dan mo coba makanan di Loving Hut, don't hesitate to contact me. Syukur-syukur kalo mo sekalian traktir saya (www.ngarep.com).


Hainam rice set, one of my fav. Yang pink itu bukan udang lo tapi mushroom yang enak

Oh iya menu favorit saya di Loving Hut adalah Hainam set rice dan Nasi Lemak. Soal rasa, Loving Hut boleh diadu. Meskipun tidak pake daging, tapi olahan jamurnya yang menyerupai daging benar-benar enak dan membuat lidah serasa mengunyah daging. Bagi yang suka makan sate ada fancy nut satay yang tak lain dan tak bukan sate jamur yang uenak tenan (meniru logat orang Surabaya). Jangan khawatir bagi yang berlidah lokal, tempat ini menyajikan banyak menu tradisional seperti pepes tropical rice, happy timbel rice, dll. Selain itu, menu snack rainbow roll, jolly roll, potato skin dan spring roll nya gak kalah maknyusnya. Hehehehe. Masih banyak menu lain yang bisa dicoba disini. Menu lengkap nya bisa diliat disini.


Potato skin, gorengan sehat ala Loving Hut.

Selain rasa, harga di Loving Hut lumayan terjangkau untuk kocek saya. Pelayan nya pun ramah. Saya sangat terkesan dengan salah satu pelayan bernama mbak N*****a yang sangat ramah dan tak pernah berhenti menyunggingkan senyum ke pengunjung. She is cute and adorable.

Saya sendiri telah berhasil mengajak beberapa teman ke tempat ini, Achie, Opa Mymonas, mas Krisna dan Retri. Overall, mereka puas dengan tempat ini.

Setelah mencoba makanan di Loving Hut, mindset saya tentang vegetarian banyak berubah. Saya dulunya berpikir betapa susahnya seorang vegan/vegetarian mencari makanan. Akhirnya, saya sadar vegan/vegetarian pun bisa makan makanan seenak mereka yang non-vegetarian, asalkan yang bersangkutan bisa kreatif mengolah makanan. Semoga semakin banyak resto resto vegan yang terjangkau di sekitar kita, resto vegan yang tak hanya sehat tapi juga enak dan terjangkau.

Ayo siapa lagi yang mo nyusul ke Pondok Cinta? ;)



Thursday, January 7, 2010

Wisata Bahasa di Kuala Lumpur

Pada saat akan melakukan backpacking ke Singapore dan Kuala Lumpur, beberapa teman kurang setuju dengan destinasi yang saya pilih, KUALA LUMPUR. Waktu itu memang sedang hangat-hangatnya kasus Manohara dan kasus perampasan seni budaya Indonesia oleh Negeri Jiran. Ada yang bilang: "Kenapa sih Pu, harus ke Malaysia, kenapa gak negara lain aja?"

Jawabannya sih simpel, karena pengen ke Malaysia aja. Maklum lah, belom pernah ke KL yang terkenal itu. Apalagi, Almarhum Etta (Etta adalah panggilan saya kepada Alm. Bapak. Salah satu kata sandang dalam Bahasa Bugis untuk memanggil Bapak/Ayah) pernah menghabiskan waktu di Malaysia selama sekitar 10 tahun sebagai pahlawan devisa Indonesia. Jadi masa kecilku kuhabiskan mendengarkan cerita Etta tentang Kota Kinabalu, Kuala Lumpur, dan beberapa kota-kota lain di Malaysia.

Meluapkan kegembiraan di depan twin towers
Begitu tiba di Kuala Lumpur, ternyata saya, Mila, Lenia dan Gunar tidak hanya menikmati pemandangan. Tapi kami menikmati sebuah bentuk wisata yang unik, kami menamakannya Wisata Bahasa. Apa pula Wisata Bahasa itu? Mengingat Indonesia dan Malaysia serumpun, berarti akan banyak persamaan bahasa ditemukan di kedua negara ini. Namun, perbedaan juga tentunya ada. Nah, dalam Wisata Bahasa kami mencoba melihat perbedaan-perbedaan itu, dan menjadikannya sebagai bahan candaan. Hasilnya, kami benar-benar harus ber-lmao (laughing my ass off) akibat kelucuan-kelucuan perbedaan bahasa yang kami temukan. Untungnya, Mila begitu fokus memotret setiap kalimat yang menurutnya penting diabadikan.

Pengurup Wang Berlesen, maksudnya Authorized Money Changer :p
Next:

and


Rumah tumpangan atau Penginapan Pengembara yang mungkin maksudnya Youth Hostel atau Penginapan untuk Backpacker :)
Next


Laluan Sehala, yang berarti Jalan Satu Arah a.k.a One Way
Next:

"Lorong Bus" dan "Kecuali Hari Ahad dan Kelepasan AM". Hmmmm ada yang berminat membantu menerjemahkan yang ini? :)

Tandas Awam, yang artinya WC Umum. Jadi yang mau tandas, disini ajah Hehehehe

Nah, Kalo bangunan ibu pejabat artinya apa yah?? Hehehe, kira kira maksudnya Kantor Pusat, hmmm

Ada satu kejadian lucu. Waktu itu, kami melewati sebuah museum dengan menggunakan Hop on hop off bus. Dan di gerbang museum ada tulisan: PERCUMA.
Sontak, saya dan teman-teman ngakak, soalnya menurut pemahaman kami, maksud kata PERCUMA tadi adalah: Percuma aja masuk ke museum ini, ga ada apa apa nya. Hehehehe. Indeed, PERCUMA di Malaysia berarti GRATIS a.k.a For Free.

Wisata bahasa ini terbukti, bisa menjadikan perjalanan kami menjadi lebih menyenangkan. Apalagi kami ditemani oleh sepupu ku yang sudah tinggal di KL selama 10 Tahun. Thanks Fadli for accompanying us.

Saya jadi membayangkan, gimana yah kalo wisatawan dari Malaysia berkunjung ke Jakarta atau kota-kota lainnya di Indonesia. Apa mereka ngakak juga yah membaca papan papan petunjuk yang ada di Indonesia?

Do you have some more to share? Feel free to share it here. :)