Wednesday, December 30, 2009

Charlie, the Angels and The Guru Walking Walking to Cirebon


Mendengar kata Cirebon, yang pertama terlintas di kepala pastilah "PANAS". Yup, harus diakui karena lokasi yang dekat dengan pantai, Cirebon memang panas. Tapi apa sih yang menarik dari Cirebon? Let's check it out....

Perjalanan saya ke Cirebon kali ini ditemani oleh empat orang teman yang ribut nya minta ampun, Pagit a.k.a Jangdu , Debi a.k,a Pipit, Lili a.k.a Jangtu, dan Ferdi, the Guru. Dengan menunggang Cirebon Ekspress, kami (minus Ferdi, yang nyusul kemudian) bertolak dari Jakarta pada tanggal 18 Desember sore. (FYI, December 18 was my birthday lho....). Bukannya tidur di kereta, para charlie's angels ini malah sibuk guyon... bikin tebakan garing. (trust me, tebakan tebakan yang dikeluarkan bener-bener garing).
Tulisan Jinem Pangrawit di atas bermakna: Tamu yang Baik/Berniat Baik

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Cirebon:
  1. Wisata Kuliner
  2. Wisata Belanja
  3. Wisata Sejarah
Mari kita break down satu satu:

1. Wisata Kuliner.

Kami di Cirebon beruntung mendapatkan rumah tumpangan gratis dari temennya Pagit. Rumahnya kosong, gede dan gak spooky. Setelah mendarat di Cirebon, dan menyimpan bawaan di tempat homestay, kami mencoba mencari tempat makan. Kali ini kami mencoba tempat makan yang paling dekat dengan lokasi homestay, dan kebetulan tempat makan ini memang cukup terkenal, namanya RM. Seafood H. Moel. Rumah Makan yang terletak di Jalan Kalibaru Selatan Cirebon ini menyajikan menu seafood yang bervariasi, beraneka jenis ikan, serta udang, kepiting dan cumi. Semuanya worthy to try deh. Jadilah malam pertama kami di Cirebon kami habis kan dengan berpesta seafood. Rasanya lumayan sih, tapi masih kalah sama seafood Makassar, heheheh. But still, this place is recommended when you go to Cirebon.
RM. Seafood and Chinese Food H. Moel (Pic is taken from this restaurant's website)

Tempat makan lain yang saya suka adalah Nasi Jamblang di daerah Pelabuhan. Disarankan untuk datang ke tempat ini pagi-pagi. Saya dan rombongan memang menargetkan tempat ini sebagai tempat untuk sarapan. Bagi yang belum tau, Nasi Jamblang adalah nasi yang dibungkus daun jati dan porsi nya mungkin seperti nasi kucing di angkringan Yogya. Warung Nasi Jamblang Pelabuhan sudah sangat rame ketika kami sampai. Malah ada yang sampai antri untuk duduk. Lauk yang ditawarkan disini bermacam-macam: cumi hitam, ikan tongkol bumbu rujak, sambal racik khas untuk menu jamblang, perkedel kentang, sambal usus, sate usus, sate telur puyuh, tempe, tempe bacam ala jamblang, sate kentang, mendoan, tahu kining, telur pindang, ati ampela, hati sapi, telur dada dan jengkol. Tinggal pilih dan langsung bayar. Tempat nya mungkin gak spesial tapi nasi jamblang dan lauk-lauk yang ada di tempat ini sungguh enak. Gak perlu khawatir kantong jebol disini, makanannya murah murah. DIJAMIN!!
Pilih-pilih menu di Warung Nasi Jamblang Pelabuhan (picture is taken from http://papabonbon.wordpress.com)

Rekomendasi tempat makan terakhir adalah: Empal Gentong di depan stasiun. Tempatnya sama sekali ga mencerminkan kalo makanannya enak. Suasananya malah cenderung pengap. Si Pipit sempat ragu apakah kami memasuki tempat makan yang tepat. Bahkan, si Jangtu sampe ngancem ngancem gitu, mo nendang saya keluar warung kalo kali ini makanannya gak enak. But once the foods were served, semua kru jalan jalan kali ini memuji rasa makanan yang disajikan. Semuanya pun khidmat mengheningkan cipta di depan seporsi empal gentong yang nikmat bin sedap. (Alhamdulillah ga jadi ditendang). Makanan berbahan dasar daging ini memang enak enak enak enak.

Empal Gentong (Picture is taken from http:gettingaway.wordpress.com)

2. Wisata Belanja

Cirebon, selain terkenal akan Empal Gentong dan Nasi Jamblangnya, juga terkenal dengan corak batik Mega Mendung nya. Hari kedua di Cirebon, kami habiskan dengan hunting batik di kawasan Batik Cirebon yang terkenal, Trusmi. Sama seperti kawasan Kauman di Solo, Kawasan Trusmi sangat pas dijadikan tempat belanja batik. Harga nya pun bervariasi tergantung selera dan kemampuan. Saya sendiri tak begitu maniak dengan batik, cobalah lihat koleksi batik yang saya yang rata-rata batik pemberian atau hadiah dari teman. Namun, begitu memasuki kawasan Trusmi, saya seolah kerasukan setan batik, jadi ikut-ikutan para angels (Jangdu, Jangtu dan Pipit) untuk mencari batik.. Dan Alhamdulillah, dapat juga batik yang saya inginkan dengan harga IDR 50.000. Murah kan? Heheheh. Ferdi juga berhasil mendapatkan kaos batik kualitas bintang 5 dengan harga kaki lima (Jyaaah jadi ingat tagline sebuah resto seafood).
Corak batik mega mendung khas Cirebon (picture from http://indofamily.net)

3. Wisata Sejarah
Singa Barong nan Agung
Sejak kunjungan ke Keraton Solo, saya yang semula acuh tak acuh dengan sejarah jadi merasa tertarik mempelajari sejarah. Kali ini, saya, Jangdu dan Jangtu menghabiskan Sabtu pagi itu di Keraton Cirebon. Dilihat dari luar, hanya tampak seperti Gapura tua yang biasa saja. Tiada yang menyangka kalo tempat ini di masa silam pernah menjadi pusat pemerintahan.
Dengan ditemani seorang abdi dalem (orang dalam Istana), kami mengelilingi tempat ini. Kami banyak bertanya-tanya pada sang abdi dalem. Banyak hal-hal menarik yang kami pelajari. Kami juga banyak melihat benda-benda peninggalan kerajaan dan mendengar sejarah tentang Cirebon. Saya sangat terkesan dengan kereta Kerajaan Cirebon. Di Keraton Solo dan Yogyakarta, kereta kerajaan pada umumnya berasal dari Eropa. Tapi, di Keraton Cirebon, kereta Kerajaannya asli made in Indonesia. Dirancang oleh orang Indonesia asli bernama Pangeran Losari. Kereta buatan beliau ini dinamakan Kereta Singa Barong. Kata sang abdi dalem, Kereta ini nampak anggun saat dijalankan karena sayap nya ikut bergerak bak terbang. Sayangnya, kereta ini sudah tidak bisa dijalankan lagi.
Ada yang membuat saya gembira saat berkunjung ke kraton ini, saya bertemu dengan sejumlah anak anak muda Indonesia keturunan Tionghoa yang ikut tur mengelilingi tempat ini. Mereka terlihat menyimak dengan tekun setiap penjelasan. Ah senangnya saat melihat bahwa ternyata masih ada yang ingin mengetahui latar budaya bangsa sendiri. Semoga makin banyak anak muda negeri ini yang gemar berkunjung ke situs situs bersejarah.
Dulu, Sultan Cirebon dan keluarganya ngaso disini lho.
Sebelum menutup cerita di blog ini, ada sebuah tebak-tebakan garing yang bikin kami terpingkal-pingkal setengah mati saking nggak lucunya di kereta, sampe-sampe seisi gerbong menoleh jengkel ke kami saking ributnya:

APA YANG DITUSUKKAN KE BAYI??

Ditunggu jawabannya yah... Hehehehe.

Monday, December 14, 2009

Curug Cilember dan Bonanza Mode


Udah pada pernah ke Curug Cilember belom? WHAT???.. belom?? wah wah wah, bagi yang berdomisili di Jakarta dan belom pernah ke tempat ini, sebaiknya segera mengagendakan kunjungan ke tempat ini deh, soalnya tempatnya asyik dan suejuk.


Pelakon Kali ini: Ki-Ka: Esti, Cipu, Dhodie, Achie dan Amri

Sabtu lalu, saya dan rekan rekan plurkers, Dhodie, Achie, Esti dan Amri akhirnya mewujudkan niat bersama untuk jalan bareng ke Curug Cilember, sebuah niat suci mempererat silaturahmi (Halah). Meeting point nya di Kampung Rambutan pukul 7.30. Namun karena satu dan lain hal, kami baru bisa sampe ke Kampung Rambutan sekitar pukul delapan lewat sedikit (melirik Dhodie dan Esti)

Perjalanan ke Curug Cilember kami mulai dengan naik bus jurusan Cianjur (Ongkosnya Rp. 20.000). Memang susah menemukan tempatnya bagi yang pertama kesana karena gak ada plang khusus penunjuk arah. Dan Curug Cilember ini lokasinya tidak di pinggir jalan, melainkan masih harus dilanjutkan dengan naik ojek bertarif 15000 rupiah (yang jago nawar, mungkin masih bisa dapet 10 rebu).

Singkat cerita, kami tiba di Curug Cilember pukul 10-an. Kami memesan nasi bungkus dulu sebelum masuk ke Area Curug Cilember biar gak kelaparan pas hiking. Setelah membayar karcis masuk (Rp. 10.000 buat yang cakep dan cantik, yang ga cakep dan ga cantik GRATIS kok), kami langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan. It was green everywhere. Pohon pinus mengelilingi kami ditambah sebuah kubah cantik tempat penangkaran kupu kupu. Serasa tidak ingin beranjak.
Salah satu foto di Curug 5
Curug Cilember sebenarnya terkenal karena tempat ini memiliki 7 air terjun. Jadi, dimulai dari air terjun paling bawah yang diberi nama Curug 7, kita bisa melanjutkan perjalanan ke atas sampai Curug 1. Curug 7 boleh dibilang curug paling rame karena letaknya paling bawah, dan di tempat ini warung-warung masih mudah ditemukan. Setelah puas berfoto di Curug 7, kami melanjutkan perjalanan ke Curug 5 (we skipped curug 6). Dibutuhkan tenaga ekstra untuk sampai ke Curug 5 karena jalannya mulai menanjak (Tips #1: Gunakan alas kaki yang cocok untuk hiking, hindari penggunaan sendal jepit, apalagi high heels). Akhirnya, kami sampai ke Curug 5 dengan sedikit ngos-ngosan. Berkat kelihaian pengarah gaya kami, kami berhasil membuat beberapa pose pose menakjubkan di Curug 5, sampe sampe pengunjung lain amazed melihat gaya KREATIF dan TAK TAHU MALU kami.

Setelah puas berfoto-foto, saatnya kami membuka bekal nasi bungkus. It's lunch time. Makan rame-rame ditemani gemericik air sungai memang menyenangkan, makanan terasa so so lezat. Hehehehe (Inggrais mode: ON). Di Curug 5, jumlah pengunjung tak sebanyak di Curug 7, karena memang dibutuhkan tenaga ekstra untuk sampe ke tempat ini. Tapi, jangan khawatir bagi yang baru pertama kali kesini, ada jalur setapak kok yang bisa diikuti, jadi kita tinggal mengikuti setapak saja jika ingin mencapai curug-curug yang ada di atas.


Makan ditemani gemericik air sungai... mmm slllrrrppp yummy

Curug 7 yang menawan
Puas bermain di Curug 5, kami terus menuju Puncak karena kami ingin melihat Curug 1 yang letaknya paling di atas. Kami melanjutkan hiking yang jalurnya makin menanjak. Tapi hiking sekian lama, kami tak kunjung menemukan air terjun. Memang beberapa kali kami berada di persimpangan setapak, dan kami selalu memilih setapak yang lebih besar. Ternyata setapak yang lebih kecil itu merupakan tanda ke curug curug selanjutnya. Dan memilih setapak yang lebih besar berarti melanjutkan ke Curug yang lebih tinggi lagi. Kami sudah melewatkan dua setapak kecil artinya kami sudah melewati Curug 4 dan Curug 3 tanpa sempat mampir. Kondisi pun makin drop, Achie sampe ketinggalan di belakang. Akhirnya kami memutuskan turun sebelum sempat sampai di Curug 2. Pas turun, kami menyempatkan mampir ke Curug 3 meski medan menuju ke Curug 3 bener-benar curam. (Tips #2: Bawaannya jangan terlalu banyak kalo ingin menelusuri curug curug ini, soalnya medannya lumayan berat untuk mereka yang baru pertama kali hiking, seperti saya).

Another shot from Curug 5, title: Basah basah basah seluruh tubuh :p
Di curug 3, kami sudah tidak menemukan pengunjung lain ( Ya iyalah, sapa juga yang mau berpayah-payah sampe ke Curug 3). Kesempatan bagi kami berpose memalukan tanpa diiringi tatapan aneh pengunjung lain. Amri sudah jadi tumbal pertama kepeleset di bebatuan dan celananya basah sampe ke dalem dalem, Achie dimangsa pacet, dan Esti sampe harus teriak-teriak karena mendapat serangan serangga. Hehehehe. Disini, saya, Dhodie dan Amri sudah kepalang basah....(padahal saya tidak membawa daleman, huhuhhhu). Tapi it's oke lah demi suksesnya sesi pemotretan. (Tips#3: Bawa baju ganti, celana ganti dan CD ganti)

Medan turun gak kalah serunya, harus ekstra hati hati karena licin. Dhodie pun jadi korban berikutnya dengan mencatat hatrick kepeleset. Dan tumbal terakhir nya adalah SAIA yang ikut kepeleset sekali, and my ass successfully kissed the ground. AUCH. Diiringi langit yang makin berawan, kami terus turun sampai akhirnya kami kembali ke Curug 7 sekitar jam 4.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan perkebunan teh dengan naik Ojek. (Ongkos Rp. 25.000). Meski jalan ke Puncak macet banget saat weekend, abang tukang ojek yang membawa kami tak begitu menemui kesulitan mengantarkan kami ke kebon teh. Sampai disana, kami langsung disambut oleh 5 kuda yang ramah dan menanti untuk ditunggangi dengan tarif Rp 20.000. Kupilih kuda coklat bernama Bella, mungkin nama lengkapnya Laudya Cintya Bella, hehehe or Bella Saphira, but I don't care selama Bella tetap bisa membawaku mengelilingi kebon teh. . Awalnya si Bella ini tak bersahabat, tapi lama kelamaan Bella sadar kalo saya adalah penunggang yang baik hati, tidak sombong, tidak makan sabun dan tidak makan plastik; Bella pun akhirnya menjinak dan mau nurut. Sesi pemotretan di lanjutkan sambil berkuda dan setelah itu di kebon teh. Such a wonderful afternoon.

Serasa koboi koboi nya Bonanza, All for one, One for all, Jyaaaaaah lebay
Setelah itu, kami beranjak meninggalkan kebon teh menuju Mesjid Ta'awun untuk sholat maghrib. Tapi lama kami menunggu, tak kunjung ada angkot yang lewat karena efek macet di bawah. Kami pun mencoba hitchhike, dan BERHASIL.... Kami menumpang si sebuah pick up bersama dengan beberapa pemuda yang niat jualan di Mesji Ta'awun juga. Dasar geng narsis, di mobil pick up pun, kami masih terus berfoto sampe-sampe orang di sekeliling mendelik aneh. Bur whatever, we don't care. (Ongkos HITCHIKE: Sepuluh Ribu buat Berlima)

Kasep dan geulis, sayang agak sedikit gelo
Sampe di Mesjid Ta'awun, kami langsung sholat dan makan malam sambil merayakan ulang tahunnya Amri. Happy B'day Bro, Thanks Traktiran Makan Malamnya.... Heheheh.

Dan kami pun pulang dalam dengkur menuju kampung rambutan dengan bus. yah, Ke Jakarta Kami Kan Kembali.

Can't wait for our next trip......

Special thanks to Dhodie and Achie for providing the pictures for free (Ga pake royalti kan??)

Wednesday, December 9, 2009

Beternak Jamur di Jejamuran



Apaan sih judulnya? hehehe ga papa lah berlebayhan sedikit.

Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah tempat makan yang enak, oleh-oleh dari perjalanan saya ke Yogyakarta minggu lalu.

Sebelum berangkat, saya sudah dipesan sama temen kantor untuk menyempatkan diri mampir di sebuah rumah makan murah dan baik yang berjudul "JEJAMURAN" di wilayah Sleman. Dari namanya, sudah bisa ditebak kalo menunya pasti JAMUR. Dan memang, rumah makan ini khusus menyajikan makanan olahan yang terbuat dari Jamur.

Berbekal alamat yang saya peroleh di beberapa website, saya dan mbak Wanty (office mate, red) telah berniat dengan tulus untuk berkunjung ke tempat ini. Sambil sibuk tanya sana tanya sini ke teman-teman kami di Yogya tentang cara menjangkau tempat ini via public transport, kami juga mencoba melihat apakah ada di antara teman-teman yang bisa dengan ikhlas memberikan tumpangan. Dan akhirnya, saya dan mbak Wanty tidak hanya mendapat tumpangan, tapi juga ditemenin makan, malah sekalian ditraktir. Asyiiiikkk.

Tapi untuk rekan-rekan yang ingin mencoba ke sana, kira-kira cara sampai kesana adalah: Dari arah Yogya - Magelang, lewati Jalan Magelang sampai perempatan traffic light Beran (KM 12), Sleman. Dari traffic light, belok ke arah utara menuju Niron, Pandowoharjo. Jejamuran terletak 800 m sebelah utara traffic light tersebut di sebelah kiri jalan.

Selepas sholat Jumat, kami bertolak dari Jayakarta Hotel menuju ke JEJAMURAN. Hanya butuh sekitar 45 menit untuk mencapai tempat ini. Begitu sampai, kami memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, saya dan teman-teman menyempatkan diri melihat-lihat proses "beternak" jamur ala jejamuran. Ternyata, Jejamuran bukan hanya rumah makan sahaja, tetapi Jejamuran juga memproduksi jamur sendiri. Gambar-gambar berikut menunjukkan media-media yang mereka gunakan untuk "beternak" jamur.




Media Jamur




Jenis-jenis jamur yang "diternakkan" di JEJAMURAN

Tak lama kemudian, makanan yang kami pesan pun datang. Menu yang terkenal disini adalah sate jamur dan jamur crispy. Tapi, kami tidak hanya memesan itu saja, kami juga memesan sup jamur, jamur bakar pedas, tongseng jamur dan pepes jamur. Berikut gambar makanannya



Sup Jamur, Pepes Jamur, Jamur Crispy dan Jamu Bakar Pedas




Jamur bakar pedas, Sate Jamur dan tongseng jamur

Suasana hening selama beberapa saat di meja kami, karena semuanya menikmati makanan nya dengan khidmat. Harus saya akui kalo jamur jamur ini bener bener enak, they tasted like meat. Apalagi sate nya. mmmm rasanya bener-bener bikin nagih. Jamur bakar pedas nya juga direkomendasikan bagi mereka penggemar makanan pedas. Ada juga sup jamur yang tak kalah enak, semula saya pikir yang di sup itu bakso ikan, ternyata bukan, yang bener adalah BAKSO JAMUR. Kebayang gak rasanya?? Pokoknya enak deh. (sambil ngacungin dua jempol)

Saya jadi berpikir, kalo jamur bisa diolah seenak ini, orang-orang pasti bisa mengurangi konsumsi daging dan lemak. Atau yang lagi diet daging bisa mencoba makanan ini. Pun, bagi mereka yang suka makan daging, bisa mencoba menu-menu ini, setidaknya sebagai alternatif kalo lagi bosan makan daging.




My favourites: Jamur Bakar Pedas dan the Famous Sate Jamur

Kisaran harga untuk tiap porsi makanan di rumah makan ini adalah IDR 8000 - 15000, terjangkau bukan?? Nah, tunggu apalagi.... buat yang lagi ke Yogya, segera deh ke Jejamuran, gak bakal rugi kok.

Special thanks to:
Mbak Wanty, yang telah menemaniku menunaikan tugas suci ini dan atas foto foto nya yang menggugah selera
Mbak Dini dan Mbak Yani, untuk info-info menu yang direkomendasikan di Jejamuran
Mbak Vera, atas tumpangan dan traktirannya. Hopefully, your baby soon be born and be exactly like his/her mom.