Monday, September 28, 2009

Idul Fitri Kemarin.....

Seperti tahun kemarin, kali ini saya kembali merayakan Idul Fitri di kampung halaman tercinta nun jauh di sana, tepatnya di Sidrap, 190 km sebelah utara Makassar. Saya memang sengaja mengambil cuti biar bisa berpuasa di kampung beberapa hari dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga (Isn't that what we all want?).
Keluarga kami memiliki ritual yang sama tiap tahun saat merayakan Idul Fitri. Setelah Sholat Ied, biasanya kami berkumpul di rumah salah seorang saudari mama, dan sudah menjadi Fardu Ain bagi setiap anggota keluarga untuk bergegas ke rumah tanteku ini segera setelah Sholat Ied selesai. (Fardhu Ain maksudnya wajib datang, kalo nggak datang, nggak dapat angpao, heheheh). Jangan ditanya, betapa nikmatnya beridul fitri dikelilingi keluarga dan makanan enak,apalagi kalau saudara-saudara yang dari daerah jauh juga turut merayakan lebaran di kampung. Panjangnya perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke Sidrap serasa terbayar saat berkumpul bersama keluarga plus makanan enak.
Menikmati makanan di meja 1....
Selepas sholat ied, ritual makan pun dimulai. Setelah itu, saya menambahkan sedikit detail dalam ritual tahunan kami ini:
  1. Lempar uang. Acara ini terselenggara atas kerjasama saya dan sepupu sepupu yang sudah memiliki penghasilan. Kami mengumpulkan uang dan menghamburkannya di depan sepupu sepupu kami yang masih kecil (baca: yang belom sekolah, yang sudah TK dan SD). Suasana riuh sekali, karena kami juga ikut berpura-pura ikut rebutan bersama sepupu-sepupu kecil kami. Kekerasan sempat terjadi saat sepupu ku yang paling kecil berusaha menyerang kakak nya karena kakak nya berhasil merebut duit terakhir yang tersisa. Lesson Learnt: Uang bisa membutakan mata, saudara saja bisa diembat gara-gara duit Wakakakak.
  2. Rebutan Duit
    Dua sepupu dan hasil angpao nya
  3. Facebook Inspection. Ini juga adalah ide jahil saya. Ternyata sepupu-sepupu saya sudah banyak yang memiliki akun facebook termasuk mereka yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Jadi, saya iseng membuka facebook dan mencoba membuka profile mereka satu per satu. Salah seorang sepupu yang masih duduk di kelas 2 SMP menulis status begini: MARAH KARENA CINTA yang disambut teriakan menggoda om-om, tante-tante dan sepupu-sepupu yang lain. Ada juga sepupu yang menulis status begini: KEMARAHAN ADALAH SUATU HAL YANG MEMBUAT HUBUNGAN JADI HANCUR. Sekali lagi, keluarga bersatu padu menggoda sang sepupu. Tak sampai disitu, sepupu-sepupu ku juga berniat balas dendam, mereka mencoba membuka profile ku, untungnya saya jarang update status, kalaupun update saya biasanya nulis in English, fiuhhhhh lega, terlepas dari godaan keluarga. Lesson Learnt: Ternyata sepupu-sepupu yang lebih muda jauh lebih puitis dari seniornya. And they successfully crowned me as "the evil of the month". Bangganya dapat julukan itu wakakakak.
Selepas Idul Fitri, nafsu makan ku menggila, saya sampai tiap hari nyatronin penjual bakso langgananku, dan sekali datang ke warung bakso itu, saya pasti abis 2 mangkok, malah kadang 3 mangkok. Sepupu-sepupu ku saja takjub melihat "sense of Bakso" ku yang begitu tinggi.

Walhasil, inilah beberapa hasil "eating disorder" ku:
  • Sakit perut yang melilit selama dua hari saat balik ke Jakarta (gara-gara tergoda makan sop ubi di mall Panakukang Makassar)
  • Leher terasa terkunci, diduga karena kolesterol (kebanyakan makan daging --> wah kudu beralih jadi vegetarian nih)
  • Tekanan darah naik hingga mencapai level 145 (woot)
  • Biang keringat di daerah leher (entah apakah ini juga imbas dari "eating disorderku", tapi ya sudahlah dimasukin ke list ini saja), tapi jangan khawatir sudah sembuh kok, abis pake Herocyn. Untungnya biang keringat nya tidak berkomplikasi dengan panu, kudis, kurap dan sejenisnya. Thanks Lord.
Sekian dulu laporan Idul Fitri dari Agen Non-Aquarius. (Nah loh)

Sunday, September 20, 2009

Contemplation, a ritual prior to Idul Fitri

Semalam sehabis buka puasa, suasana sempat lengang, tak seperti suasana malam malam Ramadhan sebelumnya. Kali ini jalan-jalan di kampungku lumayan sepi. Semuanya menanti sidang Isbat, and then last night was finally decided that 20-09-2009 is the day of Idul Fitri. Dan bencana pun dimulai, petasan tak berhenti dibunyikan, tak hanya petasan made in factory tapi juga petasan bambu yang pake karbit. Awalnya, saya tidak merasa masalah dengan bunyi petasan, tapi lama-lama mengganggu juga. Malam Idul Fitri yang seharusnya dipenuhi dengan takbir, tahlil dan tahmid harus kalah dengan bunyi petasan yang notabenenya diperuntukkan untuk menyambut hari kemenangan. Namun, mungkin seperti itulah cara orang merayakan kemenangan meski cara tersebut tidak pernah menjadi preferensi saya.

Yang membuat agak jengkel adalah mama yang sakit sakitan sepertinya tidak pernah tidur nyenyak tadi malam, plus tetangga yang anaknya baru dua bulan juga harus begadang mendampingi anaknya sampai pesta "PENYAMBUTAN IDUL FITRI" itu berakhir. And fiuhh akhirnya memang selesai jam 3 subuh. Entah berapa investasi yang mereka tanam untuk membuat suara ledakan yang dahsyat itu, mending dibeliin es krim, dapat berapa tuh?? hehehe dasar gembul.

Tak ingin terdengar serius, tapi saya cuman sedang mikir aja, apakah memang sebuah perayaan kemenangan harus dilakukan dengan cara yang mungkin tidak membuat orang lain happy? Lagian juga selama Ramadhan kita belom tentu menang kan?? Ahhh kadang esensi sebuah momen memang harus hilang atau terpinggirkan karena kurang memahami makna momen tersebut. Today, 20-09-2009, I feel something missing, my holy Ramadhan.

PS: Picture is taken from www.randomclipart.com



Sunday, September 13, 2009

Call me Charlie


Mall dimana-mana pasti sangat rame menjelang buka puasa, khususnya di food court dan restoran. Kebetulan Sabtu kemarin, saya berbuka puasa bersama teman di sebuah restoran di Pejaten Village. Tapi karena telat nyaplok tempat, kami harus mengantri untuk bisa dapat giliran makan di restoran itu. Kenapa gak ke restoran lain atau ke food court? Jawabnya: Restoran lain sama rame nya, food court malah lebih parah lagi, pengunjung lebih kalap disana.

Singkat cerita, untuk mendapatkan tempat duduk, pengantri harus melaporkan namanya ke seorang waiter yang ditugaskan untuk mengatur antrian masuk. Berikut cuplikan percakapan antara Waiter(W), Esi (E) --> seorang wanita yang antri di depanku dan saya sendiri (S), percakapan ini di tengah hingar bingar musik di luar restoran yang cukup memekakkan telinga.
W : Namanya siapa mbak?
E : Esi (dengan nada yang cukup tinggi agar suaranya terdengar jelas)
Si Waiter pun menulis: K E S I
E : Salah mas, ESI, gak pake K
Si Waiter kembali menulis: D E S I
E : Aduh mas, gak pake D, cukup ESI
Si Waiter menyerah, dan menyerahkan pulpennya ke mbak Esi and let her write her own name. Selanjutnya tiba giliran saya untuk didata (ahh seperti sensus saja), pulpen kembali berpindah ke tangan si Waiter.
W : Namanya siapa mas?
S : CIPU , Charlie India Papa Uniform
W : Oke Mas Charlie, berapa orang? (Sambil menulis C A R L Y di buku tulisnya)
S : Mas, nama saya bukan CARLY, tapi CIPU
W : Gak papa mas, CARLY aja yah, udah ditulis juga
S : ?????? (Sompret, emang lo pikir nama gampang diganti)

Tak berapa lama kemudian, kami pun dipanggil karena sudah ada tempat kosong. Untungnya, tempatnya sangat nyaman, outdoor dan bisa melihat view jalan. Kedongkolan tadi sedikit berkurang. Selanjutnya kami memesan makanan. Namun, ada kejadian lucu, sebelum makanannya datang, waiter sempat membawa sebuah piring kecil yang diatasnya da tisu, sendok dan garpu. Pada saat meletakkan piring tersebut, si waiter sempat berkata dengan sopannya: "SILAHKAN". Saya sempat freeze sejenak, mencoba meyakinkan diri, sambil memandangi teman yang lain yang juga ikut freeze, tadi kami dipersilahkan makan sendok dan garpu yah?? Restoran yang aneh, untung makanannya enak.

Setelah acara buka puasa, kami rencana pulang ke tempat masing-masing. Dan sempat melewati panggung hiburan yang diselenggarakan oleh pihak mall untuk menyambut Ramadhan. Nampak seorang vokalis band sedang diwawancarai oleh sang host acara. Let's say si Vokalis (V) dan si Host (H):
H : Boleh tahu nama vokalisnya siapa?
V : Daffa ....
H : Java????
V : Bukan, Daffa mas
H : Gaffa
H : D A F F A mas, D... D... DELTA
H : ohhh Delta... Penonton, kita sambut penampilan DELTA
Saya dan temen: WHAT???

Kuputuskan bahwa hari Sabtu itu adalah Spelling DAY.... Wakakakak.

Tuesday, September 8, 2009

Backpack pertama ku

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan 5 tahun yang lalu, sebuah perjalanan nekad untuk seorang anak kampung yang baru 2 bulan di Jepang tanpa kemampuan cas cis cus Bahasa Jepang yang mumpuni. Kebetulan, saya berencana keliling Jepang bersama 4 teman sekelas saya (Katarina-Slowakia, Samuel - Prancis, Yama - Vietnam, Martin - Slowakia) di Jepang untuk mengisi libur natal dan tahun baru. Namun, karena ternyata saya harus ber-arubaito (part time job) di sebuah pabrik kimchi, saya terpaksa merelakan keempat teman saya untuk ber backpacking ria duluan. Dan, saya berkeputusan untuk melakukan backpacking sendiri as a lone ranger. Mengingat keterbatasan budget dan keterbatasan waktu, saya akhirnya memilih 3 kota untuk saya kunjungi, Fukuoka (yang cuman 45 menit naik kereta dari Saga, tempat tinggalku), Kyoto dan Nara.

Langkah pertama, tentunya harus membeli tiket. Kereta api sepertinya pilihan yang pas untuk kantong mahasiswa kere seperti saya. Apalagi ada tiket Juhachi Kippu yang memang cocok untuk mahasiswa pendatang, tiket ini memberikan kita kebebasan untuk menggunakan kereta api ekonomi ala Jepang kemanapun selama 5 hari dengan hanya membayar 11.500 yen. Laiknya kereta ekonomi di Indonesia, kereta ini pastinya berhenti di setiap stasiun. Jadi jangan membayangkan naik shinkansen the bullet train dengan Juhachi Kippu... impossible.

Kota pertama yang saya tuju, Fukuoka. Keberangkatan ke Fukuoka sih cetek, soalnya cuman 45 menit naik kereta. Berbekal milis PPI (PerhimpunanPelajar Indonesia) Fukuoka, saya berhasil mendapatkan tumpangan gratis di rumah salah seorang teman yang juga se-almamater dengan saya. Cihui, save money save money. Heheheh.

Semalam di Fukuoka, saya melanjutkan perjalanan ke Kyoto. Saya memilih berangkat malam, karena ternyata dengan Juhachi Kippu tadi, saya bisa naik kereta Kyushu Moonlight yang langsung dari Fukuoka ke Kyoto tanpa harus repot berganti ganti jalur kereta, jadi saya bisa istirahat semalam suntuk di kereta. Sedangkan kalau saya memilih berangkat pagi atau siang, saya harus tahu di stasiun mana saya harus turun untuk berganti kereta jalur yang lain. Amannya, yah pake yang Kyushu Moonlight tadi. Gak perlu gonta-ganti kereta.
my first morning at Kyoto
Sekitar jam 6, saya tiba di stasiun Kyoto yang membuat saya takjub karena bangunannya lebih mirip mall daripada stasiun, bertingkat-tingkat pula (dasar orang udik, hue hue hue). Saya sempat bengong, mau ngapain yah?? Pilihan pertama adalah mengunjungi Starbucks yang letaknya tak jauh dari stasiun. Sambil nongkrong, saya mencoba memikirkan mo ngapain yah pagi ini, maklum sebagai backpackers pemula saya gak ada clue mau kemana (karena cita-cita awalnya yang penting sampai di Kyoto). Akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi kuil-kuil indah yang bertebaran di sekitar Kyoto.

Berebut air suci
Sejujurnya, Kyoto memang menyimpan sejuta pesona. Kyoto menyimpan sejumlah situs bersejarah, berada di Kyoto serasa berada di sebuah tempat yang memadukan pesona masa lalu dan modernitas. Menemukan wanita menggunakan kimono laiknya Geisha dan Geiko di Kyoto tidaklah susah, mereka mudah ditemukan di pinggir jalan. Untungnya pula, tersedia pusat informasi mengenai tempat-tempat wisata Kyoto di stasiun kereta, don't worry the costumer service speaks English perfectly.

Malam pertama di Kyoto kuhabiskan di bangsal sebuah perusahaan yang dihuni TKI dari Sulawesi, pertemuan tak sengaja kami membawa saya ke tempat penginapan mereka. Asyiik bisa saving semalam. Kegiatan ku di Kyoto dari pagi hingga sore hanyalah mengunjungi situs-situs bersejarah. Saya sempat bertemu dengan keempat teman yang kebetulan sedang berada di Kyoto. Bertemu dengan mereka benar-benar membuat saya senang as I do not recognize anyone in Kyoto. Kami malah sempat mengunjungi Nara yang ternyata tak kalah cantiknya dengan Kyoto.

Enjoying Nara with 4 kunyuks

Malam-malam sempat saya habiskan di Youth Hostel (losmen), menginap di rekan mahasiswa asal Indonesia (berbekal sok kenal sok dekat di situs PPI), namun yang paling mengesankan adalah malam tahun baru saya di Kyoto. Malam tahun baru itu, saya berjalan dengan keempat kunyuk ke sebuah kuil yang membunyikan sebuah gong besar 100 kali menjelang pergantian tahun. Dingin malam tak menjadi halangan untuk menantikan prosesi tersebut selesai. Benar-benar seru.

Namun, selepas itu, teman-teman saya harus kembali ke youth hostel mereka dan mereka meninggalkan saya sendiri. Yah, hari itu saya keasyikan tour around sampai lupa melakukan reservasi youth hostel, saya mencoba menghubungi teman mahasiswa asal Indonesia, tapi sepertinya dia tidak sedang berada di Kyoto malam itu. Wah... gaswat.... saya kembali ke stasiun Kyoto, mencoba menikmati sisa sisa euforia tahun baru di tengah salju yang turun dengan lebatnya. Saya tertidur dalam posisi meringkuk sambil memeluk ransel, dan beberapa kali terbangun karena menggigil kedinginan. Kuamati suasana sekeliling, ternyata banyak juga bule-bule yang melakukan ritual tidur yang sama dengan ku. Ah, setidaknya saya merasa aman. Spending my new year ever at Kyoto station is an experience which many people can not experience, isn't it?

Tanggal 1 Januari 2005, the first thing to do is ke public bath, berendam air panas "naked" dengan pengguna bath tub yang lain. Mungkin yang mendengar ini merasa lucu, tapi bisa merujuk pada postingan ku yang ini. Masih banyak kuil yang menanti untuk dikunjungi.

Ada beberapa yang saya pelajari sebagai backpacker pemula:
  1. Penginapan adalah hal yang sangat penting, jangan sampai kejadian menginap di stasiun Kyoto di tengah hujan salju terulang lagi. Memesan youth hostel jauh jauh hari sebelum travel akan sangat membantu. Mencari kenalan juga tidak salah, di Jepang setiap kota pasti memiliki PPI, dan beberapa member PPI sangat senang menyediakan akomodasi untuk rekan senegara nya yang sedang ber-backpack.
  2. Saya tidak merencanakan situs mana saja yang akan saya kunjungi di Kyoto dan Nara, untungnya saya sempat ketemu sama keempat teman tadi, dan mereka adalah kamus berjalan situs bersejarah Kyoto dan Nara. :). I am a lucky bastard.
  3. Makan. Jangan sampai karena niat mengirit jadi benar-benar memaksa tidak makan. Saya sendiri membawa persiapan mi instan yang bisa digunakan saat darurat.
  4. Bawa botol minum kemanapun, jadi bisa di refill saat kosong. Irit ongkos air mineral bukan?? ;)
Segitu dulu deh sekelumit cerita tentang pengalaman backpacker pertama ku. Banyak detail nama tempat yang sudah terlupa, maklum sudah 5 tahun (piss).

Sejak itu, saya sudah tidak pernah backpack lagi. Alasannya bukan karena kapok, tapi karena gak punya duit.


Thursday, September 3, 2009

Sahur sambil ngamen di Malioboro



Seperti biasa, saya menginap di losmen bilangan Sosrowijayan bernama Bladok Citra Lestari (disingkat BCL, wakakakak gak deng, namanya Bladok doang). Tidak susah untuk mencari ta'jil di seputaran Sosrowijayan yang bertetangga dekat dengan Malioboro. Penjual makanan banyak dan yang paling penting, harganya murah. Buka puasa pertamaku di Yogya sudah pasti di Nasi Goreng Bu Ida. (yummy)

Bagaimana dengan sahur nya? Hmmm, sempat khawatir juga awalnya saya akan susah menemukan penjual makanan yang buka dini hari menjelang sahur. But then I dont need to be worry as malioboro street never sleeps. Baru sadar kalo ternyata kegiatan jual beli "on" terus di Malioboro, kalo siang dagang nya sandang, kalo malam dagangnya pangan. Heheheh.

Sahur pertama di Yogya saya lakukan di Malioboro, lesehan di koridor sebuah convinient store sambil mendengarkan sekumpulan seniman yang berpuisi dan menyanyi. Makan jadi nikmat sambil dihibur persembahan musisi jalanan. Sahur kedua juga di tempat yang sama, cuman kali ini suasanya agak berbeda. Lesehan itu kali ini penuh dengan belasan bule yang kongkow sambil minum bir dan dua orang musisi yang memainkan gitar ditemani sepasang pengunjung yang turut meramaikan suasana dengan menyanyikan lagu yang jijay bajai. Saya yang sedang menikmati sahur jadi sedikit terganggu dengan lagu dang dut yang non stop hits mereka mainkan. Bule-bule yang duduk di dekatku juga sepertinya tidak menikmati alunan lagu dang dut sang biduan karbitan (ya iyalah, bule mana kenal sama yang namanya dang dut).

Selesai makan, saya mencoba mendekat ke sang musisi, "Mas boleh ikut nyanyi nggak?". Si Mas nya menoleh, "Oh boleh mas, disini bebas saja, tapi tunggu pasangan yang ini selesai menyanyi dulu yah". Perasaan pasangan kekasih ini sudah 3 album belum kelar-kelar juga deh entah sudah berapa lagi Bang Rhoma dan Evie Tamala yang mereka nyanyikan plus Radja dan Stinky (annoyed).

Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya pasangan itu menyerah juga, saya mengambil duduk persis disamping sang musisi gitar, dan mulai melantunkan lagu-lagu oldies. Dimulai dari Jambalaya, dilanjutkan dengan La Bamba, para bule mulai melirik dan mulai ikut bersenandung sambil ikut mengangguk-anggukkan kepala. Salah seorang bule maju dan turut berkolaborasi memainkan gitar bersama kami, kami lanjut memainkan lagu the Beatles "Hey Jude" dan "Let it Be". Dan diakhiri dengan lagu "Californication" nya Red Hot Chili Peppers. Then that's how we closed the show. Setelah itu saya salaman dengan si bule yang memainkan gitar, "Next time let's play music again together". Saya cuman bilang, "Sure, why not?". Bapak musisi yang juga ikut memainkan gitar tidak lupa mengajak saya untuk sahur lagi besok di sana. Hehehe. He requested me to come at 2 AM, so we may jam a little longer.

That was the wrap up of my sahur. Ketika beranjak meninggalkan lesehan, seorang pengunjung lain nyeletuk: "mas udahan yah?? padahal baru mau request lagu". Si Penjual yang menjawab, "Besok masih ada yang main kok mas". Ahhh, sebuah sahur yang beda.