Thursday, July 30, 2009

I am addicted to Plurk ... but I am happy, no need for psychiatrist


Tadi pagi terima sms dari bang Kiki: Sekali-kali FB ditengok dong :D
Kemarin, sms dari sepupu ku: Pu, kok gak pernah update status?
Minggu lalu, YM chat dengan Callang: Are you OK? KOk Gak pernah update di FB?

Ehem ehem, masih ada beberapa sms dari temen-temen yang merasa prihatin karena saya sudah tidak pernah update status di facebook. Seperti yang saya tulis di blog ku yang lain, ada beberapa situs yang wajib kubuka kalo sedang surfing di internet (termasuk facebook dan plurk). Tapi akhir-akhir ini, saya memang jarang buka facebook. Males update, gak rajin komen apalagi komen status orang.... mungkin memang sedang hiatus facebook. Paling kalo komen juga via telepon genggam.

Seiring ke engganan ku membuka facebook, saya malah keranjingan dengan plurk. Sepertinya plurk memang sudah merasuk ke pembuluh darah ku (halah), melambungkan angan ku dan melipur laraku (gubraks)... maaf lagi agak error. Dua bulan terakhir ini, membuka plurk benar-benar fun, mungkin karena temen-temen plurk yang ada dalam list ku orangnya asyik-asyik, asli bisa bikin gua ngakak sampe sampe banyak temen kantor yang penasaran begitu mendengar suara tawa atau kikikan tertahan dari kubikalku. Dan di Plurk, saya sudah berhasil membuat sebuah komunitas kebon binatang.... mulai dari babi, sapi perah, monyet , singa, cecak, kecoak, kebo, burung merak dan sekarang sedang dalam perekrutan anggota baru (Pssst, saya jadi babi di kebon binatang plurk, dengan gelar PAT KAY) . Selain seru main di Plurk, ternyata banyak rekan plurkers yang juga merangkap jadi blogger, jadi bisa saling tukeran link. Hehehehe.

Tau gak, tadi pagi sempat beradu mulut dengan seorang temen kantor (inisialnya "S") yang menghina plurk tapi dengan nada bercanda. Dia bilang gini:
"Hari gini masih ngeplurk??, sekarang tuh jamannya Twitter"
Saya: "Ah, twitter gak seru... gak idup, mendingan juga di plurk, bisa ngakak"
Ayu Mamisinga yang mendengarkan percakapan itu ikut nimpalin:
Ayu: "Gua udah lama kali punya twitter, tapi twitter masih jauh kalah seru dibanding plurk. Lagian twitter itu penggunaannya simpel banget, makanya yang make Twitter itu banyakan mereka yang agak gaptek"
Saya: "Iya Twitter itu juga monoton"
S: "Ah saya kan make Twitter karena Twitter is internationally used"
Ayu: "Emangnya lo pikir yang make plurk itu orang Indonesia aja, gak kali, pengguna plurk tuh juga di seluruh dunia"

Si "S" ngeloyor pergi, ada beberapa alasan
  1. Si "S" ngerasa gak mampu mendebat saya dan Ayu yang memang sudah keranjingan PLURK
  2. Si "S" gak punya alasan mendebat kami karena kami juga akun twitter
  3. MUngkin saja ledekan si "S" tentang plurk karena sebenarnya si "S" adalah plurker gagal (dia sebenarnya punya akun plurk tapi karena jarang update akhirnya sekarang karmanya 0,00), In conclusion he envies me and Ayu.
AKhir kata :
Mengutip kata Ayu Mamisinga: Orang ngeplurk belum tentu gak kerja, dan orang yang gak ngeplurk belom tentu ngerjain tugasnya... Wakakakak

Akhir kata lagi: If plurking is a mistake, so don't get me right, AMiiiiiin"





Tuesday, July 21, 2009

These foods make me wanna.....

Dari nama panggilanku "Cipu" yang berasal dari kata "Cipuru" (artinya lapar dalam Bahasa Makassar) , sudah jelas saya termasuk penggemar kuliner. Mungkin sebagai penggemar kuliner, saya masih kalah jauh dalam hal icip menyicip. Selain bakso sebagai makanan favorit, saya mempunyai beberapa makanan yang saya anggap layak direkomendasikan, namun dua diantaranya mungkin susah untuk didapatkan.
Inilah dia daftarnya.
  1. Pizza Bayam, makanan ini direkomendasikan oleh mbak Efa, temen kantorku . Pizza bayam (baca: Spinach pizza) ini disajikan di sebuah penginapan kecil di bilangan Sosrowijayan bernama Bladok (dekat Malioboro), Yogyakarta. Saya yang sering menginap di Bladok tidak terlalu ngeh sebenarnya dengan menu ini karena kebanyakan menu yang disajikan restoran di Bladok adalah menu bule, meski saya juga sebenarnya adalah bule (Bugis Tulen) :p . Sampai suatu sore di sebuah kamar di penginapan Bladok, perutku keroncongan tapi malas kemana-mana, satu satunya pilihan adalah mencicipi makanan di Bladok. Saat kubuka menu nya, saya jadi penasaran pengen mencoba pizza bayam nya. Begitu terhidang, saya langsung menyerbu pizza bayam yang kata Efa enak. Rasanya lain dari pizza pizza yang pernah saya cicipi. Saya pribadi tidak terlalu suka dengan sayuran, tapi ternyata daun bayam kalau dicampur dengan pizza rasanya enak juga. Satu pan yang berisi 6 slice pizza bayam langsung ludes hanya dalam hitungan kurang dari 20 menit, sampai sampai waitress nya negur: "Lagi laper yah Pak!!". Hehehe, jadi malu
  2. Kapurung, what the heck... Makanana apa ini yah, kok namanya aneh. Makanan ini tidak hanya aneh di nama tapi juga aneh di bentuk fisik nya, hehehehe. But don't judge the book from its cover, eh salah don't judge the food from its look and name but taste it first. Ini adalah makanan khas Sulawesi Selatan yang kurang diketahui orang karena umumnya khalayak lebih familiar dengan Coto dan Konro. Kali ini saya tidak akan menulis tentang Coto atau Konro karena sudah terlalu banyak review tentang makanan ini. Kapurung sendiri isinya sagu, ikan dan sayuran serta kuah. Rasanya boleh diadu dengan sayur asam, atau misoshiru. Makanan ini adalah makanan khas Palopo dan sangat mudah menemukannya di Makassar. Umumnya warung makan dengan embel embel Palopo di namanya menyajikan makanan ini. Namun, saya belum menemukan warung kapurung di Jakarta. Terakhir makan kapurung, saya berhasil menghabiskan 3 piring full kapurung (tapi tanpa nasi), kapurung memang mak nyus. Mmmm kapan yah bisa makan kapurung lagi :p
  3. Nasi Goreng Bu Ida. Semuaya pasti familiar dengan nasi goreng. Banyak penjual nasi goreng kaki lima, namun nasi goreng bu ida menurutku tidak ada duanya. Apa yang unik dari nasi goreng Bu Ida?? Jawabnya banyak. Bu Ida menyajikan nasi gorengnya di rumahnya, yang sama sekali tak berbentuk warung. Pembeli harus datang ke rumah Bu Ida dan duduk lesehan menunggu nasi goreng terhidang. Sekilas, kita tidak akan pernah mengetahui kalau rumah Bu Ida tersebut adalah tempat mencicipi nasi goreng yang super lezat. Selain itu, pembeli boleh memilih level pedas nasi goreng, mulai dari yang tidak pedas, kurang pedas, pedas, sangat pedas dan pedas setan. Saya telah mencoba yang terakhir (pedas setan, red) dan emang bener-bener enak dan bikin lidah bergoyang. Ada beberapa teman yang telah mencicipi nasi goreng ini, temen kantor ku: Anton, Tio, Sekar dan teman jalan ku: Krisna dan Mico yang kebetulan ada di Yogya waktu itu. Mereka sependapat dengan saya, meski awalnya mereka ragu mengingat rute ke warung bu Ida yang tidak meyakinkan. Mencari warung Bu Ida memang tidak mudah, karena kami harus melewati jalan sempit dan gang kecil. Meski menunggu nasi goreng terhidang kadang memakan waktu yang cukup lama, namun semuanya serasa terbayar saat suapan pertama nasi goreng memasuki mulut. Uenak tenan. Thanks buat mas Hari yang telah menunjukkan jalan ke Warung Bu Ida. Lain kali kalo ke Yogya pasti saya akan mampir ke warung Bu Ida lagi, pastinya.
  4. Dim sum kaki lima. Sebenarnya baru beberapa bulan terakhir ini saya familiar dengan dim sum. Dan dim sum yang saya cicipi sejauh ini adalah dim sum kaki lima di Rasuna dan Dim sum di dekat Taman Menteng. Kalau sedang tidak ingin makan malam yang berat (makan malam yang berat maksudnya makan porsi kuli), saya akan memilih dim sum, karena selain enak makanan ini juga bisa bikin kenyang. Cukup dengan memesan tiga set dim sum campur pasti saya akan kenyang (ya iyalah 3 set gitu loh). Nah berhubung lokasi nya yang strategis, rasanya tak salah menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk ketemuan dan kopdar, hehehehe.

UNtuk sementara, 4 makanan ini saja dulu yang saya rekomendasikan. Semoga bermanfaat, selamat makaaaaaan !!! Ishshouni Tabemashouka??

Thursday, July 16, 2009

Mendadak Yogya

Dua bulan terakhir ini, ada saja masalah yang menghalangi saya mengunjungi Yogya. Terakhir ke Yogya, yah pas bareng Shin Chan (temen dari Jepang, red) beberapa bulan lalu. Terhitung tiga kali rencana ke Yogya batal karena masalah klasik, DUIT. Wakakakak. Minggu ini sebenarnya, Saya dan seorang teman berencana ke Yogya, tapi sekali lagi dibatalkan karena yang bersangkutan ternyata banyak kerjaan Minggu ini.

Senin yang lalu, tak seperti biasanya, saya ke kantor rapi jali (maksudnya berkemeja, celana kantoran --> not wearing jeans). Berusaha menyelesaikan deadline. Tiba-tiba, Andri (bu Bos ku) memberi penugasan ke Yogya malam itu juga. Dalam kondisi biasa, pastinya saya akan mencak-mencak menolak sudden assignment seperti itu, tapi berhubung udah lama gak ke Yogya, saya ia kan saja. Hehehe, kapan lagi ke Yogya gratisan. (Praise the Lord)

Sesampai di Yogya, saya langsung menuju ke losmen tempatku biasanya nginap, namanya Bladok. UNtung masih ada satu kamar kosong. Fiuhhhh. Staf staf di Bladok sudah mengenal dan familiar dengan saya, jadi mereka pasti menyisakan kamar untuk saya meski sedang peak season.

Ada beberapa kejadian menarik di Yogya.

Di hari kedatanganku ke Yogya, ternyata tante ku juga datang ke Yogya dari Makassar. Penginapannya jaraknya 100 meter dari Bladok. Jadi, setiap hari saya main ke Penginapannya, sekalian melepas kangen. Maklum, tante ku ini yang banyak bantu saya selama kuliah. Sayangnya, dia datangnya rombongan, jadi saya gak sempet hangout sama dia. Dan sepertinya memang tanteku lebih enjoy jalan dengan temen gengnya daripada dengan keponakannya yang cakep ini.

Satu kejadian menarik lainnya, saya kopi darat dengan seorang rekan blogger yang tulisannya telah saya ikuti selama dua tahun. Namanya Andrei. Saya dan Andrei biasanya saling memberikan komentar di blog. Andrei sendiri telah membukukan pengalamannya di blog. Bukunya yang berjudul Travellous telah dapat diperoleh di Gramedia dan di ucapan terima kasih penulis, namaku termasuk salah satu yang disebutkan Andrei. Makanya, saya merasa perlu untuk bertemu dengan Andrei and covey my gratitude. (Jarang-jarang namaku ada di buku, wakakakak). Jadilah kami ngobrol sampe jam 11 teng. Sayangnya, penyakit bengek ku gak bisa kompromi, so we ended our conversation.

Memang selalu ada cerita unik setiap kali ke Yogya... Mendadak Yogya kali ini juga membawa cerita yang menarik. Senin depan, saya mau pake baju rapi jali lagi ah, kali aja tiba-tiba ada penugasan ke Bangkok. Hehehehe (Ngarep Mode: ON)

PS:
To Tante: Maaf yah, ponakan mu ini gak sempet nganterin keliling Malioboro dan mentraktirmu makan di Lesehan Malioboro yang full pengamen itu .
To Andrei: Maaf ye, malam itu kita gak sempet klenong klenong (Keliling-keliling) Yogya, soalnya flight ku flight pagi, takut kesiangan



Tuesday, July 14, 2009

Serasa nonton pelem hollywood


Hari Sabtu lalu, sehabis menghadiri aqiqah an anak temen kantor ku, saya diajak Pak Gun untuk nonton. Kami putuskan untuk nonton di Pejaten Village. Awalnya, kami tidak tahu mau nonton apa... Ada Transformer (sudah nonton), Punk in Love (mmm sepertinya gak menarik), King (lagi gak tertarik nonton film serius), dan dua film horor yang gak jauh jauh ceritanya dari kuburan dan kuntilanak (kedua film ini sudah pasti ku blacklist), hehehe.

Daripada gak nonton, saya dan Pak Gun memilih Punk in Love. Karena tag line nya yang menggelitik: rambut boleh jigrak, hati tetep dangdut (semoga saya menulis tag line nya dengan benar) . Dari tag line nya sih, keliatan kalo film ini gak bakal jauh jauh dari perburuan cinta seorang punker.

Ternyata memang benar, ceritanya tentang perburuan seorang punker bernama Arok dan ketiga temannya ke Jakarta untuk mengejar pujaan si Arok yang namanya Maia yang akan segera menikah. Mereka dikisahkan memulai perjalanan dari kampung halaman mereka, Malang, ke Bromo, Semarang, Cirebon hingga ke Jakarta. Banyak kejadian kejadian lucu yang ditampilkan sepanjang perjalanan Arok and the Gank mengejar cintanya ke Jakarta. Tak lupa film ini menyajikan beberapa screenshoot pemandangan pemandangan indah tanah Jawa.

Namun, yang membuat saya merasa bahwa film ini unik adalah keberanian sutradaranya untuk mempertahankan orisinalitas Jawa dalam dialog filmnya. Mulai dari awal hingga akhir film, penonton disuguhi dialog dialog dalam bahasa Jawa ke-timur-timur-an khas orang Malang. Dan tentunya, saya yang non-Jawa harus membaca text yang disediakan kalau mau mengerti. Di sampingku, Pak Gun yang orang Magetan, dengan santainya nonton tanpa harus membaca text dulu untuk tertawa. Kata kata seperti Dian**k dan slang Jawa Timur lainnya diobral dengan murahnya dalam film ini. Dan ini lah yang membuat film ini serasa bener-bener hidup. Saya yang bukan orang Jawa aja bisa menikmati (apalagi rekan rekan yang dari Jawa). Nonton film ini membuat saya merasa nonton film Hollywood karena memang bener-bener butuh text untuk mengerti aktor aktrisnya bilang apa.

Endingnya, heheheh mirip mirip Kuch Kuch Hota Hai... Penganten cowok nya rela untuk digantikkan oleh Arok yang baru tiba di Jakarta. A classic ending for a unique movie. Overall, it is an entertaining movie and a must seen movie for Javanese.....