Friday, February 20, 2009

Pak, boleh foto nggak??


Sudah beberapa kali saya dapat tugas mengunjungi tempat pengumpulan unggas di beberapa daerah di Jakarta dan sekitarnya. Saya biasanya menemani Stacie, rekan dari Amerika, untuk survei tempat penampungan unggas. So, kami masuk dari satu penampungan ke penampungan yang lain. Jadi, tubuhku yang semula beraroma parfum kaki lima di pagi hari, akan berubah menjadi aroma pakan ayam yang bercampur dengan ekstrak kotoran ayam di sore hari. Yakin deh, kalau sore udah gak ada yang mau dekat-dekat (lalat aja ogah)

Survei yang dilakukan Stacie memang mengharuskan saya masuk keluar tempat penampungan ayam. Tak terhitung banyaknya foto yang Stacie ambil di tiap-tiap tempat penampungan ayam. Seperti kemarin, saat kami berkunjung ke dua tempat penampungan ayam yang lokasinya berdampingan. Kami sempat bercakap dengan pekerja kandangnya.

Stacie (S): How many chickens coming everyday?
Cipu (C) : (menerjemahkan) Pak, berapa banyak ayam yang datang tiap hari ke tempat ini?
Penjaga kandang 1 (PK1) : Mmmm 800 an ekor pak
Penjaga kandang 2 (PK2) : Gak lebih 1000 ekor pak sehari.

Percakapan berlanjut tentang volume kandang, pembersihan kandang, asal ayam dll dst dsb.

*******************************

Interview hampir berakhir.....
S : Cipu, ask them, can i take pictures?
C: (menerjemahkan) Pak, boleh foto nggak? (maksudnya Stacie sih bisa foto kandang dan ayam-ayamnya nggak?)
PK1 dan PK2 tiba-tiba diam, muka mereka memerah sambil senyum-senyum malu-malu. "Ah bapak bisa saja.......," kata si PK1 sambil tersenyum tersipu-sipu.
Saya sempat bengong sendiri kok mereka tiba-tiba malu begitu. Ada apa yah?

KRIK KRIK KRIK

Oh saya baru ngeh, rupanya PK1 dan PK2 geer, mereka mungkin menyangka kalo Stacie mau mengambil foto mereka berdua, padahal Stacie lebih tertarik mengambil gambar kandang dan ayam-ayamnya daripada gambar mereka berdua. Saya yang salah menerjemah atau mereka yang salah tafsir yah hahahah.
Buru-buru saya ralat sambil tersenyum...."Pak, maksudnya boleh foto kandang dan ayam-ayamnya gak?"
Mereka diam lagi, tapi kali ini dengan muka kecewa mereka bilang, "Oooo silahkan, pak. Mangga atuh..."
Setelah mengambil beberapa rol film (udah gak jaman kali pake rol), eh salah, setelah jepret sana-sini kami pun pamit, menuju ke tempat penampungan yang lain. PK1 dan PK2 melambaikan tangan, mungkin perasaan mereka campur aduk, senang dan sedih Senang karena saya yakin itu kesempatan pertama mereka mengobrol langsung dengan bule sambil diliatin tetangga-tetangganya. Sedih, karena ternyata sang bule lebih tertarik menjadikan ayam-ayam mereka sebagai obyek jepretan dibanding memotret PK1 dan PK2. (Don't worry dude, you are still sexier than the chickens, hahahah)
Moral of the story: Saya tidak lost in translation, hanya mungkin kurang lengkap memberi penjelasan. Akhirnya, PK1 dan PK2 sempat jadi salah faham dan sedikit Ge-eR. heheheeh.



Thursday, February 12, 2009

Mau berenang... :-(

Rasanya ada yang kurang minggu ini, biasanya pagi-pagi saya berenang dulu sebelum ke kantor. Biasalah, mempraktekkan gaya-gaya renang yang saya bisa, mulai dari gara dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu, gaya banjir dan gaya batu. Yang enak tuh kalo ke kolam renang jam 6 pagi saat semua orang masih terlelap. Kolam renang serasa milik sendiri. Oh indahnya.
Karena travel ke luar kota (baca: tugas kantor) saya jadi tidak berkesempatan menikmati hobiku ini. tak terasa sudah seminggu saya tidak berenang. Jadi pengen banget berenang.
So setiba dari luar kota, saya menyiapkan perlengkapan renang untuk segera terjun dan melepaskan kepenatan. Handuk, goggle sudah siap saat saya meninggalkan kamar. Namun, begitu keluar kamar, hujan turun deraassss banget dan lama. S**t, saya mau renaaaaang. Batal deh.

Tapi tekadku untuk berenang tidak surut. Saya harus berenang, HARUS !!!! (Sambil menengadahkan wajah ke angkasa, HALAH berlebihan).
Keesokan paginya, cuaca cerah. Matahari sudah tidak tahu malu lagi untuk bersinar. Langit bersih (Jarang-jarang di musim hujan seperti ini). Asyiiiik pertanda baik nih, akhirnya bisa berenang. Yiiihaaaa. Kusambar handuk dan goggle ku, lalu bergegas ke kolam renang. Sudah gak tahan pengen berenang.
Pas mau masuk ke kolam renang, saya dihampiri petugas kolam renang.

Dengan muka inosen dia bilang: "Maaf Mas, hari ini kolam renang tutup. Mau dibersihkan dulu".

WHAT??!!??#$*&^$%&#@^%&^@&*^@&^#
(silahkan ditebak sendiri, saya ngomong apa)

PS: yang mau belajar berenang gaya banjir, hubungi saya yah........(info tarif menyusul kemudian)

Saturday, February 7, 2009

Berpisah dengan Aluma

Tingkat turnover di kantorku lumayan tinggi. Tidak terhitung sudah banyak yang datang dan pergi. Maklumlah status kami memang bukan pegawai tetap, tapi pegawai "kontrak" dengan periode kontrak yang kadang tak menentu.
Saya jadi mulai terbiasa dengan perpisahan. Beberapa teman baik juga sudah meninggalkan tempat kerja kami. Saya pikir saya cukup tegar dan memang tegar saat harus berpisah dengan teman-teman kantor. Saya selalu berpikir, toh kita masih tetap bisa connect via email, facebook, YM, atau pun media lainnya (udah gak mungkin via kantor pos kan?)
Tapi kemarin sepertinya menjadi perpisahan yang agak berbeda. Rekan kami yang harus pergi ini adalah rekan semua orang, tidak bermasalah dengan siapapun di kantor, lucu, bijak dan segudang positive attitude lainnya. Saat datang ke Indonesia, namanya Aluma Araba, akan tetapi sekarang namanya menjadi sangaaat panjang: Daeng Raden Aluma Araba Ameri Harahap Ronggolawe Sembiring (Mudah-mudahan urutannya benar, hehehe). Ini karena Aluma selalu mendapat gelar (tambahan nama) di setiap tempat yang dikunjunginya, mungkin karena orang-orang terkesan dengan kepribadian dan penampilannya. Aluma memutuskan untuk kembali ke Afrika dan tidak memperpanjang kontraknya.

Kemarin, saat Farewell Party, sangat terlihat Aluma berusaha untuk tetap tegar di hadapan kami, teman-teman kantornya. Saat berjabat tangan dan berpelukan dengan kami satu per satu, suasana begitu khidmat. Beberapa rekan menangis, berkaca-kaca. Tiba giliran ku, saya berbisik: Good bye, my enemy. Dia tersenyum. Setelah suasana khidmat itu, Aluma langsung menuju ke mobil menuju ke Bandara.
Good bye, my African enemy :') .

PS: Saya dan Aluma mendifinisikan pertemanan kami sebagai permusuhan abadi. Permusuhan yang positif (gak ngerti kan? Saya juga ....)