Saturday, January 31, 2009

Kutukan Ian Kasela

Masih ingat nggak postingan ku yang ini?

Saya memang bukan penggemar Radja, apalagi Ian Kasela. Saya tidak suka lagunya dan dandanan vokalisnya (Sorry again to Radja fans, doesn’t mean to hurt you, just expressing my personal trash opinion, hehehe)

Tapi sepertinya saya harus kena batunya gara-gara menghujat Radja di blog ku. Seminggu ini, saya kena sakit mata. Ohh penyakit yang menyiksa. Saya seharusnya dikarantina di rumah, tapi karena kakak masuk rumah sakit, saya harus menemani kakak tanpa menularkan sakit mata selama disampingnya . Ini sih namanya, orang sakit dijagain orang sakit. Saya tidak ke kantor karena tidak mau menjadi carrier sakit mata ke kantor. Saya tidak bisa bertemu dengan siapapun, menghindari kontak langsung dengan masyarakat (halah). Dan yang paling menyakitkan, saya tidak bisa ke Ciawi bareng teman karena swollen reddish eyes ini, Huhhh.

Untuk mengakali mataku yang merah dan bengkak, mau tidak mau aksesoris harus dikenakan. Mataku yang bengkak sebelah kiri diperban dan harus memakai kacamata hitam untuk memperbaiki penampilan. Saya jadi mirip pasien katarak. Mirip bajak laut plus kacamata hitam. Terus terang saya merasa menjadi pesaing Ian Kasela karena kacamata hitam ku setia menggantung di atas hidung sepanjang hari. (Kutukan Ian Kasela kah ini?)

Di rumah sakit, saya sering mendapatkan pandangan aneh di lobi khususnya pada malam hari karena mereka mungkin merasa aneh melihat ada cowok cakep yang sedikit gila memakai kacamata hitam di malam hari. Sama halnya saat saya makan malam di luar, banyak mata memperhatikan cowok aneh berkacamata hitam, menimati makan di sudut ruangan, dalam kesendirian (hehehe, sedikit didramatisir gak papa kan?)

Seminggu terkena kutukan Ian Kasela memang menyiksa. Jauh dari teman, kantor, dan keramaian. Tough week.

To Ian Kasela and fans, maaf yah kalo selama ini saya menghujat kamu dan bandmu. Tolong kutukannya dicabut. Tapi, saya masih tetap bukan fans kamu. Oke??

Beberapa foto penderitaan akibat Kutukan Ian Kasela mohon maaf tidak dapat ditampilkan atas permintaan penderita dan keluarganya. Pembaca harap maklum. Hahahaha.

Tuesday, January 27, 2009

Shin Chan yang mirip Singa dan Wawancara yang De Javu



Saya masih ingat, waktu itu awal Desember 2004. Saya dan beberapa teman diundang ke rumah Shin (teman Jepang kami) ke pulau Iki, tepatnya di daerah perbatasan Jepang dan Korea (sekitar 2 jam dari Fukuoka by boat). Kami berenam, ada saya, Katarina (Slovakia), Samuel (Prancis), Amara (Thailand), Kim Yun Hui/Yuni (Korea) dan Shin sendiri selaku tuan rumah.
Kami mulai dari Kampus Saga, bersepeda menuju ke arah stasiun kereta Saga. Sepeda kami parkir dan langsung masuk ke stasiun, lalu masuk ke kereta menuju ke Stasiun Hakata di Fukuoka.
Ada kejadian menarik di Stasiun Hakata. Kami (minus Shin dan Yuni) takjub melihat pemandangan di Hakata yang begitu modern dan mulai berpose malu-maluin di depan Stasiun Hakata. Banyak yang memperhatikan kami, tapi dasar kami tidak tahu malu, kami cuek saja toh tidak ada yang kenal kok, iya kan??
Ketika sedang asyik berpose dan bercanda, kami tiba-tiba didatangi oleh dua orang Jepang. Mereka berbicara sebentar dengan Shin, Shin mengangguk-angguk. (Sigh, bahasa Jepangnya sulit kami mengerti maklum kami semua di tempatkan di kelas Jepang Basic, jadi waktu itu baru tau greeting dan bertanya nama doang). Ternyata kami mau diwawancarai sama TV NHK karena katanya muka kami berenam sangat unik. Hahahahah. Jadilah Shin diwawancarai, dan kami diminta senyum-senyum di belakangnya. Kami cuman dapat bagian memperkenalkan diri dan menyebutkan negara asal.
”Watashi wa Cipu desu. Indonesia kara kimashita”
Nasiiib. Tak apalah, yang penting muncul di TV Nasional Jepang.

5 Tahun ++++ Kemudian

Tepatnya tanggal 22 Januari 2009, Saya baru tiba di bandara Soekarno-Hatta dan langsung menuju ke Stasiun Gambir. Saya ada temu janji dengan Shin di Stasiun Gambir. Dia baru tiba sehari sebelumnya di Jakarta. Dan hari itu, kami berencana ke Yogyakarta menggunakan kereta.
Saya takjub melihat Shin, rambutnya lucu, seperti singa. Dia memang selalu unik.
Kami pun mengantri untuk beli tiket. Setelah tiket di tangan, saya dan Shin dihampiri oleh kru berbaju hitam berlogo Trans TV.
Rupanya mereka mau wawancara. Sebelum wawancara mereka berbasa-basi dulu.
”Mas mau ke mana dan sama siapa?”
”Saya mau ke Yogya, ini teman saya baru tiba dari Jepang”, jawab saya.
”Dulu mas jadi tenaga kerja tahun berapa?” tanya kru TransTV tanpa perasaan bersalah.
Dalam hati saya memaki-maki, emangnya saya ada tampang TKI, huh. Keren-keren begini dibilang TKI. (Gak terima)
”Oh nggak mas, saya dulu kuliah disana”, saya berkata dengan ketus.
”Trus mas ke Yogya dalam rangka imlek yah? Kan libur panjang mas” tanya dia lagi
”Gak kok, bukan dalam rangka imlek. Ini karena teman saya datang ke Indonesia aja dan dia mau ke Yogya”.
”Oooo gitu yah mas. Tapi mas nanti kalo mas wawancara bilang aja mas ke yogya dalam rangka imlek yah!, soalnya liputan kami tentang harga tiket menjelang imlek”, kru TransTV nya bilang gitu. (Kok jadi maksa yah)

Yah daripada gak masuk tipi, mending spekulasi dikit lah, hahahaha. Jadilah saya diwawancarai dan Shin jadi backgroundku tersenyum-senyum innocent.
Setelah wawancara, Shin bilang, ”Cipu, I’m feeling de javu, we were interviewed in Hakata Station and now we just finished our interview in Gambir Station”.
Saya dan Shin jadi berpikir, mungkin kalo mau masuk tipi lebih sering saya harus lebih sering ke….. Stasiun Kereta.

Monday, January 19, 2009

Flash back


Perasaanku campur aduk memasuki tempat ini. Kangen, senang, sedih dan merasa kecil. Saya masih ingat di sudut tempat ini saya sering tidur dan bercanda dengan teman-teman mengajiku. Di tempat ini, saya masih ingat almarhum bapak menyorongkan mikrofon dan memintaku azan untuk pertama kalinya, waktu itu saya masih duduk di SD kelas 1. Yah saya deg-degan waktu bapak dengan senyum bijaknya meminta saya azan, ini bakalan jadi debut saya di dunia perazanan di kampungku. Waktu itu azan selalu dimonopoli oleh kolega-kolega bapak di mesjid, rata-rata mereka seumuran bapak. Entah apa sebabnya gak ada anak-anak yang azan, mungkin butuh surat izin azan kali.

Saya mulai menarik nafas

Baris demi baris azan saya lantunkan, awalnya suara saya masih bergetar tapi lama-lama semakin lantang. Di pertengahan azan, suara dan lafadz saya makin jelas. Sampai baris terakhir, Alhamdulillah gak ada yang salah.

Saya jalan disamping bapak menuju ke rumah sehabis Isya. Sesampai di rumah, bapak memeluk saya, matanya berkaca-kaca sewaktu menatap mata polos anaknya. Tidak ada kata-kata. Saya yakin bapak berkaca-kaca bukan karena saya nakal hari itu, dari senyumnya saya yakin dia bangga anaknya yang umur 6 tahun itu berani azan di mesjid. Yah it was my 5 precious minutes with bapak.

Besok dan hari-hari berikutnya, saya dan teman-teman seumuran jadi ganti-gantian azan di mesjid spesial untuk azan maghrib dan isya.Saya biasanya langganan maghrib dan teman-teman dapat jatah untuk Isya.

Kebetulan kali ini saya ada kesempatan mengunjungi keluarga di kampung lagi. Setiap kali ke kampung, sudah jadi kewajiban saya shalat maghrib di mesjid itu. Ada yang berubah, interior nya sudah berubah sedikit norak dengan warna ijo ngejreng, sekarang mesjid nya sudah 2 lantai, mesjidnya makin ramai. Saya disapa banyak teman-teman sepermainan dulu, serta disapa oleh bapak-bapak penggemar azanku. Mereka nanya: Di Jakarta masih sering azan yah? Saya cuman mesem-mesem aja (yang berarti gak pernah).

Ada nuansa rasa tersendiri yang saya rasakan ketika memasuki mesjid ini, saya jadi ingat Almarhum Bapak, saya jadi terkenang masa-masa bermain saya dengan teman-teman mengaji. Sayang, kemarin saya telat sampai di mesjid, jadi tidak dapat kesempatan azan. Padahal saya sudah rindu mau mengumandangkan azan. Yah next time, I will azan there.......

Tuesday, January 13, 2009

Kamu kok mirip..........?!!?*&*^&%^%&^%

Pernah gak sih disapa orang trus mereka bilang, "Eh mas/mbak, kamu tuh mirip artis ini deh...".
Saya pernah, sering malah. Saya sering dikira pemain sinetron ini lah, penyanyi itulah, pedangdut inilah, pemain antagonis itulah. Sudah terlalu sering muka saya disamakan dengan berbagai nama, saya jadi mikir sendiri, sepasaran itu kah wajahku? HIKS.

Awalnya sih, merasa senang aja kalau disama-samakan dengan artis. Tapi lama-lama jengah juga apalagi ada yang sudah gak manggil namaku. Malah pernah ada yang manggil gini ke saya, "TOM TOM TOM," Sempat bangga juga sih ada yang mengira saya mirip TOM CRUISE, begitu saya balik, eh temenku malah bilang "TOM AND JERRY". "Damn. It was so not funny".

(Ini foto-foto 4 musim ku, gak ada yang mirip artis kan?? :-p )

Tapi saya ada jurus ampuh agar orang tetap mengenal saya sebagai Cipu. Waktu ada teman yang bilang saya mirip ALdi Bragi, saya langsung aja balas gini: "Itu salah kali, gua tuh gak mirip ALdi BRagi tapi ALdi Bragi yang mirip gua". (MAMPUS). Hahahahah.

Walhasil, sekarang sudah kurang tuh yang bilang saya mirip si ini si itu. Mereka lebih mengenal saya sebagai Cipu yang tidak mirip siapapun. ALhamdulillah.

Friday, January 9, 2009

Onsen oh onsen

Ini pengalaman saya sewaktu tinggal di sebuah prefecture di Jepang bernama Saga (maaf, saya sendiri masih bingung, Prefecture itu setara provinsi atau kabupaten). Saga sebuah kota kecil (baca: countryside) yang tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan asing, namun sarana hiburan nya lumayan, termasuk beberapa shopping mall, karaoke dan kawasan hiburan.
Waktu tinggal di Saga, sarana hiburan yang sering saya kunjungi hanya bioskop dan karaoke, karena gak mungkin saya berkunjung ke bar dan diskotik (I don't drink alcohol, heheh). Saya juga tinggalnya di sebuah dorm khusus cowok yang isinya international students semua, it explains why I can't speak Japanese fluently.
Suatu malam menjelang winter, saya diajak teman-teman untuk keluar, katanya call for karaoke. Saya sih ayo aja. Saat itu kami keluar berempat menggunakan sepeda masing-masing. Ada si Dae Won dari Korea, Stephan dari Australia, Samuel dari Prancis dan saya sendiri. Saya ikuti mereka dari belakang. Lama-lama saya sadar, kok sepertinya kami tidak menuju ke tempat karaoke yah. Saya mencoba positive thinking, mungkin kami menuju ke tempat karaoke yang lain.
Kami akhirnya tiba di suatu tempat yang nampaknya tidak ada tanda-tanda tempat karaoke di plangnya (maklum tulisannya kanji, dan saya waktu itu katakana dan hiragana saja blom khatam). Saya mengekor ketiga makhluk ini.

Ini foto saya sama Dae Won dan Stephan (minus Samuel)


"Ini kan bukan tempat karaoke" saya berbisik pada mereka sambil membayar 500 yen di kasir depan sebagai tanda masuk.

"Oooo kita mau berenang dulu sebelum karaoke", Kali ini si Stephan yang jawab.

"Saya gak bawa celana renang," Saya panik

"Tenang aja bro, it is OK. " Dae Won sang provokator menenangkan. Saya makin bingung.

Kami masing-masing dapat jatah satu handuk putih saat masuk ke dalam ruang ganti. Ketiga makhluk ini dengan cekatan melepas baju dan celana mereka sampai yang tersisa tinggal kolor doang. Saya pun mengikuti mereka, maklum ini pertama kalinya saya ke "kolam renang" di Jepang. Saya makin shock melihat mereka menaggalkan semua yang melekat di badan termasuk kolor, saya langsung berteriak "WHAT??".

"Cipu, buka semuanya, di sini semuanya harus dibuka" Mereka bertiga tersenyum,

"Kok kolam renang kayak gini sih?" Saya protes.

"Ini bukan kolam renang pu, ini namanya onsen atau public bath. You have to be naked before you enter the bath".

Mereka ngakak melihat muka saya merah, ternyata mereka memang sengaja gak bilang ke saya kalau mereka mau ke onsen, soalnya kalau bilang duluan, mereka yakin pasti saya tidak ikut. Sialan, saya dikerjain ketiga bandit ini.

Saya mau gak mau harus nurut karena udah kadung bayar 500 yen (sigh).

Akhirnya dengan malu-malu saya masuk mengikuti ketiga teman ini. Kami masuk ke ruangan besar, ada banyak kolam berisi air hangat dengan beberapa pria Jepang "naked" bersantai di dalamnya. Awalnya sih malu melenggang naked di kolam-kolam tadi, ditambah lagi kami berempat mukanya sama sekali gak Jepang, kecuali si Dae Won yang orang Korea. Tapi akhirnya lama-lama terbiasa karena semuanya juga pada cuek. Fiuuuuuhhhh. Pengalaman yang menegangkan, namun jujur emang enak berendam di onsen.

Minggu depannya, ketiga orang ini ngajak lagi mau ke onsen (kali ini mereka jujur). Saya langsung mengiyakan. SOalnya enak banget berendam di onsen. Dan akhirnya, menjadi tradisi bagi saya dan teman-teman untuk mengunjungi onsen di setiap kota yang kami datangi. He he he

Thursday, January 8, 2009

Dan Ibu Penjual Pecel pun terbengong-bengong (A krik krik moment from madam "pecel" vendor)

Seperti biasa, pecel menjadi menu andalanku setiap pagi jika tidak sempat sarapan di rumah. Bukan hanya karena makanan ini lumayan sehat menurutku, tapi memang harganya yang dipatok 4000 rupiah (including 2 tempe goreng) lumayan murah menurut ukuran kantongku. Ibu penjual pecel juga sudah hapal dengan menu pecel ku yang tidak pake pahit (pare, red).

Pagi ini, karena tidak sempat sarapan di rumah, saya sarapan pecel lagi. Biasanya telat sedikit saja, saya sudah harus ngantri untuk mendapatkan sarapan ku ini. Tapi tumben pagi ini, gak harus ngantri.

"Bu, pecel bu biasa, gak pake pahit. Nanti gak usah pake kresekan yah bu, saya pegang aja"

"Iya Mas, " Kata ibu itu.

"Eh mas kok gak pernah mau pake kresekan sih?" tanya nya lagi

Saya sempat bingung mau ngomong apa.

"Karena plastik itu sulit terurai bu oleh tanah. Plastik itu jahat sama lingkungan bu",

Krik krik krik krik krik

Ibu penjual pecel manggut manggut, entah mengerti apa nggak dengan jawabanku. Tapi nampaknya sih dia nggak ngerti soalnya abis manggut-manggut, ibu penjual pecel itu senyum aneh ke saya.

Kejadian ini bikin saya tersenyum sendiri. Memang dua bulan terakhir ini, sebisa mungkin saya mengurangi penggunaan plastik. Saya selalu bawa tas kain kemanapun pergi just in case harus singgah belanja sesuatu sepulang kantor jadi gak perlu bawa plastik pulang ke apartemen lagi.

Andai ibu penjual tahu betapa jahatnya plastik terhadap bumi ini, saya yakin dia mengerti alasanku untuk tidak menggunakan kresekan nya.

Saturday, January 3, 2009

Lessons from Kids

Kita sering meremehkan anak-anak. Terkadang celetukan mereka kita anggap bualan atau hal remeh temeh yang tidak perlu mendapat perhatian atau respon serius. Namun, jangan salah. Kids can make change. Ucapan mereka bisa sangat menakjubkan, seperti yang dialami beberapa teman saya.
Saya mempunya seorang teman, hereinafter referred to as "D" (kok kayak bahasa kontrak yah, hahaha). Oke anggaplah namanya "D". Si D ini sosok siswi SMA yang lumayan beruntung karena memperolah kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Australia (entah di kota mana, saya lupa, red). Selain supel, D memang anaknya menyenangkan. D juga rajin sholat meski belum mengenakan jilbab pada saat mengikuti program pertukaran pelajaran di Australia. Suatu hari, D berbelanja di sebuah supermarket dan melihat seorang wanita mengenakan jilbab bersama dengan anak perempuannya. Sebagai pendatang muslim di negara yang penduduk muslim nya kurang, D tentunya sangat senang bisa bertemu rekan muslimahnya. D bergegas menghampiri wanita tersebut dan menyapanya:

"Hai, where are you from? I am a moslem too from Indonesia. My name is D".
(Hai anda berasal dari mana? Saya seorang muslim juga dari Indonesia. Nama saya D)

Wanita tadi membalas dan menyebutkan namanya, asalnya (sebuah negara di Timur Tengah yang namanya lagi-lagi saya lupa, hehehe) serta memperkenalkan anak perempuannya.

Tiba-tiba si anak perempuan berteriak lantang:
"You are a liar. If you are a moslem, why are you not wearing veil?"
(Kamu bohong, Kalau kamu memang muslim, mengapa kamu tidak memakai jilbab)

Teriakan anak itu kontan membuat para pengunjung supermarket yang mendengarnya menoleh ke arah D. D sendiri sudah pasti malu. Sekembali dari supermarket, D mencoba merenung dan tak lama setelah kejadian itu, D memutuskan mengenakan jilbab.

Dan ketika D bertemu kembali dengan wanita berjilbab tadi bersama anaknya, si anak tersenyum sambil berkata "Now, I believe you are a moslem coz now you are wearing veil" (Sekarang saya percaya kamu seorang muslim, karena kamu mengenakan jilbab).

D tersenyum.

Cerita ini saya dengar dari seorang kakak senior yang hingga sekarang masih mengenakan jilbab.


Next story dari temen saya yang bercerita tentang keponakannya.

Teman saya inisialnya "S". Once upon a time (cieeeee kayak di Tipi), "S" menemani keluarga kakaknya jalan-jalan ke mall. Waktu itu di mobil ada "S", kakaknya, kakak iparnya dan keponakan cantiknya yang masih berusia 5 tahun. Percakapan di dalam mobil berlangsung normal diiringi dengan celetukan-celetukan khas bocah 5 tahun.
Tiba-tiba si bocah bertanya: "Hmmmm, Om, Mama sama Papa semuanya muslim yah?"
Serempak ketiga orang yang ditanya menjawab: "Iya, sayang".
Dilanjutkan dengan pertanyaan si bocah: "Kalau memang muslim, kok saya liat semuanya gak pernah shalat?".

KRIK KRIK KRIK

Semuanya diam. Gak ada yang menjawab semuanya hening. Menurut pengakuan "S" sih, mukanya merah dan malu sama keponakannya. Kalau sering nonton "Busted" di MTV, atau playboy cap kabel di SCTV, mungkin bisa membayangkan malunya korbannya saat ketahuan. Kira-kira seperti itulah perasaan S. (Maaf yah S, kalo deskripsinya agak berlebihan)

Mungkin pertanyaan polos bocah tadi yang merubah temen saya, si "S". Sekarang "S " benar-benar rajin shalat. Jika hang out bareng sama dia, shalat nya gak pernah kelupaan. Malah kadang saya yang shalat nya akhir waktu, hehehe. Mungkin nunggu ditegur sama anak-anak nih biar bisa shalat awal waktu.

Saya cuman mau bilang, kadang pelajaran itu bukan hanya dari orang yang lebih tua atau seumuran. Pelajaran bisa saja berasal dari anak-anak, so never igonre what they say..... It may be a hint to something.