Friday, February 13, 2015

Thawaf di Embung Tambakboyo

Pesawat yang saya tumpangi mendarat tidak mulus di bandara Adisucipto Yogyakarta, pesawat sedikit berguncang dan selanjutnya melambat. Barusan adalah penerbangan terlama ke Yogyakarta, terima kasih kepada tamu VIP yang menggunakan bandara Adisucipto dan membuat pesawat yang saya tumpangi harus berputar berulang-ulang di langit Yogyakarta. Saya akhirnya bisa mendarat dengan selamat setelah menempuh perjalanan Jakarta - Yogyakarta dalam waktu dua jam. Belum termasuk antri untuk take off selama sejam di Bandara Soekarno Hatta. 

Ah saya seharusnya sangat senang bisa tiba di Yogyakarta, kota yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi. Kedatangan saya kali ini untuk urusan pekerjaan. Dan begitu tiba di hotel yang lokasinya dekat dengan bandara, saya mulai tenggelam membaca bahan bahan yang harus saya siapkan untuk hari berikutnya. Sambil membaca bahan tersebut, iseng saya google: tempat lari di Yogyakarta. Muncullah beberapa nama, diantaranya Grha Sabha Pramana UGM dan Embung Tambakboyo. Saya menghentikan kegiatan baca materi dan mulai serius menimbang-nimbang kedua tempat ini, kira kira besok subuh tempat mana yang akan saya kunjungi. Saya tentu tak asing dengan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, saya sudah sering melewati tempat ini, jadi sepertinya saya akan menjadikan tempat ini sebagai alternatif kedua. Embung Tambakboyo dari penamaan saja sudah membuat saya penasaran. Saya mulai meng-google tempat ini dan mendapatkan foto foto menarik, tak lupa saya meng-google map untuk melihat berapa jauh jaraknya dari hotel saya. Hasil pencarian saya menunjukkan kalau tempat ini jaraknya cukup dekat dengan hotel saya. Saya tertidur malam itu dengan keputusan bulat bahwa besok pagi saya akan menunaikan ibadah lari di Embung Tambakboyo. 
Embung Tambakboyo at 5.35 am

Tuesday, February 3, 2015

Belajar Berlari (dari kenyataan)

Hiatus beberapa bulan membuat saya sedikit merasa bersalah. Ada beberapa komen komen yang masuk yang tidak sempat saya moderasi saking jarangnya saya membuka blog. Tidak hanya itu, saya juga jarang melakukan ritual blogwalking saya, ah saya memang blogger yang payah. Sebenarnya ada banyak hal yang telah saya niatkan untuk di-blog-kan tapi mood menulis memang tak kunjung datang, terlebih menjelang tutup proyek kantor saya selama Desember dan Januari. Sibuk plus gak mood memang kombinasi sempurna untuk hiatus nge-blog. 

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang hobi yang baru saya geluti selama sebulan lebih, yaitu LARI. Sejak 25 Desember 2014, saya memulai belajar ber-"lari". Berawal dari sebuah gadget bernama nike watch plus GPS besutan Nike bekerjasama dengan Tomtom, yang dihadiahkan oleh kakak saya, kebiasaan lari itu dimulai. Awalnya saya hanya memakai jamnya untuk aksesoris saja, hitung hitung belajar menggunakan jam tangan (FYI, sebelum sebelumnya saya tidak suka menggunakan jam tangan). Setelah browsing tentang kemampuan jam tangan nike ini, saya jadi berpikir, sayang juga kalau jam tangan penuh fitur ini tidak dimanfaatkan. Pada tanggal 25 Desember 2014, saya mulai menjajal jam tangan nike baru saya di sekitar rumah dan percobaan lari pertama berakhir di 2,32 km dalam waktu 15 menit. Meski ngos-ngosan serta betis dan paha rasanya mau pecah, ada rasa puas dengan pencapaian pertama ini. Saya jadi ingin mencoba lagi. Untungnya akhir Desember penuh dengan long weekend, jadi kesempatan untuk belajar lari banyak. Ditambah lagi, saya memang tidak memiliki rencana liburan kemana mana menjelang natal dan tahun baru. Akhirnya, saya memilih belajar berlari.
Nike Sportwatch GPS

Wednesday, November 5, 2014

Dorm mate/housemate for a lazy student like me (Part 3/Finale)

Hidup di Melbourne tak melulu menyenangkan. Meski Melbourne memiliki sarana transportasi yang lumayan dan tepat waktu serta panorama yang indah hingga tiap sudut kota Melbourne (katanya) layak diabadikan dalam postcard, selalu ada satu hal yang mengganjal saat saya kuliah/berkunjung ke luar negeri.... yakni  makanan. Santo yang menemani saya cuma setahun (kisah per-housemate-an saya dengan Santo bisa dilihat disini) telah meletakkan standar makanan yang tinggi di dapur rumah kami di Jones Street. Saya jadi kerap sangat pemilih dengan makanan padahal sejatinya saya gak memasak, inilah konsekuensi tinggal serumah dengan seorang chef handal, Pemilih tapi gak bisa ngapa-ngapain. 

Jones Street - Gubuk Derita
Saya sempat waswas bagaimana jika Santo pergi? Siapa yang akan memasak di rumah? Akankah saya kembali menjadi mahasiswa instan yang makannya mie instan, pasta instan dan fish cake instan? Kecemasan saya ternyata dijawab oleh Tuhan dengan mengirimkan dua chef handal yang lain. Ceritanya sebelum Santo pulang ke Indonesia, terdamparlah seorang pria baik hati di rumah kami di Jones Street. Namanya Toni, mahasiswa asal Aceh yang juga kuliah di kampus kami, the University of Melbourne. Rumah kami makin rame dengan kedatangan Toni. Tak dinyana, Toni juga piawai meracik bumbu bumbu dapur dan berkreasi menciptakan makanan yang menggugah selera. 

Tuesday, July 29, 2014

Bidan Tsanawiyah a.k.a Tanta Aji

Kampung saya, Rappang, di Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten kami, setelah ibukota Kabupaten. Letaknya kurang lebih 200 sebelah utara Makassar. Bagi kalian yang pernah ke Toraja, pasti kalian melewati kampung halaman saya ini. Seperti laiknya kota kota kecamatan di Indonesia, kota saya ini memiliki sebuah pasar Sentral yang buka setiap Selasa, Jumat dan Minggu, memiliki sebuah lapangan olahraga dan sebuah monumen yang menjadi landmark kota kecil saya ini. Rappang tak memiliki tempat tujuan wisata, mungkin karena kota nya yang landai dan tak memiliki lansekap alam yang menarik
Sawah Sawah di Rappang 

Tak banyak yang tahu atau sadar bahwa Rappang memiliki sejumlah spot spot favorit untuk berfoto berupa pemandangan sawah dengan siluet gunung yang menjadi latar belakangnya, spot foto pre-wedding yang saya yakin tak kalah dengan spot spot pre-wedding bersetting modern. Selain itu, tak pula banyak yang tahu bahwa kota kami ini memiliki sejumlah spot penjual bakso terenak di dunia (ini testimoni teman-teman dari Jakarta dan Makassar yang kebetulan berkesempatan makan bakso di Rappang). Berbicara tentang wisata kuliner, kabupaten saya sangat terkenal dengan Palekko Itik nya, atau kerap disebut nasu palekko, yakni sajian bebek dengan bumbu pedas yang nendang. Sayangnya, tak banyak turis yang tahu tentang ini, dan tak banyak pula orang lokal yang menganggap bahwa hal hal yang saya sebutkan di atas adalah potensi yang bias dikembangkan di Sidrap, hehehe.
Bakso kampung yang enak tiada tara 

Tuesday, July 15, 2014

Menyepi di Gili Nanggu

"Cipu, do you know other Gili apart from the three famous Gilis?", pesan singkat Whatsapp masuk saat saya sedang sibuk ngerjain data dan belajar sebuah software di kantor. Si Chris nampaknya memang sangat excited tentang rencana liburannya ke Lombok. Saya memang sudah bilang ke Chris bahwa saya mau nemenin dia travel di Lombok tapi tidak ke tiga Gili terkenal itu. 

"What about Gili Nanggu?", saya sendiri belum banyak riset tentang Gili Nanggu,cuma pernah dengar entah dari siapa bahwa Gili Nanggu itu indah. Jadi saya menjawab pertanyaan Chris sekenanya saja. 

4 menit kemudian 

"Hey the place looks nice, can you book it for one night? So we could have time formorning and afternoon snorkel there ?", Temen bule saya ini memang sangat decisive. Sudah kebelet liburan nampaknya.

10 menit kemudian 

"Booked, Chris. No advance payment needed, we'll pay the room once we got there", jawab saya setelah kasak kusuk mencari no telepon penginapan dan mengontak langsung pengelolanya. 

"Perfect, mate", jawab Chris. Saya kembali ke rutinitas dan tenggelam dalam data.

Tenggelam dalam data (salah caption)

Monday, June 23, 2014

Bertemu Inspektur Vijay di Fiji

Downtown Kota Nadi (baca: Nandi)  

Suasana pusat kota Nadi, dengan tempat belanja terbesar di Nadi
Hari itu hari terakhir saya dan Lies di Nadi, Fiji. Melirik dompet, kami ternyata masih punya sisa beberapa dollar Fiji untuk dibelanjakan. Yes, last day of a trip is perfect for shopping provided that you still have leftover money from your trip. Saya dan Lies memutuskan untuk kembali menelusuri jalan utama Nadi untuk mencari oleh oleh. Memang tidak ada pilihan lain untuk cari oleh oleh selain di jalan utama Nadi. Meskipun Nadi termasuk salah satu kota terbesar di Fiji, jalan utama Nadi hanyalah sebuah jalan lurus sepanjang kurang lebih 1 km dengan deretan toko di kiri kanan jalan dan sebuah pasar sentral di bagian tengahnya, mirip mirip kota kecamatan kalau di Indonesia. 

Dari seberang hotel, kami menumpangi bus menuju ke pusat kota. Selang 10 menit, kami sudah sampai di pusat kota dan mulai menyusuri toko toko souvenir di kanan dan kiri jalan dan masuk ke kantor pos untuk mengirimkan beberapa postcard. Kami berencana untuk window shopping dulu untuk menargetkan apa yang akan kami beli, setelah itu baru shopping beneran. Waktu kami masih banyak, pesawat kami berangkat sore kok. Saat memasuki sebuah money changer, Lies merogoh tas nya dan mulai mencari-mencari sesuatu. 

"Eh passport saya mana yah? Duit yang saya mau tukar saya selipkan di passport", kata Lies mulai panik.