Monday, January 2, 2012

Benarkah Liburan Menambah Berat Badan?

Saya kembali ke Indonesia untuk menikmati liburan sekolah terpanjang yang pernah saya alami seumur-umur. Saya sudah tak ada kuliah sejak 10 November 2011 dan baru akan memulai aktifitas akademik tanggal 28 Februari 2012, lumayan lah buat menyegarkan otak yang memang sudah hampir mendidih. Rencana mengisi liburan pun sudah saya rancang jauh-jauh hari. Tujuan saya kali ini adalah: SIDRAP. Where the heck is that? Itu maksudnya di kampung halaman saya. Ada banyak hal yang saya mau kerjakan di kampung halaman saya, namun yang paling utama adalah menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Sudah sebulan setengah sejak kepulangan saya ke Sidrap, tak banyak yang saya bisa update. Blog terbengkalai karena koneksi internet di kampung yang "antara ada dan tiada", kegiatan utama saya adalah mengupil di rumah sambil nonton TV yang isinya sinetron, gosip atau menonton Islam itu Indah (Okkotsnya banyak soalnya). Sesekali saya ke Makassar kalau ada undangan ngumpul dari teman. Salah satu kegiatan ngumpul-ngumpul saya di Makassar sempat diliput oleh salah seorang teman blogger Makassar di sini

Ada satu pertanyaan tabu yang tak sopan ditanyakan kepada para pelajar yang berlibur ke kampung halamannya: "Sudah naik berapa kilo?". Wuiiih ini pertanyaan amat sangat sensitif untuk ditanyakan. Apa pasal? Mereka yang pulang kampung pasti mencari-cari makanan-makanan yang jarang atau tidak pernah didapatkan di tempat mereka menuntut ilmu. Dan sekali makan pasti nombok. Fenomena inipun menimpa saya kali ini. Saya jadi merasa menyaingi pak Bondan dalam mencoba kuliner-kuliner kampung. Sudah pasti berat badan saya naik. Kalo ditanya "naik berapa?", saya tak akan menjawab. Sudah cukup lama saya tak bersahabat dengan timbangan badan dan sejenisnya. Meski saya di kampung rajin bersepeda, bahkan berhasil menghidupkan kembali klub bersepeda yang mati sure, serta rajin bermain bulu tangkis sampe kaki keseleo, toh kegiatan-kegiatan menghambur-hamburkan keringat ini tetap tak berpengaruh banyak dalam menekan laju kenaikan berat badan yang meningkat secara eksponensial ini. 
barobbo', berbahan dasar jagung dan paling enak dimakan dengan.... ikan kering

Setelah dipikir dan dianalisa, nampaknya kenaikan berat badan (yang entah berapa kilo) yang saya alami saat ini bermuara pada beberapa sebab: 

  1. Mama saya rajin memasak dan saya adalah anak yang menghormati jerih payah orang tua. Mama tahu persis menu favorit saya adalah ikan kering, sayur bening, perkedel jagung dan sambel tumis. Sejak kedatangan saya, entah sudah berapa banyak ikan kering yang masuk ke perut ini. kadang saya sudah pesan ke mama kalo saya gak makan malam, namun mama tetap masak. Dan sebagai anak yang berbakti dan menghormati jerih payah mama (hueeekkk), saya pun icip-icip sedikit masakan mama yang kerap berujung pada dua piring nasi plus lauk (ALAMAK!) 
  2. Semboyan makan nggak makan asal kumpul terpatri sangat kuat dalam jiwa tetangga-tetangga saya. Balai bambu di depan rumah tiap hari dijadikan ajang mengumpulkan lauk dan makan bersama. Tetangga sebelah kanan dan kiri rumah saya nampaknya memang suka makan sambil ngumpul-ngumpul. Jadwalnya bisa di pagi hari, siang hari bahkan bisa malam hari. Bertukar lauk atau numpang makan di rumah tetangga sudah bukan hal tabu lagi di rumah yang baru keluarga kami tempati selama setahun ini. 
  3. Bakso di kampung saya adalah bakso terenak di dunia. I mean it. Teman-teman dari Jakarta yang pernah main ke kampung saya sangat merindukan bakso dari kampung saya. Bakso-bakso enak ini tersebar di seantero kampung saya yang diasuh langsung oleh Mas Sukiman, mas bakri, mas minuk, mas Slamet dan mas-mas lainnya. Dengan mematok standar 10 ribu rupiah per mangkok, tak ayal jika bakso menjadi jajanan yang paling banyak dikonsumsi di kampung saya. Saya sendiri adalah pemegang gold member di  bakso mas Bakri. Positifnya adalah, saya jadi banyak tahu perkembangan kampung kalo makan di warung ini. (Warung Bakso adalah tempat bertemunya orang-orang di kampung, heheheh) 
  4. Jajanan di kampung, meski murah namun tetap berukuran jumbo. Nampaknya, para pembuat jajanan memang memihak konsumen kalo di kampung. Standar harga jajanan di kampung adalah Rp. 1.000 per biji. Dengan harga segitu, saya kadang kalap belanja jajanan pagi-pagi dan mau tak mau jajanan tersebut harus dihabiskan. Favorit saya adalah pastel kampung, martabak mini dan katiri sala (makanan khas bugis). 
  5. Ajakan ketemuan artinya ajakan makan. Menjamu tamu menurut adat kami adalah dengan menyediakan makan. Dan sepertinya itu sudah harga mati. Salah seorang teman saya dari Mexico sampai menggeleng-geleng kekenyangan saat disuguhkan makan terus-menerus oleh keluarga saya saat dia menghabiskan beberapa hari di kampung saya. Pun dengan ajakan ketemuan, saya kerap diajak ketemu teman untuk ngobrol, dan tempat paling afdol untuk ngobrol tak lain dan tak bukan.... WARUNG BAKSO. Saya yakin si Mas penjual bakso sudah hapal benar pesanan makanan saya: baksonya ga pake mie dan ga pake mangkok LOL 
Cooking with neighbors

Daily routine: meals with neighbors 

Inilah kelima alasan utama mengapa saya menambah berat badan di kampung. Padahal saya ingat banget sebelum liburan saya sudah bertekad baja untuk membatasi asupan makanan saat mudik, dengan dalih kesehatan. Namun, harus diakui pesona ikan kering, bakso, jajanan pasar memang sulit untuk dibendung. Damn. Saya berjanji saat pulang kembali ke Melbourna, saya akan rajin berolahraga dan..... menerapkan pola makan sehat, hehehe. Trust me.... 

Saturday, November 5, 2011

Warrior - I fight for my family

Jarang-jarang saya mereview film di blog karena saya sadar saya bukan ahli me-review film apalagi ngomong detail tentang sinematografi. Definitely not my expertise. Kalaupun harus me-review film, itu pasti karena TERPAKSA. Seperti postingan kali ini, saya akan me-review film yang berjudul Warrior karena terpaksa. Terpaksa karena film nya terlalu bagus, terlalu mempesona, dan terlalu sayang buat dilewatkan. 

Hari ini, Sabtu, cuaca Melbourne cerah ceria. Sayang rasanya kalau tinggal di rumah untuk belajar. Cuaca cerah terlalu sayang untuk dilewatkan. Kebetulan, seorang teman saya ngajak nonton. Awalnya diputuskan mau nonton Midnight in Paris, tapi ternyata si teman sudah nonton. Saya pun menawarkan alternatif lain yakni Warrior yang akan tayang 40 menit lagi. Tanpa sempat membaca sinopsisnya, saya langsung ganti pakaian, berparfum secukupnya untuk menutupi fakta bahwa saya tidak sempat mandi siang tadi, hehehehe. Saya dan teman tiba tepat waktu di bioskop. Ekspektasi saya: Warrior itu adalah film kolosal sejenis the Gladiator, Braveheart dan semacamnya. 
Wajib tonton
(http://onlinemovieshut.com)
Film ini bercerita tentang perjalanan dua mantan petarung untuk meraih gelar juara martial arts bertajuk SPARTA. Film ini diawali dengan kembalinya Tommy (diperankan oleh Tim Hardy) menemui bapak kandungnya (yang mantan pelatih tinju, diperankan oleh Nick Nolte) setelah 14 tahun tak pernah pulang. Tommy jelas-jelas lebih parah dari Bang Toyib yang cuma 3 lebaran ga pulang-pulang. Kepergian Tommy selama 14 tahun dipicu oleh perilaku bapak nya yang pemabuk, dia menyimpan dendam pada sang Bapak. Kepulangannya menemui bapaknya semata untuk meminta bantuan sang bapak untuk menjadi pelatih demi keinginannya menjadi juara di SPARTA. Setelah 14 tahun kepergian anaknya, sang Bapak banyak berubah. Alkohol sudah tak disentuh lagi, kehidupan sang Bapak menjadi jauh lebih relijius. Kepulangan Tommy menjadi kesempatan untuk sang Bapak memperbaiki segalanya, namun sepertinya Tommy menganggap sang Bapak sudah terlambat untuk meminta maaf. Hubungan mereka semata petarung dan pelatih, menurut Tommy. 
Tommy and his Dad
(http://www.daemonsmovies.com/2011/04/07/warrior-movie-trailer-with-tom-hardy/)
Tokoh lain yang tak kalah menarik adalah Brendan, sang mantan petarung yang merubah total kehidupannya menjadi seorang guru Fisika yang sangat dicintai muridnya, serta ayah dari dua gadis mungil dan suami dari seorang istri yang cantik. Brendan is a family man. Demi menjalani kehidupan yang normal, Brendan berjanji pada istrinya untuk tidak kembali ke arena laga. Namun, kehidupan sebagai guru ternyata tak mampu menopang ekonomi keluarganya. Ancaman bahwa rumahnya akan disita membuat Brendan harus berupaya mencari uang tambahan, dan bertarung menjadi satu-satunya pilihan. Karena pilihannya ini, Brendan dinon-aktifkan dari sekolah karena dianggap tidak patut menjadi contoh bagi murid-muridnya. Kejadian demi kejadian membuka jalan bagi Brendan untuk menuju SPARTA. Masuk SPARTA tentunya tidak mudah, hanya 16 petarung yang akhirnya akan terpilih dan bertarung memperebutkan hadiah sebesar USD 5 juta. Hadiah yang menggiurkan bagi Brendan yang sedang dihimpit masalah keuangan. 
Brendan, the family man
(http://www.beyondhollywood.com/warrior-2011-movie-review/)
Film ini berjalan lambat di awalnya. Namun, sutradara Gavin O'Connor berhasil merangkai serpihan-serpihan cerita di awal film menjadi sebuah cerita yang sangat menarik. Film ini penuh kejutan-kejutan yang setiap saat bisa menciptakan suasana yang emosional. Terbukti, ibu-ibu yang duduk di sampingku tak berhenti mengusap mata nya yang berair. Entah, mungkin kelilipan kali. Pertemuan antara Brendan, Tommy dan ayah Tommy terjadi di pertengahan film yang menyingkap teka-teki penggunaan tiga tokoh sentral dalam film ini. Alotnya pertarungan si SPARTA juga disajikan dengan sangat menawan dalam film ini. Empat jempol (thumbs and toes) saya acungkan ke O'Connor atas kepiawaiannya menggiring penonton dari alur cerita yang lambat ke klimaks cerita yang luar biasa. Ini yang saya sebut orgasme film.

Bagaimana ketiga tokoh ini terhubung? Berhasilkah mereka menaklukkan SPARTA? Well, go watch it, dude. 

Sebelum film ini, film bertajuk "the Fighter" juga memiliki tema yang hampir sama: tinju dan keluarga. Film ini banyak mendapat pujian dari kritikus film. Tapi menurut saya, film the Warrior selangkah lebih maju dari film "the Fighter". Karakter tokoh-tokoh nya begitu kuat: sang Bapak (pelatih alkoholik yang sudah insyaf), Tommy (sang petarung hilang) dan Brendan (guru Fisika yang mantan petarung). Banyak sekali momen menegangkan dan momen yang bisa mengaduk-aduk emosi para penonton. 

Tak salah jika film ini banyak dipuji kritikus. 

"Warrior will knock you out", - The New York Times 

"Truly one of the best films I've seen all years" - Ain't it cool news 

"Fiercely moving", - Rolling Stones 

"Riveting! Draws you in since the first scene" - Vanity Fair 

"Sure to keep you on the edge of your seat", - People 

Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. So be ready to be knocked out by the Warrior and please bring tissue ladies!!.

Saturday, October 29, 2011

Perubahan Iklim dan Pisang

Jangan membeli PISANG di Melbourne

KENAPA?

Call me insane this time... Judul postingannya gak banget... Perubahan Iklim dan Pisang? Jaka Sembung bawa goblok kan? Well, saya akan mulai merunut dari awal apa hubungan antara Perubahan Iklim dengan Pisang. (Maaf kalau postingan ini agak nyeleneh, maklum lagi bulan Oktober.... Bulan penuh cobaan bagi mahasiswa-mahasiswi di negeri Kangguru).

Perubahan iklim a.k.a Climate Change sudah bukan istilah asing di telinga kita. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan semakin panasnya suhu global karena emisi yang 95% disebabkan ulah aktifitas manusia. Penggunaan bahan bakar yang bersumber dari perut bumi serta penggundulan hutan menjadi penyebab utama pemanasan global. Apa dampaknya? Sudah banyak dampak yang sebenarnya kita rasakan: kenaikan air laut sudah mulai dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah pesisir, anomali cuaca, kekeringan di beberapa tempat dan banjir di tempat lain. Belum dampak di bidang kesehatan dan pangan.
Banjir Queensland. Courtesy of: http://www.abcm.com.au

Masih ingat tidak bencana yang menimpa Queensland Australia awal Januari lalu? Banjir besar yang katanya bencana terburuk di Australia ini terjadi setelah hampir 1 dasawarsa benua ini dilanda kekeringan berkepanjangan. Pemanasan global menyebabkan perubahan siklus El Nino dan La Nina yang menyebabkan wilayah Australia mengalami kekeringan berkepanjangan, namun begitu mendapatkan hujan, tak tanggung-tanggung hebatnya. Kira-kira begitulah gambaran sederhana tentang situasi Queensland pada saat itu. Mengikuti pepatah Indonesia: Years of drought is swept away by weeks of flood (Kemarau bertahun-tahun terhapus oleh banjir bandang berminggu-minggu). Well, ini sebenarnya peribahasa karangan saya.

Loh apa hubungan nya dengan pisang? Queensland merupakan salah satu pemasok sayur dan buah ke Melbourne dan ke beberapa kawasan yang lain. Banjir hebat di Queensland menenggelamkan daerah-daerah penghasil sayur dan buah. Dampaknya sangat mudah ditebak, harga sayur dan buah seketika melonjak tajam menembus awan di Melbourne dan sebagian Australia. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan harga sayur dan buah ke posisi sebelum bencana.

Harga apel dan jeruk mulai kembali ke posisi sebelum banjir. Namun, pisang berbeda. Saya yang merupakan penganut bananaisme alias pisangholic sungguh terpukul dengan stabilnya harga pisang di sekitaran 11- 13 dollar per kilo. Harga ini cuman sedikit turun dibandingkan harga pisang sesaat setelah bencana yakni 15 dollar per kilo. Saya jadi begitu perhatian sama pisang, setiap kali memasuki pasar atau ke supermarket saya selalu mengecek tempat pisang dipajang. Kenapa yah harga pisang tidak turun-turun juga? Apa pisang yang baru ngambek dan tidak mau tumbuh di tanah bekas banjir? Ah saya benar-benar sudah sakau pisang. 
Harga pisang di Coles Melbourne per Juli 2011. Picture is courtesy of  marcoluthe in flickr (http://www.flickr.com/photos/marcoluthe/5941843595/sizes/l/in/photostream/)
Pernah saya mencoba membeli pisang per biji yang waktu itu dijual 2 dollar per biji, namun sekali lagi saya menelan kecewa karena pisangnya hambar. Saya patah hati sama pisang. Sekalinya murah, malah hambar. Saya memilih menghitung mundur waktu kepulangan saya ke Indonesia. Karena apa? Salah satunya adalah saya kangen makan pisang asli Indonesia yang enak dan beraneka rasa. 

Jadi menjawab pertanyaan di atas. Kenapa membeli pisang tidak dianjurkan di Melbourne? 

Jawabnya: Karena Mahal dan Gak Enak...... 


Berikut ini video desperado penduduk Australia akan mahal nya harga pisang:



Banana is forbidden fruit in Melbourne, it worths 3 bucks a piece


Wednesday, October 5, 2011

Liburan ala orang Indonesia kesasar

Berapa minggu kah waktu efektif perkuliahan di kampus saya? Jawabannya 12 minggu. Tiap tahun, semester ganjil dilaksanakan mulai akhir Februari hingga awal Juni, sedangkan semester genap dilaksanakan mulai akhir Juli hingga awal November. Mengingat beban kuliah yang berat sampai bisa mengakibatkan penyakit jarang mandi dan obesitas karena kebanyakan ngemil, pihak kampus berbaik hati menghadiahkan mahasiswanya liburan dua minggu setelah minggu ke delapan. Kalau di semester ganjil, namanya autumn break (liburan menyambut musim gugur), kalau semester genap namanya spring break (liburan menyambut musim semi).

Dua minggu lalu spring break dimulai di kampus. Bagaimana suasana kampus saat spring break? Ternyata tak banyak berubah. Perpustakaan masih tetap ramai meski tak seramai hari hari biasa, lapangan rumput di depan perpustakaan masih penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang lagi pacaran dan berdiskusi. Dan kantin kampus masih tetap ramai. Loh, emang pada gak liburan yah? Ah pertanyaan yang menyakitkan. Mana bisa libur kalau sebelum liburan kita dikasih tugas yang menumpuk dan harus dikumpul setelah liburan berakhir. Lagu riang Tasya "Libur telah tiba" sungguh tak cocok diputar di tengah-tengah kampus saat spring break. Ya iyalah, lagunya pake bahasa Indonesia, mana mengerti bule-bule ini.
a spot at Baillieu Library, Melb Uni
Saya sendiri tidak banyak berkutik. Sebelum break, saya sudah mengoleksi tujuh tugas dari dosen-dosen yang sungguh pengertian. Tugas-tugasnya harus selesai awal Oktober. Plus tugas laporan saya sebagai relawan di sebuah LSM deket kampus yang deadline nya sama juga dengan deadline tugas-tugas kampus saya. Untungnya, saya memang tidak pernah booking pesawat di tiap libur tengah semester. Sudah bisa memprediksi bakal mabok tugas pas libur dua minggu itu.

Di tengah-tengah kekalutan tugas dan garis kematian (baca: deadline), saya dapat dua ajakan jalan jalan lokal. Yang pertama dari teman-teman jurusan dan yang kedua dari teman-teman Indonesia. Masing-masing menawarkan daytrip. So total ada dua hari perjalanan. Lumayan, daripada mengeram di lab kampus, ntar kelelep tugas jadinya.

Daytrip pertama saya adalah Anglesea. Anglesea merupakan kota kecil berjarak 115 km di sebelah barat daya Melbourne. Saya dan teman-teman Master of Environment berjumlah 13 orang dan berangkat ke Anglesea dengan tiga mobil. Perjalanan ke Anglesea cuma memakan waktu sekitar 90 menit, maklum jalan nya lancar jaya. 

Anglesea termasuk dalam kawasan Great Ocean Road dan terkenal akan pantai nya. Tempat ini ramai dikunjungi orang menjelang musim semi dan mencapai puncaknya di musim panas. Saya dan teman-teman ke Anglesea berniat mengambil kursus kilat surfing. WHAT? Iyah silahkan tertawa kawan. Orang-orang Australia pada berlomba-lomba ke Bali dan Lombok untuk berselancar. Saya malah belajar berselancar di Australia. What an irony.... Saya tiba-tiba merasa jadi orang Indonesia kesasar. Teman-teman tersenyum penuh arti begitu mereka sadar bahwa saya aslinya berasal dari negara yang punya sejumlah lokasi surfing  yang pastinya jauh lebih indah dari tempat surfing di Australia. Dasar saya ga mau kalah, saya bilang saja sama mereka kalau saya ini gak seberapa, banyak lho orang Indonesia yang gak bisa berenang padahal air dimana-mana. (Yang gak bisa berenang gak usah angkat tangan, cukup mengiyakan dalam hati saja yah). 
Courtesy of Rob N 
Begitu tiba di Anglesea, kami langsung diamanatkan untuk mengenakan wetsuit. Pelajaran surfing dimulai dengan surfing di atas pasir. Posisi saat telungkup, duduk dan berdiri dilakukan berulang-ulang sampai instrukturnya haqqul yaqiin kami sudah menguasai teorinya. Setelah itu, kami pun dilepas melaut. Eh maksudnya dilepas ke laut, hehehehe. Permasalahan muncul (khususnya untuk saya), perairan di Australia ternyata tak sehangat laut di Indonesia. Meski matahari cukup terik hari itu, air laut mah tetep aja bikin menggigil. Wetsuit pun tak banyak membantu. Jadilah saya melawan ombak sambil kedinginan. Ternyata, surfing itu tak segampang duduk dan berdiri di daratan. Sejatinya seorang surfer dilatih untuk memahami ombak serta kemampuan timing kapan mengayuh, kapan duduk dan kapan berdiri. Saya? Yah saya berhasil berdiri dua kali, dan berhasil jatuh banyak kali. Belum lagi kegagalan saya merubah posisi dari tengkurap ke posisi duduk karena bokong yang keberatan. Yaaaa nasib. Beberapa teman sepertinya berbakat surfing, mereka cepat banget bisa berdiri dan bisa mempertahankan posisi berdirinya lumayan lama. 
Group Picture. Courtesy: James M 

Setelah surfing selesai, kami cuman menghabiskan waktu ngobrol ngalur ngidul sambil makan sore. Lumayan bisa kenalan sama beberapa teman yang memang tidak begitu saya kenal. Mobil kami pun bertolak ke Melbourne, saya tiba dengan selamat sentosa tentram dan bahagia tepat pukul 6 sore teng. 

Dua hari kemudian, saatnya daytrip kedua. Tujuannya adalah Wilson Promontory National Park. Saya dan belasan teman Indonesia lain bertolak ke Wilson Promontory National Park menggunakan dua mobil van berkapasitas masing-masing 8 orang. Wilson Prom terletak lebih dari 200 km di sebelah tenggara Melbourne. Tempat ini merupakan salah satu taman nasional di wilayah Victoria dan banyak dikunjungi oleh mereka-mereka yang hobi kamping. Sayangnya, karena banjir yang melanda tempat ini beberapa waktu yang lalu, beberapa lokasi dalam taman nasional ini masih ditutup untuk umum.
Tidal river 
Wilson Prom memiliki luas sekitar 505 km persegi. Dan mengelilingi tempat ini dalam satu hari adalah mission impossible. Akhirnya, diputuskan kami ber belasan ini akan menjelajahi tidal river, tidal river outlook dan mengambil rute hiking 4 jam ke squeaky beach. Setelah makan siang di parkiran mobil, petualangan resmi dilaksanakan (halah). Perjalanan ala Ninja Hattori pun dimulai... Kami mulai mendaki gunung, lewati lembah dan melalui sungai yang mengalir ke Samudera. Semakin mendaki, kami makin ngos-ngosan tapi pemandangan dari atas juga makin indah. Dengan tertatih-tatih akhirnya kami tiba di atas sebuah batu dimana sesi  narsis dimulai dilanjutkan dengan pertunjukan tari saman di atas bukit (belom pernah ada yang nari saman di atas bukit kan?). 
Saman-ers on action... di puncak bukit
Panorama dari atas 
Setelah puas menikmati pemandangan tidal outlook, rombongan meneruskan perjalanan ke squeaky beach. Perjalanan ala Ninja Hattori berlanjut lagi. Semakin dekat ke pantai, nyamuk semakin banyak... lebih buruk rupa pula dari nyamuk-nyamuk di Indonesia. Bentuknya item dan tetep nempel meski tangan sudah dikibas-kibaskan. Untungnya serangan nyamuk selama perjalanan terbayar dengan pemandangan squeaky beach yang indah. Tapi, lagi-lagi pantai disini indah dipandang tapi tidak indah buat mandi. Bisa-bisa "enter the wind". Puas menikmasi squeaky beach, kami mengambil jalur lain untuk ke parkiran yang ternyata jauh lebih landai dan singkat. Ah tau gitu tadi ga usah hiking jauh-jauh yah hehehehe. 
Squeaky beach from distance 
Well, meski cuman libur dua hari dari 14 hari jatah libur, saya tetap puas. Tugas-tugaspun lancar begitu kembali dari dua daytrip ini. Semua tugas akhirnya bisa selesai tepat waktu (tapi nilainya ga jamin lo yah hahahaha). Well, saatnya merencanakan liburan panjang tiga bulan pas November nanti. Any idea? or ada yang mau bayarin? Ada yang mau kasih tiket gratis? (Jyaaah ngelunjak)  
Wilson Prom Team, Courtesy: Otsamir  
Tulisan ini dibuat pas setelah deadline terakhir dikumpul 

The EnG

Saturday, September 17, 2011

My Guilty Pleasure (Shopping... but secondhand)

Sejak kuliah di Australia, saya jarang belanja baju, tas, sepatu apalagi gadget. Saya merasa bahwa persediaan baju saya cukup, netbook kecil saya masih lumayan mumpuni, kamera non-DSLR saya juga masih bagus sebagai teman saat traveling. So, why bother buying stuff if I don't need them?. 

Sampai suatu ketika, netbook biru mungil saya mulai ngadat dan kadang berulah. Tiga kali ketikan saya hilang (yang sebagian besar kesalahan saya karena saya lupa men-save), yang membuat saya harus mengulang kembali tugas kampus. Bukan hanya itu, si netbook ternyata juga mulai ngadat saat membuka file excel yang besar sementara salah satu mata kuliah saya membutuhkan komputer dengan kemampuan itu. Awalnya, saya anteng saja karena saya toh masih bisa mengandalkan komputer kampus. Sayangnya, komputer kampus pun tak seindah yang saya bayangkan, performanya 11-12 dengan netbook saya. Selain itu, kadang susah mendapatkan komputer kampus apalagi di saat-saat sibuk (10 am - 4 pm) karena membludaknya antusiasme mahasiswa menggunakan laptop kampus, cieeeehhhh kesannya mahasiswa kampus ku rajin amat yah. 

Pencarian laptop pun dimulai. Saya mulai berkunjung ke ebay dan situs belanja online lainnya, melihat-lihat spesifikasi laptop dan harganya. Hmmmm, laptop yang saya inginkan mahal nya tak karuan. Saya juga mulai merambah website-website khusus secondhand, salah satunya adalah gumtree. Keuntungan gumtree adalah penjualan barang bekasnya dilakukan per area, jadi kalau saya di Melbourne maka saya bisa membuka gumtree khusus untuk wilayah Melbourne. Keuntungan nya adalah calon pembeli tidak harus memiliki akun gumtree untuk bertransaksi. Metodenya: biasanya calon pembeli menghubungi email empunya barang dan janjian ketemu di suatu tempat untuk inspeksi. Kalau cocok, sang calon pembeli bisa langsung transaksi. Tapi, kalau tidak suka, si calon pembeli tidak harus membeli. 

Mata saya langsung tertuju pada sebuah iklan yang menawarkan macbook pro 13" yang masih baru (7 bulan), masih garansi dan harganya 40% lebih murah dari harga baru. Softwarenya lengkap dan kapasitasnya sudah di-upgrade. Setelah berkonsultasi dengan teman saya yang kuliah IT, saya jadi niat membeli macbook yang ditawarkan karena katanya dengan harga segitu spesifikasinya sangat bagus. 

happy face with my mac
Well, saya pun meng-email yang punya macbook via gumtree. Saya memeriksa ulang grammar dan isi email saya sebelum dikirim, maklum menulis email dalam bahasa Inggris bukan keahlian saya. Email berbalas, ternyata yang punya macbook tinggal dekat dari tempat saya, cuman berjarak sekitar 300 m. Ah pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya mengkonfirmasi jadwal ketemuan dengan dia via email yang harus berulang-ulang saya cek grammarnya biar yang baca nanti ngerti. Kami sepakat ketemuan dan ternyata yang mau jual macbook nya adalah cewek INDONESIA. Jyaaaah, tau gitu ga perlu susah-susah saya utak atik grammar saat nulis email. Alasan dia sederhana, dia mau jual macbook nya karena terlalu berat dan dia mau beralih ke macbook air. Hmmmm fair enough, saya periksa barangnya sejenak dan tak memakan waktu lama bagi saya untuk memutuskan bahwa macbook itu harus menjadi milik saya. Dan, macbook pun berpindah tangan. Dan macbook impian pun di tangan. Teman Vietnam saya sampai iri karena dia baru membeli Macbook Pro yang baru dengan spesifikasi sama dengan harga AUD 1600 sedang saya cuman membeli nya dibawah AUD 900. Nice deal, right? (sambil senyum jumawa). 

murah meriah tak-mencret
Petualangan belanja saya berlanjut saat saya butuh alat perekam video yang praktis untuk proyek lingkungan yang akan saya lakukan di Indonesia. Iseng-iseng saya buka gumtree untuk melihat camcorder, pilihan saya jatuh ke sebuah camcorder toshiba camileo yang harganya setengah harga aslinya. Saya segera menghubungi yang punya barang dan langsung memutuskan untuk inspeksi barang di rumahnya. Saya selalu menanyakan alasan penjualan sebuah barang sebelum membeli. Toshiba camileo ini dijual karena barang ini adalah wedding gift, sedangkan si empunya barang sudah memiliki alat perekam yang lebih canggih. Camcorder pun berpindah tangan. Another good deal, isn't it? 

kapasitas 23 L, muat buat buka warung
Bawaan saya ke kampus menjadi semakin banyak: laptop, buku, charger-charger, lunch box (kadang-kadang), cemilan, buah dan alat tulis. Huaaaaa kayak mau buka warung yah... banyakan bawa makanannya daripada bahan buat belajar. Tas yang sekarang saya miliki kurang lapang untuk menampung keperluan buka warung saya di kampus. Jadi kadang saya ke kampus harus pake tas model backpack plus satu tas jinjing. Membawa dua tas ke kampus sangat mengganggu karena saya selalu bersepeda ke kampus. Saya kembali mencurahkan uneg-uneg ke gumtree. Pilihan jatuh ke tas crumpler merah yang harga aslinya 265 AUD. Lucunya, yang punya tas ini lagi-lagi berjarak dekat dengan rumah saya. Ah.... ini pertanda lagi nih hehehe. Tak butuh lama saya bertransaksi (maksudnya saya keukeuh minta harganya diturunin), saya mendapatkan harga yang cukup murah untuk tas yang jarang dipake ini, cuman sepertiga dari harga aslinya. Saat saya melihat tasnya, nampak bahwa tasnya jarang digunakan. Saya juga yakin tasnya bakal kuat dan muat menampung perlengkapan warung saya ke kampus. Alasan dia menjual tasnya adalah tas nya kegedean. Mungkin karena dia cewek kali yah, makanya kurang begitu nyaman sama tas gede. Well another cheap bargain from a secondhand website. 

Di kampus, teman-teman menjuluki saya Mr. Gumtree karena saya beli barang-barang ini via gumtree. Sempat mendapat kritik juga dari mereka bahwa saya harus belajar mengontrol nafsu belanja. Saya merasa bersalah sih belanja tiga barang ini dalam kurun waktu yang berdekatan. Teman-teman saya ada benarnya. Mungkin saya harus mengurangi petualangan gumtree saya. Tapi sekali lagi, alat ukurnya adalah "need" (kebutuhan), bukan "want" (keinginan). Dari perspektif lingkungan juga belanja di gumtree jauh lebih ramah lingkungan, karena kita melakukan transaksi langsung. Beda dengan belanja di ebay, amazon dan sejenisnya, yang pengiriman barangnya ke seluruh dunia jelas-jelas berdampak emisi yang besar terhadap gas rumah kaca di atmosfer. 

Sekian cerita guilty pleasure kali ini.... Jangan kalap belanja seperti saya yah, hahahah. 

video

Video pertama, edited using iMovie (cam nya masih goyang-goyang) hehehe

Friday, September 2, 2011

Lebaran kedua di Melbourne: Serunya Pluralisme

Di hari lebaran di tanah air, suara pertama yang kita dengar saat terjaga pada waktu subuh adalah suara takbir dan tahmid. Di Melbourne, jangan harap ada suasana seperti itu. Different field, different grasshopper (baca: lain padang lain belalang, heheheh) kata pepatah kita. Setelah sholat, mandi dan mengenakan batik kebesaran serta jaket winter, saya bergegas menunggu tram tak lupa menenteng lontong hasil masakan semalam.Yah hari itu adalah ldul Fitri kedua saya di Melbourne
Idul Fitri in Sport Centre, The University of Melbourne
Banyak yang bertanya bagaimana lebaran di Melbourne? Ikut Muhammadiyah atau ikut pemerintah? Ada sholat ied gak Melbourne? Seru gak idul fitri di sini?. Akan dijawab satu per satu setelah iklan berikut ini. Sholat ied di Melbourne ditentukan hari Rabu mengikuti hasil rapat majelis ulama Victoria. Sholat ied untuk orang-orang Indonesia (yang non-Indonesia juga boleh ikut) kebetulan dilaksanakan di  Sport Centre kampus saya. Setiap tahun biasanya ada panitia khusus yang dibentuk oleh mahasiswa Indonesia di Melbourne untuk pelaksanaan Idul Fitri. Karena dilaksanakan oleh orang Indonesia, khatib nya pun sudah pasti berbahasa Indonesia, jadi gak perlu mikir dua kali saat mendengarkan khutbah.  Saya sendiri bukan panitia, tapi saya berteman dengan para panitia, itung-itung bisa bantu dan semoga bisa bawa pulang makanan. Amiiiin. 

Perkiraan jumlah pengunjung adalah 800-1000 orang terdiri dari mahasiswa dan warga Indonesia yang memang sudah menetap dan malah ada orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Australia. Tradisi setelah lebaran adalah para panitia kudu mengadakan halal-bi-halal langsung setelah selesai khutbah. Bayangkan, saudara-saudara ada 800 orang yang mau makan bersama. Siapa yang menyuplai makanan? KAMI semua. Halal-bi-halal dilaksanakan dengan sistem potluck, jadi tiap-tiap yang datang dipersilahkan membawa makanan untuk dishare ke yang lain. Saya memilih membawa lontong, yang bikinnya gampang. Soalnya kalo saya keukeuh mau bawa rendang, saya sudah haqqul yakin ga bakal ada yang mau nyomot rendang buatan saya. Walhasil di hari H, panitia ada yang menjadi penyambut jemaah, ada juga yang menjadi tim penyambut makanan bawaan jemaah. Saya sudah tentu lebih memilih menjadi relawan penyambut makanan. Banyak jenis makanan yang dibawa oleh jemaah, ada rendang, opor, sambel goreng ati, pudinng, cake, buah dll. Lumayan lah buat cuci mata sebelum kenduri besar-besaran. 

Antri makanan potluck
Sholat ied nya berlangsung khidmat. Sholatnya makin terasa sangat Indonesia dengan beberapa tangisan bayi yang menambah syahdu nya sholat ied. Setelah sholat selesai, para jemaah diarahkan ke luar Sport Centre untuk mulai mencicipi makanan hasil potluck. Antrian begitu panjang, sampai-sampai panitia berulang kali mengingatkan jemaah agar tidak memasuki lintasan jogging. Mungkin karena antriannya kepanjangan, beberapa jemaah memutuskan pulang lebih cepat. Ada seorang ibu yang protes ke kami bahwa pengaturan jemaah tahun ini agak kacau. Saya sih cuman bilang dalam hati: yah kalo gitu, taun depan lu aja yang jadi panitia, Bu.... Hehehehe. Kasihan juga melihat teman-teman panitia yang sudah susah payah menjadi relawan di tengah deadline tugas dan ujian, masih saja diprotes. Bantu tertibkan lah kalau memang dirasa kacau. 
Menunya tinggal dipilih....
Saat jemaah makin berkurang, masalah baru muncul. Masih banyak banget makanan yang tersisa. Masih ada rendang, opor, sambel goreng ati, juice, buah. Dengan semangat 45, saya mulai mengumpulkan beberapa jenis makanan untuk dibawa pulang. Kalau masalah bawa pulang makanan sih, saya gak nolak dan gak malu. Soalnya saya pernah tinggal di asrama yang mengajarkan prinsip: when it comes to food, you SHY, you DIE. Setuju? Alhamdulillah, aksi anti-mubazir saya diikuti oleh teman-teman yang lain. Walhasil meja makan di rumah yang tadinya kosong melompong kini benar-benar terasa nuansa idul fitrinya dengan semarak rendang, opor ayam dan sambel goreng ati hasil jarahan. Hahahaha.Eid Mubarak. 

Satu hal yang membuat saya terharu adalah partisipasi rekan-rekan non muslim untuk membantu dalam pelaksanaan lebaran ini. Mereka datang dari pagi ikut membantu mengarahkan jemaah ke tempat sholat, ikut membantu mengkoordinir makanan, ikut membantu menyusun meja, ikut memonitor meja saat halal-bi-halal dilaksanakan. Di Melbourne, saya justru merasakan apa yang terasa hilang di Indonesia: toleransi dan kerukunan. Teman-teman non-muslim tidak canggung untuk membantu kami-kami yang sedang merayakan Idul Fitri. Can't thank them more.
Bahagia setelah menjarah sisa halal bi halal

Panitia rebutan jarahan

Wajah wajah bahagia para penjarah

Sekian liputan lebaran di Melbourne. Semoga bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Sekarang saya mau menikmati rendang hasil jarahan dulu. 

Wassalam