Friday, February 5, 2016

My Unusual Bali Duty Trip

Sejak kembali bekerja, saya sangat jarang melakukan perjalanan jenis backpack lagi. Dulu, waktu jaman kuliah, saya bisa travel 2 mingguan atau lebih ke suatu tempat tanpa khawatir akan ini dan itu. Pekerjaan dengan cuti yang tidak banyak memang mengurangi keleluasaan seorang pegawai untuk meninggalkan kantor selama 2 minggu atau lebih. Dengan jatah cuti yang tidak banyak (dipotong cuti Idul Fitri yang biasanya 3 hari), sulit bagi saya untuk backpack berminggu-minggu. Namun, itu tidak berarti saya tidak kemana-mana, saya kerap mendapatkan penugasan ke beberapa kota di Indonesia. Duty travel ini memberikan saya sedikit hiburan meski memang kepuasannya berbeda dengan perjalanan yang murni wisata. Kalau sedang duty travel, setidaknya waktu malam bisa saya manfaatkan untuk menikmati kuliner dan waktu pagi untuk sekedar jogging 5 km. 

Tuesday, December 29, 2015

Nike Running Kembali Nol

Kebiasaan lari saya sedikit banyak dipengaruhi oleh aplikasi lari yang saya gunakan. Saya adalah pengguna Nike Running atau Nike+, aplikasi besutan Nike yang bisa diunggah ke hape dan digunakan saat berlari. Dengan menggunakan Nike Running, pelari dapat mengetahui jarak lari, pace (waktu tempuh per km), waktu tempuh serta jalur lari. Tampilannya yang sederhana dan user-friendly menjadikan aplikasi ini banyak digunakan oleh pelari. Keunggulan Nike Running mungkin terletak pada data lari yang dapat dicantumkan di foto, untuk selanjutnya dipamerkan di media sosial. Selain itu, Nike Running juga mengompilasi jarak lari bulanan/mingguan penggunanya dan menyusun urutan (leaderboard) berdasarkan jarak kumulatif.

Perkenalan saya dengan Nike Running bermula dari tahun lalu saat saya dihadiahkan Nike+ Sportwatch dari kakak saya. Untuk bisa mengunggah data saya ke nike running, saya harus menggunakan nike connect dan mencolokkan jam tangan saya ke laptop/macbook. Nike connect akan memindahkan data lari saya ke nikeplus.com, tempat semua data para pelari disimpan. Dengan menggunakan aplikasi Nike Running di IPhone saya, saya bisa langsung mengunggah data data dari nikeplus tersebut ke perangkat hape saya. Jadi proses pemasukan data saya sebenarnya agak ribet: 

Dari jam tangan ke laptop dan kalo udah masuk laptop sekalian bisa di update di iphone.

Wednesday, December 2, 2015

Trail-masya ke Gunung Pancar

Sejak pengalaman trail run pertama saya di Salak Halimun, saya merasa agak kapok membayangkan medan trail run yang berat serta pengalaman kaki saya yang keseleo dua kali. Sejak ikut trail run pertama, beberapa teman telah mengajak saya untuk ikut trail run lagi di sejumlah tempat. Semuanya saya tampik dengan alasan: saya belum punya sepatu yang pas buat trail run, sepatu trail lama saya tidak cukup protektif terhadap kaki kiri saya yang gampang keseleo (yah ini cuma alasan saja sebenarnya). Sejak itu, tawaran untuk trail run menjadi sepi, saya pun makin rajin ikut road race di beberapa tempat. 

Hingga di suatu pekan, teman-teman Cibubur Runners (Burners) sangat ramai mendiskusikan trail run ke Gunung Pancar. Melihat animo yang begitu besar, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar. Alhamdulillah, nama saya masuk di urutan sekian belas dari dua puluhan rekan Burners yang mendaftar. Harapan saya cuma dua: bisa menyelesaikan trail run tanpa cedera dan bisa menikmati pemandangan indah Gunung Pancar yang tersohor itu. 
The team: Bang Edo (yang melet-melet), Didit (yang megang kamera), Davi (Yang baju biru), Gua (yang pake topi biru baru beli), Pak Patrap (yang pake topi cokelat), Pak Harris (yang pake topi merah) dan Pak Joan (yang baju merah)

Monday, November 23, 2015

De Koi Kopi: Ikan Koi Dalam Cafe

Saya sering bingung kalau ditanya gini nih sama teman-teman " Eh Pu tempat nongkrong atau ngopi yang enak di Cibubur dimana yah?", soalnya selain saya anak rumahan (tssaaaah) alias ga suka kelayapan, saya juga gak terlalu suka kopi. Jadi paling-paling tempat yang saya rekomendasikan adalah Cibubur Junction atau Ciputra Mall, soalnya referensi tempat nongkrong saya memang tidak banyak.

Minggu ini, ajakan ngopi dari teman teman Cibubur Runners (Burners) tiap malam masuk ke hape saya. Pastinya ngumpul sama teman-teman penggemar lari Cibubur ini selalu asyik, cuma sayang memang minggu ini jadwal keluar kota saya belum berakhir. Ajakan nongkrongnya di sebuah cafe baru bernama De Koi Kopi. Penasaran dengan tempatnya, saya akhirnya berkesempatan Sabtu malam kemarin buat bertandang ke tempat ini. Ternyata jaraknya cuma 5 menit naik sepeda dari rumah saya. Alhamdulillaah, gak perlu jauh jauh ke Cibubur Junction atau ke Mall Ciputra. Well, I am never a fan of Starbucks anyway.

Ternyata De Koi Kopi merupakan sebuah cafe yang didirikan untuk menyalurkan kecintaan Pakde (pemilik De Koi Kopi) dan Pak Dede (co-owner) pada kopi dan ikan koi. Konsep cafe nya pun menurut saya sangat unik. Begitu masuk, mata pengunjung langsung dimanjakan dengan sebuah meja kaca melengkung yang berfungsi sebagai pembatas akuarium besar, tempat pak Dede menaruh beberapa ekor ikan koinya. Jadi pengunjung yang datang bisa duduk di meja tersebut sambil memandangi ikan koi yang menggoda buat difoto.
 
Ngopi sambil diliatin ikan

Saturday, November 14, 2015

Amazing Race ala Gunung Jaribaru

Saya tiba kepagian di bandara Lombok Praya hari itu. Pesawat saya yang akan transit Bali menuju ke Makassar baru akan bertolak jam 9 pagi,  dan saya sudah tiba di bandara sebelum jam 7. Saya sudah tidak sabar untuk pulang kampung dan menghadiri pernikahan sepupu saya di kampung saya di Sidrap (sekitar 4 jam perjalanan darat dari Makassar). Saya menarik koper saya masuk ke bandara dengan sukacita. Namun, saya harus menelan kekecewaan saat saya tiba di check in counter. Bandara Praya ditutup hari itu akibat erupsi gunung Jaribaru, dua hari sebelumnya Bandara Ngurah Rai dan Selaparang juga sudah ditutup akibat erupsi gunung yang sama. Keluarga saya sudah mengeluarkan ultimatum bahwa saya harus hadir di pernikahan sepupu saya pada hari Sabtu di kampung halaman. Kalau tidak ada kenduri keluarga sih, saya tentunya dengan senang hati terperangkap di Lombok, saya bisa dengan mudah melipir ke Gili Nanggu hehehe. 
My travel buddies: Pak Djarot, Bu Balkis dan Bu Anna

Saya segera menelepon driver mobil yang disewa kantor, namanya pak Satria, yang tadi mengantar saya ke bandara. Saya meminta Pak Satria untuk menunggu saya karena saya akan mencari alternatif lain untuk bisa pulang kampung. Sambil menarik koper saya, saya berpapasan dengan Bu Balkis dan Bu Anna, kolega kantor yang juga datang ke Lombok untuk workshop yang saya hadiri. Mereka berdua juga harus segera meninggalkan Lombok, Bu Balkis harus ke Polandia hari Jumat malam sedangkan Bu Anna harus menghadiri kegiatan lain di Jakarta pada hari Jumat. Dengan ketidakpastian informasi penerbangan untuk keesokan harinya, kami memutuskan untuk segera meninggalkan Lombok demi misi kami masing-masing. 

Saturday, October 17, 2015

Tragedi Bunk Bed Bergoyang

Traveling menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Umumnya, anak-anak muda sekarang sudah mulai melek jalan-jalan. Destinasi-destinasi dalam dan luar negeri pun sudah menjadi makin jamak diantara para traveler muda. Umumnya perjalanan-perjalanan yang dilakukan secara berkelompok atau berjamaah, mungkin karena kalau bareng-bareng pahalanya lebih  tinggi sebanyak 27 derajat (asli ini lawakan garing). Indahnya jalan-jalan bareng teman tentunya karena selama perjalanan kita tidak sendiri dan selalu ada partner untuk memecahkan masalah. Beberapa perjalanan yang saya lakukan juga bareng teman-teman dan biasanya selalu berakhir seru dan fun, tentunya dengan koleksi foto gokil dan video yang bergiga giga watt byte (baca: ngabisin hard disk).  

Namun tidak di semua situasi saya selalu bisa membawa teman. Perjalanan saya bareng teman-teman ke New Zealand yang awalnya cuma ingin menuntaskan North Island berujung dengan keputusan saya untuk melanjutkan perjalanan ke South Island sendiri. Keputusan ini saya ambil di ujung perjalanan saya di North Island, mengingat saya masih punya delapan hari dan sedikit sisa uang untuk melanjutkan perjalanan. Saya memesan penginapan dan penerbangan ke South Island sehari sebelum keberangkatan. Untungnya, tiket pesawat ke South Island masih terjangkau dan New Zealand memiliki jaringan penginapan kelas backpacker melarat ala YHA dan X-Base yang selalu bisa memberikan solusi jitu. 
X-base Christchurch, yang bertetangga dengan Novotel (sewa kamarnya bagai langit dan bumi)

Saturday, September 26, 2015

My First Trail Run

Meski sudah malang melintang di dunia perlarian selama beberapa bulan, saya belum pernah punya niat untuk ikut yang namanya trail run a.k.a lari lintas alam. Alasannya sederhana, kaki kiri saya pernah keseleo parah sampai saya ngesot beberapa hari dan jalan pincang dua minggu gara gara sok sok jumping smash saat main badminton. Untungnya saat itu, saya lagi libur kuliah jadi tidak perlu khawatir tentang PR dan tugas. Sejak kejadian itu, kaki kiri saya menjadi sangat gampang keseleo saat menjejak di bidang yang miring. Tercatat beberapa keseleo susulan yang menimpa saya setelah itu, beberapa diantaranya mengharuskan saya work from home karena saya tidak bisa ngantor. Alasan inilah yang menjadi penyebab mengapa saya tidak pernah mendaftar trail run, saya kapok keseleo.

Akhir Agustus, Mr Singh, teman lari yang selalu bertemu saya di setiap race yang saya ikuti, mengirimkan pesan bahwa pertengahan September akan ada trail run di taman nasional Salak Halimun. Mr Singh sudah mendaftar dan mencoba mengompori saya untuk ikut. Saya mencoba konfirmasi ke teman saya yang lain, Mbak Rima, yang juga senang ikut trail run, ternyata Mbak Rima juga sudah daftar dan ikut ngomporin. Segera saya menghubungi panitianya dan memang ternyata masih ada slot. Fix.... Saya ikut Jungle Marathon Party di Taman Nasional Salak Halimun.
Trail Run Provokator No.1: Mr Singh

Trail run provokator no.2: Mbak Rima

Saturday, July 11, 2015

Tasyghiilul Lail (Ibadah Lari di Malam Hari)


Halah judulnya nyontek Qiyamul Lail yah (alias beribadah pada malam hari). Kali ini judulnya Tasyghiilul Lail atau ibadah lari di malam hari. Memasuki bulan Ramadhan, saya awalnya agak waswas tidak bisa menjalankan hobi lari saya lagi. Perasaan waswas ini bukan tidak berdasar, jika hobi lari saya vakum, maka pasti butuh waktu lama lagi untuk mengumpulkan semangat memulai lari lagi. Belum untuk membangun pace lari yang luluh lantak karena ditinggal puasa.
 
Night run di kompleks
Untuk bisa tetap lari di bulan puasa, tentunya diperlukan strategi khusus. Saya tidak mungkin lari di pagi hari atau setelah sholat Subuh, karena saya bisa saja kehausan dan malah batal karena kehausan. Uji coba lari pertama saya akhirnya dimulai pada hari ketiga puasa. Saya memutuskan untuk lari sore menjelang buka puasa. Saya rencana untuk lari 5 km sore itu dengan estimasi waktu sekitar 35-40 menit (waktu rata-rata saya untuk 5 km adalah 33 menit). Jam 5 teng, saya mulai melakukan pemanasan dan jam 5.10 saya mulai lari.  Di kilometer pertama, saya masih bugar. Namun memasuki kilometer kedua saya tiba tiba merasa lemas dan haus. Kecepatan saya menurun drastis. Lari sore itu hanya berakhir di kilometer ketiga. Kesimpulan uji coba pertama saya: lari sore nggak cocok untuk saya saat lagi puasa.