Thursday, March 13, 2014

Dorm mate/housemate for a lazy student like me (Part 2)

Kali ini cerita saya bukan tentang traveling, tapi sedikit flash back ke masa-masa kuliah di Melbourne. Adalah saya, mahasiswa asal Indonesia yang tidak memiliki skill memasak namun memiliki skill menghabiskan makanan tingkat dewa. Adalah saya, mahasiswa yang hanya punya skill bikin telur dadar dan masak mie instan. Tinggal di Melbourne sudah lama saya impikan, namun kota yang katanya the most livable city in the world ini toh tidak benar-benar sempurna, dari kacamata mahasiswa enggan masak seperti saya. Melbourne tidak memiliki five feet meatball soup seller (pedagang bakso kaki lima), tidak ada penjual gorengan pinggir jalan, kalaupun ada jajanan biasanya tidak sesuai kantong atau tidak sesuai dengan indra pengecap saya.

Rumah kecil kami di Jones Street
Siksaan dimulai di hari pertama saya di Melbourne. Makanan pertama yang saya cicipi adalah..... ah sudah bisa ditebak.... Mie Instan. Makan malam pertama saya di Melbourne adalah satu slice pizza pinggir jalan seharga 7 AUD (sekitar Rp 70.000) yang sangat tidak menggugah selera. Hari pertama yang kurang menyenangkan, belum lagi dinginnya Melbourne yang menusuk hingga ke sumsum iga konro bakar hahahaha. 

Sunday, November 17, 2013

Iki Island: Japanese Hospitality

Jepang memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia, salah satunya adalah Indonesia dan Jepang sama sama sebuah negara kepulauan. Jepang memiliki lebih dari 6.000 pulau sedangkan Indonesia memiliki jumlah hampir tiga kali lipat dari Jepang. Di Jepang, ada empat pulau utama yakni Honshu, Hokkaido, Kyushu dan Shikoku. Pulau yang saya tempati namanya Kyushu terletak di bagian selatan Jepang dan iklim nya "sedikit" lebih hangat dari pulau-pulau utama lainnya. Saya beruntung, sewaktu di Jepang, saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat yang tak lazim dikunjungi turis-turis yang datang ke Jepang, salah satunya adalah Iki Island atau dalam bahasa Jepang disebut Iki Shima.

Perjalanan saya ke Iki Shima dimulai dari persahabatan saya dengan seorang mahasiswa Jepang di kampus. Namanya Shin Matsushima, rambutnya unik namun baik hati (eh?). Yang membuat saya akrab dengan Shin adalah karena kami membuat band bersama dengan nama panggung "Kuroshiro Band" alias Band Hitam Putih. Apa pasal namanya seperti itu? Dinamakan Hitam Putih, karena awaknya terdiri dari gabungan beberapa ras, ada Katarina dan Samuel dari Eropa (Slovakia dan Prancis), Shin dan Madoka (asli Jepang), Yuni (Korea), Saya dan Mas Adi (Pontianak dan Bule alias Bugis Tulen). Terkadang kami juga mengerahkan teman-teman kami yang lain untuk menjadi penari latar atau sekedar memberi suporter saat kami manggung, soalnya gak banyak yang berminat menyaksikan kami manggung hahahaha.
Kuroshiro band crews

Sunday, November 3, 2013

Ke Luar Negeri Pertama

Setiap kita pasti memiliki kenangan tersendiri tentang pengalaman pertama ke luar negeri. Mungkin dalam lawatan pertama ke luar negeri tersebut, terselip cerita unik, cerita menegangkan atau mungkin malah cerita lucu yang membekas dalam ingatan. Saya pun demikian, pengalaman pertama saya ke luar negeri terjadi saat masih mahasiswa S-1 semester sekian untuk mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa. Kebetulan, kampus yang saya tuju adalah Saga University di Jepang. Sampai sekarang saya masih bingung dengan istilah "student exchange"yang menjadi label program yang saya ikuti ini, karena saya tidak melihat adanya pertukaran antara mahasiswa kampus saya (yang hobi tawuran itu) dengan kampus Saga. Yang terjadi adalah, saya yang dikirim ke kampus Saga University selama beberapa bulan dan entahlah saya dibarter dengan apa, tidak ada mahasiswa kampus sana yang main ke kampus saya. 

Saat itu, tahun 2004. Pengalaman naik pesawat saya masih sangat minim (baru dua kali) dan saya belum memiliki pengalaman apapun tentang penerbangan keluar. Akses internet pun masih terbatas, saya harus rajin ke warnet untuk berkoresponden dengan pihak Saga University terkait dokumen kelengkapan dan persiapan asrama, dan segala tetek bengek yang lain. Saya sendiri was-was karena untuk tahun itu, peserta dari Indonesia cuma saya seorang. Tahun sebelumnya dan tahun setelahnya, Indonesia selalu kebagian tiga orang. Yang artinya, untuk tahun itu saya akan berangkat sendiri ke Jepang. Kalau bingung di jalan artinya bingungnya buat saya sendiri, nggak jadi bingung berjamaah. 
Paspor pertama, boarding pass ke Kansai, tiket penerbangan dan bukti pembayaran fiskal

Tuesday, October 15, 2013

One Gloomy Afternoon in Nadi

Fiji, sebuah negara yang tak banyak didengar orang dan bukan merupakan tujuan wisata favorit orang-orang di Indonesia. Bagi para traveler Indonesia, Fiji sudah pasti kalah pamor dengan negara-negara Asia Tenggara, Eropa, Jepang ataupun Korea sebagai negara tujuan wisata. Kenapa? Jawabannya sederhana: (Pertama): Jualan Indonesia dan Fiji hampir sama- pantai tropis dan air laut yang hangat- jadi kalau sudah ada di Indonesia, ngapain repot-repot, jauh-jauh dan mahal-mahal ke Fiji,  dan yang (Kedua): tidak ada jalur Air Asia yang menjamah negara-negara di Pasifik seperti Fiji (artinya: tiket pesawat ke Fiji insya Allah mahal). Makanya, yang banyak berkunjung ke Fiji juga adalah orang-orang dari Eropa, Australia, Jepang dan Korea. 
Peta Fiji (retrieved from www.sportifdive.co.uk)
 Selepas menikmati beberapa hari di Pulau Mana di Fiji (cerita lengkap tentang perjalanan saya ke Fiji bisa dilihat di sini), saya dan partner in crima saya dalan perjalanan ini (Lies) berencana menghabiskan dua hari terakhir di Nadi (baca: Nandi), kota terbesar ketiga di Fiji sekaligus kota yang menjadi gerbang utama turis ke Nadi. Siang itu begitu mendarat dari Pulau Mana via boat ke Nadi, saya dan Lies segera check in di backpacker hostel pilihan kami, Nadi Skylodge. Backpacker hostel di Fiji untungnya tidak terlalu mahal ($13 per malam per orang), jadi lumayan bisa menghemat budget perjalanan. 

Saturday, August 10, 2013

Long trip for a long weekend (a small note of a grumpy and impatient bus passenger)

Kata teman saya, selama 2013 ini ada sekitar delapan spot di kalender yang masuk dalam kategori Hari Kejepit Nasional (Harpitnas). Kata teman saya lagi, traveler Indonesia makin pintar saja dari hari-hari ke hari, thanks to travel blog yang menjamur dan buku buku travel lokal yang kian marak menghiasi rak-rak buku di toko-toko buku dalam negeri. Saking pinternya, tiket tiket promo ke destinasi destinasi favorit selalu saja habis dengan singkat. Apesnya bagi saya, kesibukan kantor kerap membuat saya tidak bisa ikutan hunting tiket promo mengingat jadwal jadwal kegiatan saya yang kebanyakan tentatif.

Suatu ketika di bulan Maret, saya yang masuk baru beberapa minggu di kantor ikut-ikutan panas mendengar rencana teman-teman yang pada mau long weekend. Seminggu sebelum long weekend, saya mulai bergerilya mencari tiket perjalanan. Tujuannya? Tak lain dan tak bukan… Yogya. Alasannya simpel, saya terakhir ke Yogya tahun 2010, yang berarti sudah 3 tahun saya tidak ke Yogya. Lumayan lama untuk ukuran seorang Yogya addict seperti saya.
 
Who doesn't love Yogya? 

Friday, August 2, 2013

Guide Gratis Yang Baik Hati (Part 2)

Kelar menghabiskan waktu bersama Santi, tak berarti saya kehabisan guide. Keesokan harinya, beberapa teman saya yang lain mengirim pesan pendek via facebook dan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu saya malamnya. Saya? Tentu tidak bisa menolak, bagaimana bilang tidak ke teman-teman saya ini. Wong trainingnya berakhir jam 5 sore kok.

Siapa guide saya kali ini? Mereka adalah Amara, Toey, Ron dan Yuni, teman-teman saya yang memang menetap di Bangkok. Amara, Toey dan Ron berkewarganegaraan Thai, sedangkan Yuni berkewarganegaraan Korea namun sudah hampir 7 tahun tinggal di Thailand dan penguasaan Bahasa lokalnya sudah fasih. Saya terakhir bertemu mereka tahun 2005 dan tak sabar untuk bertemu lagi karena mereka ini dulunya teman saya gila-gilaan, karaokean dan party-party saat masih menuntut ilmu, menuntut beasiswa dan menuntut perhatian di Jepang. Ron sendiri adalah salah satu dorm mate saya yang kamarnya bersebelahan dengan kamar saya di asrama mahasiswa kere kami yang bernama Seifu Ryo Dormitory, asrama termurah yang pernah ada hahaha. 
Yuni, Toey and Amara, 8 years ago... Kawaii Ne... 
 "I will wait for you at Sala Deng BTS", pesan Whatsapp dari Amara saat Sky Train yang saya tumpangi persis berhenti di Stasiun BTS Sala Deng, daerah Silom.