Saturday, March 2, 2013

Masyarakat dan Perubahan Iklim


Perubahan Iklim 

Istilah Climate Change atau Perubahan Iklim semakin tak asing lagi di telinga kita akhir-akhir ini. Gas Rumah Kaca menjadi “tersangka” dalam fenomena perubahan iklim. Klaim ini mungkin ada benarnya, namun banyak diantara kita yang belum sepenuhnya memahami bahwa gas rumah kaca memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Sebenarnya, tanpa gas rumah kaca suhu rata-rata di bumi menurut para ahli yang tergabung dalam Intergovernmental Panel for Climate Change (IPCC) adalah sekitar -19 derajat Celcius. Suhu yang tidak memungkinkan bagi manusia dan sebagian besar organisme lainnya untuk bertahan di bumi.  Gas rumah kaca sebenarnya berfungsi sebagai selimut bagi bumi untuk menjaga bumi agar tetap hangat dan bisa didiami (habitable) oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, seiring dengan penggunaan batu-bara, minyak bumi serta produk turunannya yang menghasilkan emisi GRK dalam jumlah yang sangat besar, “selimut” gas rumah kaca yang menyelimuti bumi menjadi semakin tebal. Akibatnya, semakin banyak panas matahari yang terperangkap di bumi. Selimut yang terlalu tebal pun pasti akan membuat penggunanya kegerahan, pun pada “warga bumi” yang selimut gas rumah kacanyasemakin tebal.

IPCC mencatat bahwa suhu di bumi rata-rata telah naik sebesar 0,7-0,8 derajat Celcius. Akibatnya, efek perubahan iklim mulai terasa antara lain perubahan siklus hidrologi yang berujung pada banjir dan kekeringan, kenaikan air laut, mencairnya es di kutub utara, semakin banyaknya penyakit endemis, kelaparan dan tenggelamnya pulau-pulau kecil. IPCC memprediksikan bahwa kenaikan suhu rata-rata bumi sebesar 2 derajat celcius sudah akan menyebabkan berbagai bencana di berbagai belahan bumi. Nampaknya jalan kita untuk melewati batas kenaikan dua derajat tersebut akan semakin mulus jika langkah-langkah preventif (mitigasi) tidak dilakukan.
Dampak perubahan iklim berdasarkan kenaikan suhu bumi (Sumber: http://www.mindmapart.com/wp-content/uploads/2009/04/impacts-climate-change-mind-map-jane-genovese.jpg)

Dampak dan upaya-upaya penanganan perubahan Iklim

Siapa yang paling rentan terhadap Perubahan Iklim? Yang paling rentan terhadap isu perubahan iklim ini adalah mereka yang hidup di pulau-pulau kecil serta masyarakat pesisir mengingat seringnya badai yang disertai kenaikan air laut. Negara-negara atol di Pasifik, negeri kecil seperti Maldives, pulau pulau kecil di Indonesia, pesisir landai di Bangladesh adalah wilayah-wilayah yang sangat rentan dan kemungkinan hanya tinggal nama dalam satu atau beberapa dekade ke depan jika mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tidak berjalan dengan baik. Selain itu, para petani juga bisa menjadi kelompok yang rentan dengan ketidakpastian cuaca berupa musim hujan yang tak berkesudahan atau kemarau yang tak berujung yang mengancam ketahanan pangan.

Saat ini, dunia mulai fokus terhadap upaya-upaya pengurangan emisi melalui United Nations Framework for Climate Change (UNFCCC). Sayangnya upaya ini sangat difokuskan ke kegiatan-kegiatan preventif pengurangan emisi berupa kegiatan-kegiatan mitigasi perubahan iklim. Sementara, kegiatan-kegiatan yang menyentuh mereka yang telah terkena dampak perubahan iklim (kegiatan adaptasi) belum begitu diarusutamakan. Dunia berlomba-lomba membuat inovasi ramah lingkungan atau label “hijau” dimana-mana, namun seolah lupa bahwa ada sejumlah orang yang telah terkena dampak akibat dosa kolektif umat manusia. Negeri seperti Maldives, Tuvalu, Samoa dan negara-negara pulau kecil lainnya adalah negara-negara dengan jumlah emisi GRK mendekati nol namun merekalah yang langsung merasakan dampak perubahan iklim berupa cuaca ekstrem dan kenaikan air laut yang perlahan-lahan menenggelamkan pulau serta peradaban yang ada di atasnya.

Dampak masif perubahan iklim terhadap kehidupan umat manusia mengundang atensi banyak pihak dari berbagai belahan dunia, salah satunya adalah Oxfam. Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Oxfam banyak terlibat dalam kampanye isu adaptasi perubahan iklim, khususnya yang terkait dengan dampak perubahan iklim pada petani serta kaitan perubahan iklim dengan gender.


Saat menilik rencana-rencana adaptasi di berbagai tempat, nampak bahwa rencana aksi yang kerap ditawarkan oleh para pemangku kepentingan adalah rencana-rencana teknokratik (teknis) dan sangat top-down. Pembangunan tanggul di daerah pantai, perbaikan sistem irigasi untuk mengatasi kekeringan, peningkatan sistem drainase di daerah rawan banjir hingga migrasi besar-besaran penduduk ke negara lain adalah beberapa contoh rencana adaptasi. Rencana-rencana ini kelak akan menjadi proyek-proyek pembangunan infrastruktur, namun apakah akhirnya rencana-rencana tersebut mencapai tujuannya? Apakah masyarakat sebagai orang yang menikmati realisasi rencana tadi jadi benar-benar terbantu? Jawabnya, kadang ya kadang tidak. Tanggul yang dibangun bisa saja berhasil di beberapa tempat namun gagal di tempat lain, pun irigasi dan drainase. Rencana pemindahan besar-besaran penduduk Tuvalu ke Australia pun ditolak mentah-mentah oleh sebagian penduduk Tuvalu. Sebagian mereka memilih mati di tanah yang telah menghidupi mereka. Ikatan emosional seperti inilah yang kerap hilang dalam sebuah rencana. Rencana yang baik adalah rencana yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pertanyaannya adalah apakah rencana-rencana yang ditawarkan tersebut dirumuskan, dikonsultasikan dan dijalankan bersama dengan masyarakat. Apakah masyarakat dalam rencana ini adalah subjek perencana atau objek penderita?


Masyarakat: pemangku kepentingan yang berdaulat

Kunjungan saya ke sebuah desa pesisir bernama Toli-toli di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara di tahun 2007 mengajarkan sebuah perspektif baru tentang masyarakat yang berdaya. Penduduk desa ini menggantungkan hidup mereka pada hasil laut. Ikan di tempat ini awalnya melimpah dan masyarakat sekitar tak perlu berlayar jauh untuk mendapatkan ikan. Di sekitar tahun 1985, usaha-usaha penangkapan ikan besar mulai masuk di tempat ini dan memperkenalkan penggunaan pukat dan penggunaan peledak untuk menangkap ikan dalam jumlah yang besar. Hutan bakau di sekitar desa pun mulai ditebangi untuk keperluan penduduk. Penduduk perlahan-lahan merasakan jumlah ikan di tempat mereka berkurang. Mereka pun harus berlayar lebih jauh untuk bisa mendapatkan ikan.
Sekelompok (7 orang) pemuda yang kerap berkumpul di kedai kopi di desa itu mulai mendiskusikan hasil tangkapan mereka yang tak pernah memuaskan seperti dulu. Dari diskusi mereka, diperoleh kesimpulan bahwa metode penangkapan ikan menggunakan peledak atau pukat telah merusak ekosistem bawah laut di pesisir desa tersebut serta penebangan hutan bakau adalah pemicu berkurangnya hasil tangkapan mereka. Kampanyepun dimulai, door to door ke rumah warga dengan maksud mengajak warga sekitar menghentikan kegiatan mereka. Meski awalnya mereka dicibir, namun keteguhan mereka mendapatkan perhatian dari kepala desa. Kepala desa selanjutnya menghubungi Bappeda dan LSM setempat untuk mendapatkan bantuan. Serangkaian kampanye publik dan pelatihan pun mulai intens dilakukan di Desa Toli-toli. Pemahaman akan bahaya metode penangkapan ikan yang mereka gunakan perlahan-lahan mulai merubah cara pandang masyarakat bahwa alam tidak memberikan sumber dayanya cuma-cuma, melainkan ada ekosistem yang harus dijaga.
Kawasan konservasi di Desa Toli Toli (Sumber: http://greenpressnetwork.blogspot.com/2012/03/belajar-konservasi-kima-di-toli-toli.html)

Pemerintah dan LSM lokal memberikan sejumlah pelatihan seperti budidaya rumput laut, penanaman kembali mangrove, karang buatan serta pengenalan konsep daerah bebas penangkapan ikan (marine protection zone). Pelatihan ini diikuti oleh masyarakat desa secara sukarela. Pertemuan desa yang kerap dilakukan semakin meyakinkan masyarakat setempat bahwa praktek-praktek penangkapan yang mereka lakukan tidak berkesinambungan dan akan merugikan anak cucu mereka jika dilakukan. Berkat pelatihan tersebut, masyarakat perlahan-lahan berubah. Kegiatan-kegiatan pengrusakan sudah tidak lagi dilakukan dan digantikan dengan konservasi lingkungan. Saat ini, Desa Toli-toli tak hanya memiliki hutan bakau yang menjadi pelindung desa saat badai terjadi, namun desa ini juga membudidayakan rumput laut, karang-karang yang ditanam mulai tumbuh dan yang terpenting adalah jumlah ikan di desa ini kembali melimpah. Warga desa maupun warga luar yang mencoba menangkap ikan secara ilegal di daerah penangkapan ikan harus siap-siap dengan sederet hukuman dan denda dari penduduk desa. Fakta bahwa kegiatan-kegiatan konservasi  masih terus dilakukan hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat merasa memiliki program yang mereka jalankan karena mereka memang dilibatkan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan operasional. 

Suara Masyarakat dalam Pelaksanaan Adaptasi Perubahan Iklim


Meski Perubahan Iklim bukan menjadi dasar warga Toli-toli untuk bertindak, namun ada pelajaran yang dapat diambil dan dijadikan bahan untuk menghadapi isu yang lebih global yakni perubahan iklim. Masyarakat Desa Toli-toli adalah contoh masyarakat yang berdaya karena mereka menyadari masalah yang mereka hadapi, mereka memutuskan sendiri solusi tentang masalah yang mereka hadapi dan merencanakannya bersama-sama, mereka menggunakan sumber daya yang mereka miliki dan mereka mengawasi dan terus meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar mereka. Semangat ini yang seharusnya kita coba gali dari masyarakat terkait isu adaptasi perubahan iklim. 

Meski kegiatan adaptasi perubahan iklim bertajuk “community based” atau “partisipatif” semakin marak, kerap rasa “partisipatif” dan “berbasis masyarakat” itu tak terlihat. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih dianggap sebagai penerima informasi dan objek, bukan sebagai mitra sejajar untuk membuat rencana aksi bersama-sama.

Kegiatan-kegiatan adaptasi berupa pemasangan tanggul, perbaikan sistem irigasi, peningkatan sarana drainase ataupun kegiatan-kegiatan adaptasi lainnya akan menjadi bermakna saat direncanakan dan diimplementasikan bersama. Kearifan lokal dan pengetahuan mereka akan daerah mereka akan sangat bermanfaat dalam kegiatan adaptasi lokal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bukan tak mungkin, masyarakat memiliki gagasan yang lebih baik atau telah melakukan inisiatif yang tak tertangkap radar kita, seperti masyarakat di desa Toli-toli. Mereka yang lebih mengenal wilayah mereka, mereka yang lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Orang luar (outsider) dapat membantu mereka dalam bentuk fasilitasi, memberi bantuan teknis atau dana, namun tidak ikut memutuskan apa yang terbaik untuk mereka.

Proses partisipatif seperti ini memang terkadang memakan waktu lama mengingat banyaknya pihak yang akan terlibat dan banyaknya kepentingan yang akan diakomodasi. Namun, sebuah konsensus dalam perencanaan bisa menjadi landasan kokoh untuk pelaksanaan dan kesinambungan sebuah program atau kegiatan. Pendekatan “one solution fits all” sudah harus ditinggalkan untuk kegiatan-kegiatan terkait adaptasi perubahan ikim, mengingat setiap daerah memiliki dampak perubahan iklim yang berbeda serta sumber daya yang tak sama untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Masyarakat adalah the sleeping giant, tak berarti apa-apa saat ia tidur. Namun, saat ia bangun, ia bisa menghadapi apa saja. So, let’s wake up the giant, cooperate with him and a massive change will come.

Referensi: 

Department of Sustainability and Environment Victoria. (2007). Types of Engagement  Retrieved 19 October 2010, from  http://www.dse.vic.gov.au/DSE/wcmn203.nsf/LinkView/826C50BCDCEEFE5ACA2570760009C8037CF6F92574A8BB1DCA25707C0006ED8B


Halim, A., & Karateng, A. (2006). Good Practice Case Study of Toli-toli Village. Kendari: Japan International Cooperation Agency

Siry, H. Y. (2009). Making Decentralized Coastal Zone Management Work in Indonesia: Case Studies of Kabupaten Konawe and Kabupaten Pangkajene and Kepulauan   Doctor of Philosophy, The Australian National University Canberra. Retrieved from http://dspace.anu.edu.au/bitstream/1885/49360/2/02whole.pdf.pdf

Solomon, S. (2007). Climate Change 2007: the physical science basis: contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change


Wednesday, February 13, 2013

Mencari Seafood di Fiji

Saat berkunjung ke sebuah pulau atau negara kepulauan atau kota yang berlokasi di pinggir pantai, makanan yang selalu dicari oleh para pengunjungnya tentunya adalah SEAFOOD.  Mirip mirip lah, kalau ada teman yang ke Makassar, maka saya pasti sarankan mereka untuk ke Ratu Gurih, salah satu landmark per-seafood-an di Makassar. Cerita kali ini adalah petualangan kuliner saya dan Lies ke Fiji. Apa saja yang saya temui di sana?

Sebagai warga negara Indonesia, kami tentunya sangat menggemari seafood. Berhubung kami berdua saat itu masih sama-sama sekolah di Australia yang notabene ikan nya mahal, saya dan Lies tentunya memiliki ekspektasi yang tinggi untuk bisa sedikit memuaskan hasrat makan seafood kami yang jarang terpenuhi di Australia. Saat melakukan booking resort backpacker di Pulau Mana pun, saya dan Lies sudah sama sama membayangkan akan menikmati seafood dengan bumbu lokal dan dinikmati bersama di pinggir pantai. Wow, menulis ini saja sudah membuat saya ngiler.

Resto Ratu Kini, franchise Resto Ratu Gurih di Makassar ?
Tibalah saya di Pulau Mana- Fiji siang itu dengan disambut oleh penduduk yang ramah, pantai yang cantik. Tempat makan saya selama tiga hari disana adalah sebuah restoran bernama “Ratu Kini”.  Entah apa kaitan antara Restoran “Ratu Kini” ini dengan Restoran “Ratu Gurih” di Makassar. Mungkin resto ini adalah cabang dari Resto Ratu Gurih yang ada di Makassar. Sama sama pake kata Ratu soalnya. Biaya penginapan kami di tempat itu sekitar 66 Fiji Dollar (FJD) semalam sudah termasuk tiga kali makan di Restoran Ratu Kini. Lumayan murahlah apalagi bisa makan tiga kali sehari, dan pasti akan ada menu seafood. Ini lokasi nya di pulau soalnya. Yeah, I can’t wait.

Jam 12 teng siang itu, Restoran Ratu Kini mulai ramai dipenuhi para pencari makan. Aktivitas berenang, diving, jogging sepanjang pantai nampaknya membuat penghuni pulau itu kelaparan. Saya dan Lies yang baru tiba menunggu dengan deg-degan menu makan siang pertama kami di Pulau Mana. Dan apakah menu makan siang pertama kami? Tadaaaaaaaaa……
Rice+Naan+Dal = a very ga nyambung lunch for island hopper

What? Nasi + Naan + Dal? Mana seafood-nya? Halooooo, kami di pinggir pantai dan kami disuguhi Nasi + Naan + Dal? Halooooo again,  kami bukan vegetarian. Masa menunya menu Bollywood gini sih? Ini kan di Fiji, thousands of kilometers away from India. Setelah misuh-misuh sejenak, saya bisa kembali tenang. Saya dan Lies mencoba berpositif thinking (yang jelas-jelas bukan keahlian saya yang bukan fans Mario Teguh), ah mungkin memang makan siangnya menu nya seperti ini. Biasanya hidangan pamungkas itu disajikan terakhir kan? So, let’s wait until dinner is served. (Semangat berkobar mode: ON).

Malam harinya, saya dan Lies kembali duduk tenang menanti menu makan malam setelah sesorean kami menjelajah pantai-pantai Pulau Mana yang indah. Lagu Adele “Someone Like You” mengalun merdu di restoran diiringi beberapa suara cempreng Adele wannabe sejumlah pengunjung resto Ratu Kini. Saya tak terpengaruh, Seafood itu akan segera datang. Dan akhirnya makan malam pun disajikan…. Yeah
Another ga nyambung menu for island hopper
What? Again? Where’s my seafood, I want my seafood NOW. Ini menunya Bollywood lagi, nasi pake kari sapi plus sayuran dan nenas. Saya mencoba membongkar makanan tadi pake sendok, kali aja ada ikan teri nyelip sedikit agar sedikit ada nuansa seafood. But my effort was in vain. Yes, makanan Jaka Sembung Gak Nyambung ini mau gak mau habis juga karena saya kelaparan. Mungkin saat itulah saat yang paling tepat untuk bisa melakukan “menangis Bombay”, menangis karena kebanyakan makan makanan Bollywood.
Lunch with pizza di pulau terpencil, still ga nyambung 

Mimpi akan seafood itu pun tak kunjung terwujud hari-hari berikutnya. Meski menunya bukan Bollywood lagi, namun saya tetap saja merasa gak nyambung. Masak makan pizza sih di sebuah pulau terpencil. Ah sense of nyambung dari chef chef di Pulau ini memang patut dipertanyakan.

Hingga saya meninggalkan Pulau Mana menuju Nadi, saya tak kunjung mendapatkan seafood sesuai dengan harapan saya. Pulau Mana memang indah, tapi menu makanan Restoran Ratu Kini sangat tidak nyambung. Harapan untuk menikmati seafood sempat berkobar saat saya dan Lies menyusuri kota Nadi, berharap ada warung-warung sari laut pinggir jalan seperti di banyak kota-kota besar di Indonesia. Sekali lagi saya dan Lies harus menelan pil pahit, bukannya dapat seafood, kami malah makan ini karena tidak ada pilihan lain. Nasiiib.
KFC ala Fiji, Chicken Express 

Nasi Goreng India porsi kuli di Nadi 
Gorengan ala Bollywood di Nadi
Sepanjang jalan di Nadi yang kami temukan kebanyakan adalah warung makan bertema India. Ada apa gerangan? Kenapa di Fiji banyak sekali restoran makan India? Ternyata 40% warga Fiji adalah Indo-Fijian. Warga Indo-Fijian sendiri berasal dari budak-budak India yang dahulunya didatangkan oleh penjajah Inggris ke Fiji untuk bekerja di perkebunan tebu. Selanjutnya, gelombang baru imigran Gujarati dan Punjabi juga berdatangan ke Fiji beberapa dekade kemudian. Percampuran antara orang asli Fiji dan orang-orang Asia Selatan inilah yang kemudian disebut Indo-Fijian. Meski telah lama meninggalkan kampung halaman mereka, orang-orang ini masih tetap mempertahankan beberapa tradisi mereka termasuk makanan. Oh iya, aktor aktris Bollywood sangat terkenal disini. Saya sebagai penggemar film Bollywood sejati tak pernah kehabisan bahan saat berbicara dengan orang-orang lokal di sana, kuncinya cuma satu: film dan bintang film Bollywood.

Setelah perburuan seafood saya dan Lies gagal di Fiji, hasrat kami makan seafood akhirnya kesampaian juga saat kami tiba di Melbourne. Sehari setelah kedatangan kami, kami langsung menuju ke Sofia, sebuah resto Italiano, dan memesan spageti dan pasta seafood ukuran super duper jumbo.  Akhirnya Orgasme seafood itu terjadi juga. Alhamdulillah.
Spaghetti and Pasta with SEAFOOD for sure
(semua gambar di postingan ini adalah milik Lies)

Tuesday, January 22, 2013

Puasa itu...menahan lapar dan haus sembari membawa gong


Saya masih setengah mengantuk saat saya tiba di pelataran kuil. Tapi, beberapa penduduk Jepang yang sudah hadir di tempat itu tidak memberikan kami kesempatan untuk melanjutkan tidur. Saya dan teman-teman sudah disodori kain biru beserta aksesoris nya dan kami diminta berganti pakaian secepatnya. Pagi itu memang masih jam 6, dan saya baru selesai sahur mengingat hari itu adalah awal bulan Ramadhan. Suhu pagi itu di bawah 10 derajat dan saya yang masih beradaptasi dengan cuaca makin merindukan  meringkuk di bawah futon (selimut tebal).


Saya terlibat keributan apa lagi ini? Cerita ini terjadi saat saya masih cungkring dan rambut saya masih belah tengah simetris khatulistiwa (Silahkan tebak sendiri tahunnya). Saya dan teman-teman mahasiswa-mahasiswi asing di Saga University diminta untuk  ikut dalam kegiatan matsuri. Matsuri sendiri berarti festival. Di Jepang ada banyak jenis matsuri mengikuti musim atau tujuaannya. Matsuri di musim panas, semi, gugur dan dingin biasanya terkait dengan pertanian (cocok tanam, perlindungan terhadap hama maupun panen yang melimpah). Adapula Tsukagirei yang dilakukan di setiap perpindahan dari satu tahap kehidupan ke kehidupan lainnya. Selain jenis-jenis matsuri di atas, masih banyak lagi matsuri yang lain di Jepang yang mungkin bisa rekan-rekan google jika tertarik. 

Saya yang waktu itu baru pertama kali ke luar negeri tentunya tak ingin melewatkan kesempatan ini. Inilah sindrom anak kampung yang baru pertama kali ke luar negeri, mau coba semuanya. Walhasil, setiap ada kegiatan, nama saya selalu tercantum sebagai peserta di setiap acara, dengan urutan nama paling atas. Ini entah culture shock, banci tampil atau party animal namanya. Untuk acara matsuri di kuil ini sendiri, saya dan teman-teman kudu latihan. Sebelum hari H, saya dan teman-teman yang terlibat di acara ini kerap diundang malam-malam datang ke kuil untuk latihan, mempelajari gerakan-gerakan apa saja yang akan kami lakukan.

Cara ampuh menghilangkan kantuk di pagi hari.... Berfoto bersama 
 Meski di pagi hari H nya saya ngantuk berat karena kurang tidur dan baru habis sahur, saya berusaha menghilangkan kantuk dengan lari-lari kecil dalam ruangan. Setelah berganti pakaian, saya dan teman-teman bergegas menuju ke kuil dan mulai berfoto dengan orang-orang Jepang yang juga telah berganti kostum. Kapan lagi bisa berfoto dalam balutan kostum uni seperti ini. Ternyata berfoto terbukti mampu menghilangkan ngantuk…. Dasar narsis akut yah. Para pria mengenakan kostum biru dan sarung abu-abu lengkap dengan ikat kepala putih. Alat yang harus dibawa oleh para pria adalah gong dengan berat sekitar 4 kilogram lengkap dengan pemukul kayunya. Anak laki-laki mengenakan pakaian yang sama, namun mereka tidak membawa gong melainkan gendang yang diikatkan ke perut mereka masing-masing. Sedangkan peserta wanita mengenakan pakaian hijau (dewasa) dan kuning (anak-anak) dan celemek hitam. Mereka membawa semacam tongkat yang berbunyi saat digerakkan.

Matsuri ini mulai dibuka dengan ritual tarian oleh pembina upacara, errrr maksudnya oleh pemimpin kelompok ini. Pakaiannya beda sendiri, beliau mengenakan pakaian biru bergaris putih dengan hiasan tanduk berbentuk bulan sabit dan bergambar naga.  Kami, para bule bule, belum diijinkan ambil bagian di ritual awal ini. Kami diminta untuk menonton saja di pinggir arena saat pembukaan, mungkin karena bagian ritual ini sakral bagi penduduk lokal. Setelah ritual awal ini, kami (para bule-bule) mulai diijinkan untuk bergabung sambil membawa gong kami masing masing yang beratnya 4 kilo itu.  Rombongan kami juga membawa bedug besar yang didorong menggunakan gerobak.
Pemimpin upacara

Hit the gong till you drop 
Perlahan-lahan kami mulai meninggalkan pelataran kuil dan mulai berkonvoi mengelilingi kota. Ini pengalaman pertama saya ikut festival keagamaan. Sebelum-sebelumnya festival keagamaan yang saya ikuti paling maulid nabi di kampung, itupun saya ikutan pas bagian “rebutan telur”-nya. Dengan enteng saya membawa gong dan memukul gong tersebut mengikuti irama. Ternyata konvoi kami sudah banyak ditunggu oleh warga setempat. Kami kerap harus masuk ke rumah-rumah dan membunyikan gong sambil mengitari rumah yang kami masuki. Saya jadi ada kesempatan melihat banyak interior rumah Jepang di Saga. Nampaknya warga disini percaya bahwa rombongan kami bisa menolak bala untuk rumah mereka jika kami masuk dan membunyikan gong di seputar rumah mereka. Sebagai tanda terima kasih, kami disuguhi kue dan berbagai macam permen dan cokelat oleh empunya rumah. Saya yang puasa tentunya tak mau rugi, makanan-makanan itu saya masukkan dalam kantong untuk persiapan berbuka puasa. Saya jadi mikir, ini kok kayak trick or treat Halloween yah, hehehe. Tahu gini, seharusnya tadi saya bawa kresekan besar buat menampung coklat, kue dan permen sebagai persediaan buka puasa.
Siap siap menjarah coklat, kue dan permen 

Kampanye dua anak cukup, salam Keluarga Berencana dengan menunjukkan dua jari konon berasal dari sini 

Menjelang sore, saya mulai kecapekan. Gong yang tadinya enteng ternyata mulai terasa berat, dan saya mulai kehausan karena memang saya sedang puasa. Saya mulai kurang bisa mengikuti ritme dan akhirnya sudah mulai jalan terseret bahkan sudah hampir ngesot saking haus dan capeknya. Rute kami masih beberapa blok dan saya sudah mulai kehabisan tenaga. Untungnya, beberapa teman mengerti, saya diminta meletakkan gong di gerobak bedug dan cukup berjalan mengikuti rombongan. Saya memilih mendorong bedug saja biar lebih enteng.
An excuse for not carrying the gong
Jam 5 lewat seperempat, kami tiba kembali ke kuil dengan wajah bahagia karena misi telah ditunaikan. Matahari pun sudah terbenam menandakan waktu Maghrib telah tiba untuk kota Saga dan sekitarnya. Saatnya berbuka puasa, Saya ifthar dengan pembagian jatah makan siang yang saya simpan, serta kue, coklat dan permen yang saya kumpulkan. Hari itu, menu buka puasa saya memang aneh, namun nikmatnya benar-benar terasa mungkin karena saya lapar, haus, capek dan beban hari pertama puasa. Membawa gong 4 kilo seharian sambil puasa itu bukan pekerjaan mudah, apalagi dengan godaan permen warna warni, coklat beraneka macam dan pilihan kue yang banyak. Malam itu, saya pulang ke asrama dengan tubuh sangat letih. Saya tertidur cepat malam itu dan terbangun jam 6 pagi hari berikutnya. Yah, saya lupa sahur….. Nasiib.