Tuesday, July 29, 2014

Bidan Tsanawiyah a.k.a Tanta Aji

Kampung saya, Rappang, di Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten kami, setelah ibukota Kabupaten. Letaknya kurang lebih 200 sebelah utara Makassar. Bagi kalian yang pernah ke Toraja, pasti kalian melewati kampung halaman saya ini. Seperti laiknya kota kota kecamatan di Indonesia, kota saya ini memiliki sebuah pasar Sentral yang buka setiap Selasa, Jumat dan Minggu, memiliki sebuah lapangan olahraga dan sebuah monumen yang menjadi landmark kota kecil saya ini. Rappang tak memiliki tempat tujuan wisata, mungkin karena kota nya yang landai dan tak memiliki lansekap alam yang menarik
Sawah Sawah di Rappang 

Tak banyak yang tahu atau sadar bahwa Rappang memiliki sejumlah spot spot favorit untuk berfoto berupa pemandangan sawah dengan siluet gunung yang menjadi latar belakangnya, spot foto pre-wedding yang saya yakin tak kalah dengan spot spot pre-wedding bersetting modern. Selain itu, tak pula banyak yang tahu bahwa kota kami ini memiliki sejumlah spot penjual bakso terenak di dunia (ini testimoni teman-teman dari Jakarta dan Makassar yang kebetulan berkesempatan makan bakso di Rappang). Berbicara tentang wisata kuliner, kabupaten saya sangat terkenal dengan Palekko Itik nya, atau kerap disebut nasu palekko, yakni sajian bebek dengan bumbu pedas yang nendang. Sayangnya, tak banyak turis yang tahu tentang ini, dan tak banyak pula orang lokal yang menganggap bahwa hal hal yang saya sebutkan di atas adalah potensi yang bias dikembangkan di Sidrap, hehehe.
Bakso kampung yang enak tiada tara 

Tuesday, July 15, 2014

Menyepi di Gili Nanggu

"Cipu, do you know other Gili apart from the three famous Gilis?", pesan singkat Whatsapp masuk saat saya sedang sibuk ngerjain data dan belajar sebuah software di kantor. Si Chris nampaknya memang sangat excited tentang rencana liburannya ke Lombok. Saya memang sudah bilang ke Chris bahwa saya mau nemenin dia travel di Lombok tapi tidak ke tiga Gili terkenal itu. 

"What about Gili Nanggu?", saya sendiri belum banyak riset tentang Gili Nanggu,cuma pernah dengar entah dari siapa bahwa Gili Nanggu itu indah. Jadi saya menjawab pertanyaan Chris sekenanya saja. 

4 menit kemudian 

"Hey the place looks nice, can you book it for one night? So we could have time formorning and afternoon snorkel there ?", Temen bule saya ini memang sangat decisive. Sudah kebelet liburan nampaknya.

10 menit kemudian 

"Booked, Chris. No advance payment needed, we'll pay the room once we got there", jawab saya setelah kasak kusuk mencari no telepon penginapan dan mengontak langsung pengelolanya. 

"Perfect, mate", jawab Chris. Saya kembali ke rutinitas dan tenggelam dalam data.

Tenggelam dalam data (salah caption)

Monday, June 23, 2014

Bertemu Inspektur Vijay di Fiji

Downtown Kota Nadi (baca: Nandi)  

Suasana pusat kota Nadi, dengan tempat belanja terbesar di Nadi
Hari itu hari terakhir saya dan Lies di Nadi, Fiji. Melirik dompet, kami ternyata masih punya sisa beberapa dollar Fiji untuk dibelanjakan. Yes, last day of a trip is perfect for shopping provided that you still have leftover money from your trip. Saya dan Lies memutuskan untuk kembali menelusuri jalan utama Nadi untuk mencari oleh oleh. Memang tidak ada pilihan lain untuk cari oleh oleh selain di jalan utama Nadi. Meskipun Nadi termasuk salah satu kota terbesar di Fiji, jalan utama Nadi hanyalah sebuah jalan lurus sepanjang kurang lebih 1 km dengan deretan toko di kiri kanan jalan dan sebuah pasar sentral di bagian tengahnya, mirip mirip kota kecamatan kalau di Indonesia. 

Dari seberang hotel, kami menumpangi bus menuju ke pusat kota. Selang 10 menit, kami sudah sampai di pusat kota dan mulai menyusuri toko toko souvenir di kanan dan kiri jalan dan masuk ke kantor pos untuk mengirimkan beberapa postcard. Kami berencana untuk window shopping dulu untuk menargetkan apa yang akan kami beli, setelah itu baru shopping beneran. Waktu kami masih banyak, pesawat kami berangkat sore kok. Saat memasuki sebuah money changer, Lies merogoh tas nya dan mulai mencari-mencari sesuatu. 

"Eh passport saya mana yah? Duit yang saya mau tukar saya selipkan di passport", kata Lies mulai panik. 

Thursday, May 15, 2014

Pesona Sindang Gile

Bermula dari obrolan ngalur ngidul saya dengan Chris, sahabat saya di Melbourne, via Skype, akhirnya tercetus rencana traveling ke Lombok. Sekitar 10 tahun lalu, Chris sudah pernah mengunjungi Indonesia, namun saat itu ia dan keluarganya menghabiskan liburannya di Bali. Temen saya ini sepertinya agak enggan untuk ke Bali karena dia membayangkan Bali pasti sudah sangat ramai sejak kunjungan terakhirnya 10 tahun yang lalu. Dia ingin tempat liburan yang tak terlalu banyak turis. Rencana awal sebenarnya ke Pulau We di Aceh, namun karena pertimbangan harga tiket Aceh yang agak mahal, lokasi akhirnya kami pindahkan ke Lombok. 

Itinerary pun kami susun bareng via skype. Dari itinerary yang disusun jelas sekali Chris menghindari tempat tempat yang "happening".  Chris rencana akan berada di Indonesia selama 10 hari. Seminggu pertama akan ia habiskan dengan menjelajahi beberapa lokasi surfing dan menjajal ombak pantai pantai di Lombok. Saya akan bergabung di empat hari terakhir Chris di Lombok. Kami berbagi tugas, dia mencari tujuan wisata, saya mengurus bagian administrasi semacam booking hotel, cari mobil dan cari info tentang kapal penyeberangan. 

Hari yang ditentukan tiba, saya tiba di Praya Lombok. Dari Bandara Praya, saya menumpang Bus Damri menuju ke kawasan Senggigi dengan ongkos hanya IDR 30.000. Meski ada banyak jasa taksi dan penyewaan mobil dari bandara ke Senggigi, saya lebih memilih Damri. Biaya taksi ke Senggigi bisa mencapai IDR 200.000 dan saya tidak sedang dalam business trip, so naik taksi memang sudah harus dicoret dari angan-angan saya selama di Lombok. This is a "ngirit" trip, mending duitnya disimpan untuk sewa mobil hehehe.
Hotel Bumi Aditya, lokasinya terpencil di kawasan Senggigi 


Thursday, May 8, 2014

Narsis Di Salju Hukumnya.... Wajib

Iseng-iseng buka foto-foto lama di macbook, saya terhenti sejenak di sebuah album foto berjudul "Mount Buller", sebuah kawasan tempat melihat salju di Victoria, Australia. Ada beberapa foto-foto yang mengingatkan saya dengan teman-teman baik saya saat awal kuliah di Melbourne dulu: Estevao dari Mozambique dan Michael dari India.

Sebagai warga negara Indonesia, Mozambique dan India, kami jarang sekali berkesempatan melihat salju dalam jumlah banyak seperti ini. Nah berikut beberapa foto-foto narsis saya dengan mereka. Enjoy...... or Puke? LOL

Title: Mt. Buller 2010
Location: Victoria, Australia
Cast: Estevao Mabjaia, Michael Saldanha, Cipu Suaib

Salju sebetis

Diminta pose serius, Si Estevao udah heboh duluan

Nah ini baru pose heboh

Udah dewasa tapi tetap hobi main prosotan

Michael lagi siap siap joget India, lagi nyari pasangannya yang sembunyi di balik pohon

Monday, April 21, 2014

Welcome to Bangkok Coret

Dua tahun lalu, saya sempat heran dengan Taryn (teman saya dari Mexico) yang ngotot banget ke Sidrap (tanah tumpah darah saya, alias kampung saya). Alih-alih ke Toraja, Taryn memilih untuk ke Sidrap yang sama sekali bukan destinasi wisata di Sulawesi Selatan. Alasannya sederhana, "I have been to Bali and Lombok, Indonesia's main tourist destinations. Now I want to experience the non-tourist area in Indonesia. Your hometown will be a good choice". Alasan yang jarang saya dengar dari teman-teman saya yang hobi jalan-jalan. 

Menghabiskan waktu 4 malam di kampung saya, Taryn beroleh banyak penggemar. Tetangga-tetangga saya tak henti-hentinya mampir ke rumah dan memuji betapa cantiknya Taryn dengan hidung mancungnya. Selain itu, wajah Taryn yang nampak Latin campur Hindustan serta senyum nya yang tulus (terkadang jengah karena dipandangi) membuat tetangga-tetangga saya jatuh cinta pada Taryn. Tidak usahlah saya ceritakan berapa banyak ibu-ibu hamil yang meminta kandungannya diusap-usap oleh Taryn sembari berharap agar anak mereka kelak mewarisi fitur fisik yang dimiliki oleh Taryn. 

Di penghujung kunjungannya, Taryn merasa sangat puas karena impiannya untuk mengetahui rasanya berwisata di daerah yang bukan tujuan wisata, akhirnya tercapai. Menurut Taryn, keramahan yang dia terima dari penduduk kampung saya sangat terasa tulus, berbeda dengan keramahan-keramahan yang ia terima di daerah daerah wisata yang biasa dia kunjungi, "Cipu, If I have a low self-esteem one day, I will definitely come to your hometown again. They kept telling me that I am pretty, it will help me boosting my confidence", kata Taryn sambil tertawa.