Sunday, May 29, 2016

Being Aliens in Yunnan

Saya dan istri awalnya berpikir bahwa kendala bahasa di Vietnam adalah kendala yang terberat. Berhubung setelah ke Vietnam kami lanjut ke China, saya sih tenang tenang saja. Saya pikir banyak kok teman-teman saya di Indonesia yang sudah pernah ke China dan jarang yang komplain tentang bahasa selama perjalanan mereka di China. Jadi saya sudah menganggap bahwa perjalanan ke China akan menjadi perjalanan yang no problemo selama saya bisa bercakap bahasa Inggris.
Mu Mansion, Lijiang, Yunnan Province
Anggapan saya tentang kemudahan berbahasa Inggris di China mulai memudar saat saya mendarat di Bandara Internasional Changshui, Kunming di Provinsi Yunnan. Hah? Yunnan? Bukan Shanghai atau Beijing atau Guangzhou? Yah saya dan istri memutuskan untuk berwisata ke Provinsi Yunnan. Mengapa tidak ke destinasi destinasi utama orang orang ke China? Jawaban saya sederhana "Kenapa tidak?". Saya dan istri sebenarnya penasaran saja dengan Provinsi Yunnan, terutama Lijiang, setelah melakukan sedikit browsing tentang China.

Sunday, May 22, 2016

Bingung Bahasa di Hanoi

Cerita kali ini tentang perjalanan saya bersama istri saya (Yup, I just got married) ke Hanoi, Vietnam. Kenapa ke Hanoi? Alasannya sederhana, saya sudah lama penasaran dengan Ha Long Bay makanya kudu transit dulu di Hanoi. Postingan kali ini sayangnya bukan cerita tentang perjalanan ke Ha Long Bay, melainkan cerita-cerita unik yang kami alami selama perjalanan. Berikut kisahnya:
Salah satu sudut kota Hanoi 

“Can you take our picture?”

Hanoi berasal dari kata “Ha” dan “Noi” yang berarti di antara sungai. Kota Hanoi memang dialiri oleh Sungai Merah (Red River) yang bermuara dari Provinsi Yunnan, China. Salah satu landmark kota Hanoi yang sangat terkenal dan terletak di kawasan strategis kota Hanoi adalah Danau Hoan Kiem. Nama Hoan Kiem dijadikan sebagai nama district tempat danau ini berada. Kawasan Hoan Kiem merupakan lokasi kawasan Old Quarter yang menjadi pusat perdagangan Hanoi di masa lalu. Sampai sekarang kawasan Hoan Kiem masih dipenuhi oleh pedagang-pedagang, dipenuhi pengendara motor dan menjadi salah satu pusat kawasan turis di Hanoi. Uniknya, toko toko di kawasan ini memiliki lebar 3-4 meter saja pemirsa. Tak terkecuali hotel yang menjadi tempat kami menginap yang memiliki lebar kurang dari 4 meter. Menarik bukan?

Thursday, April 7, 2016

Ngurus Passport Tanpa Harus Cuti

Passport saya berakhir di akhir tahun 2014, dan saya sangat malas untuk mengurus perpanjangan passport karena sudah capek duluan membayangkan antrian passport di kantor-kantor imigrasi di Jakarta. Setidaknya pengalaman saya di tahun 2009 kemarin mengharuskan saya cuti setengah hari hanya untuk menunggu antrian. Belum lagi harus datang pagi pagi hanya untuk mengambil nomer antrian.
Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, persis di halte Busway "Imigrasi" (sumber: http://warungbirojasa.com )
Sempat terbersit untuk mendaftar via online yang katanya mudah, tapi ternyata hasil dari blogwalking juga menunjukkan bahwa antrinya juga akan bareng sama yang lain. Terlebih kalau daftar di Jakarta yang warganya banyak yang melek internet, pasti pendaftar online juga banyak. Saya akhirnya menjatuhkan pilihan sebagai walk-in applicant. Artinya saya akan datang langsung ke kantor imigrasi tanpa harus mendaftar via online. Target tujuan saya adalah kantor imigrasi Jakarta Selatan (yang notabene sangat sibuk). Alasan pemilihan kantor Imigrasi Jakarta Selatan adalah karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kantor saya di Gatsu, jadi kali aja ada meeting urgent di kantor saya dengan mudah memesan gojek untuk ke kantor. Alasan lain adalah Kantor imigrasi Jakarta Selatan menerbitkan e-passport yang memang sudah jadi incaran saya.

Friday, February 5, 2016

My Unusual Bali Duty Trip

Sejak kembali bekerja, saya sangat jarang melakukan perjalanan jenis backpack lagi. Dulu, waktu jaman kuliah, saya bisa travel 2 mingguan atau lebih ke suatu tempat tanpa khawatir akan ini dan itu. Pekerjaan dengan cuti yang tidak banyak memang mengurangi keleluasaan seorang pegawai untuk meninggalkan kantor selama 2 minggu atau lebih. Dengan jatah cuti yang tidak banyak (dipotong cuti Idul Fitri yang biasanya 3 hari), sulit bagi saya untuk backpack berminggu-minggu. Namun, itu tidak berarti saya tidak kemana-mana, saya kerap mendapatkan penugasan ke beberapa kota di Indonesia. Duty travel ini memberikan saya sedikit hiburan meski memang kepuasannya berbeda dengan perjalanan yang murni wisata. Kalau sedang duty travel, setidaknya waktu malam bisa saya manfaatkan untuk menikmati kuliner dan waktu pagi untuk sekedar jogging 5 km. 

Tuesday, December 29, 2015

Nike Running Kembali Nol

Kebiasaan lari saya sedikit banyak dipengaruhi oleh aplikasi lari yang saya gunakan. Saya adalah pengguna Nike Running atau Nike+, aplikasi besutan Nike yang bisa diunggah ke hape dan digunakan saat berlari. Dengan menggunakan Nike Running, pelari dapat mengetahui jarak lari, pace (waktu tempuh per km), waktu tempuh serta jalur lari. Tampilannya yang sederhana dan user-friendly menjadikan aplikasi ini banyak digunakan oleh pelari. Keunggulan Nike Running mungkin terletak pada data lari yang dapat dicantumkan di foto, untuk selanjutnya dipamerkan di media sosial. Selain itu, Nike Running juga mengompilasi jarak lari bulanan/mingguan penggunanya dan menyusun urutan (leaderboard) berdasarkan jarak kumulatif.

Perkenalan saya dengan Nike Running bermula dari tahun lalu saat saya dihadiahkan Nike+ Sportwatch dari kakak saya. Untuk bisa mengunggah data saya ke nike running, saya harus menggunakan nike connect dan mencolokkan jam tangan saya ke laptop/macbook. Nike connect akan memindahkan data lari saya ke nikeplus.com, tempat semua data para pelari disimpan. Dengan menggunakan aplikasi Nike Running di IPhone saya, saya bisa langsung mengunggah data data dari nikeplus tersebut ke perangkat hape saya. Jadi proses pemasukan data saya sebenarnya agak ribet: 

Dari jam tangan ke laptop dan kalo udah masuk laptop sekalian bisa di update di iphone.

Wednesday, December 2, 2015

Trail-masya ke Gunung Pancar

Sejak pengalaman trail run pertama saya di Salak Halimun, saya merasa agak kapok membayangkan medan trail run yang berat serta pengalaman kaki saya yang keseleo dua kali. Sejak ikut trail run pertama, beberapa teman telah mengajak saya untuk ikut trail run lagi di sejumlah tempat. Semuanya saya tampik dengan alasan: saya belum punya sepatu yang pas buat trail run, sepatu trail lama saya tidak cukup protektif terhadap kaki kiri saya yang gampang keseleo (yah ini cuma alasan saja sebenarnya). Sejak itu, tawaran untuk trail run menjadi sepi, saya pun makin rajin ikut road race di beberapa tempat. 

Hingga di suatu pekan, teman-teman Cibubur Runners (Burners) sangat ramai mendiskusikan trail run ke Gunung Pancar. Melihat animo yang begitu besar, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar. Alhamdulillah, nama saya masuk di urutan sekian belas dari dua puluhan rekan Burners yang mendaftar. Harapan saya cuma dua: bisa menyelesaikan trail run tanpa cedera dan bisa menikmati pemandangan indah Gunung Pancar yang tersohor itu. 
The team: Bang Edo (yang melet-melet), Didit (yang megang kamera), Davi (Yang baju biru), Gua (yang pake topi biru baru beli), Pak Patrap (yang pake topi cokelat), Pak Harris (yang pake topi merah) dan Pak Joan (yang baju merah)

Monday, November 23, 2015

De Koi Kopi: Ikan Koi Dalam Cafe

Saya sering bingung kalau ditanya gini nih sama teman-teman " Eh Pu tempat nongkrong atau ngopi yang enak di Cibubur dimana yah?", soalnya selain saya anak rumahan (tssaaaah) alias ga suka kelayapan, saya juga gak terlalu suka kopi. Jadi paling-paling tempat yang saya rekomendasikan adalah Cibubur Junction atau Ciputra Mall, soalnya referensi tempat nongkrong saya memang tidak banyak.

Minggu ini, ajakan ngopi dari teman teman Cibubur Runners (Burners) tiap malam masuk ke hape saya. Pastinya ngumpul sama teman-teman penggemar lari Cibubur ini selalu asyik, cuma sayang memang minggu ini jadwal keluar kota saya belum berakhir. Ajakan nongkrongnya di sebuah cafe baru bernama De Koi Kopi. Penasaran dengan tempatnya, saya akhirnya berkesempatan Sabtu malam kemarin buat bertandang ke tempat ini. Ternyata jaraknya cuma 5 menit naik sepeda dari rumah saya. Alhamdulillaah, gak perlu jauh jauh ke Cibubur Junction atau ke Mall Ciputra. Well, I am never a fan of Starbucks anyway.

Ternyata De Koi Kopi merupakan sebuah cafe yang didirikan untuk menyalurkan kecintaan Pakde (pemilik De Koi Kopi) dan Pak Dede (co-owner) pada kopi dan ikan koi. Konsep cafe nya pun menurut saya sangat unik. Begitu masuk, mata pengunjung langsung dimanjakan dengan sebuah meja kaca melengkung yang berfungsi sebagai pembatas akuarium besar, tempat pak Dede menaruh beberapa ekor ikan koinya. Jadi pengunjung yang datang bisa duduk di meja tersebut sambil memandangi ikan koi yang menggoda buat difoto.
 
Ngopi sambil diliatin ikan

Saturday, November 14, 2015

Amazing Race ala Gunung Jaribaru

Saya tiba kepagian di bandara Lombok Praya hari itu. Pesawat saya yang akan transit Bali menuju ke Makassar baru akan bertolak jam 9 pagi,  dan saya sudah tiba di bandara sebelum jam 7. Saya sudah tidak sabar untuk pulang kampung dan menghadiri pernikahan sepupu saya di kampung saya di Sidrap (sekitar 4 jam perjalanan darat dari Makassar). Saya menarik koper saya masuk ke bandara dengan sukacita. Namun, saya harus menelan kekecewaan saat saya tiba di check in counter. Bandara Praya ditutup hari itu akibat erupsi gunung Jaribaru, dua hari sebelumnya Bandara Ngurah Rai dan Selaparang juga sudah ditutup akibat erupsi gunung yang sama. Keluarga saya sudah mengeluarkan ultimatum bahwa saya harus hadir di pernikahan sepupu saya pada hari Sabtu di kampung halaman. Kalau tidak ada kenduri keluarga sih, saya tentunya dengan senang hati terperangkap di Lombok, saya bisa dengan mudah melipir ke Gili Nanggu hehehe. 
My travel buddies: Pak Djarot, Bu Balkis dan Bu Anna

Saya segera menelepon driver mobil yang disewa kantor, namanya pak Satria, yang tadi mengantar saya ke bandara. Saya meminta Pak Satria untuk menunggu saya karena saya akan mencari alternatif lain untuk bisa pulang kampung. Sambil menarik koper saya, saya berpapasan dengan Bu Balkis dan Bu Anna, kolega kantor yang juga datang ke Lombok untuk workshop yang saya hadiri. Mereka berdua juga harus segera meninggalkan Lombok, Bu Balkis harus ke Polandia hari Jumat malam sedangkan Bu Anna harus menghadiri kegiatan lain di Jakarta pada hari Jumat. Dengan ketidakpastian informasi penerbangan untuk keesokan harinya, kami memutuskan untuk segera meninggalkan Lombok demi misi kami masing-masing.